Terjemah Kaidah Fiqh

Jun 30th, 2012 | By | Category: karya santri

القواعد الفقهية

اْلأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا

“Segala sesuatu tergantung niatnya.”

اَلْيَقِيْنُ لاَيُزَالُ بِالشَّكِّ

“Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan kebimbangan.”

اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

“Keberatan itu bisa membawa kepada mempermudah.”

اَلضَّرَرُ يُزَالُ

“Madharat itu dapat dihapus.”

اَلْعَادَةُ الْمُحَكَّمَةُ

“Adat kebiasaan itu ditetapkan.”

اْلإِجْتِهَادُ لاَيُنْقَضُ بِاْلإِجْتِهَادِ

“Ijtihad itu tidak diubah dengan ijtihad.”

إِذَا اجْتَمَعَ الْحَلاَلُ وَالْحَرَامُ غُلِبَ الْحَرَامُ

“Manakala halal dan haram itu berkumpul, maka yang haram dimenangkan.”

اَلتَّابِعُ تَابِعٌ

“Pengikut itu mengikuti.”

تَصَرُّفُ اْلإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan imam/kepala negara terhadap rakyat itu harus dihubungkan dengan kemaslahatan.”

اْلإِيْثَارُ بِالْقُرْبِ مَكْرُوْهٌ

“Mempersilahkan orang lain dan mengabaikan diri sendiri dalam hal taat itu makruh.”

اَلْحُدُوْدُ تَسْقُطُ بِالشُّبُهَاتِ

“Tuntutan hukum ( had ) itu bisa gugur karena ketidak jelasan ( syubhat ).”

اَلْحُرُّ لاَيَدْخُلُ تَحْتَ الْيَدِ

“Orang merdeka itu tidak masuk dibawah tangan ( tidak dikuasai, tidak di bawah perlindungan ).”

حَرِيْمُ الشَّيْءِ بِمَنْزِلَتِهِ

“Yang melingkupi sesuatu itu menempati tempatnya sesuatu itu.”

إِذَا اجْتَمَعَ أَمْرَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يَخْتَلِفْ مَقْصُوْدُهُمَا دَخَلَ أَحَدُهُمَا فىِ اْلأٰخَرِ غَالِبًا

“Manakala dua perkara dari satu jenis berkumpul, padahal tidak ada perbedaan maksud keduanya, maka pada ghalibnya satu diantaranya masuk pada yang lain.”

إِعْمَالُ اْلَكَلامِ أَوْلىٰ مِنْ إِهْمَالِهِ

“Mengucapkan ucapan itu lebih utama daripada mengabaikannya.”

اَلْحَرَاجُ بِالضَّمَانِ

“Hasil ( manfaat itu imbangi ) dengan tanggungan.”

اَلْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلاَفِ مُسْتَحَبٌّ

“Keluar dari khilaf ( menjaga agar perbedaan pendapat tidak terlalu tajam ) adalah disenangi / mustahab.”

اَلدَّفْعُ أَقْوٰى مِنَ الرَّفْعِ

“Menolak itu lebih kuat daripada menghilangkan.”

اَلرُّخَصُ لاَتُنَاطُ بِالْمَعَاصِى

“Kemurahan itu tidak dapat dihubungkan dengan maksiat.”

اَلرُّخَصُ لاَتُنَاطُ بِالشَّكِّ

“Kemurahan itu tidak bisa digantungkan dengan keraguan.”

اَلرِّضَا بِالشَّيْءِ رِضَا بِمَا يُتَوَلَّدُ بِهِ

“Ridha terhadap sesuatu berarti ridha terhadap apa yang timbul daripadanya.”

اَلسُّؤَالُ مُعَادٌ فىِ الْجَوَابِ

Pertanyaan itu diulang dalam jawaban.”

لاَيُنْسَبُ إِلىَ سَاكِنٍ قَوْلٌ

“Yang diam tidak dapat dianggap bicara.”

مَاكَانَ أَكْثَرَ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرَ فَضْلاً

“Apa yang lebih banyak pekerjaannya lebih banyak pula pahalanya.”

اَلْمُتَعَدِّى أَفْضَلُ مِنَ الْقَاصِرِ

“Amal yang merembet itu lebih baik daripada amal yang tidak merembet.”

اَلْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ

“Fardlu itu lebih utama dari pada sunnah.”

اَلْفَضِيْلَةُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِذَاتِ الْعِبَادَةِ أَوْلىٰ مِنَ الْمُتَعَلِّقَةِ بِمَكَانِهَا

“Fadhilah yang berhubungan dengan dzat ibadah itu sendiri, lebih utama daripada fadhilah ibadah yang berhubungan dengan tempatnya.”

اَلْوَاجِبُ لاَيُتْرَكُ إِلاَّ لِوَاجِبٍ

“Wajib itu tidak dapat dihilangkan kecuali karena wajib.”

مَا أَوْجَبَ أَعْظَمَ اْلأَمْرَيْنِ بِخُصُوْصِهِ لاَ يُوْجِبُ أَهْوَنَهُمَا بِعُمُوْمِهِ

“Sesuatu yang dengan kekhususannya telah menetapkan yang lebih besar di antara dua perkara, tidak dapat menetapkan yang lebih ringan dengan keumumannya.”

مَا ثَبَتَ بِالشَّرْعِ مُقَدَّمٌ عَلَى مَا ثَبَتَ بِالشَّرْطِ

“Sesuatu yang ditetapkan dengan syara’ itu didahulukan atas sesuatu yang ditetapkan dengan syarat.”

مَاحُرِمَ اسْتِعْمَالُهُ حُرِمَ أَخْذُهُ

“Sesuatu yang haram digunakan, haram pula disimpan.”

مَا حَرُمَ أَخْذُهُ حَرُمَ إِعْطَاؤُهُ

“Apa yang haram mengambilnya, haram pula memberikannya.”

اَلْمَشْغُوْلُ لاَيُشْغَلُ

“Yang sudah dipekerjakan tidak dapat dipekerjakan lagi.”

اَلْمُكَبَّرُ لاَيُكَبَّرُ

“Yang sudah dibesarkan tidak dibesarkan ( lagi )”

مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ

“Barang siapa terburu-buru mencapai sesuatu sebelum waktunya, maka dia tersiksa dengan tidak memperoleh sesuatu itu.”

اَلنَّفْلُ أَوْسَعُ مِنَ الْفَرْضِ

“Sunnah itu lepas daripada fardlu.”

اَلْوِلاَيَةُ الْخَاصَّةُ أَقْوٰى مِنَ الْوِلاَيَةِ الْعَامَّةِ

“Wilayah ( kekuasaan ) khusus itu lebih kuat daripada wilayah umum”

لاَ عِبْرَةَ بِالظَّنِّ الْبَيِّنِ خَطَاؤُهُ

“Sangkaan yang jelas keliru, tidak dihiraukan.”

اْلإِشْتِغَالُ بِغَيْرِ الْمَقْصُوْدِ إِغْرَاضٌ عَنِ الْمَقْصُوْدِ

“Masalah yang masih diperselisihkan tidak diingkari, sedangkan yang diingkari adalah yang telah disepakati.”

لاَ يُنْكَرُ اَلْمُخْتَلَقُ فِيْهِ وَاِنَّماَ يُنْكَرُ اْلمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Masalah yang masih diperselisihkan, tidak diingkari sedangkan yang diingkari adalah yang telah disepakati”

يَدْ خُلُ اْلقَوِيُّ عَلىَ الضَّعِيْفُ وَلاَ عَكْسَ

“Yang kut dapat masuk pada yang lemah, dan tidak sebaliknya”

يُغْتُفَرُ فيِ اْلوَساَئِلِ ماَ لاَيُغْتَفَرُ فيِ اْلمَقاَصِدِ

“Sesuatu yang ketika menjadi tujuan tidak diampuni, diampuni ketika menjadi lantaran”

اَلْمَيْسُوْرُ لاَيَسْقُطُ بِاْلمَعْسُوْرِ

“Manakala kuperintahkan kalian dengan sesuatu perkara, maka laksakanlah sebisa mungkin kalian”

ماَ لاَيَقْبَلُ التَّبْعِيْضُ فاَخْتِياَرُ بَعْضِهِ كاَخْتِياَرِ كُلِّهِ وَإِسْقاَطِ بَعْضِهِ كاَِسْقَطِ كُلِّهِ

“Sesuatu yang tidak bisa dibagi itu, meimilih sebagiannya berarti mengugurkan seluruhnya.”

إِذاَ اْجتَمَعَ السَّبَبُ أَوِ اْلغُرُوْرُ وَاْلمُباَشَرَةُ قُدِمَتْ اَلْمُباَشَرَةُ

“Manakala terkumpul sebab atau tipuan dengan pelaksanaan, maka pelaksanaan didahulukan.”

–o-0-O-0-o—

Kata Kunci artikel ini:

terjemah kitab qowaidul fiqhiyah (32)qowaidul fiqh (10)terjemahan qowaidul fiqhiyyah (10)qowaidul fiqih (6)qowaidul fiqhiyah pdf (4)qowaidul fiqhiyah jar (4)terjemah kitab qowaidul fiqih (2)qoidah fiqhiyyah (2)qowaidul fiqhiyah tentang ijtihad (2)kaidah fiqhiyah pdf (2)
Tags: , , , , , , , ,

Leave Comment