Biografi Kiai Imam Rozi (Singo Manjat) dan KH. Abdul Mu’id Tempursari Klaten

Feb 16th, 2010 | By | Category: profil

Banyumas Pesantren-Biografi Kiai Imam Rozi (Singo Manjat) dan KH. Abdul Mu’id Tempursari Klaten

Kiai Imam Rozi (Singo Manjat) adalah pendiri Pondok Pesantren Singo Manjat Tempursari Klaten. Ia leluhur atau cikal bakal masyarakat Tempursari Klaten, yang keturunannya dan santrinya tersebar ke berbagai daerah.

Ia yang membawa misi ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, mendirikan tempat-tempat ibadah, pondok pesantren dan majlis taklim, baik di Jawa tengah, Jawa Timur, maupun di Jawa Barat.
Kiai Imam Razi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Wirononggo II bin Kiai Wirononggo I bin Kiai Singo Hadiwijoyo bin Kiai Tosari bin Kiai Ya’kub bin Kiai Ageng Kenongo. Ia lahir pada tahun 1801 M. Sejak kecil ia belajar agama dari ayahnya, Kiai Maryani, kemudian berguru kepada Kiai Rifai, yang sekarang makamnya ada di Gathak Rejo, Drono Klaten. Ia juga berguru kepada Kiai Abdul Jalil Kalioso bersama Kiai Mojo, Penasihat Pangeran Diponegoro.

Pada usia 24 tahun, Imam Rozi bergabung dengan Pangeran Diponegoro menentang dan memerangi penjajah Belanda, bersama Kiai Mojo dan para pejuang lainnya. Ia diangkat sebagai manggala yudha atau panglima perang dan sebagai penghubung antara Pangeran Diponegoro dan Paku Buwono VI Surakarta.

Pada saat Imam Rozi bersama Pangeran Diponegoro ditahan penjajah di Semarang, Pangeran Diponegoro menyuruhnya melarikan diri dari tahanan dan menghadap Paku Buwono VI dengan membawa surat dari Pangeran Diponegoro. Isi surat itu antara lain memohon Paku Buwono VI menugasinya berdakwah di Surakarta bagian Barat, mencarikan jodoh untuk mendampingi perjuangannya, dan disediakan tanah perdikan.

Tahun 1833 M ia telah melaksanakan tugas tersebut dan memilih Desa Tempursari sebagai tempat tinggal setelah mendapatkan bimbingan dan petunjuk ruhaniah dari Nabi Khidzir. Maka pada saat itu berdirilah Masjid Tempursari, yang kemudian berkembang pesat. Barulah pada tahun 1837 M Paku Buwono VI menjadikan tanah Tempursari sebagai tanah perdikan.

Kiai Imam Rozi menikah empat kali. Istri-istrinya yaitu R.A. Sumirah, saudara sepersusuan Pangeran Diponegoro, Ny. Ahadiyah (Ny. Kedung Qubah, cucu Kiai Syarifuddin Gading Santren), Ny Marfu’ah (Mlangi Yogyakarta), dan Ny. Sudarmi (Karangdowo). Kiai Imam Rozi wafat pada tahun 1872 dalam usia 71 tahun dan dimakamkan di Tempursari. Pengelolaan Pondok Pesantren diteruskan oleh menantunya, Kiai Zaid, kemudian diteruskan menantu Kiai Zaid, yaitu Kiai Muhammad Thohir, dan akhirnya diteruskan K.H. Abdul Muid bin Muhammad Thohir.

Kiai Abdul Mu’id (Mursyid Thariqah Syadziliyyah)
Kiai Abdul Muid adalah dzuriyah keempat Kiai Imam Rozi melaui jalur Ibu Ny. Thohir, putri Kiai Zaid, yang berasal dari Gabudan, Solo.

Nasab Kiai Abdul Muid secara lengkap yaitu KH. Abdul Muid bin Kiai Muh Thohir bin Kiai Ali Murtadlo bin Kiai Nur Hamdani bin Kiai Zainal Ali bin Kiai Abdus Shomad Cilongok, Purwokerto, Banyumas. (Putra Syarifah Sinah binti Sultan Hasanuddin Banten bin Syarif Hidayatullah bin)
Syarifah Sinah itu istri dari Sayid Alwy Al-Hadad bin Sayid Abdurrahman.

Ayahandanya, Kiai Muhammad Thohir, berasal dari Banyumas, yang nyantri di Tempursari pada masa Kiai Zaid, yang akhirnya menjadi menantu dan meneruskan pengelolaan Pesantren Tempursari. Ia kemdian dikaruniai anak semata wayang, yaitu K.H. Abdul Muid.

Sejak kecil sampai umur 14 tahun Abdul Muid dididik oleh ayahandanya sendiri. Setelah umur 14 tahun, ia diserahkan kepada Kiai Abdurrahman Somolangu, Kebumen, dan tinggal di sana sampai beberapa tahun.
Kemudian ia diserahkan kepada KH. Idris bin Zaid, pendiri Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, yang masih pamannya sendiri dari pihak ibu, sampai akhirnya ia diberi ijazah sanat dan dibai’at sebagai mursyid Thariqah Syadziliyah yang ke-34.

Guru-gurunya yang lain masih banyak, diantaranya adalah Kiai Abdurrahman Thengklik, Panasan, Boyolali. Setelah kembali dari pesantren, ia mulai menyebarkan apa-apa yang diperolehnya dari para gurunya melalui Pesantren Tempursari.

Kiai Abdul Muid mempunyai beberapa keistimewaan. Al-Kisah, pada suatu hari ada seorang santri yang berbaur dengan santri-santri Tempursari, mereka tidak tahu dan tidak kenal siapa dia. Setelah beberapa lama, santri tersebut menghadap sang kiai dan minta izin pamit pulang.
Ketika ditanya siapa namanya, ia menjawab dengan nama samaran (Bunyamin). Pada saat itu pula KH. Abdul Muid tahu bahwa sesungguhnya ia adalah Nabi Khidzir. Setelah peristiwa itu, ia sering sekali datang ke pesantren itu, membawa hikmah ilahiyah.

Kitab yang paling sering dibaca bersama para santrinya, antara lain, di bidang fiqh kitab I’Anah Al-Tholobin. Di bidang tauhid, kitab Ad-Dasuqi. Di bidang tasawuf, kitab Ihya’ Ulumuddin. Di bidang tafsir, kitab Jalalain.

Diantara para muridnya adalah Kiai Mudatsir (Jaten, Jimus, Polanharjo, Klaten), K.H. Ahmad Shodiq bin Raji Musthofa (Pasiraja, Purwokerto), KH. Ali Syuhudi (Nalan, Candirejo, Ngawen, Klaten), Kiai Ahmad Hilal (Tojayan, Kebonarum, Klaten), KH. Nawawi (Badean, Rogojampi, Banyuwangi), KH. Muh Ma’ruf Mangunwiyoto (Jenengan, Solo, murid sekaligus anak), KH. Masyhudi (Prambon, Madiun), KH. Shofawi (pendiri Masjid Tegalsari, Solo dan pendukung berdirinya Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo), Kiai Abu Su’ud (Jaten, Jumus, Polanharjo, Klaten), KH. Muhammad Idris (Kacangan, Boyolali).

Jumat Pahing, 8 Shafar 1360 H/7 Maret 1941, KH. Abdul Mu’id wafat pada usia ke-63. Menjelang wafatnya, dibacakan surat Yasin. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi “Qiladkhulil Jannah” (Dikatakan, masuklah ke dalam surga), ia menjawab, “Insya Allah”, dan kemudian ia menghembuskan nafas terakhir. Jenazahnya dikebumikan di Komplek Makam Tempursari.
Ia menikah empat kali. Istri pertama, Ny. Rodiah, melahirkan KH. Ma’ruf Mangunwiyoto, Jenengan, Solo. Lalu, Ny. Robikhah, Istri KH. Jufri, Petak, Susukan, Salatiga. Berikutnya Ny. Rohilah, istri Kiai Nursalim, Semowo, Salatiga. Istri kedua, Ny Latifah, melahirkan Ny. Munfarijah, istri Kiai Abu Su’ud, Jaten, Polanharjo, Klaten.

Istri ketiga, Ny. Thohiroh, melahirkan Ny. Umi Sarah, istri Kiai Marzuki, Karangmojo, Ceper, Klaten (Keistimweannya, bisa membedakan makanan halal dan yang haram. Kalau haram bentuknya makanannya menjadi ulat). Lalu, Kiai Muh Sahli, Tempursari, Klaten. Kemudian, Ny. Hj. Shofiyah istri KH. Umar Abdul Manan, Mangkuyudan, Solo. Selanjutnya, berturut-turut Kiai Abdul Hayyi, Mlangi, Demak Ijo, Sleman. Kiai Muhyidin menantu KH Muhammad Sami’un (Mursyid Thariqah Syadziliyah), Parakan Onje, Karangsalam, Purwokerto. Kiai Badrudin, Tempursari Klaten, dan KH. Imam Muftaroh, Pencol, Randusana, Geneng, Ngawi. Sedang istri keempat, Nyai Drono tidak dikarunia seorang anakpun. [ms].

Kata Kunci artikel ini:

asal usul kyai mojo (38)silsilah kyai mojo (35)biografi kyai mojo (31)tojayan klaten (12)mbah idris kacangan (6)Asal usul desa kacangan boyolali (4)mbah singomanjat (3)mbah hayyi (3)cerita asal usul tempursari (3)gading santren klaten (2)

10 comments
Leave a comment »

  1. Assalamu'alaikum …
    Kalu ingin Tahu keturunan / Silsilah dari Imam Rozi dan RA. Sumirah di mana ya… ?

  2. Cari silsilah KH Imam Rozi di Tempursari Klaten di tempatnya Mbah Badar, biasanya kalau haul kan dibagikan, tapi kalau minta karena yg dapat ya yg tua2 kaya saya ini.

  3. Sebetulnya artikelnya blm lengkap dan masih kurang sreg di hati saya, tapi ya sudah bagus untuk sekedar info

  4. mohon dikirimi asal muasal Ki Singo Manjat;karena saya masih keturunan beliau, adakah hubungannya dg kerajaan pajang????????/

  5. Melalui jalur Ibu Keluarga saya berasal dari Tempursari Klaten. Menurut cerita saya buyutnya Kyai Abrar. Ny Abrar adalah anak KH Akhmad. KH Akhmad anak dari mbah Sarifudin Gading. Saudara kandungnya bernama Kyai Abdullah ayah dari H. Ahmad dari desa Kadirejo. Cerita ini hanya dari mulut ke mulut karena tidak ada catatan secara tertulis. Kami sangat senang sekali apabila bias dikirim copy file silsilah Kyai Singomanjat. Terimakasih dan Wassalam

  6. I love your blog.. very nice colors & theme. Did you create this website yourself or did you hire someone to do it for you?
    Plz reply as I’m looking to design my own blog and would like to find out where u got this from. thanks

  7. salam.
    Saya dari Kementerian agama RI di Jakarta. Tahun ini kami ada kegiatan penyusunan ensiklopedi pemuka agama nusantara. Sebelumnya ada pengumpulan data untuk menghimpun ulama-ulama lokal baik di tingkat provinsi/kabupaten untuk diusulkan menjadi bagian dari entri ensiklopedi yang sifatnya nasional. Tujuan kegiatan adalah untuk mengenalkan dan mengangkat ulama-ulama lokal ke tingkat nasional, melalui produk ensiklopedi.
    Saya menaruh minat ynag besar untuk memasukkan KH Imam Rozi ataupun keturunannya sebagai bagian dari entri untuk mewakili kabupaten Klaten (kebetulan saya juga asli Klaten). Persyaratan ulama yang bisa kami masukkan sebagai entri ensiklopedi adalah a) sudah meninggal, b) mempunyai warisan, diprioritaskan memiliki karya tulis (kitab/buku dll), lembaga (pesantren, masjid kuno, dll), pemikiran, ataupun aktifitas dakwah semasa hidupnya. Kalau saya ingin menulis tentang KH Imam Rozi atau putranya yang masuk kategori ulama, apakah bapak berkenan menjadi informan/narasumber saya ? Saya ada skedul pengumpulan data di Klaten sekitar bulan September 2013. Ini no kontak saya: Retno 08128628912.
    Nuhun
    salam
    Retno

  8. Salam,,
    Saya ada buku silsilsilahnya,dr panitia sejarah silsilah kyai imam rozi singomanjat.1978.

  9. saya adalah keturunan dari mbah imam rozi dari nyai ahadiyah istri ke tiga dari mbah imam rozi putra ke sepuluh dari nyai ahadiyah yang bernama nyai abdullah icksan cucu dari ky muh tabrizi (sentono ceper kab klaten jateng ) untuk bisa nyambung silaturohmi bisa kontak ke 081548113884 an yusuf jaelani

  10. assaalamu’alaikum
    sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada ppengasuh pimpinan pesantren athohiriyah banyumas
    perlu saya memperkenalkan diri . saya juga keturunan mbah imam rozi ( singomanjad ) dari istri yang ke 3 yang bernama NYAI AHADIYAH Gading santren Klaten. dengan Nyai Ahadiyah mepunyai 10 keturunan
    1nyai H Thohir 2.Ky sahrozi 3.ky khotibarun 4. ky muh idris 5.ky abdul jalil 6.ky imam nawawi 7. nyai abdulfatah
    8. ky muh irsyam 9.nyai abdulqodir 10.ky abdullah ichsan dan ky abdullah ichsan mempunyai 7 keturunan dan yang masih hidup ada 2 nyai abdullah dan ky tombadawi dua duanya di boyolai jawa tengah dan saya keturunan dari mbah dullah ichsan putra yang ke 3 kh ahmad tabrizi putra ke 3 yang bernama muzamil. lebih jelasnya bisa hubungi saya ke 081548113884 . demikian perkenalan saya semoga membawa pertemuan yang sangat baik di keluarga besar MBAH IMAM ROZI dan membawa manfaat kita bersama

Leave Comment