Monthly Archives: October 2009

Menghafal Al-Qur’an Meningkatkan Kesehatan

Hasil Penelitian Ilmiah di Universitas al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyyah membuktikan ketika kadar hafalan al-Qur’an siswa meningkat maka akan meningkat pula kesehatan jiwanya.

Penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Shalih bin Ibrahim, professor ilmu Kesehatan Jiwa, terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama, para mahasiswa-mahasiswi Universitas Malik abdul Aziz di Jeddah. Jumlah mereka 170 orang. Kelompok kedua, Para mahasiswa-mahasiswi Ma’had al-Imam asy-Syatibi li ad-Dirasah al-Qur’aniyyah, filial Universitas al-Khairiyah Litahfidzil Qur’an al Karim di Jeddah. Jumlah mereka sama, yaitu 170 orang.

“sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” HR. Bukhari

Para mahasiswa yang memiliki hafalan yang bagus memiliki kesehatan jiwa yang jauh lebih tinggi. Ada 70 penelitian umum dan Islam, seluruhnya menguatkan pentingnya dien untuk meningkatkan kesehatan dan ketentraman jiwa.

Sebuah penelitian di di Saudi juga menunjukkan peran al-Qur’an dalam meningkatkan kecerdasan bagi anak-anak sekolah dasar dan Pengaruh positif hafalan al Qur’an bagi kesuksesan akademik para mahasiswa.

Penelitian ini sebagai bukti nyata adanya hubungan antara beragama dengan berbagai fenomena hidup. Di antaranya yang paling urgen adalah menghafal al-Qur’an. Siswa yang memiliki hafalan al-Qur’an memiliki kesehatan jiwa yang lebih baik dibandingkan dengan siswa-siswa yang tidak beragama dengan baik, atau tidak menghafalkan al-Qur’an sedikitpun atau hafalan mereka hanya surat-surat dan ayat-ayat pendek.

Penelitian tersebut berpesan agar menghafalkan al-Qur’an dengan sempurna bagi para siswa-siswi di tingkat universitas, untuk menghasilkan nilai positiv bagi kehidupan dan akademik mereka. Mendorong mereka melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan hal itu merupakan sarana terpenting untuk memperoleh kesehatan jiwa yang tinggi.

Penelitian itu juga menasihatkan kepada para guru agar meningkatkan standar hafalan bagi murid-murid mereka, walau dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler, karena memiliki manfaat dan pengaruh yang bagus untuk kesuksesan belajar dan kesehatan jiwa mereka.

dikutip dari www.voa-islam.com

Incoming search terms:

Share

Mengarang Terpa(n)du

Suara Merdeka, Online– Ada empat keterampilan berbahasa (language skill) yang ingin dicapai melalui pengajaran bahasa di lembaga pendidikan formal, yakni keterampilan membaca, berbicara, mendengar, dan menulis.

Dalam konteks ini, istilah menulis sering disebut mengarang. Sayang, ia kerap dipersepsi sebagai menulis hal non-faktual: asal ngarang!

Boleh dikata, ”mengarang” hampir tak pernah diberikan secara proporsional di bangku sekolah formal. Sangat jarang Pelajaran Mengarang yang diberikan secara ”terpandu”. Sebaliknya, yang banyak dijumpai adalah ”instruksi” atau ”perintah”: Buatlah karangan dengan tema anu! Buatlah tulisan dengan topik ini! Dan seterusnya.

Hingga kini penulis belum menjumpai satu pun buku berbahasa Indonesia yang dirancang khusus untuk memandu-tuntun siswa dalam merangkai kalimat.

Di sisi lain, minimnya kompetensi guru dalam hal menulis menyebabkan mereka kurang biasa berimprovisasi di kelas.

Untuk memberi gambaran tentang karangan terpandu, penulis sajikan sekadar contoh sebagai berikut.

”Adam adalah manusia pertama. Allah SWT menciptakannya dari tanah. Pada mulanya, ia tinggal seorang diri di surga. Ketika Adam tertidur, Allah mencipta seorang wanita dari tulang rusuknya. Siti Hawa namanya. Sejak saat itu, Adam punya teman hidup di surga.”

Model karangan di atas bisa dibuat secara mudah oleh siswa, asalkan guru mau memberi panduan.

Setelah bercerita tentang Nabi Adam, misalnya, guru membuat pertanyaan: (1) Siapakah manusia pertama yang diciptakan Allah? (2) Dari apa ia diciptakan? (3) Pada mulanya, dengan siapa Adam tinggal di surga? (4) Ketika Adam tertidur, Allah menciptakan apa dari tulang rusuknya? (5) Siapa nama wanita itu? (6) Sejak kapan Adam punya teman di surga?

Karangan terpandu di atas dapat dikembangkan menjadi karangan terpadu oleh tiga guru berbeda sekaligus (pengajar Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris). Berkat panduan guru, tak aneh jika siswa bisa menulis dalam Bahasa Inggris:

”Adam is the first human being. Allah created him from clay. Once, Adam stayed alone in paradise. When he fell asleep, Allah created a woman from his rib. She was Siti Hawa. Since then, Adam had a friend in paradise.”

Karangan di atas adalah jawaban atas pertanyaan terkait. Dengan membuang nomor dan menuliskannya secara berurutan, jadilah sebuah paragraf alias karangan pendek. Ternyata, sebuah panduan-praktik lebih baik ketimbang seribu teori, bukan? (45)

—Akhmad Saefudin SS ME, guru penulisan kreatif di Ma’had Ath-Thohiriyyah Purwokerto

Incoming search terms:

Share

Ath-Thohiriyyah Gelar FAS dan Donor Darah


Ath-Thohiriyyah Gelar FAS dan Donor Darah– Dalam rangka tutup tahun ajaran (haflah akhirussanah) 1430 H, Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Karangsalam Purwokerto menyelenggarakan Festival Anak Shaleh (FAS) dan donor darah massal. FAS ketiga tahun ini meliputi lomba hadroh, dai cilik (dacil), adzan, meluki, cerdas cermat, dan murottal Al-Qur’an. Kegiatan digelar Minggu (26/7) lalu, diikuti oleh santri TPQ di wilayah Kabupaten Banyumas.

Juara pertama dacil adalah Rifal Aliansyah (TPQ Baitul Muslim), melukis (Rizal Ari dari TPQ Al-Amin I), cerdas cermat (TPQ Bidayatuth Tholabah), dan murottal Al-Qur’an (Ajeng Naila Robiha dari TPQ Ath-Thohiriyyah).
“Panitia memutuskan tak ada juara I lomba hadroh karena batas nilai minimal tak tercapai. Juara II dan III masing-masing TPQ ATh-Thohiriyyah dan Hidayatuth-Thulab,” demikian tutur Ketua Panitia Anwar Aziz.
Kegiatan donor darah, bekerja sama dengan PMI Cabang Purwokerto, diikuti oleh 15 orang santri setempat. “Donor darah akan kami jadikan agenda tahunan. Kali ini adalah tahun kedua” ujar M Sa’dullah selaku Humas Ath-Thohiriyyah.
Puncak acara haflah dijadwalkan hari Ahad (9 Agustus) berupa prosesi khotmil Qur’an dan pengajian umum. Tahun ini pesantren di bawah asuhan KH Mohammad Thoha Al-Hafidz ini akan mewisuda dua orang santri penghafal Al-Qur’an (Fitrotul Mar’atus Saniah dan Inayatun Na’imah), 28 santri khatam Al-quran bin-nadhor (membaca secara fasih dan benar), dan 40 santri khatam juz ‘Amma (juz ke-30).
“Insya Allah, pengajian umum dalam rangka khotmil Qur’an dan sekaligus peringatan haul KH Mohammad Sami’un (perintis Ath-Thohiriyyah) akan disampaikan oleh KH Atho’urrohman dari Leler dan KH Thohawy dari Tegal,” pungkas M Sa’dullah. ***

Incoming search terms:

Share