Monthly Archives: August 2010

Perda Madrasah Diniyah Bangkitkan Gairah Pendidikan Agama

Banyumas Pesantren- Perda Madrasah Diniyah Bangkitkan Gairah Pendidikan Agama

Rencana pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Madrasah Diniyah (MD) yang tengah dikaji oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor dinilai dapat membangkitkan gairan pendidikan agama.

Tokoh NU Kabupaten Bogor, KH Mad Rodja Sukarta, Selasa (24/8) di Bogor mengemukakan, penyusunan Perda MD tersebut sebagai salah saru terobosan penting dalam pengembangan pendidikan agama ke depan.

“Perda Diniyah merupakan kebutuhan yang dihadapi Kabupaten Bogor untuk merevitalisasi pendidikan agama, terutama madrasah diniyah yang dikelola masyarakat,” ujar pimpinan Pesantren Darul Muttaqien Parung Kabupaten Bogor.

Sejak tiga minggu lalu pimpinan DPRD Kabupaten Bogor telah membentuk panitia khusus untuk mengkaji Raperda Madrasah Diniyah.

Menurut KH Mad Rodja Sukarta, pemberlakuan Perda MD sebagi wujud perhatian Pemerintah Kabupaten Bogor terhadap keberadaan lembaga pendidikan Islam tersebut.

Populasi madrasah diniyah di Kabupaten Bogor mencapai ribuan buah. Rata-rata RT atau RW yang tersebar di 428 desa di Bogor memiliki beberapa madrasah diniyah.

Sebagian madrasah diniyah telah dilengkapi dengan fasilitas terkait baik berupa bangunan tersendiri maupun majelis talim, sebagian lainnya masih diselenggarakan di rumah-rumah masyarakat.

Madrasah Diniyah tumbuh dan berkembang berkat partisipasi masyarakat. Sebelumnya perhatian Pemkab Bogor terhadap keberadaan lembaga non-formal tersebut masih lemah.

Penyusunan Perda MD yang digulirkan oleh Bupati Rachmat Yasin dan mendapatkan dukungan luas dari anggota DPRD Kabupaten Bogor sebagai upaya Pemkab Bogor membangkitkan kembali gairah pendidikan agama ke depan.

“Perda Diniyah dapat membangkitkan gairah pendidikan agama di Kabupaten Bogor,” ujar Rodja yang juga pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor.

Dengan pemberlakuan Perda Madrasah Diniyah, ke depan Pemkab Bogor mengharuskan setiap calon siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP) maupun madrasah tsanawiyah (MTs) memiliki kemampuan baca tulis al-Qur’an serta dapat mempraktikkan salat dengan baik.

Dikatakannya, penyusunan Perda merupakan inisiatif yang sangat baik dan komitmen Pemkab Bogor yang perlu didukung bersama dalam mewujudkan revitalisasi pendidikan agama ke depan.

“Pendidikan agama merupakan faktor terpenting dalam membangun moralitas serta membina akhlak masyarakat,” imbuh ketua Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bogor. (hir)

Incoming search terms:

Share

Shahih Muslim:Kitab Hadits Paling Sistematis

Banyumas Pesantren-Shahih Muslim: Kitab Hadits Paling Sistematis

Meski menempati posisi kedua dalam literatur hadits, kitab kumpulan hadits shahih ini terbukti mempunyai beberapa kelebihan di banding pendahulunya.

Setelah kitab suci Al-Quran dan kitab hadits Shahih Bukhari, kitab yang disepakati sebagai rujukan ketiga hukum Islam adalah kumpulan hadits Al-Jami’ush Shahih karya Abul Hasan Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, yang lebih akrab dengan sebutan Shahih Muslim. Meski dalam urutan kutubus sittah, enam kitab induk hadits, Shahih Muslim berada di bawah Shahih Bukhari, namun beberapa ulama ahli hadits menganggapnya memiliki beberapa keunggulan dibanding kitab kumpulan hadits karya Imam Bukhari tersebut.

Al-Hafizh Imam Ibnu Hajar, misalnya, memberikan komentar mengenai kelebihan antara Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Imam Muslim, tulis Ibnu Hajar, lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksi haditsnya, karena menyusunnya di negeri sendiri ketika sebagian guru-gurunya masih hidup. Dengan demikian redaksi hadits-hadits dalam Shahih Muslim relatif lebih akurat dibanding redaksi hadits yang diriwayatkan seniornya. Ia juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana yang dilakukan Imam Bukhari.

Sementara kelebihan Al-Bukhari, menurutnya, mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits mu’an’an (hadits yang periwatannya menggunakan kata ‘an, dari) agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan “kemungkinan” bertemunya kedua rawi tersebut, tanpa perlu adanya tadlis.

Ulama lain mengatakan, Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi yang ke-tsiqah-annya berada pada peringkat pertama, baik dari segi hafalan dan keteguhannya. Kalaupun ada sedikit hadits yang diriwayatkan dari rawi level kedua bawahnya, Imam Bukhari mengambilnya dengan sangat selektif.

Sementara pada Shahih Muslim, rawi pada derajat ketsiqahan level kedua relatif lebih banyak dibanding pad Shahih Bukhari. Disamping itu kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.

Dalam menentukan tingkat rawi hadits, Imam Muslim memang menerapkan standar yang berbeda dengan gurunya, Imam Bukhari. Ada beberapa orang rawi yang dianggap tsiqah oleh Imam Muslim, namun tidak diterima oleh Imam Bukhari berdasarkan beberapa sebab tertentu. Biasanya hadits-hadits semacam ini disebut “shahih menurut syarat Muslim”. Di antara rawi-rawi yang tsiqah menurut standar Muslim antara lain Abu Zubair al-Makki, Suhail bin Abi Saleh, al-‘Ala’ bin Abdul Rahman dan Hammad bin Salamah.

Demikian juga sebaliknya. Ada beberapa rawi yang dirwayatkan oleh Imam Bukhari namun tidak diterima Imam Muslim. Mereka antara lain Ikrimah Maula Ibnu Abad, Ishak bin Muhammad al-Fauri, dan Amru bin Marzuk.

Prinsipnya, tidak semua Hadits Bukhari lebih shahih daripada hadits Muslim, demikian pula sebaliknya. Hanya saja, umumnya tingkat keshahihan hadits riwayat Bukhari relatif lebih tinggi daripada kesahihan hadits dalam Shahih Muslim. Kerena tak berbeda jauh itulah, dalam literatur Islam kedua penyusun kitab shahih tersebut dikenal dengan sebutan Syaikhaan, dua syaikh, ulama besar perawi Hadits.

Seberang Sungai
Siapakah Imam Muslim yang terkenal sepanjang jaman itu?
Lahir di Naisabur pada 202 H/817 M, Imam Muslim memiliki nama lengkap Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Daerah Naisabur dan sekitarnya, yang kini termasuk wilayah Rusia, dalam khazanah peradaban Islam masa silam sering disebut sebagai ma wara’an nahr, daerah-daerah yang terletak di seberang Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah.

Seperti halnya Baghdad dan Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari di Asia Tengah), Naisabur juga terkenal sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban serta perdagangan di kawasan Asia Tengah. Tak heran dari kota ini banyak lahir dan tinggal bermukim para ilmuwan dan ulama besar.

Sejak kecil Imam Muslim, yang dianugerahi kekuatan hafalan dan ketajaman berfikir, telah menunjukkan perhatian dan minat yang luar biasa terhadap ilmu Hadits. Saat berusia sepuluh tahun, ia berguru kepada Imam Ad-Dakhili, salah seorang ahli hadits di kotanya. Setahun kemudian, ia mulai menghafal hadits-hadits Nabi SAW. Bahkan tak lama kemudian ia telah mampu mengoreksi kesalahan gurunya dalam menyebutkan periwayatan Hadits.

Selain kepada Ad-Dakhili, Imam Muslim juga berguru kepada ulama di berbagai negara, yang ditemuinya dalam pengembaraan mencari silsilah dan urutan Hadits yang benar. Di Khurasan, misalnya, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Ketika singgah di Irak ia mendapatkian hadits dari Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz ia belajar kepada Sa’id bin Mansur, di Mesir ia berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan masih banyak lagi.

Selain guru-guru di atas, masih banyak ulama lain yang tercatat sebagai guru Imam Muslim. Di antaranya : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id al-Ayli, dan Qutaibah bin Sa’id.

Namun, dari berbagai kota yang dikunjunginya, Baghdad memiliki arti tersendiri. Berkali-kali ia mengunjungi pusat pemerintahan dinasti Abbasiyyah itu untuk belajar kepada ulama ahli Haditsnya yang termasyhur.

Selain mendatangai guru-guru hadits di kota mereka, Imam Muslim juga memanfaatkan kunjungan para ahli hadits dari berbagai negara ke kotanya. Salah satunya adalah Imam Bukhari yang di akhir abad 3 hijriah mengunjungi Naisabur. Hampir setiap hari Imam Muslim mendatangi Imam Bukhari yang lebih senior darinya itu untuk bertukar pikiran sekaligus mendapatkan hadits.

Suatu ketika terjadilah silang pendapat antara Imam Bukhari dan Imam Az-Zihli, guru Imam Muslim lainnya di Naisabur. Ketika silang pendapat itu meruncing, Imam Muslim berpihak kepada Imam Bukhari. Sikap itu membuat Imam Az Zihli marah dan memutuskan hubungan guru-murid mereka.

Meski berpihak kepada salah satu, Imam Muslim tetap menganggap kedua ahli hadits itu sebagai gurunya. Namun demi menjaga perasaan kedua gurunya, ia memutuskan untuk tidak memasukan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli dan Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya.

Kitab Yang Hilang
Dalam khazanah ilmu hadits, Imam Muslim yang dikenal sangat tawadu’ dan wara’ itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Muhammad Ajaj Al-Khatib, guru besar hadits di Universitas Damaskus, Syria, menyatakan hadits yang tercantum dalam Shahih Muslim berjumlah 3.030 hadits, jika dihitung tanpa pengulangan. Bila dengan pengulangan, maka jumlah keseluruhannya mencapai 10.000 hadits. Sementara Imam Al Khuli, ulama ahli hadits asal Mesir, menyatakan hadits dalam kitab karya Imam Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan.

Hadits-hadits yang ditulis dalam Shahih Muslim disaring dari sekitar 300.000an hadits yang ia hafal, sebagaimana pendapat Ibnu Shalah dan Imam an-Nawawi. Tetapi Ahmad bin Salamah mengatakan, “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Shahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits”.

Soal metode penyusunan Hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip jarh dan ta’dil, suatu metode yang digunakan untuk menilai cacat atau tidaknya suatu Hadits. Dalam kitabnya ia menggunakan beberapa sighat at-tahammul (metode-metode penerimaan riwayat) seperti haddatsani, telah berkata kepadaku; haddatsana, telah berkata kepada kami; akhbarani, telah mengabarkan kepada saya; akhbarana, telah mengabarkan kepada kami, dan qala, telah berkata.

Berkat kesungguhan dan keseriusannya dalam menekuni hadits, Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam khazanah ilmu Hadits setelah Imam Bukhari.
“Di dunia saat ini, orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat, salah satu di antaranya adalah Imam Muslim,” kata Abu Quraisy Al-Hafiz, ulama besar yang hidup semasa dengan Imam Muslim.

Di usianya yang masih relatif muda, Imam Muslim telah mencapai puncak kejayaan dan popularitas di bidang ilmu hadits. Namun sayang, usianya tak cukup panjang untuk terus menghasilkan karya-karya besar. Ia wafat pada hari Ahad petang, 25 Rajab 261 H, dalam usia 55 tahun di Naisabur.

Ulama besar itu meninggalkan banyak sekali karya tulis berbobot, yang mengabadikan namanya hingga hari ini. Beberapa di antaranya masih bisa terpelihara hingga masih bisa dijumpai pada masa ini. Sebut saja kitab ash-Shahih atau Shahih Muslim, Al-Kuna Wal Asma’, Al- Munfaridat Wal Wihdan serta At-Thabaqat dan Rijal Urwah bin Az-Zubair. Dua kitab yang disebut terakhir hingga saat ini masih berbentuk manuskrip.

Namun tak kurang juga yang telah hilang ditelan perjalanan waktu, sehingga tidak sempat sampai kepada umat Islam yang hidup di abad modern. Beberapa kitab yang telah hilang tersebut antara lain Al-Musnad Al-Kabir Ala Ar-Rijal, Jami’ Al-Kabir Alal Abwab, Al-‘Illal, Al-Ifrad, dan Al-Iqran.

Sayang sekali!

Ahmad Iftah Sidik, Santri Asal Tangerang

Incoming search terms:

Share

Shahih Bukhari: Kitab Tershahih Kedua Setelah Al-Quran

Banyumas Pesantren-Shahih Bukhari: Kitab Tershahih Kedua Setelah Al-Quran

Setelah Al-Quran, hadits nabi adalah panduan kedua umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Dan di antara kitab-kitab hadits yang jumlahnya puluhan, Shahih Bukhari lah yang keakuratannya paling terpercaya.

Dalam khazanah hukum Islam, kitab-kitab hadits mempunyai kedudukan yang sangat penting, sebagai sumber kedua hukum Islam setelah Al-Quran. Dalam ranah keilmuan hadits, dikenal istilah kutubus sittah yang berarti enam kitab induk kumpulan hadits nabi yang diakui sebagai rujukan.

Kemudian, berdasarkan kuantitas hadits-hadits shahihnya, keenam kitab tersebut dibagi menjadi dua kelompok : kitab shahih, yang jumlah hadits tidak shahihnya (yakni hadits hasan dan dhaif) secara proporsional sangat sedikit sekali, dan kitab sunan, yang jumlah proporsi hadits tidak shahihnya lebih besar dari pada kitab shahih.

Yang termasuk kitab shahih adalah Shahih Bukhari karya Al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Bukhari dan Shahih Muslim karya Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Sedangkan yang termasuk kitab-kitab sunan adalah Sunan Abu Dawud karya Al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistany, Sunan Turmudzi karya Al-Imam Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah At Turmudzi, Sunan An-Nasa-i karya Al-Imam Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i Al-Khurasany, dan Sunan Ibnu Majah karya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al-Quzwaini.

Selain itu, ada juga kitab-kitab hadits berperingkat di bawah kutubus sittah. Sebut saja kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, yang berisi ribuan hadits, dan Al-Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal, yang juga berisi ratusan ribu hadits.

Selain kutubus sittah, ulama hadits juga memberikan beberapa sebutan lain kepada kitab-kitab kumpulan hadits tersebut. Ada yang disebut kutubus sab’ah, yang berarti kitab tujuh, yang berisi kutubus sittah plus Musnad Ahmad. Belakangan juga ada istilah kutubut tis’ah, atau kitab sembilan, yang ditujukan kepada kutubus sab’ah plus Al-Muwaththa’ dan Sunan Ad-Darimi.

Terkait dengan status hadits-hadits dalam kutubus sittah, ternyata sebagian sudah diberi status hukum (shahih, hasan dan dhaif) dan sebagian lagi belum. Yang sudah mendapat status hukum adalah dua kitab induk, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Paling tidak, hadits-hadits itu telah dishahihkan oleh kedua penulisnya, yang integritasnya sudah sangat diakui oleh dunia ulama hadits. Di bawah dua kitab shahih di muka, Sunan Abu Daud menurut para ahli hadits juga dinyatakan banyak mengandung hadits-hadits yang shahih.

Menangkal Musibah
Di bawahnya lagi ada Sunan At-Tirmidzi atau At-Turmudizi, yang oleh penyusunnya, Al-Imam At-Tirmizy, juga telah diberi status hukum. Maka jika kita membaca hadits yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, biasanya ada tambahan kalimat wa shahhahu At-Tirmizi, yang artinya, At-Tirmidzi telah menshahihkannya, atau kalimat wa qalat Tirmidzi hasanun shahih, artinya At-Tirmizi mengatakan hadits ini berstatus hasan shahih. Sedangkan dua kitab sisanya, yaitu Sunan An-Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah, belum diberi status oleh penyusunnya.

Pada edisi kali ini kita akan mengupas tentang kitab terpenting dari kutubus sittah, yakni Shahih Bukhari.

Shahih Bukhari adalah karya terbesar dan terpenting di bidang hadits. Sejak dulu banyak ulama yang meyakini, jika kitab Shahih Bukhari dibaca secara berjamaah akan mucul fadhilahnya, seperti untuk menangkal musibah dan memulihkan keamanan suatu daerah. Tak hanya itu, Imam Sya’rani pernah mengajarkan, menyebut nama Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari juga bisa menjadi wasilah untuk meminta turunnya rahmat Allah.

Nama asli Imam Bukhari adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Kun-yah (julukan penghormatan)-nya Abu Abdullah. Sedangkan nama Bukhari dinisbatkan kepada desa tempat kelahiran beliau, Bukhara.

Imam Bukhari lahir pada hari Jum’at 13 Syawal 194 H (810 M), di Bukhara, Uzbekistan. Ayahnya, meski tak sepopuler anaknya, juga dikenal sebagai ulama ahli hadits yang pernah berguru kepada beberapa tabi’in dan tabiut tabi’in, seperti Imam Malik bin Anas, dan Imam Abdullah bin Al-Mubarak.

Imam Bukhari sendiri tak pernah belajar langsung kepada sang ayah, karena Syaikh Ismail telah wafat saat usia Imam Bukhari baru 5 tahun. Meski begitu, buku-buku peninggalan sang ayah dan pendidikan dari ibu serta saudara yang lain, telah mencetak Imam Bukhari sebagai pecinta ilmu sejati.

Ketika usianya menginjak 10 tahun, Imam Muhammad Al-Bukhari yang mempunyai kecerdasan dan daya ingat yang diatas rata-rata, mulai belajar dan menghafal hadits. Merasa tak cukup dengan sekedar berguru di desanya, ia pun mulai mendatangi tokoh-tokoh ahli hadits di sekitar desanya.

Ketika berusia 16 tahun, nama Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mulai dikenal di kalangan muhaditsin sebagai pemuda yang cerdas yang telah hafal Al-Qur’an dan beberapa kitab hadits yang ditulis Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan Imam Waki’ (guru Imam Syafi’i), ahli hadits pada masanya.

Tahun 210 H (menurut riwayat lain 216 H), Muhammad Al-Bukhari diajak menunaikan ibadah haji olej ibunya. Betapa gembiranya hati pemuda yang sejak dulu bercita-cita ingin berkelana mencari para ulama ahli hadits itu. Kali ini ia akan mendapatkan kesempatan kepada ulama yang tinggal sepanjang jalur hajinya.

Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, ketika ibunya dan Ahmad, saudaranya, kembali ke Bukhara, Muhammad memilih untuk tinggal di Mekkah. Di tanah suci ia berguru kepada ulama ahli hadits pada masa itu, seperti Al-Walid, Al-Azraqi, dan Ismail bin Salim. Ia juga ia mengunjungi kota Madinah, untuk menemui para anak cucu sahabat Nabi SAW dan mendengarkan hadits dari mereka.

Selama setahun bermukim di Madinah, Imam Bukhari yang bar berusia 18 tahun menulis dua buku yang berjudul Qadhaya Ash-Shahabah wa At-Tabi’in dan At-Tariikh Al-Kabiir. Kedua buku tersebut merupakan karya pertama dari penulis yang cukup produktif itu.

Kitab Fenomenal
Setelah dirasa cukup, Imam Muhammad Al-Bukhari pun meninggalkan Mekkah dan Madinah, untuk memulai pengembaraan panjangnya menemui para ulama hadits di berbagai pelosok daerah. Ia tercatat sebagai orang pertama melakukan perjalanan terpanjang dalam mencari hadits.

Selama kurun 16 tahun, ia menjelajahi Syam, Baghdad, Washit, Basrah, Kufah, Mesir, Maru, Asqalan, Rei, Maisabur, Himsha, Khurasan dan masih banyak lagi daerah lainnya. Lebih dari seribu ahli hadits sempat ditemuinya, dan sekaligus menjadi guru dan perawi hadits yang dihimpunnya.

Selama pengembaraannya, Muhammad Al-Bukhari juga sempat menulis beberapa buku tentang hadits. Di antaranya Al-Adab Al-Mufrad, Ra’fu Al-Yadain fii As-Shalah, Birru Al-Walidain, At-Taariikh Al-Ausat, Ad-Dhuafa’, Al-Asyribah, dan Al-Hibah. Namun dari sekian banyak karyanya tersebut, Al-Jami’ush Shahih atau Shahih Bukhari lah yang mengabadikan nama Imam Muhammad Al-Bukhari dalam khazanah keilmuan Islam.

Setelah mengembara selama 16 tahun, konon Imam Bukhari berhasil menghimpun sekitar 600.000 hadits, yang diperolehnya dari puluhan negeri dan ribuan guru. Setelah diadakan penyeleksian, menurut perhitungan Ibnu Shalah dan Imam Nawawi, terjaring 7.275 hadits yang dianggap shahih. Jumlah itu termasuk pengulangan hadits dalam beberapa bab berbeda. Sedangkan bila tanpa pengulangan, tercatat sekitar 4.000 hadits.

Lain lagi menurut perhitungan Al-Imam Al-Hafidz. Jumlah hadits shahih dalam kitab karya Al-Bukhari adalah sebanyak 7.397 hadits dengan pengulangan. Sedang bila tanpa pengulangan sebanyak 2.602 hadits.

Kitab Shahih Bukhari memang sangat fenomenal. Hingga saat ini kini lebih dari 100 kitab syarah (penjelasan) Shahih Bukhari telah disusun oleh para ulama. Yang paling terkenal diantaranya adalah : Fathu Al-Baari yang disusun Imam Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-‘Asqalani (wafat tahun 853 H), Irsyadu As-Saari disusun Imam Ahmad bin Muhammad Al-Mishri Al-Qashthalani (wafat tahun 923 H), ‘Umdatu Al-Qaari karya Al-‘Aini (wafat 855 H) dan At-Tawsyih karya Jalaluddin As-Suyuthi.

Dan diantara semua kitab syarah Shahih Bukhari yang pernah dibuat, Fathu Al-Baari dianggap sebagai yang paling bagus, hingga digelari “Penghulu Syarah Bukhari”. Selain syarah, ada juga beberapa kitab yang men-ta’liq (memberi komentar/penjelasan pada bagian-bagian tertentu).
Ada juga ulama yang meringkas kitab tersebut, yang lazim disebut mukhtashar (ringkasan), seperti : At-Tajridu As-Shahih disusun Al-Husain bin Al- Mubarak (wafat tahun 631 H), dan At-Tajridu As-Shahih, oleh Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Asy-Syiraji Az-Zabidi (wafat 983 H).

Seabad setelah Shahih Bukhari tersusun, beberapa ulama hadits, seperti Al-Imam Ad-Daraqutni (wafat 385 H), dan Abu Ali Al-Ghassani (wafat 365 H), mengkritik kitab tersebut. Menurut mereka di antara ribuan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, terdapat juga seratusan hadits yang dhaif. Tiga abad kemudian muncul lagi ulama ahli hadits yang membela dan membantah semua kritikan ulama sebelumnya. Bahkan Ibnu Shalah (wafat 643 H) mangatakan bahwa kitab Shahih Bukhari adalah afshah al-kutub ba’da Al-Qur’an (kitab yang paling shahih/otentik setelah Al- Qur’an).

Membohongi Kuda
Pendapat ini juga didukung oleh ulama setelahnya, seperti Imam Nawawi (wafat 852 H), dan Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H), yang akhirnya menjadi kesepakatan jumhur ulama Ahlus Sunnah. Imam Nawawi mengatakan, “Kritikan Ad-Daraqutni dan yang lainnya itu hanyalah berdasarkan kritikan-kritikan yang ditetapkan sejumlah ahli hadits, yang justru dinilai lemah sekali jika ditinjau dari ilmu hadits.”

Di luar kajian kualitas hadits secara ilmiah, kisah penyusunan kitab hadits karya Imam Al-Bukhari sendiri memang sangat menarik dan menggetarkan. Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata, “Kutulis kitab ini dari 1.080 orang yang semuanya ahli hadits dan semuanya mengatakan bahwa iman itu adalah kata dan perbuatan yang dapat bertambah dan berkurang. Setiap kali aku hendak menuliskan sebuah hadits dalam kitab Shahih, sebelum memegang pena, aku selalu mandi dan sholat 2 rakaat terlebih dahulu, sebagai perwujudan rasa syukur kehadirat ilahi.”

Para sahabat Nabi SAW memang sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Begitu juga para ulama periwayat hadits sesudahnya. Imam Bukhari, misalnya, pernah menempuh jarak ratusan mil untuk menemui seorang perawi hadits. Saat tiba di lokasi, ternyata si perawi sedang sibuk mengejar seekor kudanya.

Imam Bukhari melihat orang itu mendekati kudanya sambil membawa sebuah ember seolah ingin memberi makan, padahal ember itu kosong. Melihat pemandangan ini, Imam Bukhari membatalkan niatnya untuk mengambil hadits dari orang itu. Sang imam beranggapan, bila terhadap binatang saja ia berlaku tidak jujur, dia juga bisa berbohong dalam meriwayatkan hadits.

Ada juga kisah unik tentang penyusunan kitab Shahih Bukhari. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW yang seolah-olah tengah berdiri dihadapannya. Sang Imam lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi.

Ahli mimpi itu menjawab, Al-Bukhari akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah SAW. “Mimpi inilah, yang antara lain mendorong saya untuk menulis kitab Al-Jami’us Shahih,” tutur Imam Bukhari.

Kehati-hatian Imam Bukhari dalam menyusun kitab Shahihnya juga dikisahkan Al-Firbari, salah seorang muridnya. Ia mendengar Imam Bukhari berkata, “Saya menyusun Al-Jami’ush Shahih ini di Masjidil Haram, Makkah. Dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun tanpa shalat dua rakaat terlebih dahulu untuk memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih.”

Dalam sejarah memang diceritakan bahwa Imam Bukhari menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis di Masjidil Haram. Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Raudhah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah.

Setelah itu barulah ia mengumpulkan sejumlah hadis dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan kesahihan hadits yang diriwayatkannya.
Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling sahih. “Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih,” katanya suatu ketika.

Imam Bukhari yang setiap bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Quran tiga hari sekali, itu wafat pada malam 1 Syawal 256 H (870 M), di Khartanak, Samarqand. Di akhir hayatnya is berucap, “Aku ingin menghadap Allah dalam keadaan bebas dari segala tuntutan. Karena itu aku tidak pernah membicarakan kejelekan orang lain.”

Ahmad iftah Sidik, Santri Asal tangerang

Share

Kurma Menjelang Puasa Itu

Banyumas Pesantren-Cerpen: Kurma Menjelang Puasa Itu

Empat puluh menit menuju maghrib, hari pertama Ramadhan tahun itu. Mas Kardiman baru saja menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri sembari berucap salam mengakhiri empat rekaat asharnya yang hari ini dilaksanakan cukup telat. Setelah berdoa ia mengambil Al-Qur’an lalu membacanya dari awal juz pertama.

Baru satu halaman dibaca istrinya mengajak bicara. “Mas, nanti buka puasanya mau bagaimana?”

“Makan kurma dulu, shalat maghrib, baru makan nasi.” Mas Kardiman menimpali singkat, lalu meneruskan deresannya.

“Kurma yang kemarin sore?” istrinya ingin kepastian.

“Ya,” Mas Kardiman singkat.

Tiba-tiba saja pikiran Mas Kardiman tak lagi fokus pada bacaan qur’annya. Seperti lepas kontrol yang tergambar dalam benaknya hanyalah kurma itu. Kurma yang baru saja ia katakan pada istrinya untuk mengawali buka puasa hari pertama Ramadhan kali ini, gambarannya benar-benar jelas dan nyata.

Kemarin sore seorang teman dekat memberinya dua bungkus besar kurma. Mas Kardiman merasa senang. Dua bungkus besar kurma itu ditaksirnya cukup untuk satu bulan Ramadhan. Tak usah beli lagi, pikirnya.

Tapi dibalik pikiran itu Mas Kardiman sedikit menyimpan keresahan. Ia kenal betul siapa yang memberi kurma itu. Ia juga faham betul bagaimana dan dengan uang apa sang teman membeli kurma itu. Ada kegalauan di hatinya. Semestinya ia ingin menolak kurma itu. Tapi demi menghormati sang teman akhirnya ia terima juga, bahkan ia dan keluarganya telah memakannya beberapa biji. Meski sekali lagi hatinya tak bisa menyembunyikan keresahannya.

Kini ketika ia putuskan pada istrinya untuk berbuka dengan kurma itu, tiba-tiba bayangan bagaimana kurma itu didapat dan ada di tangannya tercetak jelas dalam benaknya. Mata Mas Kardiman terus menyusuri goresan tinta kalimat demi kalimat kalam Ilahi. Bibirnya terus melafalkannya dengan sangat fasih. Tapi pikirannya hanya berhenti pada kurma menjelang puasa itu.

Bahkan tak lama kemudian air matanya mulai menggenang, lalu perlahan meleleh mengaliri kedua pipinya. Silih berganti gambaran orang tua, istri, dan anak-anaknya membayang. Lubuk hatinya sangat jelas berbisik menuturi; dengan kurma itu akankah kau biarkan kedua orang tuamu melewati masa tuanya tanpa kebahagiaan, penuh sakit dan kesusahan? Akankah kau biarkan istrimu mendampingimu tanpa kesalehan dan kepatuhan karena dagingnya tumbuh dari sebiji kurma yang kau sendiri tahu asal usulnya? Tegakah kau melihat anak-anakmu kehilangan kefitrahan dan kelak tumbuh menjadi hamba yang durhaka hanya karena satu dua biji kurma yang kau terima kemarin itu? Kau sendiri, tidakkah malu setiap hari meminta keberkahan Tuhanmu tapi mulutmu begitu rakus pada yang syubhat?

Mas Kardiman merinding. Tubuhnya bergetar. Air matanya menjadi sangat deras. Bibirnya masih lancar dan fasih melafalkan ayat-ayat suci Tuhan, tapi itu tak bisa menghentikan keadaannya. Tangis dan getar tubuhnya tak terbendung hingga setengah jam kemudian.

Saat berbuka kurma itu ditinggalkan. Ia tahu dalam dirinya masih ada sisa gemuruh. Sekuat tenaga ia berusaha meredam agar tak meledak, agar anak dan istrinya tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Keesokan harinya ia sowan pada salah seorang gurunya. Kepadanya ia ceritakan ihwalnya. Ia minta solusi. Sang guru menyarankannya untuk mengganti kurma kiriman itu dengan kurma yang sama harga dan kualitasnya. “Bila ada uang ganti lebih banyak dari yang kau terima. Bila tidak, ganti sesuai yang kau terima. Berikan kurma penggantinya kepada masyarakat di sekitarmu yang miskin. Ikhlaskan. Insya Allah segera kau akan mendapatkan gantinya,” begitu sang guru berpesan.

Sepulang dari rumah sang guru Mas Kardiman langsung pergi ke toko kurma. Ia mencari yang betul-betul persis harga dan kualitasnya dengan kurma itu. Ia memang sedang tak punya banyak uang. Maka ia hanya membeli sebanyak yang pernah ia terima, lalu dibagikan kepada para tetangga yang miskin. Kurma menjelang Ramadhan itu sendiri ia konsumsi bersama keluarganya. Tak ada lagi gelisah di dada.

Dua tiga hari berikutnya adalah awal yang membuat bibir Mas Kardiman lebih banyak tersenyum. Selama bulan Ramadhan tahun itu dagangannya laris manis. Setiap hari ada saja pembeli yang datang ke rumahnya atau minta dikirim barang. Sebelumnya pembeli hanya ada rata2 dua tiga hari sekali. Selama sebulan itu pula Mas Kardiman mendapat rejeki tambahan dari pos yang lain yang tak diduga sebelumnya.

Kini hari terakhir berpuasa. Ia hitung uang yang ia punya. Ia tersenyum. Ada yang bisa diberikan pada istrinya untuk merayakan lebaran besok. Akan ada baju baru bagi anak-anaknya. Mas Kardiman makin bersyukur. Ia bisa memenuhi janjinya pada orang tua. Seminggu sebelum berpuasa orang tuanya merencanakan sebuah acara setelah hari raya nanti. Tapi sepeser uangpun belum ada di tangan. Sebagai anak Mas Kardiman menyanggupi untuk membantu sejumlah uang. Meski sebetulnya saat itu ia tak punya uang lebih dan sama sekali tak ada pandangan akan dapat uang dari mana. Saat itu, seperti biasanya kalau sudah kepepet, Mas Kardiman menggelar sajadah, shalat hajat 2 rekaat, lalu mengajukan permohonan kepada-Nya.

Lebaran telah tiba. Kebutuhan dana untuk semuanya telah tercukupi. Ia pikir, kurma menjelang puasa itu memang harus ada untuk proses semuanya. Ia bertahmid lirih, lalu bergumam; tak ada yang palsu dengan janji Tuhanku!

Oleh” Yazid Muttaqin, S. Ag (Tegal)

Incoming search terms:

Share