Monthly Archives: June 2010

Manaqiban Syaikh Abdul Qadir Al Jailaniy: Bacaan Populer Karya Ulama Mranggen

Banyumas Pesantren-Manaqib Nurul Burhani: Bacaan Populer Karya Ulama Mranggen

Kitab Manaqib Nurul Burhani disusun oleh seorang ulama bersahaja asal Mranggen, desa kecil di perbatasan Semarang – Demak, kitab terjemah dan syarah manaqib itu kini menjadi bacaan paling populer di kalangan warga nahdliyyin.

Hampir semua warga nahdliyyin, baik yang tergabung dalam salah satu thariqah mu’tabarah maupun tidak, sangat akrab dengan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam berbagai acara, terutama pada malam 11 bulan hijriah yang merupakan tanggal wafat sang wali, kitab manaqib yang mengisahkan sebagian riwayat hidup sang wali beserta sekelumit ajarannya itu menjadi bacaan “wajib”, seperti halnya kitab-kitab maulid.

Kitab manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang paling termasyhur adalah Al-Lujjainid Dani karya ulama besar Madinah, Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji. Kitab yang bersyair indah itu tersebar di berbagai negeri muslim di dunia, terutama di daerah basis penyebaran thariqah Qadiriyyah. Di Indonesia sendiri kitab ini sudah masuk sejak akhir abad 18 M, bersamaan dengan tersebarnya thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.

Bahkan di negeri ini, hampir semua kitab Al-Lujjanid Dani diterbitkan bersama syarahnya (keterangan atau komentar) dalam bahasa-bahasa daerah. Salah satu edisi manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani bersyarah yang paling populer adalah kitab An-Nurul Burhani fi tarjamatil Lujjainid Dani fi Dzikri Nubdzatin min Manaqibisy Syaikh Abdil Qadir Al-Jilani karya Syaikh Muslih Abdurrahman Al-Maraqi, mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah asal Mranggen, Demak Jawa Tengah.

Berbeda dengan syarah lain yang hanya satu jilid, kitab karya pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen yang juga Rais Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah pada masanya itu terdiri dari dua jilid. Jilid pertama yang selesai ditulis pada tahun 1382 H/1962 M banyak mengupas tentang ulasan seputar pembacaan manaqib seperti hukum manaqiban, dalil-dalil penggunaan hadits dhaif untuk fadhailil a’mal (keutamaan beribadah) dan tawassulan. Diterangkan juga seputar kewalian, karamah dan fadhilah atau keutamaan membaca manaqib. Semua penjelasan Syaikh Muslih juga dilengkapi dengan keterangan kitab-kitab rujukan karya ulama salaf ternama.

Dan di bagian terakhir Syaikh Muslih mengajarkan tata cara membaca manaqib yang baik dan benar, lengkap dengan beberapa amalan sebelum membaca manaqib dan sesudahnya. Seperti pembacaan enam surah pendek : Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Qadr dan Al-Insyirah, masing-masing tujuh kali lalu disambung doa pembuka keberkahan rizqi, yang dianjurkan diamalkan sebelum membaca manaqib.

Mencegah Kefakiran
Dinukilkan juga beberapa doa ternama seperti doa ismul a’zham (nama Allah yang Mahaagung), doa bagi orang yang ingin mendapatkan putra-putri yang shalih dan dan doa lithalabil ghina wa nafyil faqr (memperoleh kekayaan dan mencegah kefakiran) yang banyak diajarkan oleh ulama ternama. Doa-doa tersebut dianjurkan oleh Syaikh Muslih untuk dibaca seusai membaca manaqib.

Sementara pada jilid kedua yang usai ditulis pada tahun 1383 H/!963 M, Syaikh Muslih membagi isi kitabnya menjadi dua bagian. Bagian yang atas berisi matan (tulisan pokok) kitab Al-Lujanid Dani karya Syaikh Ja’far Al-Barzanji, lengkap dengan qashidahnya. Sedangkan bagian bawah, dengan tulisan yang lebih kecil, Syaikh Muslih menyampaikan terjemahan serta syarah (komentar dan keterangan)-nya atas kitab Al-Lujjainid Dani.

Keterangan tambahan dari Syaikh Muslih yang bersumber dari kitab-kitab besar itu sangat menambah wawasan pembaca manaqib mengenai kehidupan dan ajaran Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Ada juga nukilan kisah-kisah langka khas kaum thariqah. Seperti dialog ruhaniah yang cukup menarik antara Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dengan Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, tentang pilihan Syaikh Abdul Qadir berfatwa menurut madzhab Hanbali. Atau kisah dialog malaikat Izrail dengan Syaikh Abdul Qadir menjelang wafatnya.

Di penghujung kitab, usai doa penutup manaqib, Syaikh Muslih juga melampirkan dua doa qashidah karya dua wali besar yang menurutnya sangat baik dibaca sebagai penutup majelis manaqiban. Qashidah pertama merupakan gubahan wali agung Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir Ba’alawi yang sangat akrab di masyarakat, terutama setelah dipopulerkan oleh Ustadz H. Salafudin Benyamin Pekalongan, dengan judul syair Ya Arhamar Rahimin.

Sedangkan qashidah kedua adalah karya Sulthanul Auliya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Dalam keterangannya, qashidah ini digubah oleh sang wali untuk sebagai permohonan agar bencana kemarau yang melanda negerinya diangkat. Syaikh Muslih juga mengisahkan pengalaman gurunya Syaikh Ibrahim Brumbung yang mengamalkan qashidah tersebut saat daerahnya idlanda kemarau panjang. Dan, Subhanallah, tak lama setelah syair-syair indah itu dipanjatkan, hujan pun turun dengan lebatnya.

Masih banyak lagi keterangan dan pelajaran berharga yang disampaikan Syaikh Muslih dalam dua jilid karyanya tersebut.

Syaikh Muslih bin Abdurrahman bin Qosidil Haq Al-Maraqi lahir sekitar tahun 1908 M di Mranggen, Demak Jawa Tengah. Nasabnya ke atas bersambung kepada Kanjeng Sunan Kalijaga melaui gari Pangeran Ketib bin Pangeran Hadi. Sementara dari garis ibunya, Nyai Hj. Shofiyyah, nasab Kiai Muslih akan sampai pada Ratu Kalinyamat, Sultan Trenggono dan akhirnya Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Tidak ada hal yang menonjol dari Muslih kecil, selain ketawadhuan sikap dan kebersahajaan hidupnya yang belakangan terus mewarnai perjalanan hidup sang mursyid hingga wafatnya. Usai mempelajari dasar-dasar ilmu agama, ia lalu nyantri di Pesantren Brumbung, Demak yang diasuh Syaikh Ibrahim Yahya, seorang ulama dan mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah generasi kedua di Jawa setelah Syaikh Abdul Karim Banten. Dari Syaikh Ibrahim ini pula Syaikh Abdurrahman, ayah Kiai Muslih, memperoleh ijazah kemursyidannya yang diturunkan kepada sang putra.

Mengurung Diri
Usai mengaji di Brumbung, Kiai Muslih nyantri di Mangkang, Semarang Barat, tempat Syaikh Soleh Darat dulu pernah nyantri. Kemudian Kiai Muslih pindah lagi ke Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, yang diasuh oleh K.H. Imam dan K.H. Zuber, ayahanda ulama kharismatik Sarang saat ini, K.H. Maimun Zuber.

Selain mengaji kepada kedua ulama sepuh itu, Muslih juga mengaji kalong kepada ulama sepuh di Lasem, K.H. Ma’shum, ayahanda K.H. Ali Ma’shum, pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta yang juga mantan Rais Am PBNU. Di Lasem, Muslih berkawan dekat dengan Ali Ma’shum. Karena kedekatan itu setahun setelah pulang dari Pesantren Sarang, Muslih memilih nyantri di Pesantren Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, menyusul sahabatnya yang sudah lebih dulu nyantri.

Ada kisah menarik saat keduanya nyantri di Tremas. Suatu ketika Kiai Ali Ma’shum ditunjuk oleh pengasuh pesantren untuk menjadi kepala madrasah diniyyah di lingkungan pesantren. Dengan tugas barunya yang terbilang berat Ali pun melepaskan tugas awalnya mengajar nahwu dengan pegangan kitab Alfiyyah Ibnu Malik.

Sebagai penggantinya Ali Ma’shum menunjuk Muslih yang saat itu masih dalam taraf belajar. Tentu saja yang ditunjuk gelagapan dan berusaha mengelak. Namun Ali terus memaksanya seraya memberinya dorongan bahwa cara paling efektif untuk menguasai ilmu nahwu adalah dengan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya Muslih menyerah dan menerima tugas tersebut. Namun sebelumnya ia minta waktu terlebih dulu untuk mengkaji lagi kitab nahwu tingkat tinggi tersebut. Setelah itu Muslih mengurung diri di dalam kamar selama seminggu. Siang malam ia membolak-balik halaman kitab tersebut sambil terus berdoa mohon bimbingan dari Allah SWT. Tepat seminggu kemudian, ia keluar dari kamar dan mulai mengajarkan kitab Alfiyyah di kelas-kelas.

Dan hebatnya, entah apa yang dilakukan Muslih di dalam kamar, ketika keluar ia bukan saja telah menguasai seluk beluk kitab Alfiyyah, tetapi Muslih juga berhasil menemukan metode pengajaran yang khas dan menarik sehingga banyak murid-murid yang semula benci pelajaran nahwu berbalik menjadi suka. Salah satu murid yang mengidolakan pengajaran ilmu nahwu ala Kiai Muslih adalah DR. Mukti Ali, mantan menteri Agama RI di tahun 1970an.

Demikianlah, beberapa tahun kemudian ia pulang dari Tremas sebagai ulama muda yang alim dalam ilmu fiqih, ushul fiqh, hadits, ilmu-ilmu Al-Quran dan –terutama– ilmu alat. Bahkan dengan keahlian khususnya di bidang ilmu, tak heran pesantrennya di Mranggen belakangan juga dikenal sebagai salah pusat pembelajaran ilmu alat terbaik.

Sistem pembelajaran di Tremas yang menganut pola klasikal belakangan juga menginspirasi Kiai Muslih untuk merombak sistem pendidikan di Mranggen yang masih menganut pola kuno, yakni halaqah sorogan dan bandongan. Ketika dipercaya menggantikan ayah dan kakaknya untuk mengasuh Pesantren Mranggen pada tahun 1936, ia langsung mendirikan madrasah-madrasah diniyyah sebagai tempat aktivitas belajar mengajar.

Selain mengasuh pesantren Kiai Muslih juga mulai terjun ke dunia thariqah. Ia mengambil bai’at pertamanya kepada K.H. Abdurrahman Menur, Mranggen, salah seorang khalifah Syaikh Ibrahim Yahya Brumbung. Setelah menjalani suluk dan riyadhah, Muslih dibai’at menjadi mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah oleh Syaikh Abdul Lathif Banten dan mulai menerima bai’at dari murid-muridnya.

Memimpin Pejuang
Dengan bekal kealimannya dalam berbagai cabang ilmu, Kiai Muslih pun segera dikenal sebagai ulama thariqah yang jempolan. Pengakuan atas ketokohannya terbukti ketika Kiai Muslih yang saat itu menjabat wakil Rais Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah tampil mengendalikan organisasinya, karena sang Rais Am, Kiai Hafidz dari Rembang sudah sangat uzur.

Ketika dalam tubuh jam’iyyah muncul perpecahan, karena ada sebagian tokohnya yang terjun ke politik praktis, Kiai Muslih bersama beberapa ulama sepuh lain mempelopori berdirinya Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman).

Selain mengajar dan membimbing murid-murid thariqahnya, ketika pecah perang kemerdekaan, Kiai Muslih juga aktif memimpin laskar Sabilillah. Tak hanya itu, Kiai yang lekat dengan sarung dan sorban melilit di kepalanya itu juga menjadikan Pesantren Mranggen sebagai basis pertahanan seluruh pasukan jihad yang berjuang di sektor Semarang Timur, yang terdiri pasukan Hizbullah, Sabilillah dan Barisan Kiai.

Tak hanya piawai mendidik dan memimpin massa, Kiai Muslih juga terbilang produktif menulis. Selain kitab syarah manaqib An-Nurul Burhani yang legendaris, ayah sebelas anak itu juga menulis tak kurang dari enam belas buku dan risalah yang rata-rata berbahasa jawa.

Kebanyakan karya-karya sang allamah berkaitan dengan ilmu tashawwuf khususnya yang berlairan Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah, seperti kitab Al-Futuhatur Rabbaniyyah fi Thariqatil Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Banyak petunjuk, panduan dan ajaran berthariqah yang tercantum dalam kitab-kitab karya Kiai Muslih belakangan menjadi pegangan Jatman dalam menyusun adab dan tata laksana perthariqahan di Indonesia.

Pertengahan bulan Ramadhan 1401H/1981M, sebagaimana cita-citanya sejak lama, Syaikh Muslih Abdurrahman wafat di tanah suci Makkah ketika tengah menunaikan ibadah umrah. Jenazahnya dimakamkan di Ma’la bersama ribuan orang yang telah wafat di bumi Al-Haramain tersebut.

Sementara itu sepeninggal Syaikh Muslih, kemursyidan thariqahnya di Mranggen dilanjutkan oleh adiknya K.H. Ahmad Muthohhar Abdurrahman, putranya K.H. M. Luthfil Hakim, dan menantunya K.H. Makhdum Zein. Juga K.H. Muhammad Ridwan, dan Kiai Abdurrahman Badawi, yang sebelumnya menjadi khalifah Syaikh Muslih.

Melanjutkan kebiasaan Syaikh Muslih, pengajian thariqah atau lazim disebut tawajjuhan, yang kini sudah diasuh oleh generasi ketiga yang dipimpin K.H.M. Hanif Muslih, Lc, K.H. Abdurrahman Badawi dan K.H. Sa’id Labib Luthfil Hakim, digelar seminggu dua kali. Hari Senin untuk kaum pria dan hari Kamis untuk ibu-ibu.

Ahmad Iftah Sidik (santri asal Tangerang)

Incoming search terms:

Share

K.H.M. Hanif Muslih, Lc: Mursyid Thariqah Yang Rajin Menulis Buku

Banyumas Pesantren-K.H.M. Hanif Muslih, Lc: Mursyid Thariqah Yang Rajin Menulis Buku

Berawal dari perdebatan dengan kawannya, ulama yang satu ini mulai menulis buku unik, yang menjadikan rujukan lawannya sebagai bahan “memukul” balik.

Buah selalu jatuh tak jauh dari pohonnya, begitulah peribahasa yang tepat disematkan kepada kiai yang satu ini. Mewarisi tradisi ayah, paman dan kakaknya, ia adalah mursyid salah satu thariqah besar. Ia juga mewarisi keterampilan dan kegemaran ayahnya menulis risalah-risalah agama yang kemudian dibukukan.

Karya-karyanya menyoroti topik-topik yang menjadi perdebatan dalam umat Islam, seperti tahlilan, tarawih, ziarah kubur dan sebagainya. Uniknya, dalam membela masalah-maalah “kontroversial” tersebut ia mengedepankan sumber-sumber yang selama ini sering dijadikan rujukan oleh kalangan yang menentangnya.

Menurutnya, kalangan yang anti terhadap ritual kaum nahdliyyin selama ini bertindak tidak adil, karena dalam mengutip pendapat para ulama salaf hanya mengambil bagian-bagian yang menguntungkannya saja. Sedangkan keterangan pendapat berikutnya yang lebih luas justru diabaikan karena menolerir pendapat yang dijadikan rujukan oleh kaum nahdliyyin.

Sukses dengan enam buku pertamanya, saat ini ia tengah menyelesaikan penulisan buku tentang tawassul. Tentu dengan mengedepankan sumber-sumber dari ulama yang sebelumnya dicap anti tawassul.

Cukup menarik sekali apa yang dilakukan oleh sanga kiai di sela-sela kesibukannya mengasuh sebuah pesantren besar, membimbing murid-murid thariqahnya dan menjadi anggota legislatif di propinsinya. Siapakah ulama yang kreatif tersebut?

Dialah K.H. Muhammad Hanif Muslih, Lc., pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, jawa Tengah, yang juga mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.

Diwawancarai alKisah di rumahnya yang terletak di tengah kompleks Pesantren Futuhiyyah, kiai yang nada bicaranya lembut ini bertutur panjang lebar tentang latar belakang penulisan buku-bukunya, kiprah keulamaannya serta sekelumit perjalanan hidupnya.

Penulisan buku pertamanya yang mengangkat topik tahilan, kenang Kiai Hanif, berawal dari kunjungan seorang tamu yang tidak lain adalah kawannya semasa mengaji di Pesantren Futuhiyyah. Sang tamu yang juga pernah menjadi menantu pamannya itu bertanya, “Di Arab Saudi ada tahlilan atau tidak?”

Kiai Hanif yang alumnus Universitas Madinah itu terkejut dan mencoba membaca tujuan pertanyaan tersebut. “Sebenarnya sampeyan menanyakan tentang tahlilan, seperti yang lazim di negeri kita ini, atau tentang sampainya hadiah pahala mayyit?,” sang tuan rumah bertanya balik.

Perdebatan Tertulis
Akhirnya sang tamu mengaku, bahwa inti pertanyaannya adalah yang kedua, tentang sampaikah hadiah pahala untuk orang meninggal. Kiai Hanif pun lalu menjelaskan, bahwa tahlilan dalam arti membaca La ilaha illallah dan menghadiahkan pahalanya kepada orang meninggal juga diamalkan oleh sebagian besar golongan di Saudi.

Mendengar jawaban itu sanga tamu pun membantah dan terjadilah perdebatan sengit hingga larut malam. Belum puas dan tuntas, perdebatan berlanjut hingga beberapa malam berikutnya.
Pendengaran sang tamu yang sudah agak terganggu membuat Kiai Hanif harus bersuara keras dalam menjelaskan pendapatnya. Giliran Istri Kiai Hanif yang protes, anak mereka yang masih kecil tidak bisa tidur karena terganggu oleh suara keras mereka. Akhirnya kiai Hanif memutuskan untuk menulis penjelasannya secara panjang lebar dalam sepucuk surat.

Melalui surat menyurat, perdebatan pun kembali berlanjut dengan seru, sampai akhirnya sang tamu menyerah, dan menyudahi perdebatan itu. “Sudahlah, Kang. Sekarang kita beramal menurut keyakinan masing-masing. Yang jelas keyakinan saya ini mengacu kepada ulama anu, anu dan anu,” katanya dengan nada merendahkan.

Kiai Hanif tidak terima dengan nama-nama ulama yang dicatut sang teman sebagai narasumbernya. Dengan penasaran ia lalu melacak kitab rujukan sang lawan, memfotokopi pendapat para ulama yang disebut-sebut dan mempelajarinya dengan lebih seksama.

Hasilnya? “Ternyata kebanyakan mereka hanya mengutip ucapan para ulama hanya pada bagian yang mendukung pendapatnya saja. Sementara sisa keterangannya yang mendukung aktivitas tahlil dipotong dan dianggap tidak ada,” kata Kiai Hanif.

Belakangan hasil kajian dan penulusurannya tentang dalil-dalil tahlil dan pendapat para ulama tersebut sering dipinjam rekannya sesama kiai untuk dijadikan bahan rujukan diskusi. Karena kerap berpindah-pindah tangan dan dikhawatiran hilang, akhirnya Kiai Hanif memutuskan untuk mencetaknya dalam bentuk buku. Kebetulan ketika itu Rabithah Ma’ahidil Islamiyyah (RMI), organisasi persatuan pesantren NU, bersedia mencetaknya.

Sukses dengan buku pertama, Kiai Hanif pun mulai ketagihan mengkaji dan menulis tema-tema serupa. Ketika ada orang yang bertanya tentang hukum tarawih dua puluh rakaat, misalnya, ia pun menjawabnya dengan menulis sebuah buku. Tentu dilengkapi dengan kutipan pendapat para ulama yang dianggap menentang praktik tarawih 20 raka’at, yang tanpa potongan di sana-sini.

Sejak itu berturut-turut ia menulis beberapa buku lagi. Dan saat ini ia tengah menyelesaikan buku terahirnya yang mengupas kontroversi seputar masalah tawassul.

Dari pengalamannya menulis, Hanif menyimpulkan, “Kelemahan kita ini adalah karena sering menggampangkan segala urusan. Pokoknya kalau sudah diajarkan dan diamalkan oleh kiainya, dianggap cukup. Tanpa perlu ikut menyusuri dasar hukumnya, atau taqlid buta.”

Ditambah lagi kebanyakan kiai juga nggampangke, tambahnya. Kalau mengutip kitab cukup dengan mengambil pendapat ulamanya, tanpa menukilkan dasar Al-Quran dan haditsnya.
“Makanya dalam forum bahtsul masail saya selalu mengusulkan untuk mencantumkan juga dasar hukum dari Al-Quran dan haditsnya. Biar anak-anak kita nggak mudah tergoda oleh kelompok yang menganggap kita sesat dengan dalih pendapat kita lemah karena hanya berdasarkan keterangan ahli fiqih. Sementara pendapat mereka lebih kuat karena langsung mengambil dari Al-Quran dan hadits. Padahal, kitab fiqih adalah penjabaran dari hukum Al-Quran dan hadits,” kata Kiai Hanif bersemangat.

Dicekoki Paham Wahhabi
Berbincang-bincang dengan Kiai Hanif Muslih memang sangat menyenangkan. Wawasannya yang luas ditopang dengan pengetahuan agamanya yang dalam.

K.H. Muhammad Hanif lahir di Mranggen pada bulan Desember 1955 sebagai anak keempat dari sebelas bersaudara putra pasangan K.H. Muslih Abdurrahman dan Nyai Hj. Marfu’ah. Ayahnya adalah ulama besar pada era 1950an hingga wafatnya pada tahun 1981. Mbah Muslih juga pernah menduduki posisi rais ‘am di Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman), organisasinya para pengamal thariqah di tanah air.

Meski anak ulama pengasuh pesantren, oleh orang tuanya pendidikan dasar agama Hanif kecil lebih banyak diserahkan kepada para pengajar madrasah di lingkungan pesantrennya. Hanya setiap bulan Ramadhan, Hanif mengikuti pengajian kitab yang diasuh langsung oleh sang ayah di masjid Pesantren Futuhiyyah.

Kelas duduk di kelas tiga Madrasah Aliyah, Hanif diajak kakak iparnya, Kiai Muhammad Ridwan untuk menunaikan ibadah haji, dengan menumpang kapal laut. Tepat ketika usai menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji, Hanif menerima surat dari sang ayah yang memerintahkannya untuk tetap tinggal dan menuntut ilmu di Tanah Suci. Namun karena waktu masa penerimaan murid baru baru saja usai, terpaksa Hanif harus menunggu tahun ajaran baru berikutnya.

Selama hampir setahun itu ia menghabiskan waktu dengan bekerja sebagai sekretaris seorang syaikh yang memiliki usaha pengelolaan haji di siang hari. Di rumah sang syaikh itu pula Hannif tinggal bersama beberapa kawan Indonesianya. Dan malam harinya, usai shlat maghrib, ia mengikuti pengajian Tafsir Ibnu Katsir di Babussalam, Masjidil Haram yang diasuh oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Tahun 1976 Hanif mendaftarkan diri di Universitas Madinah dengan ijazah Madrasah Aliyah Futuhiyyah yang dikirimkan ayahnya. Namun sayangnya, almamaternya waktu itu belum mu’adalah (disetarakan) di Saudi. Karena itu ia harus mengulang sekolah lagi selama setahun di kelas tiga Madrasah Aliyyah Madinah. Baru pada tahun berikutnya, 1977, ia bisa masuk Universitas Madinah.

Bersamaan dengan Hanif ada lima alumnus Pesantren Futuhiyyah lain yang diterima di Universitas Madinah. Kebetulan kelimanya juga berasal dari daerah Mranggen. Mereka pun lalu bersepakat akan mengambil jurusan yang berbeda-beda, agar saat kembali ke tanah air nanti akan bersama-sama memperkaya pesantren almamater dengan keilmuan yang beragam.

“Ternyata, setelah pulang ke tanah air, semua teman-teman saya diambil menantu oleh para kiai dari berbagai daerah. Tinggal saya saja yang masih tinggal di Mranggen,” kenang Kiai Hanif sambil terkekeh..

Dalam rembugan itu, Hanif sendiri kebagian tugas mengambil jurusan Bahasa Arab, yang terus digelutinya hingga meraih gelar Lc.

Banyak hal berkesan yang dialami Kiai Hanif ketika belajar di negeri yang dikuasai oleh kelompok Wahhabi. Di antaranya adalah upaya mencekoki mahasiswa dengan paham Wahhabi.
Untungnya, menurut Kiai Hanif, waktu itu masih banyak dosen di Universitas Madinah yang non wahhabi dan berasal dari luar Saudi. “Hanya mata kuliah aqidah saja diampu oleh dosen-dosen asli Saudi yang berpaham Wahhabi, Itu pun mata kuliahnya jarang diminati oleh mahasiswa, karena cara mengajar mereka rata-rata kurang enak,” ungkapnya kemudian.

Pilihan Allah
Kebetulan pengawasan terhadap kegiatan ekstra kampus saat itu juga belum seketat sekarang. “Jaman saya dulu masih ada organisasi KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) yang diantara kegiatannya adalah tahlilan, barzanjen dan manaqiban,” kenangnya.
Usai menyelesaikan program S1-nya, Hanif pulang ke tanah air pada bulan Desember 1982 untuk membantu kakaknya, K.H. Luthfi Hakim, mengasuh pesantren Futuhiyyah. Kebetulan setahun sebelumnya, 1981, ayah mereka wafat di Tanah Suci ketika tengah menunaikan umrah Ramadhan.

Tak ingin nantinya pusing mencari pendamping hidup, sebelum pulang ke tanah air Hanif pun berpesan kepada sang kakak untuk mencarikan jodoh baginya. Alhamdulillah, kata Kiai Hanif, proses itu tidak memakan waktu lama. Ketika ia tiba di tanah air seorang calon istri sudah menunggunya. Dan tepat bulan maret 1983 ia pun dinikahkan dengan Fashihah gadis asal kendal yang sedang nyantri di Jombang.

Dari perkawinan tersebut Kiai Hanif dianugerahi empat anak yang mewarisi semangat belajarnya yang menyala-nyala. Dalam mendidik anak, Kiai Hanif mengikuti tradisi keluarganya. Dari tingkat MI sampai MTs harus di Futuhiyyah, setelah baru anak-anaknya disuruh nyantri di pesantren lain.

“Terserah mereka maunya di mana. Kalau ternyata belum ada gambaran, biasanya saya ajak mereka keliling ke pesantren-pesantren sambil melihat-lihat.”

Kiai Hanif mengaku tidak mau memaksakan kehendak kepada anak, apalagi memaksa mereka menjadi ulama. “Menjadi ulama atau tidak itu adalah pilihan Allah. Tugas saya sebagai orang tua hanya membekali anak dengan ilmu dan mengarahkan,” kata Kiai Hanif bersungguh-sungguh.
Sebagai putra ulama besar yang terkenal di Nusantara, banyak kenangan berkesan yang dialami Hanif bersama sang ayah. Hal yang paling berkesan dari ayahnya yang ulama sufi adalah kedisiplinan dan kewira’iannya. Kiai Muslih, menurut Hanif, sangat tidak menyukai gemerlap kehidupan dunia.

“Seumur hidupnya Abah tidak pernah terdengar bernyanyi. Beliau juga tidak mau memiliki televisi, karena takut melenakannya dari Allah SWT,” kenang Kiai Hanif. “Jika belakangan Mbah Muslih menyuruh saya membeli radio, hal itu tidak lain karena setiap bulan Ramadhan beliau ingin mendengarkan adzan maghrib langsung dari Masjid Jami’ Baiturrahman, Semarang, yang selalu direlay oleh RRI.”

Pernah juga suatu ketika Hanif yang sedang menunggu abahnya pulang mengajar di masjid bernyanyi-nyanyi di ruang tamu. Tanpa ia sadari, ayahnya masuk dan terus memandanginya tanpa ekspresi marah. Dengan lembut Mbah Muslih berucap, “Opo kowe wis ora eling mati, Le? (Apa kamu sudah tidak ingat mati, Nak?)”.

Meski dikenal sebagai ulama yang linuwih dan waskita, ayahnya juga tidak pernah mengajarkan ilmu yang macam-macam kepada para santri apalagi keluarga. Ketika terjadi gegeran tahun 1966-1970, misalnya, banyak kiai yang mengijazahkan ilmu hikmah kepada santri-santrinya. Namun tidak dengan Kiai Muslih. Ulama sufi itu hanya menganjurkan santri-santrinya untuk memperbanyak berdoa memohon perlindungan kepada Allah.

Gudang Ilmu Hikmah
Namun sebagaimana anak-anak seusianya, Hanif sangat penasaran terhadap ilmu hikmah. Karena tidak berani meminta kepada ayahnya, ia pun mengikuti teman-temannya berguru ilmu kanuragan kepada beberapa kiai ahli hikmah yang tinggal di sekitar Mranggen. Lucunya, begitu tahu Hanif adalah anak Kiai Muslih Mranggen, tak ada satu pun kiai yang mau memberikan ijazahnya kepada bocah itu.

“Minta saja sama ayahmu,” kata mereka, “Beliau itu gudangnya ilmu hikmah.”
Betapa sedihnya Hanif mendengar penolakan itu. Untungnya tak lama kemudian desanya kedatangan tamu, seorang kiai ahli hikmah dari Jawa Timur, yang mau memberikan ijazah berbagai ilmu hikmah kepada siapa saja. Dengan semangat Hanif lalu ikut berguru. Ia mendapat ijazah sebuah amalan yang harus disertai puasa.

Tak disangka, ternyata lelakonnya itu ketahuan sang abah. Hanif pun dipanggil ke kamar pribadi Kiai Muslih dan dimarahi. “Kalau kamu senang mempelajari ilmu hikmah, nanti abah sendiri yang akan menjajal ilmu kamu,” bentak Kiai Muslih. Tentu saja wajah Hanif langsung pucat pasi karena ketakutan.

“Ilmu hikmah itu tidak usah dipelajari,” lanjut Mbah Muslih. “Yang penting sekarang kamu belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan sebaik-baiknya. Setelah menjadi orang alim, lalu kamu mengajar agar ilmumu mendapat keberkahan. Setelah itu insya Allah semua ilmu hikmah akan datang sendiri.”

Uniknya, meski marah, Kiai Muslih tidak menyuruh Hanif menghentikan puasanya. Sebaliknya, Sang Allamah justru menambah sebuah wirid yang dimaksudkan sebagai penyeimbang amalan ilmu hikmahnya tersebut.

Ketika disinggung mengenai aktivitas kethariqahannya, Kiai Hanif mengaku sudah ditawari untuk berbai’at oleh ayahnya sejak ia masih kuliah di Madinah. Namun waktu ia yang merasa belum siap menolak tawaran abahnya.

Ketika sang ayah wafat, dan Hanif pulang ke tanah air, kakaknya, Kiai Luthfi Hakim juga menawarinya untuk dibai’at. Namun lagi-lagi Kiai Hanif menolak karena merasa belum siap. Ia merasa sebagian besar waktunya saat itu habis untuk mengurus Rabithah Ma’ahidil Islamiyyah (RMI) Jawa Tengah yang selama tiga periode dipimpinnya.

“Selain itu, saat itu juga saya merasa masih banyak maksiat,” ungkap Kiai Hanif merendah.
Sejak pulang dari Madinah, Kiai Hanif dan Kiai Luthfi memang berbagi tugas. Sang kakak konsentrasi di dalam pondok mengurus santri dan thariqah. Dan Hanif yang kebagian tugas urusan luar pesantren dan masalah keumatan.

Namun pada tahun 2003, tepat dua tahun sebelum Kiai Luthfi wafat, Hanif dipanggil sang kakak dan diultimatum, “Mau atau tidak mau, sekarang juga kamu saya bai’at.”

Kiai Hanif yang sudah merasa semakin tua dan lebih tenang pun menerima. Ia menjalani tarbiyyah (pendidikan sufistik) dari sang kakak dan pamannya K.H. Ahmad Muthohhar yang juga diangkat sang ayah menjadi mursyid. Tak lama menjalani tarbiyyah, Hanif telah dianggap cukup dan diangkat menjadi khalifah, kemudian mursyid penuh.

Mursyid Pengganti
Meneruskan tradisi ayahnya, yang menjelang wafat mengangkat adiknya K.H. Ahmad Muthohhar Abdurrahman, putranya K.H. Luthfil Hakim, dan menantunya K.H. Makhdum Zein. K.H. Muhammad Ridwan, dan Kiai Abdurrahman Badawi sebagai pengganti, tak lama setelah dua mursyid seniornya wafat Kiai Hanif juga mengumpulkan keponakan-keponakannya. Lima ustadz muda yang merupakan putra lima mursyid sebelumnya itu ditawari untuk dibai’at dan dididik menjadi calon mursyid pengganti.

Namun diantara kelimanya hanya K.H. Said Lafif bin Luthi Hakim saja yang bersedia, sementara yang lain mengaku belum siap. Baru belakangan, putra K.H. Ahmad Muthohhar menyusul. Maka jadilah tiga mursyid itu yang secara bersamaan meneruskan tradisi kethariqahan Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah di Mranggen.

Selain membimbing di pesantrennya, belakangan Kiai Hanif juga sering menghadiri undangan murid-muridnya, untuk memimpin tawajjuhan (penhgajian thariqah) dan membai’at murid-murid baru. Saat ini murid TQN Mranggen memang telah tersebar hingga ke pulau-pulau lain di Nusantara, terutama Sumatera.

“Saya cuma meneruskan langkah Kiai Luthfil Hakim,” kata Kiai Hanif.

Dalam kehidupan modern ini, menurut Kiai Hanif Muslih, setiap orang idealnya masuk ke dalam salah satu thariqah yang mu’tabarah. Sebab seiring kemajuan zaman, problematika kehidupan yang dihadapi umat islam menjadi semakin kompleks.

“Dan dalam banyak kompleksitas itu menyebabkan banyak orang yang menderita stress. Di sinilah thariqah menawarkan sebuah solusi kedamaian dan ketentraman dengan pendekatan diri kepada Allah,” tutur Kiai Hanif.

Demikianlah sekelumit lagi tentang ulama unik dari pesantren, yang terus berkarya dalam ruang lingkup yang semakin sempit dikepung kemajuan zaman. Menutup perbincangan siang itu, Kiai Hanif berharap, thariqah akan semakin banyak diamalkan dan akan semakin menentramkan jiwa banyak orang. Amin.

Ahmad Iftah Sidik, (Pemerhati Kiai Kharismatik NU)

Incoming search terms:

Share

Prof. DR. K.H. Chatibul Umam: Pakar Bahasa dan Sastra Arab NU Dari Kota Kretek

Banyumas Pesantren-Pakar Bahasa dan Sastra Arab NU Dari Kota Kretek

Tak banyak ulama NU yang bisa menghasilkan banyak karya tulis. Apalagi yang berbahasa Arab. Di antara yang jarang itu Tamu Kita kali ini adalah salah satunya.

Pada masa kejayaan Islam, seorang ulama pasti menguasai berbagai ranah keilmuan, baik di bidang agama maupun sains. Hebatnya lagi hampir semua ulama masa itu meninggalkan karya-karya penulisan besar yang membuat nama mereka terus dikenal dan dikenang hingga saat ini. Karya-karya tulis tersebut sangat fenomenal karena menggabungkan data ilmiah yang cenderung kaku dengan gaya penulisan bersastra yang indah. Beberapa di antaranya bahkan ditulis dalam format nazham (bait-bait syair) dan natsar (prosa liris) dengan gaya bahasa yang memikat hati.

Tengok saja kitab Alfiyyah Ibnu Malik, yang memperkenalkan ilmu tata bahasa Arab dalam rangkaian senandung sepanjang seribuan bait syair. Juga kitab Zubad yang berisi seribuan bait syair tentang ilmu fiqih, Matan Rahabiyyah yang mengulas ilmu faraidh (ilmu bagi waris islami), Aqidatul Awam yang memaparkan kaidah-kaidah ilmu tauhid dan lain sebagainya. Seluruh karya agung tersebut jelas menggambarkan penguasaan penulisnya dalam ilmu tata bahasa dan sastra Arab.

Tak hanya dari Timur Tengah, beberapa kitab bersyair juga pernah ditulis oleh ulama Indonesia masa lalu. Sebut saja kitab maulid Al-Unsyudah An-Nabawiyyah karya Syaikh Abdullah Arfan Baraja’ dan banyak karya-karya lain. Hamzah Fansuri, Syaikhuna Cholil Bangkalan, Kiai Abdullah bin Nuh Bogor, Habib Idrus Al-Jufri (pendiri Al-Khairat) Palu, dan Kiai Turaikhan Kudus, merupakan sebagian kecil dari deretan panjang ulama nusantara yang terkenal sebagai ahli paramasastra Arab.

Sayangnya tradisi agung itu perlahan mulai luntur, terutama di negeri ini. Terbukti dengan semakin langkanya ulama Nusantara yang menghasilkan karya dalam bahasa Arab, apalagi yang bernuansa sastra. Kalau pun ada, ahli sastra Arab tanah air kebanyakan sudah berusia sepuh. Indikasi itu juga diperkuat dengan fakta bahwa jurusan sastra Arab di perguruan-perguruan tinggi Agama Islam jarang diminati –oleh santri sekali pun– karena tingkat kesulitannya yang dianggap sangat tinggi.

Di antara yang tak banyak itu, Tamu Kita kali ini adalah salah satunya. Gelar Doktor dan Guru Besar ilmu sastra Arab yang terpampang di depan namanya menjadi bukti pengabdiannya kepada dunia pendidikan bahasa dan sastra Arab. Belum lagi jika melihat daftar panjang karya tulisnya yang berupa 240an judul buku, 70an makalah dalam berbagai seminar Bahasa Arab dalam dan luar negeri, dan puluhan artikelnya di berbagai jurnal ilmiah dan media massa.
Dialah Prof. Dr. K.H. Chatibul Umam, guru besar bahasa dan sastra Arab di UIN Syarief Hidayatullah Jakarta dan mantan rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, yang juga rais syuriyah PBNU dan penasehat Lajnah Falakiyah PBNU.

Unsur Imajinasi
Diwawancarai di kediamannya di Perumahan Dosen UIN Ciputat, Tangerang, Banten, ulama sepuh yang bersahaja itu bertutur panjang lebar seputar bahasa Arab, aktivitas menulis para ulama dan suka dukanya bergelut dengan bahasa dan sastra Arab serta sekelumit perjalanan hidupnya.

Ditanya mengenai semakin langkanya ulama nusantara yang menghasilkan karya tulis dalam bahasa Arab, ulama sepuh kelahiran Kudus 81 tahun lalu itu mengatakan, “Sedikit banyak hal itu dipengaruhi oleh semakin populernya penggunaan Bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar di madrasah dan pesantren, sejak Indonesia merdeka.”

“Perlahan para santri dan ustadz lebih enjoy menggunakan bahasa Indonesia dari pada Bahasa Arab dalam menguraikan pelajaran. Bahkan di banyak madrasah dan pesantren, penggunaan bahasa Arab sebagai pengantar pelajaran justru dianggap menghambat pemahaman siswa,” tambahnya.

Efek yang lebih jauh lagi, papar Kiai Chatib, demikian ia akrab disapa, ulama sekarang lebih suka menulis karyanya dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah diterima, dicerna dan dipahami pembaca yang mayoritas buta huruf Arab. Kondisi itu diperparah dengan fakta, tak seperti zaman dulu, saat ini tak banyak lagi pesantren, apalagi madrasah, yang mengajarkan ilmu arudh (seni sajak).

“Di IAIN saja tinggal fakultas Adab saja yang masih mengajarkan ilmu arudh,” tambah guru besar yang mengajar ilmu arudh di Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI
Sebuah karya sastra Arab yang baik, menurut suami Hj. Muflichah, itu harus memuat empat unsur : ‘athifah (rasa), khayaliyyah (imajinasi), fikrah (gagasan) dan uslub (gaya penulisan). Contoh karya sastra Arab terbaik sepenjang masa adalah Al-Quran, yang secara sempurna memenuhi keempat unsur tersebut.

Terlahir sebagai putra pengasuh pesantren membuat Chatibul Umam telah akrab dengan bahasa Arab sejak usia belia. Namun demiakian, sulung dari lima bersaudara putra pasangan K.H. Rif’an, pengasuh Pesantren Jagalan, Langgar Dalem, Kudus, Jawa Tengah, dan Nyai Hj. Ruqoyyah itu mengaku tak pernah menduga kelak akan menjadi guru besar ilmu tata bahasa Arab.

Pasalnya, saat remaja, kiai kelahiran Kudus, 7 Juli 1936, itu justru lebih akrab dengan dunia ilmu falak (astronomi), mengikuti jejak ayahandanya yang menjadi penyusun kalender Menara Kudus, sebelum Kiai Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi. Bahkan saat masih duduk bangku Tsanawiyyah di TBS ia pernah diperintahkan ayahnya untuk menyusun kalender lengkap tahun 1958. Setelah diperiksa sang ayah, hasil perhitungan Chatibul Umam itu kemudian diterbitkan dan diedarkan oleh Menara Kudus.

Chatib kecil mengawali pendidikan agamanya di rumah sendiri. Ia mengikuti pengajian-pengajian kitab yang diasuh ayahnya. Selain mengaji di rumah, ia juga belajar agama di Madrasah Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah Taywiquth Tulab Salafiyyah (TBS), salah satu madrasah legendaris di kota kretek itu yang rata-rata pengajarnya adalah para kiai.

Di TBS ia belajar ilmu falak kepada sang ayah dan ilmu arudh (seni sastra) kepada K.H. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi. Sementara pengajian Al-Quran diikutinya di Pesantren Yanbu’ul Quran yang diasuh K.H. Arwani Amien, alumnus pesantren Krapyak, Yogyakarta, yang belakangan menjadi salah seorang ulama besar pengajar Tahfizhul Quran terkemuka di negeri ini. Tiga ulama Kudus itulah yang hingga kini ia jadikan sumber inspirasinya.

Nyaris Sempurna
Meski tak lagi menggeluti ilmu falak secara langsung, pengetahuannya dalam ilmu penentuan kalender itu hingga kini masih diakui. Terbukti dari kepercayaan Lajnah Falakiyyah PBNU, lembaga ilmu falak NU, yang mengangkatnya menjadi penasehat. Bahkan setiap kali Departemen Agama mengadakan sidang itsbat untuk menentukan tanggal 1 Ramadhan, 1 Syawwal dan 1 Dzulhijjah, Profesor Chatiblah yang selalu diminta hadir mewakili NU.

Lulus dari TBS, tahun 1953, Chatibul Umam melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) Yogyakarta. Di sekolah berdurasi empat tahun ajaran itulah untuk pertama kalinya ia tertarik untuk mendalami Bahasa Arab, yang bermula dari perjumpaannya dengan Ustadz Nurhasyim, guru Bahasa Arabnya yang alumnus Gontor.

Dengan semangat “belajar Bahasa Arab itu menyenangkan” sang ustadz mendorong murid-muridnya untuk mendalami bahasa Al-Quran tersebut. Khusus kepada Chatib yang mulai menunjukkan ketertarikan, ustadz Hasyim selalu mengajaknya berbincang dalam Bahasa Arab dan meminjamkan buku-buku kontemporer berbahasa Arab, seperti novel dan puisi karya Luthfi Al-Manfaluthi, yang belakangan mengilhami penyusunan disertasinya.

“Karena waktu itu belum banyak mesin foto kopi, buku-buku yang menarik lalu saya salin di buku tulis,” kenang Profesor Chatibul Umam. Sejak itulah ia bertekad untuk terus memndalami Bahasa Arab.

Selepas SGHA, Chatib yang langsung diangkat menjadi guru negeri itu lalu ditugaskan mengajar Bahasa Arab di PGA Kudus. Dengan mengajar kemampuan dan pengetahuan Bahasa Arabnya pun meningkat pesat. Tak melupakan almamater, setiap jadwal mengajarnya di PGA kosong ia pun mengajar mata pelajaran umum, ilmu falak dan kaligrafi di TBS.

Tiga tahun kemudian, 1960, ia mendapat kesempatan mengikuti ujian negara untuk mendapatkan beasiswa tugas belajar di Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA), Jakarta. Dengan modal kemampuan Bahasa Arabnya, ia mampu melewati ujian yang seluruh soalnya berbahasa Arab itu dengan nilai nyaris sempurna, 99 pada skala 100.

Di kampus yang kelak menjadi IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, itu kehausan Chatibul Umam dalam mempelajari Bahasa Arab menemukan muaranya. Sebab di perguruan tinggi yang merupakan program unggulan pemerintah itu hampir semua mata kuliah di sampaikan dalam bahasa Arab.

Banyak kenangan lucu saat ia pertama kali mengikuti perkuliahan di Jurusan Bahasa Arab yang dipimpin Profesor Busthami itu. Salah satunya ketika perkenalan materi Filsafat yang diampu Zainuddin Manshur.

Tanpa diduga, sang dosen langsung menyebutnama Chatibul Umam dan menyuruhnya maju ke muka kelas dan memperkenalkan diri dan menceritakan kesan-kesannya diterima di ADIA, dalam bahasa Arab. Lucunya, ketika sang dosen menyebut nama Chatibul Umam, ada salah seorang temannya yang bertanya balik dengan mimik serius, “Juz kam, ya Ustadz? Juz berapa, Ustadz?” Rupanya dia mengira sang dosen sedang menyebut judul salah satu kitab.
Tak sampai setahun, ADIA berubah status menjadi IAIN. Ia pun menjadi mahasiswa angkatan pertama kampus kebanggaan umat Islam Indonesia tersebut.

Saat kuliah, Chatibul Umam juga aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tak tanggung-tanggung, tahun 1963, saat PB PMII dipimpin Mahbub Djunaedi, Chatib diangkat menjadi wakil sekretaris jendral. Ketika Mahbub memimpin Duta Masyarakat, koran harian milik Partai NU, ia juga ikut direkrut menjadi salah seorang wartawan sekaligus sekretaris redaksinya.

Sekali Jadi
Ketika Partai NU berfusi ke dalam PPP, koran Duta Masyarakat pun dilebur dengan beberapa media parta Islam lain menjadi harian Pelita. Merasa tidak sreg, Mahbub dan Chatib memilih keluar lalu bergabung dengan Majalah Risalah Islamiyyah, media yang diterbitkan oleh Lembaga Misi Islam yang dipimpin K.H. Dr. Idham Chalid. Sementara di kampus ia mendirikan dan memimpin Studia Islamika, jurnal ilmiah milik IAIN Syarif Hidayatullah. Media massa terakhir yang digelutinya adalah majalah Ihya Ulumiddin, yang diterbitkan oleh .

Mahbub Djunaedi memang guru terpenting Chatibul Umam dalam dunia tulis menulis. Dari Mahbub ia belajar tekhnik menulis sekali jadi, yakni menulis tanpa terlebih dulu menyusun konsep di atas kertas. “Menurut Mahbub, wartawan sejati harus bisa merumuskan outline dan tulisan jadi di otaknya sebelum mulai mengetik. Dia marah-marah kalau ada wartawan yang bolak-balik mengganti kertas karena kehilangan gagasan di tengah-tengah menulis.”

Kebiasaan itu berlanjut hingga sekarang. Setiap menulis buku, artikel atau makalah, Chatibul Umam selalu mengerjakannya dalam sekali duduk.

Buku pertamanya yang membahas tentang Ilmu Balaghah terbit pada tahun 1969. Buku itu lalu diterbitkan secara besar-besaran oleh Departemen Agama dan disebarkan ke seluruh tanah air sebagai buku pegangan pelajaran Ilmu Balaghah. Dari hasil royaltinya, Chatibul Umam bisa membeli sebuah rumah yang cukup besar di Kauman Semarang, yang ia beri nama Baitul Balaghah, Rumah Balaghah.

Sejak itulah Kiai Chatibul Umam terus produktif menulis. Hingga tahun 1999, ketika diadakan pendataan karya-karyanya sebagai prasyarat memperoleh gelar Doktor, tercatat 218 judul buku, baik karya asli maupun terjemahan kitab-kitab, karya Sang Profesor yang telah diterbitkan. Kebanyakan mengupas persoalan tata bahasa dan sastra Arab.

Jumlah itu belum termasuk puluhan makalah serta artikel ilmiah yang disusunnya untuk berbagai jurnal dan seminar di dalam dan luar negeri. Angka itu masih terus bertambah, karena hingga kini Kiai Chatib masih terus berkarya. Saat ini, misalnya, ia tengah menyelesaikan penerjemahan Kitab Al-Fiqh ‘ala Madzahib Al-Arba’ah, kitab fiqih empat Madzhab.

Tak hanya beredar di dalam negeri, beberapa buku karya Kiai Chatib juga menghiasi rak beberapa toko buku besar di negeri jiran Malaysia, Brunai dan Singapura. Sebut saja buku Pedoman Dasar Ilmu Nahwu, Kaidah Tata Bahasa Arab, dan buku-buku Bahasa Arab lain untuk tingkat MI dan MTs yang versi aslinya diterbitkan Menara Kudus.

Sayangnya buku-buku itu kebanyakan diterbitkan di Malaysia secara ilegal alias dibajak. Tak pernah sepeser pun Kiai Chatib mendapatkan royalti atas karya-karyanya tersebut. Bahkan ketika salah seorang temannya yang mengajar Bahasa Arab di UGM membantunya melacak “penerbit”, ternyata alamatnya fiktif.

Ketika alKisah mengusulkan upaya hukum untuk menuntut si pambajak, dengan ringan sang kiai berkata, “Buat apa nuntut, wong sistem hukum kita saja nggak mendukung. Lebih baik diam. Saya cuma berharap, mudah-mudahan si pembajak diberi kesadaran dan bersedia membayar royalti.”

Kepiawaian Chatib berbahasa Arab dalam sebuah acara PMII yang mengundang tamu-tamu dari Timur tengah juga pernah membuat kagum Menteri Agama K.H. Saifudin Zuhri. “Chatib, tolong bantu aku di departemen ya,” kata Kiai Chatib menirukan permintaan sang menteri waktu itu.

Sejak itu ia sering diminta membantu kementrian dalam hal-hal yang berkaitan dengan Bahasa Arab. Tak hanya itu, Chatib juga diminta mengajar privat anak-anak Saifudin Zuhri.

Peninjau Muktamar
Sedangkan ihwal keterlibatannya dalam kepengurusan NU, Kiai Chatib mengaku semuanya berlangsung tanpa sengaja. Ceritanya juga cukup unik. Pada muktamar Krapyak, 1989, ia ikut hadir sebagai peninjau karena tertarik dengan isu mufaraqahnya Kiai As’ad Syamsul Arifin. Karena cuma peninjau, usai pemilihan Rais Am dan Ketua Umum, pun ia segera kembali ke hotel dan tidur.

Pagi harinya tanpa punya pikiran apa-apa ia berolah raga dengan jalan-jalan di depan hotel. Di tengah jalan ia berpapasan dengan Kiai Najid Mukhtar, mantan ketua PP Ma’arif, yang tengah menuju stasiun. Tiba-tiba ia memanggil namanya sambil meneriakkan kata selamat. Kiai Chatib pun bengong. “Selamat? Selamat untuk apa?” pikirnya dalam hati sambil melanjutkan olah raganya.

Peristiwa yang sama kembali terulang ketika naik kereta menuju Jakarta. Beberapa orang peserta muktamar yang berjumpa dengannya memberikan ucapan selamat. Kiai Chatib pun bertanya heran, “Ada apa ini, kenapa semua orang memberi selamat kepada saya?’.

Salah seorang peserta muktamar memberikan selembar koran pagi baru yang di halaman mukanya tercantum struktur kepengurusan PBNU. Ternyata namanya termasuk yang dipilih tim formatur untuk duduk sebagai wakil katib ‘am. Ayah tiga anak hasil pernikahannya dengan Hj. Muflichah itu pun geleng-geleng kepala.

Pada muktamar berikutnya yang digelar di Cipasung, Kiai Chatibul Umam dipercaya menjadi ketua Lembaga Bahtsul Masail NU. Namun tak lama kemudian, oleh Gus Dur ia dikembalikan ke posisi syuriyah, namun kali itu ia sebagai rais atau ketua.

Profesor Doktor K.H. Chatibul Umam memang sosok langka. Dedikasinya dalam dunia pembelajaran Bahasa Arab sungguh luar biasa. Meski baru mendapat gelar Doktor pada tahun 1999, Kiai Chatib telah menyandang gelar guru besar Bahasa Arab sejak tahun 1990.

Penganugerahan gelar profesor itu merupakan penghargaan atas dedikasinya dalam mengajar dan berkarya di bidang tata bahasa dan sastra Arab serta dianggap memiliki kemampuan membimbing calon Doktor.

Lucunya, beberapa tahun setelah penganugerahan gelar profesor, Kiai Chatib menyusun sebuah disertasi yang akan diajukannya ke senat guna memperoleh gelar doktor. Namun ia malah ditertawakan rektornya, “Walah, anda ini khan sudah profesor senior yang biasa membimbing dan menguji para doktor. Kalau sekarang anda bikin disertasi yang akan membimbing dan menguji siapa?”

Akhirnya rapat senat IAIN Syahid pada tahun 1999, yang mayoritas anggotanya adalah mantan mahasiswanya, memutuskan untuk menganuerahkan gelar Doktor dalam bidang bahasa Arab kepada sang profesor.

Dua gelar itu memang sangat layak disematkan di dada Chatibul Umam, sebagai penghargaan atas khidmahnya di dunia pendidikan. Ia adalah pengajar sejati, seperti yang diungkapkannya kepada alKisah di akhir perjumpaan, “Saya ini pada dasarnya hanyalah seorang guru. Saya paling berat kalau disuruh meninggalkan aktivitas mengajar.”

Dan itu terbukti dalam kesehariannya di UIN. Jika tidak karena halangan yang benar-benar tidak memungkinannya berangkat mengajar, Prof. Dr. K.H. Chatibul Umam tidak pernah mau absen memberikan kuliah.

Luar biasa!

Oleh: Ahmad Iftah Sidik (Pemerhati Kiai Kharismatik NU)

Incoming search terms:

Share