Keutamaan Kalimah Suci Dalam Tahlil
Apr 9th, 2012 | By azha | Category: berita, karya santri
Istilah Tahlil berasal dari kata bahasa Arab Hallala, Yuhalilu, Tahlilan yang berarti membaca kalimah Thayyibah La Ilaha Illalah sebagai kalimat yang penting artinya bagi kaum muslimin yaitu pernyataan bahwa tiada Tuhan selain Allah sekaligus sebagai fondasi keimanan seorang muslim. Oleh karena itu Rasulullah menyatakan dalam sebuah Hadis:
من كان اخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
Artinya: Barang siapa yang akhir ucapanya melapalkan kalimah La Ila Illalah, maka ia akan masuk sorga.
Dalam Hadits riwayat imam Ahmad dalam kitabnya Musnad Ahmad ibn Hanbal dinyatakan :
جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه
Artinya: Perbaharuilah iman kalian. Ditanyakan kepada Nabi, bagaimana caranya memperbaharui iman kita.? Nabi menjawab perbanyaklah bacaan La Ilaha Illalah.
Kedua Hadis di atas merupakan anjuran agar kita selalu berusaha untuk berdzikir dengan mengucapkan kalimat Thayyibah tersebut. Akhir ucapan La Ila Illalah pada detik-detik kematian akan tiba (sakaratul maut) sulit untuk diucapkan, kecuali bagi mereka yang selalu basah bibirnya untuk berdzikir melafadzkan kalimat Thayyibah tersebut. Kegiatan Tahlil dengan demikian dimaksudkan sebagai majelis dzikir untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas keimanan dan seorang muslim agar selalu terjaga dengan harapan mati khusnul khotimah.
Keutamaan Kegiatan Tahlil sebagai Majelis Dzikir
Kegiatan Tahlil hakikatnya adalah majelis dzikir dan tadarus al-Qur’an. Dalam kegiatan tahlilan ayat-ayat suci al-Qur’an dan kalimat-kalimat dzikir yaitu kalimat Thayyibah, istighfar, tasbih, tahmid dan shalawat Nabi dibaca. Majelis dzikir seperti inilah yang oleh Rasulullah dianjurkan untuk dibiasakan untuk mengasah keimanan kita sebagai orang beriman. Rasulullah dalam sebuah Hadis bersabda :
َ “لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ”
“Tidaklah sekelompok orang duduk dan berdzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, mendapatkan limpahan rahmat, diberikan ketenangan hati, dan Allah pun akan memuji mereka pada orang yang ada di dekat-Nya.” (HR. Muslim)
Keutamaan Surat An-Nas, al-Falaq dan al-Ikhlas
Dalam kitab Fathul Bari terdapat Hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban Nabi bersabda kepada Uqbah Ibnu Amir jadikanlah surat Surat An-Nas, al-Falaq dan al-Ikhlas sebagai perlindungan, karena tidak ada perlindungan yang menyamainya kecuali dengan ketiga surat tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah Hadis:
قُلْ هُوَ اللَّه أَحَد وَقُلْ أَعُوذ بِرَبِّ الْفَلَق وَقُلْ أَعُوذ بِرَبِّ النَّاس تَعَوَّذَ بِهِنَّ ، فَإِنَّهُ لَمْ يُتَعَوَّذ بِمِثْلِهِنَّ “
Keutamaan Surat Al-Baqarah
Hadis riwayat imam Muslim, Nabi bersabda :
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَة
Janganlah engkau menjadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaitan akan lari jika dalam ruma tersebut dibacakansuratal-Baqarah.
Keutamaan Surat Yasin
Dalam sebuah hadits, imam Malik meriwayatkan Hadits keutamaan Surat Yasin:
« لكل شيء قلب ، وإن قلب القرآن يس من قرأ يس كتب الله له بقراءتها قراءة القرآن عشر مرات »
Artinya: Setiap sesuatu mempunyai hati, dan sesungguhnya hati al-Qur’an adalahsuratYasin, dan barang siapa yang membacasuratYasin, Allah akan mencatat baginya seperti membaca al-Qur’an sepuluh kali.
Dalam Hadit Sunan Abu Dawud disebutkan anjuran membaca suratYasin untuk orang yang akan meninggal (sakaratul maut) ataupun orang yang sudah meninggal.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُم
Artinya: Nabi bersabda: Bacalah surat Yasin untuk orang yang akan meninggali atau yang sudah meninggal.
Dengan demikian kegiatan membaca Surat Yasin dihadapan orang yang sakaratul maut ataupun membaca Surat Yasin untuk orang yang sudah meninggal keduanya dibolehkan bahkan disunahkan, karena lafadz مَوْتَاكُم memang artinya bisa orang yang akan meninggal (sakaratul maut) ataupun orang yang sudah meninggal. Setiap orang berhak untuk memilih salah satu makna dari dua makna orang yang akan meninggal (sakaratul maut) ataupun orang yang sudah meninggal, atau kedua makna itu diamalkan secara bersama-sama, dengan pengertian membacasurat Yasin untuk orang yang akan meninggal sekaligus membacakansurat Yasin untuk orang yang sudah meninggal. Yang tidak tepat adalah, mengambil satu makna dan menyalahkan atau bahkan membid’ahkan orang lain yang mengambil makna yang berbeda.
Dengan mengikuti majelis Dzikir Tahlil dan Yasin, kita mendapatkan banyak keuntungan. Pertama, kita mendapat pahala dari bacaan yang kita baca yaitu bacaan al-Qur’an, sholawat dan kalimah tahoyyibah. Kedua, mendoakan orang tua, sudara-sudara kita dan kaum muslimin yang sudah mendahului kita. Ketiga, memperoleh pahala sillaturahmi. Keempat, menjalin dan memperkuat persaudaran (ukhuwah islamiyah) diantara kita ummat Islam. Melarang kegiatan Dzikir Tahlil dan Yasin adalah tindakan yang keliru dan tidak berdasar. Semoga tulisan ini memberi tuntunan sekaligus pegangan bagi kita semua. Amin ya Robbal alamin. Wallohu A’lam bis showab.
Penulis: DR. Ridwan, M. Ag. (Ustadz Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Purwokerto Banyumas).

Barokallohu lakum… semoga ASWAJA semakin istiqomah dan mantab, di tengah fitnah yg melanda.
sebagai tambahan referensi, semoga berkenan:
http://alfattahpule.com/majlis-dzikir-tahlil-bagian-satu/