Keunikan Kitab Kuning (2): Ternyata Kitab Juga Bisa Beranak Pinak

Jul 4th, 2010 | By | Category: karya santri

Banyumas Pesantren-Keunikan Kitab Kuning (2): Ternyata Kitab Juga Bisa Beranak Pinak

Masih banyak keunikan lain dari kitab kuning, dari sistem reproduksinya yang mirip makhluk hidup sampai keluasan bidang bahasan dan ranah kajiannya.

Sejak awal kelahirannyya, agama Islam telah mengajari umatnya dengan tradisi membaca, mengkaji, dan menulis. Karena itu dalam kurun waktu yang panjang umat Islam telah membentuk sebuah tradisi keilmuannya sendiri yang tak lekang oleh zaman. Bahkan hasil karya tulis ilmuwan muslin dianggap laksana lautan tinta yang tak bertepi. Hebatnya lagi, karya-karya tulis tersebut juga seringkali dianggap sakral karena ditulis oleh para ulama yang memiliki dua kelebihan; keilmuan yang mendalam (daqiq) dan akhlaq serta kepribadian yang luhur.

Pada edisi lalu (09/VI) disebutkan sejumlah kekhasan dan keunikan kitab kuning. Masih banyak lagi keunikan lain yang menjadi ciri khas kitab kuning. Salah satuny ialah ia tidak mengenal pembabakan alinea atau paragraf. Sebagai pembatas antar obyek pembahasan digunakan kata kitâbun. Kitabun ini masih dibagi lagi ke bagian-bagian yang semakin kecil dengan urutan bâbun, fashlun, raf’un, tanbih dan tatimmatun. Kekhasan lainnya, isi kandungan kitab banyak berbentuk duplikasi dan pemaparan dari karya ilmiah ulama sebelumnya.

Pada bagian lalu juga sudah diceritakan tentang pengembangan kitab-kitab matan (teks awal) menjadi dikembangkan menjadi ringkasan (mukhtashar atau khulashah), penjabaran (syarah), komentar (hasyiyah), dan catatan pinggir (hamisy). Selain itu, dalam sebuah kitab kuning juga dicantumkan taqrir dan ta’liq yang maknanya hampir senada dengan hamisy.

Secara guyonan kalangan pesantren sering mengatakan, dalam tradisi kitab kuning ternyata juga ada sistem reproduksi seperti manusia, yakni dari orang tua melahirkan anak kemudian cucu, lalu buyut dan seterusnya. Ambil contoh kitab Taqrib karya Al-Qadhi Husein Abu Syuja’.
Dari matan Taqrib itu lahir kitab syarah Fathul Qarib karya Abul Qasim dan belakangan At-Tahdzib karya Musthafa Dibul Bighah. Lalu dari syarah Fathul Qadir tersebut belakangan dibuat hasyiyahnya oleh dua ulama Imam Al-Bajuri dengan Hasyiyah Al-Bajuri-nya dan Syaikh Nawawi Al-Bantani dengan kitab At-Tausyih-nya.

Dengan tradisi unik yang nyaris tidak ada dalam khazanah keilmuan barat ini satu kitab kuning induk bisa menjadi menurunkan kitab-kitab lain yang jumlahnya bisa berlipat ganda. Dari Timur Tengah pada abad pertengahan saja telah dihasilkan ratusan judul kitab dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai tingkatan matan, syarah dan hasyiyahnya.

Ulama Muda Produktif
Dari ribuan karya ulama Timur Tengah yang paling layak dikisahkan adalah karya-karya Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi yang biasa disapa Imam Nawawi. Dalam usianya yang terbilang singkat, empat puluhan tahun, Imam Nawawi telah menghasilkan karya tulis dalam jumlah yang cukup fantastis dan melintasi hampir seluruh disiplin ilmu agama.

Dan hebatnya, semua kitab-kitab karya Imam Nawawi sangat populer dan menjadi rujukan utama di pesantren. Beberapa diantara karya-karyanya adalah Riyadh Ash-Shalihin (hadits), Minhaj Ath-Thalibin (fiqih), Al-Adzkar (tasawuf), At-Tibyan Fi Adabi Hamalah Al-Qur’an (akhlaq), Raudhah Ath-Thalibin (fiqih), Thabaqah Al-Asma wa Al-Lughat (bahasa), dan Manaqib Asy-Syafi’i (sejarah).

Selain karya berbentuk teks utama (matan), Imam Nawawi juga banyak membuat karya yang merupakan syarah dari kitab-kitab lain. Di antaranya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Tuhfah Ath-Thalibin An-Nabih fi Syarh ‘Ala At-Tanbih, Syarh Shahih Al-Bukhari, dan Syarh Shahih Muslim.

Disamping menyarahi karya ulama lain, karya matan Imam Nawawi juga banyak disyarah oleh ulama generasi sesudahnya. Sebut saja kitab Riyadh Ash-Shalihin yang syarah-nya antara lain Dalil al-Falihin oleh Ibn ‘Allan Ad-Dimasyqi, Nuzhatul Muttaqin oleh Musthafa Sa’id Al-Khin, dan Dalil Ar-Raghibin oleh Faruq Hamadah. Kitab lainnya Minhaj Ath-Thalibin juga disyarah oleh Ibn Hajar Al-Asqalani, Ar-Ramli, dan Zakariyya Al-Anshari. Uniknya, tak hanya disyarahi oleh ulama, karya An-Nawawi juga pernah disyarahi oleh seorang orientalis yang bernama Van Den Bergh dan digubah dalam bahasa Perancis.

Selain Imam An-Nawawi, masih banyak lagi ulama-ulama abad pertengahan lainnya yang tak kalah produktif. Sebut saja Imam Al-Ghazali dengan berbagai masterpiece-nya seperti Ihya Ulumuddin, Imam Ar-Rafi’i penyusun Al-Muharrar, Ibn Muhammad Al-Khaththabi dengan kitabnya Al-Ma’alim As-Sunan Syarh Sunan Abi Dawud dan Ibn Daqiq al-‘Id pengarang kitab Ihkam Al-Ahkam Syarh Umdah Al-Ahkam.

Selain itu ada juga Ibn Abdurrahman As-Sakhawi yang menyusun kitab Fath Al-Mughits Syarh Alfiyyah Al-Hadits lil ‘Iraqi, Ibn Hajar Al-Asqalani penyusun beberapa kitab ternama seperti Bulugh Al-Maram, Al-Munabbihat ‘ala Al-Isti’dad liyaum Al-Ma’ad, As-Suyuthi dengan kitab Miftahul Jannah dan Tadrib Ar-Rawi fi Syarh At-Taqrib An-Nawawi, Syaikh Ahmad an-Nahrawi penulis Ad-Durrul Farid, dan Syaikh Muhammad Hasbullah dengan kitabnya Ar-Riyadh al-Badi’ah.

Saat ini, selain dalam format kitab cetakan kuna, sebagian besar karya-karya ulama Timur Tengah abad pertengahan Islam itu juga sudah bisa ditemui dalam bentuk cetakan modern yang indah dan terkesan kontemporer. Bahkan, sebagian kitab-kitab itu juga sudah ada yang dikemas dalam bentuk digital, baik dalam kepingan CD maupun terpampang di website-website internet.
Kehebatan tradisi ilmiah umat Islam, belakangan juga merambah ke Nusantara. Menurut catatan sementara Martin van Bruinessen, terdapat tak kurang dari 500 kitab karangan ulama Indonesia, Malaysia, dan Thailand (Pattani). Dari 500 kitab, seratus di antaranya ditulis dalam bahasa Arab, dua ratus karya dalam bahasa Melayu, seratus lima puluh berbahasa Jawa dan sisanya dalam bahasa daerah lain seperti Madura, Sunda, Aceh. Kitab-kitab tersebut juga terbagi dalam berbagai level seperti terjemahan, syarah, hasyiyah dan mukhtashar.

Penyangga Dunia
Sejumlah nama ulama Indonesia abad 17 M hingga 19 M patut disebutkan di sini. Melalui tangan mereka-lah terukir indah berbagai karya tulis kitab kuning yang mewarnai dinamika intelektual Islam di Nusantara bahkan Asia Tenggara. Sebut saja Syaikh Abdurrauf Singkel Aceh yang menyusun Umdah Al-Muhtajin dan Syarh wa tarjamah Tafsir Al-Jalalayn, Syaikh Yusuf Makasar dengan karya Safinah An-Najah, dan Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan karangannya Sabil Al- Muhtadin.

Ada juga Syaikh Saleh Darat Semarang penyusun Sabil Al-‘Abid ‘Ala Jauharah At-Tauhid, Syaikh Mahfudz Termas Pacitan dengan kitab Manhaj Dzawin Nazhar syarh Alfiyyah ibn Malik dan Mawhibah Dzawil Fadhl dan tak ketinggalan ulama produktif asal Banten, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, penyusun Ats-Tsimar Al-Yani’ah Syarh Riyadh Al-Badi’ah, Uqudullujjain dan banyak karya lainnya. Diatambah lagi dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dengan kitab An-Nafahat ‘Ala Syarh Al-Waraqat lil Imam Al-Haramayn Al-Juwaini, serta yang paling akhir Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Padang dengan karyanya Ad-Durr Al-Mandhud Syarh Sunan Abi Dawud.

Karya mereka tidak sebatas apa yang disebut itu saja, bahkan jauh lebih banyak lagi. Umpamanya Syaikh Nawawi Banten (w.1896) –yang dijuluki Sayyid Ulama’ Al-Hijaz oleh para ulama di dua kota suci Makkah dan Madinah- diperkirakan menghasilkan karya kitab sebanyak 115 buah lebih, belum termasuk risalah-risalah kecil. 54 buah di antaranya digunakan dalam kurikulum pesantren-pesantren di Indonesia dan Malaysia.

Demikian pula ulama besar Indonesia terakhir yang “berkibar” di negeri kelahiran Rasul SAW dan digelari Musnid Ad-Dun-ya (Penyangga dunia), Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Padang, yang memiliki tak kurang dari tiga puluhan karya tulis. Kebanyakan di antara karyanya adalah hasyiyah dan syarah, seperti Bughyah Al-Musytaq Syarh Al-Luma’ Ibn Ishaq, Hasyiyah Al-Asybah wan Nazha’ir As-Suyuthi, dan Fath Al-‘Allam Syarh Bulugh al-Maram Ibn Hajar Al-Asqalani.

Selain pemaparan kitab secara umum, secara khusus patut juga disebutkan kitab-kitab karya kaum Sadah Alawiyah, baik dari keluarga Al-Husaini dan Al-Hasani serta ulama (masyayikh) asal Hadhramaut yang banyak digunakan di Nusantara. Sebab kepopuleran kitab-kitab mereka juga tak kalah dibanding ulama generasi sebelumnya.

Hal ini tentu saja terkaitan dengan peranan penting kaum habaib dalam mengemban penyebaran Islam dan dakwah di nusantara. Beberapa di antara ulama Alawiyyin yang karyanya sangat akrab di pesantren nusantara adalah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dengan kitab-kitabnya yang antara lain berjudul Risalah al-Mu’awanah, Ad-Da’wah At-Tammah, Sabil Al-Iddikar, An-Nasha’ih Ad-Diniyyah, dan Al-Fushul Al-‘Ilmiyyah, dan Ahmad bin Zein Al-Habsyi penyusun Syarh Al-‘Ainiyyah dan Risalah Al-Jami’ah yang disyarah Syaikh Nawawi Al-Bantani dengan nama Bahjatul Wasa’il.

Selain itu juga dikenal Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, guru para ulama nusantara di Makkah sekaligus penyusun kitab Mukhtashar Jiddan, Habib Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad Ba’alawi penulis Sullam At-Taufiq yang kemudian disyarahi oleh Syaikh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil dengan judul Is’ad Ar-Rafiq, dan Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur penulis Bughyah Al-Mustarsyidin.

Bahan Studi Banding
Sementara dari kalangan masyayikh Hadhrami dikenal nama Syaikh Salim bin Sumayr Al-Hadhrami yang menyusun kitab Safinah An-Naja dan Syaikh Abdullah Bafadhal yang menulis Al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah yang kemudian disyarahi Syaikh Mahfuzh Termas dengan judul Mawhibah Dzawil Fadhl.

Jika ditilik secara sepintas dari jumlah dan corak kitab-kitab kuning tersebut, sepertinya ranah keilmuan Islam memang sangat luas dan sangat bercorak ragam. Namun demikian ada beberapa ulama abad pertengahan yang pernah mencoba menglasifikasikan cabang-cabang keilmuan dalam Islam. Imam As-Suyuthi, misalnya, dalam kitabnya Itmam Ad-Dirayah mengklasifikasikan cabang-cabang ilmu keislaman yang ditulis oleh para ulama dalam bentuk kitab kuning menjadi 14 cabang.

Sementara di pesantren, cabang-cabang keilmuan kitab kuning biasanya dikelompokkan dalam delapan bidang kajian, yaitu: ilmu-ilmu alat (nahwu, sharaf dan balaghah), fiqh, ushul fiqh, tasawuf, tafsir, hadits, tauhid, dan tarîkh (sejarah). Teks kitab-kitab yang dipakai sebagai rujukan ada yang sangat pendek, ada juga yang berjilid-jilid. Selain dari bidang keilmuannya pengelompokan kitab kuning di pesantren juga sering didasarkan kepada tingkat kesulitan dan kedalaman isinya, yaitu tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat atas.

Di Pesantren Tebuireng, misalnya, pada tingkat dasar digunakan kitab-kitab yang mudah dipahami, seperti ‘Aqidah Al-‘Awam (tauhid) dan Safînah An-Naja (fiqh). Sementara pada tingkat menengah kitab yang digunakan agak mulai berat, seperti Matan Taqrib, Fath Al-Qarib dan Minhaj Al-Qawim (fiqh), Jawahir Al-Kalamiyyah (tauhid), Ta’lim Al-Muta’allim (akhlak), ‘Imrithi (nahwu), Matan Al-Bina’ wa Al-Asas dan Matan Kailani (sharaf).

Sedangkan pada tingkat atas, kitab-kitab yang digunakan antara lain Al-Jalalayn dalam tafsir, Al-Arba’in Nawawiyyah, Bulugh Al-Maram, Riyadh Ash-Shalihin, Jawahir Al-Bukhari dan Tanqih Al-Qaul Al-Hatsits dalam hadits, Minhaj Al-Mughits dalam musthalah hadits, Tuhfah Al-Murid, Al-Hushun Al-Hamidiyyah, dan Kifayah Al-‘Awam dalam tauhid, Kifayah Al-Akhyar dan Fath Al-Mu’in dalam fiqh, Waraqat As-Sullam dalam ushul fiqh, serta Alfiyyah, Mutammimah, ‘Imrithi, dan Al-‘Ilal dalam nahwu dan sharaf. Sering juga ditambah dengan Minhaj Al-‘Abidin dan Irsyad al-‘Ibad yang mengupas masalah tasawuf atau akhlaq.

Hampir semua kitab salaf yang beredar di lingkungan pesantren di Indonesia dan dipelajari oleh para santri memang berafiliasi dengan madzhab sunni syafi’i. Sementara kitab-kitab yang pengarangnya tidak berafiliasi dengan madzhab sunni biasanya hanya dimiliki secara terbatas oleh para kiai sebagai bahan studi perbandingan (Dirasah Muqaranah), bukan untuk diajarkan kepada santri.

Ahmad Iftah Sidik (santri asal Tangerang)

Kata Kunci artikel ini:

kitab bajuri (110)kitab safinah (60)kitab bajuri versi bahasa indonesia (54)kitab kuning terjemahan (51)terjemahan kitab kuning (38)kitab jurumiah (36)terjemah kitab bajuri (36)terjemahan kitab bajuri (32)terjemah kitab kuning (23)terjemahan kitab taqrib (22)

2 comments
Leave a comment »

  1. Kitab Minhaj at-Thalibin karya Al-Imam An-Nawawi(rhm) disyarah oleh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami(rhm) bukan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani(rhm). Kitab syarahnya berjudul Tuhfah Muhtaj.

    Talhah
    (http://seribukitab.blogspot.com)

  2. asslkm. Wb.wr.

    Sy lg mencr ktb hasyiah bajuri ala fathul qarib format doc ms.word. Mhn bntuannya, trm ksh

    Wslm
    Saiful

Leave Comment