KH Muhammad Sami’un
Sep 5th, 2011 | By azha | Category: masyayikh
Keberadaan Pondok Pesantren Parakan Onje Purwokerto yang kini dikenal dengan Pesantren Ath-Thohiriyyah, tak dapat dilepaskan dari sosok KH Muhammad Sami’un. Pasalnya, beliaulah yang mula pertama melakukan babad ke-Islam-an di wilayah ini.
Siapakah KH Muhammad Sami’un itu?
Beliau adalah putera K Muhammad Maksum, seorang katib di Purwokerto yang hidup semasa penjajahan Belanda. Sami’un kecil mengenyam pendidikan formal di bangku HIS dan MULO. Ilmu pengetahuan agama diperolehnya dari Kyai Imam Tabri Kauman. Setamat MULO, Sami’un muda bekerja pada Pemerintah Belanda, menangani proyek pembangunan rel kereta api jurusan Purwokerto-Jakarta.
Saat berada di Jakarta, yakni ketika sedang memberesi tempat tidur, Sami’un dikejutkan oleh seekor kalajengking yang muncul dari balik kasur. Sejak saat itu, bayangan akan siksa kubur bergelayut di benaknya. Pengalaman rohani ini membuatnya berkeputusan berhenti kerja, dan putar haluan untuk mendalami ilmu agama.
Berbekal gaji yang ditabungnya semasa kerja, Sami’un menjalani kehidupan baru sebagai santri. Pertama-tama yang ditujunya adalah Pesantren Lirap Kebumen yang dikenal sebagai pesantren alat (nahwu). Hafalan kitab Jurumiyah, Imriti dan Alfiyah dikhatamkan dalam tempo tiga bulan. Di pesantren ini, Sami’un berguru kepada Kyai Ibrahim selama dua tahun (1911-1913). Selepas dari Lirap, ia melanjutkan ke Pesantren Termas untuk berguru pada KH Dimyati (1914-1924). Semasa di Termas, secara temporer Sami’un menyempatkan ngaji kitab Ihya Ulumaddin pada KH Abdullah bin Abdul Muthalib di Kaliwungu Kendal.
Pergi ke Tanah Suci adalah tekad yang ingin segera ia wujudkan. Lantas, ia melamar sebagai juru bahasa bagi kapal-kapal yang masuk ke Serawak. Hasil tes wawancara mensyaratkan, ia akan diterima kerja jika sudah berkeluarga. Maka, ia segera kembali ke kampung halaman untuk menikah dan memboyong sang isteri (Sartinah) ke Serawak. Bekerja di Serawak adalah pilihan sebagai batu loncatan menuju Mekkah.
Lima tahun lamanya Sami’un-Sartinah tinggal di negeri orang (1925-1930). Tahun 1929 mereka dikaruniai momongan yang pertama dan diberi nama Abu Hamid (Pengasuh Pesantren Al-Ikhsan Beji Purwokerto).
Saat mengandung putera kedua, Sartinah mendesak sang suami agar pulang ke tanah air. Sejak 1930, KH Sami’un beserta keluarga kembali ke Purwokerto dan memulai berdakwah di Masjid Wakaf Sokanegara. Sepuluh tahun lamanya KH Sami’un mengajar para santri di Sokanegara, sebelum akhirnya hijrah ke Parakan Onje pada 1940.
KH Sami’un menetap di Parakan Onje hingga akhir hayatnya pada 23 Ramadan 1372. Sepeninggal almarhum, para santrilah yang meneruskan dakwah beliau di kemudian hari. Mereka antara lain KH Zaid Abu Mansyur (Lesmana), KH Muhyiddin (putera menantu), Kiai Dimyati dan Kiai Abdul Ngalim (Kober), Kiai Romli (Pasir Kulon), Kiai Sulaeman, Kiai Ishak, dan lain-lain.
KHM Sami’un juga dikenal sebagai mursyid tarekat Syadziliyyah. Ijazah wirid tarekat ini diperoleh dari KH Abdullah bin Abdul Muthalib Kaliwungu (Kendal). Penerus tarekat beliau adalah KH Zaid Abu Mansyur Lesmana dan KH Abu Hamid Beji.
Meski fasih berbahasa asing, terutama bahasa Belanda dan Arab, KH Sami’un lebih suka mengajar para santri dengan Bahasa Jawa. Bahkan, beberapa karya almarhum ditulis dalam dalam bahasa Arab-Jawa, seperti Lubabuz Zaad, Aqoid 50, Terjemah Yasin dan Doa Sholat Bahasa Jawa.
Aduh…tambah lagi artikelnya Mbah Muhyiddin deh, biar lengkap, plus cerita tentang santri2 beliau yang waktu itu kalau masak suka ngloroti gedhek pawon hingga pawone do bolong2…
Wa’alaikumussalam.
Pak Lek, Mohon ditulis biografi beliau. Kami tidak menegtahui secara detail perjalanan beliau. Ditunggu ya…