Monthly Archives: March 2017

Pesantren Ath Thohiriyah Banyumas

Seiring dengan tumbuh kembangnya Madrasah Diniyah di desa-desa, sebuah kelompok kursus Bahasa Arab kita menjelma menjadi Madrasah Diniyah Al-Mustaqbal (At-thohiriyah Ath-Thohiriyyah). Ini terjadi di dusun Parakanonje, desa Karangsalam, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas Purwokerto. Ini berarti bahwa jumlah Madin Awaliyah di Kabupaten Banyumas bertambah, yang menurut laporan Kasi RUA Islam setempat hingga akhir 1990 baru 61 buah. Bila idialnya dalamsetiap desa ada sebuah Madin, maka di Kabupaten Banyumas dengan jumlah desanya yang lebih 300, berarti masih banyak desa yang belum ada Madrasah Diniyah.
Pada mulanya adalah sebuah kegiatan kursus Bahasa Arab untuk anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur’an di rumah Ustadz Juwaini, yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Tapi setelah berjalan beberapa waktu dan kemudian ditingkatkan menjadi Madrasah Diniyah Awaliyah para pengngelola menjadi kewalahan karena jumlah yang semula hanya puluhan membengkak menjadi 400 anak. Untukmenampung animo masyarakat itu, para pengurus itu akhirnya mengambil langkah-langkah yang perlu, sepertimengatur kelas-kelas darurat, menyeleksi tingkat peserta didik dan lain-lain.
haflah-2006Sebenarnya di desa itu sudah pernah ada Madrasah Diniyah tapi sudah hapir lima tahun terakhir kegiatan itu hilang dari peredaran. Entah apa sebabnya lembaga tempat belajar agama sore hari untuk anak-anak itu kemudian tiada kabar beritanya. Padahal orang tua merasa terbantu oleh adanya Madrasah Diniyah itu. Mereka merasakan besar manfaatnya Madin. Disamping anak-anak sepulang dari SD, sore harinya mereka berkesempatan menambah pelajaran agama, tapi waktu sore tidak muspro untuk main-main saja.

Muncul ide untuk menarik minat anak-anak agar lebih giat mengaji, maka sejak 5 Oktober 1989 dirintis adanya Kursus Bahasa Arab oleh sejumlah remaja setempat. Kegiatan kursus tersebut diadakan di rumah Ustadz Juwaini, seorang tokoh yang ada di Karangsalam. Kiprah anak-anak muda itu tidak mleset, kursus Bahasa Arab yang diadakan semula dengan “coba-coba” itu benar-benar telah menarik minat anak-anak yang ternyata masih tinggi minat untuk belajar mengaji. Mereka masuk kursus itu sama dengan belajar di Madrasah Diniyah yang selama ini mereka rindukan.

Pada awalnya kegiatan itu hanya diikuti oleh 30 anak, dan mereka masuknya hanya dua kali(maksudnya 2 hari) dalam seminggu. Kepada mereka disamping mereka diberikan pelajar dasar Bahasa Arab, juga juga diberikan pelajaran beribadah sepeti doa wudlu, shalat, membaca shalawat dan ditambah pelajaran dasar bahasa Inggris. Dari hari ke hari pesertanya kian bertambah, dan sekalipun rumah Ustadz Juwaini tidak bias lagi menampung tapi pihak penggelola tidak bias menolak.
Ketika pesertanya makin membengkak menjadi 60 orang anak, pihak pengngelola semakin ditantang pengetahuannya. Tempat belajar yang selama ini numpang di rumah Ustadz Juwaini, harus mencari tempat lain. Ini pertanda seberapa jauh dukungan masyarakat terhadap kegiatan pengajian tersebut.
Pindah ke Masjid
Bersamaan dengan meluapnya semangat anak-anak untuk ngaji, paratokoh khususnya para pemuka agama desa Karangsalam mulai memikirkan masa depan kegiatan belajar mengajar diserahakan kepada pengngelola untuk diatur dan dilakukan pentaan seperlunya, diantaranya minta petunjuk ke Kantor Depag Kabupaten atau Penilik Pendidikan Agama Islam Kecamatan setempat. Sedang masalah tempat dan kemungkinan mendirikan bangunan Madrasah menjadi pemikiran Kyai dan masyarakat setempat.
Begitulah, ketika pemintanya terus meluap karena tidak hanya anak-anak dari desa Karangsalam saja tetapi juga dari desa sekitar, dua rumah yang selama ini dijadikan tempat belajar sudah tidak mampu lagi menampung. Bagaimana jalan keluar?
Atas saran KH. Thoha Alawy, takmir Masjid Jamik Parakanonje kegiatan tersebut dipindah ke masjid muali tanggal 20 Mei 1990. sekalipun belum memenuhi syarat pendidikan yang klasikal, tapi menempatkan di masjid memang lebih luas. Pesertanyapun memang labih berkembang pula hingga mencapai 400 anak yang ada dipisah menjadi lima kelas.
Apa yang menjadi pemikiran para kyai dan tokoh masyarakat setempat, alhamdulillah secara bertahap dapat diwujudkan. Pada 10 Maret 1991 telah dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Madrasah Diniyah Ath-Thohiriyyah “Al-Mustaqbal”. Upacara sederhana itu disaksikan oleh pejabat dan sesepuh tingkat desa dan Kecamatan. Diharapkan usaha gotong royong masyarakat itu akan segera berhasil menenmpatkan murid-murid Madin “Al-Mustaqbal” ke kelas yang memadahi. Dan selanjutnya akan dilakukan pembenahan di bidang kurikulum untuk menyesuaikan dengan Keputusan Menteri Agama No 3 Tahun 1983 tentang kurikulum Madrasah Diniyah. [Akhmad Saefudin].

Incoming search terms:

Share

Panduan Praktik Takhrij al-Hadis Manual dan Digital

Panduan Praktik Takhrij al-Hadis Manual dan Digital.

A. Sekilas Tentang Takhrij Al-Hadis
Secara etimologis kata takhri>j berasal dari kata kharraja yang berarti al-z}uhu>r (tampak) dan al-buru>z (jelas). Ia juga bisa berarti al-istinba>t} (menyimpulkan), al-tadri>b (meneliti) dan al-tauji>h (menerangkan). Sedangkan menurut Mah}mu>d T}ah}h}a>n takhri>j berarti ijtima>’ amrayn muta>d}idayn fi syay’in wa>h}id (kumpulan dua perkara yang saling berlawanan dalam satu masalah.

Adapun secara terminologis, takhri>j adalah menunjukkan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya, di mana hadis tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajadnya jika diperlukan. Dalam istilah ahli hadis, takhri>j dimaknai dengan:
a. Mengemukakan hadis kepada orang banyak dengan menyebutkan periwayatnya dengan sanad lengkap serta dengan penyebutan metode yang mereka tempuh. Inilah yang dilakukan oleh para penghimpun dan penyusun kitab hadis, seperti al-Bukha>ri yang menyusun S}ah}i>h} al-Bukha>ri, Muslim yang menyusun S}ah}i>h} Muslim dan yang lainnya.
b. Ulama hadis mengemukakan berbagai hadis yang telah dikemukakan oleh para guru hadis atau berbagai kitab yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri atau para gurunya atau temannya atau orang lain dengan menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab ataupun karya yang dijadikan sumber acuan. Kegiatan ini seperti yang dilakukan oleh al-Bayhaqi yang banyak mengambil hadis dari kitab al-Sunan karya Abu> H}asan al-Bas}ri> al-Safar, lalu al-Bayhaqi mengemukakan sanadnya sendiri.
c. Menunjukkan asal-usul hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab yang disusun mukharrijnya langsung. Kegiatan seperti ini salah satunya dilakukan oleh para Ibn H}ajar al-Asqala>ni> yang menyusun kitab Bulu>g} al-Mara>m.
d. Mengemukakan hadis berdasarkan kitab tertentu dengan disertai metode periwayatan dan sanadnya serta penjelasan keadaan para periwayatnya serta kualitas hadisnya. Pengertian takhrij seperti ini seperti yang dilakukan oleh Zainud al-Di>n Abd al-Rah}ma>n ibn al-H}usayn al-Ira>qi yang melakukan takhri>j terhadap hadis-hadis dalam kitab Ihya>’ Ulu>m al-Di>n karya al-Gazali dengan judul bukunya Ikhba>r al-Ih}ya>’ bi Akhba>r al-Ihya>’.
e. Mengemukakan letak asal suatu hadis dari sumbernya yang asli, yakni berbagai sumber kitab hadis dengan dikemukakan sanadnya secara lengkap untuk kemudian dilakukan penelitian terhadap kualitas hadis yang bersangkutan. Pengertian hadis yang kelima ini nampaknya yang paling tepat dalam konteks penelitian hadis yang banyak dilakukan di zaman sekarang.

Adapun manfaat dari kegiatan takhrij hadis ini sangatlah banyak, antara lain:
a. Memperkenalkan sumber-sumber hadis, kitab-kitab asal di mana suatu hadis berada beserta ulama yang meriwayatkannya.
b. Dapat menambah perbendaharaan sanad hadis melalui kitab-kitab yang dirujuknya. Semakin banyak kitab asal yang memuat sebuah hadis, maka semakin banyak pula perbendahaaran sanad yang dapat diketahui.
c. Dapat memperjelas keadaan sanad. Dengan membandingkan riwayat-riwayat hadis yang banyak, maka dapat diketahui apakah riwayat suatu hadis itu munqati’, mu’dal dan lain sebagainya. Demikian pula dapat diketahui apakah status periwayatannya itu sahih, hasan atau da’if.
d. Dapat memperjelas kualitas suatu hadis dengan banyaknya riwayat. Suatu hadis yang da’if kadang diperoleh melalui suatu riwayat, namun takhrij memungkinkan akan menemukan riwayat lain yang sahih. Hadis yang sahih itu akan mengangkat kualitas hadis yang da’if tersebut ke derajat yang lebih tinggi.
e. Dapat diketahui penilaian para ulama mengenai kualitas suatu hadis.
f. Dapat memperjelas periwayat hadis yang samar. Dengan adanya takhri>j kemungkinan dapat diketahui nama periwayat yang sebenarnya secara legkap dan tepat.
g. Dapat memperjelas periwayat hadis yang namanya tidak diketahui, yaitu melalui perbandingan sanad yang ada.
h. Dapat menafikan pemakaian lambing periwayatan “’an” dalam periwayatan hadis oleh seorang mudallis.
i. Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.
j. Dapat menjelaskan nama periwayat yang sebenarnya.
k. Dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad.
l. Dapat memperjelas arti kalimat asing yang terdapat dalam satu sanad.
m. Dapat menghilangkan unsur sya>z.
n. Dapat membedakan hadis yang mudraj.
o. Dapat menghilangkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dilakukan oleh periwayat.
p. Dapat membedakan antara periwayatan secara lafaz dan periwayatan secara makna.
q. Dapat menjelaskan waktu dan tempat turunnya hadis, dan lain-lain.

Dengan demikian, melalui kegiatan takhri>j al-hadis peneliti dapat mengakses berbagai sanad dari sebuah hadis sera dapat mengumpulkan berbagai redaksi dari hadis tersebut.

B. Takhrij Al-Hadis Secara Konvensional
Dalam kegiatan takhri>j al-hadis secara konvensional ada lima metode yang biasa digunakan oleh para ahli, yaitu:
a. Dengan cara mengetahui nama rawi hadis tingkat pertama (ma’rifat al-ra>wi al-a’la>), yakni Sahabat jika hadis tersebut muttasil dan tabi’in jika hadis tersebut mursal.
Metode ini membutuhkan perangkat alat bantu berupa tiga jenis kitab hadis, yaitu:
1) Al-Masa>nid, yaitu kitab-kitab hadis yang disusun pengarangnya berdasarkan nama-nama sahabat atau kitab-kitab yang menghimpun hadis para sahabat.
Adapun model penyebutan nama-nama sahabat dalam kitab-kitab musnad (al-masa>nid) tidaklah seragam antara satu kitab dengan yang lainnya. Ada yang diurutkan berdasarkan urutan alfabetis, diurutkan berdasarkan keutamaan sahabat, lebih dahulu masuk Islam, berdasarkan kabilah atau berdasarkan wilayah dimana sahabat tinggal. Dari beberapa model penyebutan nama sabahat tersebut, pengurutan berdasarkan alfabetis nampaknya lebih mudah dan banyak dipilih untuk proses pelacakan hadis.
Di antara kitab-kitab musnad yang sering digunakan dalam kegiatan takhri>j al-hadis adalah:
a) Musnad Ah}mad ibn H}anbal. Kitab ini berisi 40.000 hadis dan memuat 904 nama sahabat. Urutan nama sahabat di dalam kitab ini tidak disusun secara alfabetis melainkan berdasarkan: 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga, 4 sahabat yaitu ’Abdurrah}ma>n, Zaid, Haris dan Sa’d, Ahl Bayt, sahabat-sahabat yang masyhur, sahabat yang berdomisili di Makkah, Syam, Kuffah, Bashrah, orang-orang Anshar dan para sahabat wanita.
b) Musnad Abi> Bakr ’Abdulla>h ibn al-Zubayr al-H}umaydi. Kitab ini berisi 13.000 hadis dan memuat 180 nama sahabat. Pengurutan nama sahabat dalam kitab ini berdasarkah: khalifah empat (Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali), 10 sahabat yang dijamin masuk surga, sahabat yang lebih dahulu masuk Islam, ummaha>t al-mu’mini>n, sahabat-sahabat wanita serta orang-orang anshar.
c) Musnad Abi> Da>wud Sulayma>n ibn Da>wud al-T}aya>lisy
d) Musnad al-Syafi’i
e) Musnad Abi> Ish}a>q Ibra>him ibn Nas}r
f) Musnad Asad ibn Mu>sa> al-Umawi
g) Musnad Yah}ya> ibn Abd al-Humayd al-H}amami
h) Musnad Abi> Khaysamah Zuhair ibn H}arb
i) Musnad Musaddad ibn Musarhad al-Asadi al-Bas}ri
j) Musnad Abi> Ya’la> Ah}mad ibn ’Ali> al-Musani al-Maus}ili
k) Musnad ’Ayd ibn H}umayd
l) Musnad ’Ubaydilla>h ibn Mu>sa> al-’Aysi
m) Musnad Nu’aym ibn H}amma>d, dan sebagainya.

2) Al-Ma’a>jim, yaitu kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat, guru-gunya, tempat tinggal atau yang lainnya berdasarkan urutan alfabetis. Di antara kitab-kitab mu’jam tersebut adalah:
a) Al-Mu’jam al-Kabir karya Abu> Qa>sim Sulaima>n ibn Ah}mad al-T}abarani (w.360 H)
b) Al-Mu’jam al-Awsat} karya Abu> Qa>sim Sulaima>n ibn Ah}mad al-T}abarani (w.360 H)
c) Al-Mu’jam al-S}agir karya Abu> Qa>sim Sulaima>n ibn Ah}mad al-T}abarani (w.360 H)
d) Mu’jam al-S}ah}abah karya Ah}mad ibn ’Ali> ibn Lali> al-H}amdani> (w. 398 H).
e) Mu’jam al-S}ah}abah karya Abu} Ya’la> Ah}mad ibn ’Ali> al-Mausilli> (w.308 H).

3) Al-At}ra>f, yaitu kitab yang di dalamnya di sebut sebagian saja dari suatu lafadz hadis dan diisyaratkan kelanjutannya dan diterangkan sanadnya baik seluruhnya atau sebagian besarnya. Urutan didasarkan pada nama-nama sahabat berdasarkan alfabetis. Di antara kitab-kitab At}ra>f yang masyhur antara adalah:
a) At}ra>f al-S}ah}ih}ayn karya Abu> Mas’u>d Ibra>him ibn Muh}ammad al-Dimasyqi> (w.410 H).
b) At}ra>f al-S}ah}ih}ayn karya Abu> Muh}ammad Khalla>f ibn Muh}ammad al-Wa>siti> (w.410 H).
c) Al-Asyra>f ’ala> Ma’rifati al-At}ra>f karya Abu> al-Qa>sim’Ali> ibn Al-H}asan yang terkenal dengan nama Ibn ’Asa>kir al-Dimasyqi> (w.571 H).
d) Tuh}fah al-Asyra>f bi Ma’rifat al-A’ra>f karya Abu >al-H}ajja>j Yu>su>f ibn Abd al-Rah}ma>n al-Ma>zi> (w.742 H).
e) At}ra>f al-Masa>nid al-Asyra>h karya Abu> al-’Abba>s Ah}mad ibn Muh}ammad al-Busyairi (w.840 H).
f) It}a>f al-Mahrah bi At}ra>f al-Asyra>h karya Ah}mad ibn ’Ali> ibn H}ajar al-’Asqala>ni (w.852 H).
g) Zakha>ir al-Mawa>ris fi al-Dila>lah al-Mawa>d}i’ al-Hadis karya ’Abd al-Ghani> al-Nabilisi (w.1143 H).

Kelebihan dari metode penelusuran nama-nama sahabat atau tabi’in melalui ketiga jenis kitab di atas adalah:
1. Dapat diketahui semua hadis yang diriwayatkan sahabat tertentu dengan sanad dan matannya secara lengkap.
2. Ditemukannya banyak jalan periwayatan untuk matan yang sama.
3. Memudahkan untuk menghafal dan mengingat hadis yang diriwayatkan sahabat tertentu.

Adapun kelemahan dari metode tersebut adalah:
1. Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menemukan sahabat tertentu dengan hadisnya (khususnya untuk kitab-kitab yang disusun tidak secara alfabetis).
2. Membuthkan waktu yang relatif lama untuk menemukan hadis tertentu dari seorang sahabat. Karena biasanya sahabat tidak meriwayatkan satu atau dua hadis saja.
3. Bervariasinya kualitas hadis yang terkumpul karena tanpa penyeleksian sehingga ada yang s}ah}i>h}, h}asan dan d}a’i>f.

b. Dengan mengetahui lafaz pertama suatu matan hadis (ma’rifati mat}la’i al-hadi>s).
Untuk mencari hadis dengan metode ini, diperlukan beberapa kitab dengan kualifikasi sebagai berikut:
1) Kitab-kitab yang memuat hadis-hadis masyhur di masyarakat, antara lain:
a) Al-Tazkirah fi al-Ahadis al-Musytahirah karya Badr al-Din Muhammad ibn Abdullah al-Zakarsyi (w.975 H).
b) Al-La’a>li al-Mansu>rah fi al-Ah}a>dis al-Musytahirah karya Ibn H}ajar al-Asqalani (w.852 H).
c) Al-Maqa>sid al-Hasanah fi Baya>n Kasi>r min al-Ah}a>dis al-Musytahirah ’ala Alsinah karya al-Skha>wi (w.902 H).
d) Tamyi>z al-Tayyib min al-Khabi>s fi ma> Yadu>ru ’ala Alsinah al-Na>s min al-Hadi>s karya Abdurrahma>n ibn Ali> ibn al-Diba>’ al-Syaiba>ni (w. 944 H).
e) Al-Durar al-Muntasirah fi al-Aha>dis al-Musytahirah karya Jala>luddin Abdurrrah}ma>n al-Suyu>t}i> (w.911 H).
2) Kitab-kitab yang disusun berdasarkan alfabetis, antara lain:
a) Al-Ja>mi’ al-S}agi>r min Hadi>s al-Basyi>r al-Nazi>r dan Al-Ja>mi’ al-Kabi>r karya Jala>luddin Abdurrrah}ma>n al-Suyu>t}i> (w.911 H).
b) Al-Fath} al-Kabi>r fi D}amm al-Ziya>dah ila> Ja>mi’ al-Sagi>r karya Yusuf al-Nabhani.
c) Al-Ja>mi’ al-Azha>r min al-Hadis al-Nabi al-Anwa>r karya al-Manawi (w.1031 H).
3) Kitab (kamus) yang disusun oleh pengarangnya untuk kitab hadis tertentu, antara lain:
a) Untuk s}ah}i>h} al-Bukha>ri>, yaitu Ha>dy al-Ba>ri> ila> Tarti>b Ah}a>dis al-Bukha>ri.
b) Untuk s}ahi>h Muslim, yaitu Mu’jam al-Alfa>z} wa la> Siyyama al-Gari>b minha>.
c) Untuk S}ah}i>hayn, yaitu Mifta>h} al-Sah}i>hayn
d) Untuk al-Muwat}t}a’, yaitu Mifta>h} al-Muwat}t}a’
e) Untuk Sunan ibn Ma>jah, yaitu Mifta>h} Sunan ibn Ma>jah
f) Untuk Ta>ri>kh al-Bagda>di, yaitu Mifta>h} al-Tarti>b li Ah}a>dis Ta>ri>kh al-Khat}i>b

Kelebihan dari metode ma’rifati mat}la’i al-hadis adalah dapat diketahuinya sumber asli, sanad dan matan suatu hadis. Namun demikian metode ini mengharuskan peneliti untuk bekerja keras mengingat tidak dicantumkannya nomor halaman atau bab dari hadis tersebut pada kitab tertentu.

c. Dengan mengetahui sebagian dari lafaz suatu hadis, baik di awal, tengah maupun akhir (ma’rifah lafz}in min alfa}z}i al-hadi>s)
Kitab yang paling representatif untuk metode ini adalah karya Arnold John Wensinck al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazi al-Hadis al-Nabawi al-Nabawi yang diterjemahkan oleh Muhammad Abdul Baqi. Kitab ini merupakan kitab kamus bagi 9 kitab hadis yang populer (sahih Bukha>ri dan Muslim, Sunan al-Tirmi>zi>, Sunan al-Nasa>’i, Sunan Abu> Da>wud, Sunan Ibn Ma>jah, Sunan al-Da>rimi, al-Muwat}t}a’ Imam Ma>lik dan Musnad Ah}mad ibn H}anbal).
Kelebihan dari metode ini adalah peneliti dapat dengan cepat mengetahui sumber asli sebuah hadis hanya dengan menggunakan sebagian lafaz hadis (ism atau fi’il). Dalam kamus ini kitab rujukan dilengkapi dengan nama bab, nomor bab atau nomor hadis serta nomor juz dan halamannya. Metode ini juga memudahkan peneliti untuk mencari hadis-hadis dan sumbernya yang memiliki matan sama atau hampir sama.
Adapun kelemahan dari metode ini adalah peneliti harus mengetahui kata dasar dari dari lafaz yang digunakan pedoman pencarian. Selain itu kamus tersebut hanya memuat 9 kitab hadis populer, sehingga jika matan hadis dimaksud tidak terdapat dalam 9 kitab tersebut maka kamus tidak dapat melacaknya. Kelemahan lainnya adalah kata kunci yang digunakan harus berupa kata benda (ism) atau kata kerja (fi’il) yang tidak sering digunakan. Apabila pencarian menggunakan huruf, kata ganti (d}amir), nama orang atau kata kerja yang sering digunakan, maka kamus tidak bisa melacaknya.

d. Dengan mengetahui tema hadis (ma’rifati maud}u>’i al-hadi>s)

Kitab-kitab yang bisa digunakan untuk metode ini ada beberapa klategori, yaitu:
1) Al-Jawa>mi’, antara lain:
a) Al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h} karya Abu> Abdilla>h Muh}ammad ibn Isma>’il al-Bukha>ri.
b) Al-Ja>mi’ bayna al-S}ahi>hayn karya Isma>’il ibn Ah}mad.
c) Al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h karya Imam Muslim.
d) Al-Ja>mi’ bayna al-S}ahi>hayn karya Muhammad ibn Abi> Nas}r al-Humaydi.
2) Kitab-kitab Mustakhraj, antara lain:
a) Mustakhraj S}ah}i>h} al-Bukha>ri karya al-Git}rifi>
b) Mustakhraj S}ah}i>h} Muslim karya Abu> ’Awa>nah ibn al-Isfara>yini.
c) Mustakhraj S{ah}i>hayn karya Abu> Nu’aim al-Is}biha>ni>.
3) Al-Majami’, antara lain:
a) Al-Jam’ bayn al-S{ah}i>h}ayn, karya al-Sagani al-Hasan ibn Muhammad.
b) Al-Jam’ bayn al-S{ah}i>h}ayn, karya Abu> Abdilla>h ibn Abi> Nas}r Futu>h} al-H}umaydi.
c) Al-Jam’ bayn al-Us}u>l al-Sittah, karya Ibn al-Asi>r.
4) Al-Mustadraka>t, antara lain:
a) Al-Mustadrak, karya al-H}a>kim.
b) Al-Mustadrak, karya Abi> Zarr al-H}ara>wi.
5) Al-Zawa>’id, antara lain:
a) Mis}ba>h} al-Zuja>jah fi Zawa>’id ibn Ma>jah, karya al-Busayri>.
b) Fawa>’id al-Muntaqa> li Zawa>’id al-Bayhaqi>, karya al-Busayri>.
c) Ittih}a>f al-Sa’a>dah al-Mahrah al-Khayrah bi Zawa>’id al-Masa>nid al-’Asyrah, karya al-Busayri>.
6) Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah
Kitab ini disusun oleh A.J. Wensinck dan telah dialih bahasakan ke dalam Bahasa Arab oleh Muhammad Abdul Baqi. Jumlah kitab yang dijadikan rujukan sebanyak 14 kitab yaitu sahih Bukha>ri dan Muslim, Sunan al-Tirmi>zi>, Sunan al-Nasa>’i, Sunan Abu> Da>wud, Sunan Ibn Ma>jah, Sunan al-Da>rimi, al-Muwat}t}a’ Imam Ma>lik, Musnad Ah}mad ibn H}anbal, Musnad Abi Dawud al-Tayalisi, Musnad Zayd ibn Ali, Sirah ibn Hisyam, Magazi al-Waqidi dan Tabaqat ibn Sa’d.
Kelebihan dari metode tematik ini adalah banyaknya hadis yang bisa ditemukan berdasarkan tema tertentu. Adapun kelemahannya adalah sulitnya menentukan suatu potongan matan hadis atau suatu matan hadis masuk dalam tema apa karena bisa jadi ada perbedaan persepsi antara penyusun kitab dan peneliti (penelusur hadis).

e. Dengan mengamati secara mendalam keadaan sanad dan matan
Yang dilakukan dalam metode ini adalah melihat petunjuk dari sanad, matan atau sanad dan matan secara bersamaan. Petunjuk dari matan misalnya adanya kerusakan pada makna hadis, menyalahi al-Qur’an atau petunjuk yang menyatakan hadis tersebut palsu dan lain sebagainya. Kitab-kitab yang bisa menjadi rujukan antara lain:
1) Al-Maud}u>’a>t al-Sug}ra> karya Ali> al-Qa>ri (w.1014 H).
2) Tanzi>h al-Syari>’ah al-Marfu>’ah an al-Ah}a>dis al-Syani>’ah al-Maud}u>’ah, karya al-Kina>ni (w.963 H).
Petunjuk lain dari matan yaitu bila dikatahui matan tersebut adalah matan hadis qudsi. Kitab yang dapat dijadikan rujukan dalam hal ini adalah:
1) Misyka>t al-Anwa>r, karya Muh}y al-Di>n Muh}ammad ibn Ali> ibn al-Arabi al-Kha>timi (w.638 H).
2) Al-Ittih}a>fa>t al-Saniyyah bi al-Ah}a>dis al-Qudsiyyah, karya Abd al-Ra’u>f al-Muna>wi (w. 1031 H).
Petunjuk dari sanad misalnya sanad yang rawinya meriwayatkan hadis dari anaknya. Kitab yang menjadi rujukan antara lain Riwa>yah al-Aba>’ an al-Aba>’ karya Abu> Bakar Ah}mad ibn Ali> al-Bagda>di. Keadaan sanad yang musalsal, dengan rujukan kitab antara lain: al-Musalsal al-Kubra> karya al-Suyu>t}i>, atau keadaan sanad yang mursal dengan kitab rujukan al-Mara>sil karya Abu> Da>wud al-Sijista>ni dan karya al-Ra>zi.
Petunjuk dari sanad dan matan secara bersamaan dapat dirujuk pada kitab:
1) Ilal al-Hadis karya Ibn Abi> H}a>tim al-Ra>zi.
2) Al-Asma>’ al-Mubhamah fi anba>’ al-Muh}kamah, karya al-Kha>t}ib al-Bagda>di.
3) Al-Mustafa>d min Mubhama>t al-Matan wa al-Isna>d, karya Abu> Zurah Ah}mad ibn Abd Rahi>m al-Ira>qi.
Kelebihan dari metode kelima ini adalah ditemukannya hadis yang dicari dalam kitab rujukan dengan adanya penjelasan tambahan dari penyusunnya. Adapun kekurangannya adalah perlunya pengetahuan yang mendalam bagi penelusur hadis untuk mengetahui keadaan sanad dan matan hadis.

Contoh Penelusuran Hadis Konvensional
Dalam contoh ini penelusuran hadis akan dilakukan menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>zi al-Hadi>s karya AJ. Wensinck. Penelusuran didasarkan pada lafaz yang terdapat dalam matan hadis. Sebelum melakukan penelusuran, terlebih dahulu akan dijelaskan secara ringkas mengenai kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>zi al-Hadi>s.
Kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>zi al-Hadi>s hanya memuat 9 kitab hadis populer, sehingga apabila terdapat riwayat yang sama dalam kitab lain (selain 9 kitab tersebut) maka tidak dapat diakses. Untuk mempermudah pencarian, kata yang digunakan sebagai kata kunci pencarian harus berupa kata yang jarang digunakan. Metode ini oleh Mah}mu>d al-Taha>n disebut dengan metode takhri>j ’an t}ari>qi kalimat yaqillu dawra>tuhu.
Kitab al-Mu’jam disusun menurut urutan huruf hijaiyyah (alfabetis) dengan mengambil unsur dari kalimat tersebut dan pada setiap lafaz diawali dari bentuk fi’il ma>d}i, mud}a>ri’, amr, ism fa>’il dan ism maf’u>l. Untuk mempermudah penggunaan, perlu diperhatikan kode-kode yang terdapat dalam al-mu’jam, antara lain:
1. Kode mukharrij : ( خ ) untuk kitab sahih al-Bukhari ( م ) sahih muslim ( ت ) Sunan al-Tirmizi ( د ) Sunan Abi Dawud ( ن ) Sunan al-Nasa’i ( جه ) Sunan Ibn Majah ( ص ) Sunan al-Darimi ( ط) al-Muwatta’ dan ( حم) Musnad Ahmad ibn Hanbal.
2. Setelah kode tersebut diikuti nama ”kitab”misalnya: م الإيمان: 3 2 kode ini menunjukkan bahwa hadis yang dicari berada pada kitab sahih muslim bab ”al-Iman”. Nomor setalah penyebutan bab menunjukkah nomor urut hadis (untuk sahih al-Bukhari dan Muslim) dan menunjukkan nomor bab untuk kitab selain sahih al-Bukhari dan Muslim. Adapun khusus untuk kitab Musnad Ahmad ibn Hanbal menggunakan angka tebal dan tipis. Angka tebal untuk menunjukkan jilid kitab, sementara angka tipis untuk menunjukkan halaman kitab.
3. Dalam al-Mu’jam terkadang juga terdapat tanda (**) setelah kode seperti pada point 2 di atas. Ini menunjukkan bahwa lafaz pada hadis yang ditunjuk oleh point 2 tersebut memiliki pengulangan.
Untuk lebih jelasnya, mari perhatikan contoh pencarian hadis di bawah ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس فى النوم تفريط إنما التفريط فى اليقظة أن تؤخر صلاة حتى بدخل وقت أخرى

Berdasarkan penelusuran melalui kata tafri>t}, terdapat tiga model yang digunakan di dalamnya, sekaligus kitab rujukan yang memuat matan hadis yang dimaksud, antara lain:
ليس فى النوم تفريط- تفريط فى النوم – إنما التفريط فى اليقظة
د صلاة 1 1, ت: مواقت 6 1, ن: مواقت 3 5, جه: صلاة 0 1, حم: 5, 5 0 3
ليس فى النوم تفريط- إنما التفريط على من لم يصلى الصلاة حتى يجئ وقت الصلاة الأخرى
م: مساجد 1 1 3
لاتفريط فى النوم (إنما التفريط فى اليقظة)
د: صلاة 1 1, حم: 5, 8 9 2
Berdasarkan panduan al-Mu’jam tersebut penelusuran hadis dilakukan pada kitab-kitab hadis yang ditunjuk, dan kesemuanya dapat ditemukan meskipun penomoran tidak mesti sama dengan yang tertera dalam al-Mu’jam, kecuali untuk Musnad Ahmad yang sama persis dengan penomoran al-Mu’jam. Hal ini bisa terjadi karena kitab rujukan yang digunakan peneliti dengan kitab yang digunakan pengarang al-Mu’jam berbeda penerbit maupun tahun terbitan, sehingga menyebabkan pergeseran halaman atau bab yang tidak terlalu jauh.
Dari petunjuk di atas dapat dipahami bahwa matan hadis tersebut dapat dilacak dalam Sunan Abi Dawud bab “shalat”, Sunan al-Tirmizi bab “mawa>qit”, Sunan ibn Ma>jah bab “shalat”, Musnad Ahmad ibn Hanbal jilid 5 halaman 305 dan 298. Adapun redaksi lengkap dari matan hadis di atas dalam kitab-kitab aslinya adalah sebagai berikut:
1. Redaksi Abu Dawud melalui jalur sanad al-Abbas:
ليس فى النوم تفريط إنما التفريط فى اليقظة أن تؤخر صلاة حتى يدخل وقت أخرى
2. Redaksi Abu> Da>wud melalui jalur Mu>sa> ibn Isma>’il:
إنه لا تفريط فى النوم إنما التفريط فى اليقظة فإذاسها أحدكم عن صلاة فليصلها حين يذكرها ومن الغد للوقت
3. Redaksi Muslim:
أما إنه ليس فى النوم تفريط إنما التفريط على من لم يصل الصلاة حتى يجئ وقت الصلاة الأخري فمن فعل ذلك فليصلها حين ينتبه لها فإذا كان الغد فليصلها عند وقتها
4. Redaksi al-Tirmi>zi:
إنه ليس فى النوم تفريط إنما التفريط فى اليقظة فإذا نسي أحدكم صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكر
5. Redaksi al-Nasa>’i dari jalur Qutaybah:
إنه ليس فى النوم تفريط إنما التفريط فى اليقظة فإذا نسي أحدكم صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكر
6. Redaksi al-Nasa>’i dari jalur Suwaid:
إنه ليس فى النوم تفريط إنما التفريط فيمن لم يصل الصلاة حتى يجئ وقت الصلاة الأخري حين ينتبه لها
7. Redaksi Ibn Ma>jah:
ليس فى النوم تفريط إنما التفريط فى اليقظة فإذا نسي أحدكم صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكرها ولوقتها من الغد
8. Redaksi Ahmad ibn Hanbal dari jalur Hasyim:
ليس التفريط فى النوم إنما التفريط فى اليقظة
9. Redaksi Ahmad dari jalur Ya>zid:
لاتفريط فى النوم إنما التفريط فى اليقظة فإذا كان ذلك فصلوها ومن الغد وقتها

C. Takhrij Al-Hadis Menggunakan Perangkat Computer (Digital)
Melakukan takhrij hadis secara konvensional adalah sangat baik, namun demikian ia membutuhkan waktu yang relatif lama. Untuk mempercepat proses penelusuran dan pencarian hadis, jasa computer dengan program Mausu’ah al-Hadis al-Syarif al-Kutub al-Tis’ah dapat digunakan. Program ini merupakan software computer yang tersimpan dalam compact disk read only memory (CD-ROM) yang diproduksi oleh Sakhr tahun 1991 edisi 1.2.
Program ini memuat seluruh hadis yang terdapat dalam 9 kitab hadis (al-kutub al-tis’ah) yaitu: Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasa’i, Sunan ibn Majah, Musnad Ahman ibn Hanbal, Muwatta’ Malik dan Sunan al-Darimi lengkap dengan sanad dan matannya. Di samping itu, program ini juga mengandung data-data tentang biografi, daftar guru dan murid, al-jarh wa al-ta’dil, dan semua periwayat hadis yang ada di dalam al-kutub al-tis’ah. Program ini juga dapat menampilkan skema sanad , baik satu jalur maupun semua jalur periwayatannya.
Secara umum, penelitian hadis yang bisa dilakukan melalui CD program tersebut mencakup lima aspek, yaitu:
1. Takhrij al-hadis (pelacakan hadis pada 9 kitab hadis lengkap dengan sanad dan matannya.
2. I’tibar al-Sanad, yaitu pembeberan seluruh jalur sanad pada sebuah hadis atau berita dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana tingkat hadis tersebut ditinjau dari aspek kualitas rawinya.
3. Naqd al-sanad, yaitu kiritik sanad atau tinjauan aspek kualitas dan persambungan (ittisal) mata rantai sanad yang dimiliki oleh suatu hadis, guna mengetahui sisi kualitas hadis dilihat dari aspek wurud al-hadis.
4. Naqd al-matan, yaitu kritik matan atau tinjauan redaksional maupun substansial dari sebuah berita atau hadis yang telah diketahui secara pasti orisinalitas dan otentisitas hadis tersebut dalam tinjauan sanad.
5. Natijah, yaitu kesimpulan akhir dari sebuah penelitian tentang hadis tertentu baik nilai sanad maupun nilai matannya.
Dari kelima aspek di atas, hanya tiga aspek yang bisa diakses secara lengkap dan jelas melalui program CD hadis. Semantara dua aspek yang lain membutuhkan perangkat yang lain di luar CD hadis, yaitu kekuatan analisis peneliti dalam meneliti hadis baik dari aspek “tersurat” maupun “tersirat” dari hadis yang diteliti, di samping tentunya kemampuan peneliti dalam menerapkan berbagai kaidah yang berlaku dalam penelitian hadis. Kedua aspek ini adalah naqd al-matan dan natijah. Sementara tiga aspek yang dimungkinkan penelitiannya secara capat dan lengkap melalui CD hadis adalah takhrij al-hadis, i’tibar al-sanad dan naqd al-sanad.
Untuk menelusuri dan mencari hadis dengan program ini, ada 8 cara yang bisa ditempuh, yaitu:
a. Dengan memilih lafadz yang terdapat dalam daftar lafaz yang sesuai dengan hadis yang dicari.
b. Dengan mengetik salah satu lafaz dalam matan hadis.
c. Berdasarkan tema hadis.
d. Berdasarkan kitab dan bab yang sesuai dengan kitab aslinya.
e. Berdasarkan nomor urut hadis.
f. Berdasarkan pada periwayat hadis.
g. Berdasarkan aspek tertentu pada hadis.
h. Berdasarkan takhrij hadis.

D. Penutup
Demikian Panduan Praktikum Takhrij al-Hadis ini disusun, dengan harapan semoga para Peserta Workshop Takhrij Hadits Manual dan Digital bisa mendapatkan manfaat darinya. Kritik dan saran konstruktif senantiasa penyusun harapkan guna perbaikan buku panduan ini di masa mendatang.

Incoming search terms:

Share

Madzhab Ja’fari: Madzhabnya Imam Yang Mendidik Para Pendiri Madzhab

Madzhab Ja’fari: Madzhabnya Imam Yang Mendidik Para Pendiri Madzhab

Meski saat ini dianggap sebagai madzhabnya kaum Syiah, Imam Ja’far bukanlah tokoh yang mewakili kelompok tertentu. Ini terbukti dari murid-muridnya yang datang dari berbagai aliran.

Hingga saat ini, dalam khazanah keberagamaan kaum ahlussunnah wal jama’ah, madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang telah ditulis pada pada tulisan-tulisan sebelumnya secara berturut-turut dianggap sebagai empat madzhab fiqih mu’tabar yang masih ada atau tersisa hingga saat ini. Madzhab-madzhab tersebut terus bertahan dan mendunia karena dukungan penguasa. Madzhab Hanafi, misalnya, mulai berkembang ketika Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi, al-Hadi, dan al-Rasyid.

Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan Al-Manshur, di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia, dan di Afrika oleh al-Mu’iz yang mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki. Madzhab Syafi’i juga membesar di Mesir ketika Shalahuddin Al-Ayyubi menguasai negeri itu. Dan Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil dari Dinasti Abbasiyyah. Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Padahal dalam perjalanan tarikh tasyri’ (sejarah perkembangan ilmu fiqih), selain empat madzhab tersebut, pernah muncul banyak ahli fiqih yang mengeluarkan fatwa-fatwa fiqih secara kontinyu dan terstruktur yang memuat mereka layak dianggap sebagai imam-imam madzhab.
Ahli fiqih pertama yang ijtihad dan fatwa-fatwa fiqihnya cukup populer adalah Sayyidina Umar bin Khaththab, khalifah kedua setelah Sayyidina Abu Bakar Shiddiq. Beberapa ijtihadnya belakangan dibukukan dengan judul Fiqih Umar. Setelah Umar, semakin banyak ulama dari generasi sesudahnya yang dikenal sebagai mujtahid dan fatwanya dianggap sebagai madzhab tersendiri.

Diantara mereka terdapat nama-nama besar seperti Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir (82 – 148 H), Abu Abdullah Sufyan bin Masruq Ats-Tsauri (65 – 161 H), Imam Abdurrahman bin Amr Al-Auza’i (88-157 H), Abul Harits Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman Al-Fahmi (94 – 175 H), Abu Muhammad Sufyan ibn ‘Uyaiynah (wafat 198 H), Abu Sulayman Dawud ibn ‘Ali Azh-Zhahiri (202 – 270 H) dan Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir At-Thabari (224 – 310 H).

Diikuti Sunni Dan Syi’i
Meski saat ini madzhab Ja’fari diklaim sebagai madzhabnya kaum Syiah, pada awalnya fiqih Ja’fari tidak berafiliasi ke aliran aqidah mana pun. Dengan kedalaman ilmunya dan kemuliaan yang ada pada dirinya, Imam Ja’far di masa hidunya memang menjadi media bertemunya berbagai paham dan golongan pada kaum muslimin. Berbagai madzhab syariat dan tarekat merujukkan ajaran- ajarannya kepada Imam Ja’far, termasuk kaum Syiah.

Bahkan bisa dibilang Imam Ja’far adalah guru utama bagi sebagian besar ahli fiqih yang belakangan menyusun madzhab. Sebut saja Imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Sufyan bin Uyainah, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Yahya bin Sa’id Al-Anshary, Ibu Jarih, Al Qaththan, Muhammad bin Ishar bin Yassar, Syu’bah bin Al Hajjaj, dan Abu Ayyub as Sjistaniy yang tercatat pernah berguru kepada Imam Ja’far.

Sementara dalam ranah kesufian nama Imam Ja’far Shadiq tercatat dalam berbagai mata rantai silsilah thariqah shufiyyah seperti Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, Alawiyyah dan sebagainya. Fakta-fakta tersebut tentu menguatkan bukti bahwa sebenarnya sang Imam adalah tokoh Ahlussunnah, sebab jika sebaliknya pasti kaum sunni tidak akan menjadikannya sebagai salah satu rujukan.

Meski begitu, seiring perjalanan waktu, madzhab Ja’fari yang dikembangkan oleh ulama sesudahnya semakin kental bernuansa syiah. Karena itu, jika mengkaji madzhab Ja’fari di zaman modern ini, mau tidak mau kita akan bertemu dengan tradisi Madzhab Ja’fari ala kaum syiah. Karena hanya sumber-sumber itu saja yang hingga kini masih bisa ditemui.
Pengikut madzhab Ja’fari di zaman modern (kaum Syiah) membagi periodisasi fiqih menjadi dua : periode tasyri’ dan periode tafri’.

Periode tasyri’ (penetapan syariat) adalah periode turunnya syariat yang meliputi masa kenabian Rasulullah SAW sejak awal hingga beliau wafat. Periode ini diwarnai dengan turunnya ayat-ayat al-Qur’an dan ajaran ilahi kepada Rasul SAW. Selama rentang masa 23 tahun beliau menerima wahyu yang mencakup semua hukum syariat.

Periode tafri’ (penafsiran syariat) dimulai sejak Nabi SAW wafat dan berlangsung sampai kelak Imam Mahdi as muncul di tengah-tengah umat. Tafri’ secara umum dimaknai istinbath dan penyimpulan hukum berdasarkan syariat yang diterima dan diajarkan oleh Nabi SAW.
Periode tafri’ juga terbagi menjadi beberapa tahapan lagi. Tahapan pertama adalah masa hidup para imam. Ketika itu, para pengikut Ahlussunnah sudah memasuki masa ijtihad, berbeda halnya dengan para pengikut Ahlul Bait atau Syiah. Di zaman itu, Syiah merujuk kepada pendapat dan kata-kata para imam Ahlul Bait dalam semua masalah syariat.

Di antara 12 imam tersebut, Imam Muhammad al-Baqir dan Imam Jafar Shadiq yangdianggap paling banyak mendapat kesempatan untuk berbicara dan menerangkan hukum-hukum agama. Karena itu, dalam kepustakaan hadits pengikut Madzhab Ja’fari modern, jumlah riwayat dari kedua Imam tersebut jauh lebih besar dibanding riwayat para imam yang lain.

Menolak Qiyas
Tahap kedua dimulai sejak masa ghaibnya Imam Mahdi, atau sekitar paruh pertama abad keempat hijriyah hingga paruh pertama abad kelima. Periode ini adalah masa keemasan bagi penyusunan hadis, dengan kemunculan para muhaddits dan faqih besar Syiah, diantaranya Syekh Kulaini dan Syekh Shaduq. Kitab-kitab kumpulan hadis yang ditulis pada masa ini menjadi rujukan Syiah sepanjang masa.

Tahap ketiga adalah masa ijtihad. Di masa ini para ulama melakukan aktivitas pengumpulan nash syariat secara ijtihad. Dengan berpijak pada teori ushul fiqh mereka menyimpulkan hukum dari nash-nash yang ada. Berkat kerja keras ulama di zaman itu, ilmu uhsul fiqh Syiah disusun dan menemukan bentuknya. Hal itu terjadi berkat upaya keras para ulama semisal Ibn Abi Aqil.

Tahap keempat adalah masa taqlid. Masa ini dimulai sejak wafatnya Syekh Thusi yang dikenal sebagai faqih Syiah sepanjang masa. Kepergian ulama sekaliber beliau meninggalkan luka yang amat dalam di tengah kaum Syiah. Ketinggian dan keluasan ilmu Syekh Thusi membuat ulama berpikir untuk tidak beramal selain dengan fatwa beliau. Mereka bahkan menilai orang yang berani berijtihad sebagai orang yang lancang terhadap Syekh Thusi.

Tahap kelima adalah masa maraknya kembali ijtihad. Masa ini dimulai dengan tampilnya Ibnu Idris sebagai pembaharu. Dengan menulis buku fiqh al-Sarair, Ibnu Idris mendorong para ulama untuk tidak hanya mengikuti pendapat ulama terdahulu. Kitab al-Sarair sampai saat ini menjadi rujukan para ulama. Langkah Ibnu Idris membuat para ulama berani untuk berijtihad kembali. Di masa itu studi dan riset fiqh mengalami kemajuan yang pesat dengan bermunculannya para ulama besar semisal Allamah Hilli, Muhaqqiq Hilli dan Fakhrul Muhaqqiqin.

Tahap keenam adalah periode munculnya gerakan akhbariyyin. Pada masa ini, sebagian ulama berpendapat bahwa sumber syariat hanya terbatas pada al-Qur’an dan sunnah. Mereka menolak metode ijtihad. Akibatnya ilmu ushul yang mengajarkan metode bertijtihad dengan benar, mengalami kelesuan. Umumnya kitab fiqh yang ditulis pada masa ini berporos pada riwayat dan hadis. Diantara kitab-kitab tersebut adalah al-Qafi, Wasail al-Syiah dan Bihar al-Anwar.

Tahap ketujuh adalah periode kebangkitan kembali gerakan ijtihad. Perintis periode ini adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Akmal yang dikenal dengan sebutan Syekh Wahid Bahbahani. Beliau dengan lantang menolak cara berpikir kaum akhbari, dan dengan membawakan berbagai dalil kuat membantah klaim dan pendapat mereka. Bahbahani juga menerangkan kebutuhan umat kepada kaedah untuk istinbath. Gerakan itu membuahkan hasil gemilang dengan kemunculan ulama sekaliber Syekh Murtadha Anshari (wafat tahun 1281 hijriyah), yang dikenal sangat jeli dalam mengurai hukum dan beristinbath.

Prinsip dasar madzhab Ja’fari, selain menolak qiyas, adalah: Pertama, sumber syariat adalah al-Qur’an, al-Sunnah dan akal. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahlul bait. Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt;

Kedua, istihsan tidak boleh dipergunakan. Qiyas hanya dipergunakan bila ‘illat-nya manshush (terdapat dalam nash). Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya, digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu;

Ketiga, Al-Qur’an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. Tugas seorang mujtahid adalah mengeluarkan jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus dari al-Qur’an.

Dekat Dengan Syafi’i
Mengenai hukum-hukum dalam madzhab Ja’fari Syaikh Ahmad Kaftaro, mufti madzhab Syafi’i di Mesir mengatakan, sebenarnya madzhab Ja’fari –yang modern pun– cukup dekat dengan madzhab Syafi’i, kecuali dalam 17 perkara yang memang sangat berbeda dengan fiqh yang dianut mayoritas kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah saat ini. Salah satunya adalah khums atau khumus, pajak keagamaan yang diberikan kepada Ahlul Bait seperti zakat.

Menurut madzhab Ja’fari, sebenarnya khumus telah diberlakukan pada masa nabi, namun dihapus pada masa khalifah Abu Bakar Shiddiq. Karena itu khumus tidak lagi didapati dalam fiqih-fiqih kaum sunni. (Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 3, 1996)

Hal lain yang juga sangat berbeda dengan fiqih sunni adalah dalam masalah nikah mut’ah, atau nikah berjangka. Tidak sebagaimana madzhab empat yang mengharamkan nikah mut’ah, madzhab Ja’fari modern justru menghalalkannya.

Fuqaha Syi’i menganggap nikah mut’ah masih boleh diamakan berdasarkan keumuman hukum dalam ayat 24 surah an-Nisa’ dan amalan beberapa shahabat sepeninggal Nabi. Baru pada masa khalifah Umar, negara yang secara tegas melarang nikah mut’ah dengan disertai ancaman hukum rajam. Sementara menurut fuqaha sunni ayat 24 surah An-Nisa itu sudah dimansukh dengan hadit hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. Dalam hadits tersebut dengan tegas Rasulullah SAW melarang pelaksanaan nikah mut’ah yang sebelumnya dibolehkan.

Tidak mudah memang melacak fatwa-fatwa Imam Ja’far Shadiq yang asli. Kitab Rasail Ikhwan Ash Shafa yang diklaim sebagai buku induk fatwa Imam Ja’far, misalnya, dikarang pada masa pemerintahan Dinasti Buwaihiyyah (321 H – 447 H), atau lebih dari dua ratus tahun setelah wafatnya Imam Ja`far pada tahun 148 H. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain.

Imam Ja’far Ash Shadiq adalah keturunan kelima Rasulullah SAW melalui Sayidah Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ayahnya, Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein Asy-Syahid bin Ali bin Abi Thalib menikah dengan Ummu Farwah yang nama aslinya Qaribah atau Fatimah binti Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shidiq. Dengan nasab yang luar biasa tersebut Imam Ja’far mewarisi darah beberapa tokoh paling utama di bumi sekaligus : Fatimah binti Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shiddiq.

Sedangkan nenek dari ibunya adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena nasab kakek-nenek dari pihak ibunya bermuara pada kepada Abu Bakar Shiddiq, Imam Ja`far Ash-Shadiq pun mengatakan, “Aku dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali.” (Syiar `A`lam An Nubala : 259).

Karena ikatan darah yang sangat kuat itulah Imam Ja`far Ash Shadiq sangat mencintai datuk-datuknya, Ali Bin Abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shiddiq serta orang-orang yang mereka sayangi seperti Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Aisyah binti Abu Bakar dan lain-lain. Dalam berbagai literatur sejarah juga diceritakan bahwa Imam Ja`far membenci orang-orang yang membenci sahabat-sahabat Nabi tersebut dan orang-orang yang menetapkannya sebagai imam yang ma`sum.

Mencintai Abu Bakar
Diriwayatkan oleh Abdul Jabbar bin Al-Abbas Al-Hamdzani, Ja`far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir mendatangi mereka ketika mereka hendak meninggalkan Madinah, lalu berkata, “Sesunggunya kalian –insya Allah– termasuk orang-orang shalih di negeri kalian, maka sampaikanlah kepada mereka ucapanku ini, ‘Barangsiapa mengira aku adalah imam ma`shum yang wajib ditaati maka aku benar-benar tidak ada sangkut paut dengannya. Dan barangsiapa mengira bahwa aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar maka aku berlepas diri dari orang itu’.” (Syiar `A`lam An Nubala : 259).

Muhammad bin Fudhail menceritakan dari Salim bin Abu Hafshah, “aku bertanya kepada Abu Ja`far (Imam Muhammad Al-Baqir) dan putranya, Ja`far, tentang Abu Bakar dan Umar. Ia (Imam Muhammad) berkata, ‘Wahai Salim, cintailah keduanya dan berlepas diri musuh-musuhnya karena keduanya adalah imam al-huda (pemimpin yang mendapat petunjuk).’

Kemudian Ja`far berkata, ‘Hai Salim apakah ada orang yang mencela kakeknya sendiri? Abu Bakar adalah kakekku. Aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad SAW pada hari kiamat jika aku tidak mencintai keduanya dan memusuhi musuh-musuhnya.’
Ucapan Imam Ash Shadiq seperti ini ia ucapkan di hadapan ayahnya, Imam Muhammad Al-Baqir dan dia tidak mengingkarinya. (Tarikh Al-Islam 6/46).

Hafsh bin Ghayats, murid dari Ash-Shadiq berkata, “Saya mendengar Ja`far bin Muhammad berkata, ‘Aku tidak mengharapkan syafaat untukku sedikit pun melainkan aku berharap syafaat Abu Bakar semisalnya. Sungguh dia telah melahirkanku dua kali’.”
Murid Imam Ja`far yang lain, Amr bin Qais Al-Mulai mengatakan, “Saya mendengar Ibnu Muhammad (Ash-Shadiq) berkata, ‘Allah ta`ala berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar’.” (Syiar Alam An Nubala : 260).

Zuhair bin Mu`awiyah berkata, “Bapaknya berkata kepada Imam Ja`far bin Muhammad, ‘Sesungguhnya saya memiliki tetangga yang mengira engkau berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar’. Imam Ja`far pun mejawab, “Semoga Allah berlepas diri ` dari tetanggamu itu. Demi Allah sesungguhnya saya berharap mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepadaku karena kekerabatanku dengan Abu Bakar. Sungguh aku telah mengadukan (rasa sakit) maka aku berwasiat kepada pamanku (dari ibu) Abdurrahman bin Al Qasim. (At Taqrib, Ibnu Hajar dan Tarikh Al-Islam, Adz Dzahabi).

Imam Ja’far bin Muhammad lahir di Madinah pada tahun 82 H, pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya, Ali Zainal Abidin keturunan Rasulullah yang selamat dari pembantaian di Karbala. Setelah Imam Ali wafat, ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun.

Ia sempat menyaksikan kekejaman Al-Hajjaj, gubernur Madinah, pemberontakan Zaid ibn Ali, dan penindasan terhadap para pengikut keturunan nabi. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah menjadi khalifah pertama Dinasti Abbasiyah, yang semula mendukung kaum Alawiyyin namun belakangan berbalik memusuhinya. Dalam suasana seperti itulah, Imam Ja’far tumbuh, belajar dan berdakwah untuk menyebarkan sunnah Rasulullah dan akhlak kaum Muslim.

Imam Ja’far termasuk ulama yang tidak setuju dengan penggunaan logika (ra’yu) dalam beragama. Diceritakan, suatu ketika Ibnu Abi Layla, salah seorang murid Imam Ja’far mengajak dua orang temannya Abu Hanifah dan Ibn Syabramah menghadap gurunya.

Digelari Imam Sunni
Imam Ja’far lalu bertanya kepada Ibn Abi Layla tentang kawannya (Abu Hanifah). Sang murid menjawab, “Ia orang pintar dan mengetahui agama.”
“Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?,” tanya Ja’far.
“Benar.”
Ja’far bertanya kepada Abu Hanffah: “Siapa namamu?”
“Nu’man,” jawab Abu Hanifah.

Imam Ja’far mengajukan, “Hai Nu’man, ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Orang yang pertama kali menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih, Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah.”

“Manakah yang lebih besar dosanya – membunuh atau berzina?,” tanya Imam Ja’far lebih lanjut.
“Membunuh,” jawab Imam Abu Hanifah.

“Lalu, mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zina.”
Imam Abu Hanifah terdiam.

“Mana yang lebih besar kewajibannya, shalat atau shaum (puasa)?”
“Shalat,” jawab Imam Abu Hanifah.

“Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha puasanya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya. Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu. Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama.”

Karena keluasan dan kedalaman ilmunya itulah, Imam Ja’far juga digelari Al-Imam oleh kaum Ahlussunnah wal Jamaah.Betapa tidak luas, tak kurang lima belas tahun ia dididik langsung oleh kakeknya, Imam Zainal Abidin, seorang ahli ibadah, ulama besar dan pemimpin ahlul bait yang paling dihormati seluruh lapisan umat Islam pada zamannya.

Selain kepada ayah dan kakeknya, Imam Ja’far juga menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Sahl bin Sa`ad As-Sa`idi dan Anas bin Malik serta dari ulama dari generasi tabi`in seperti Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab Az-Zuhri, Urwah bin Az-Zubair, Muhammad bin Al-Munkadir, Abdullah bin Abu Rafi` dan Ikrimah Mawla bin Al-Abbas.

Imam Ja’far wafat pada 25 Syawal 148 H –ada juga yang mengatakan pada bulan Rajab– dalam usia 68 tahun di kota kelahirannya, Madinah. Sang Imam meninggalkan tujuh putra yang belakangan juga dikenal sebagai permata-permata ilmu, yaitu Ismail, Abdullah, Musa Al Kazhim, Ishaq, Muhammad, Ali dan Fathimah.

Ahmad Iftah Sidik, (Santri Asal Tangerang)

Incoming search terms:

Share

Madzhab Al-Laitsi: Madzhabnya Mujtahid Yang Sangat Dermawan

Banyumas Pesantren-Madzhab Al-Laitsi: Madzhabnya Mujtahid Yang Sangat Dermawan

Ulama bersepakat ia lebih alim dari Imam Malik, sahabatnya. Namun karena kekurang sigapan murid-muridnya untuk membukukan pemkirannya, madzhab sang dermawan itu akhirnya lenyap.

Mengupas sejarah fiqih memang tidak ada matinya. SetelahMadzhab Al-Auza’i dan Ats-Tsauri yang diulas pada kali tulisan sebelumnya, giliran Madzhab Al-Laitsi yang ditulis pada edisi ini. Sebagaimana dua madzhab sebelumnya, Madzhab yang didirikan oleh Imam Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman Al-Fahmi (94-175H), ulama besar dari golongan tabi’ut tabi’in itu juga telah lenyap ditelan perputaran zaman. Hanya petikan fatwanya yang masih bisa dijumpai dalam karya-karya para ahli fiqih madzhab lain yang hidup pada generasi sesudahnya.

Sangat disayangkan, karena pada masa hidupnya Imam Al-Laits dikenal sebagai salah satu mujtahid besar di bidang fiqih yang pemikirannya sangat cemerlang. Ibnu Hajar Al-Asqalani, faqih dan muhaddits kenamaan yang hidup pada generasi sesudahnya, memberikan penghormatan dan pengakuan atas keilmuan Imam Al-Laits.

“Ilmu para tabi’in yang berasal dari Mesir telah habis diserap oleh Al-Laits, di samping ia juga telah menguasai pemikiran fiqih kaum tabiin dari berbagai kota pada zamannya,” kata Ibnu Hajar, sebagaimana dinukil dalam Ensiklopedi Hukum Islam. “Al-Laits menguasai pemikiran fiqih ulama Irak (ahlur ra’yu) yang dipelopori oleh Abu Hanifah, ia juga menguasai pemikiran ulama fiqih Madinah (ahlul hadits) yang dipimpin oleh Imam Malik.

Dalam literatur lain Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa Imam Malik sendiri banyak menanyakan berbagai persoalan kepada Al-Laits bin Sa’ad. “Tokoh yang digambarkan oleh Imam Malik dengan ungkapan ‘seorang ilmuwan yang ikhlas telah memberitahukan kepada saya’ dalam berbagai fatwanya adalah Al-Laits,” tambah Ibnu Hajar.

Bahkan terkait hubungan keilmuan Imam Al-Laits dengan Imam Malik yang unik itu, Imam Syafi’i menyatakan, “Al-Laits lebih ahli dalam bidang fiqih dari pada Imam Malik, hanya saja pengikutnya tidak banyak dan tidak berusaha mengembangkan pemikirannya. Dibanding Imam Malik, Al-Laits justru lebih banyak mendasarkan fiqihnya pada hadits nabi dan perbuatan para sahabat.”

Pendapat mengenai keahlian Imam Al-Laits dalam fiqih yang melebihi Imam Malik juga disampaikan Syaikh Yahya bin Baqir, ahli fiqih klasik. Sementara Muhammad Baltaji memberikan komentar yang agak berbeda, “Sebenarnya Al-Laits dan Imam Malik mempunyai keunggulan masing-masing, tetapi Imam Malik mempunyai lebih banyak pengikut yang menyebarkan madzhabnya.”

Dekat Dengan Penguasa
Kedekatan hubungan Al-Laits dan Imam Malik, baik secara personal maupun keilmuan juga membuat metode dan pemikiran kedua tokoh tersebut sering disandingkan oleh kalangan ahli fiqih modern.

Ada banyak analisis yang mencoba mengungkap penyebab lenyapnya madzhab Al-Laitsi selain ketiadaan dukungan penguasa. Abdullah Syahathahm ahli fiqih kontemporer dari Mesir, berpendapat, “Ada banyak faktor besar yang menyebabkab pemikiran Al-Laits bin Sa’ad tidak sampai secara utuh kepada generasi sesudahnya.”

Faktor-faktor itu, menurut Abdullah, antara lain: Al-Laits semula bermadzhab Maliki, namun belakangan ia berdiri sendiri. Padahal di masa itu mayoritas ulama Mesir adalah pengikut Imam Maliki, sehingga sikap Al-Laits tersebut kurang mendapat simpati. Apa lagi Imam Laits saat itu dianggap terlalu dekat dengan penguasa Abbasiyyah, sehingga banyak ulama yang enggan mendekatinya.

Faktor lainnya adalah tak ada satu pun murid Al-Laits yang berusaha membukukan fatwa-fatwa gurunya, sehingga pemikiran Al-Laits pun tidak terdokumentasi. Tak heran ketika tiba di Mesir pada akhir abad kedua hijriah, belasan tahun setelah Al-Laits bin Sa’ad wafat, Imam Syafi’i sendiri merasa kesulitan menemukan literatur madzhab Al-Laitsi. Ditambah lagi saat itu di Mesir tengah terjadi perselisihan pendapat antara pengikut Imam Laits dan Imam Malik.

Sekalipun tidak meninggalkan satu karya tulis pun pemikiran Al-Laits sebenarnya masih bisa dilacak hingga saat ini. Karena banyak ulama fiqih dari generasi sesudahnya yang mencantumkan pendapatnya dalam kitab-kitab mereka. Di antara kitab yang memuat petikan pemikiran Al-Laits adalah Al-Mughni (kitab fiqih madzhab Hanbali yang disusun oleh Ibnu Qudamah), Al-Muhalla (kitab fiqih madzhab Azh-Zhahiri yang dikarang oleh Ibvnu Hazm) dan Bidayatul Mujtahid (kitab fiqih madzhab Maliki karya Ibnu Rusyd).

Al-Laits juga banyak meninggalkan jejak pemikiran dalam ilmu ushul fiqih. Tentang ijma’, misalnya, Imam Al-Laits berpendapat bahwa ijma’ (konsensus) yang bisa diikuti hanyalah ijma’ para sahabat, baik yang bersifat ijma’ sharih (jelas atau terang-terangan dalam sebuah musyawarah) maupun ijma’ sukuti (diamnya para sahabat atas fatwa yang diucapkan shahabat lain).

Misalnya fatwa Khalifah Utsman bin Affan yang tak disangkal oleh sahabat lain bahwa seseorang yang memiliki harta yang telah mencapai nishab zakat, namun juga mempunyai hutang sebesar harta itu maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat.

Imam Laits juga tidak setuju menjadikan amaliah penduduk Madinah waktu itu sebagai salah satu dasar hukum, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Malik. Alasannya, bagaimana mungkin mereka bisa dijadikan dasar jika antar tabiin Madinah saja banyak terjadi perbedaan pendapat yang tajam.
Di luar ijma’, pendapat perorangan sahabat, menurut Al-Laits juga bisa dijadikan dasar hukum. Dan jika di antara mereka terdapat perbedaan pendapat, maka diambil pendapat yang paling mendekati Al-Quran dan sunnah nabi SAW.

Fidyah Perempuan Hamil
Misalnya mengenai diyat (hukuman) bagi perempuan yang melukai anggota tubuh orang lain. Umar bin Khaththab, Ibnu Umar, dan Zaid bin Tsabit mengatakan bahwa diatnya sama dengan laki-laki, sementara Ali bin Abi Thalib berpendapat diatnya hanya separuh diat kaum laki-laki. Dalam hal ini Al-Laits sependapat dengan pendapat Imam Ali yang menurutnya lebih dekat kepada nash Al-Quran yang dengan mengiyaskannya kepada bagian waris perempuan yang hanya separuh bagian laki-laki.

Meski begitu sebenarnya ada juga pendapat fiqhi Al-Laits yang didasarkan kepada ra’yu (logika belaka), walaupun sangat sedikit. Diantaranya dalam hal perbedaan kewajiban qadha dan fidyah puasa Ramadhan antara perempuan hamil dan perempuan menyusui.

Wanita menyusui, menurut Imam Laits, apabila khawatir terhadap kesehatan anaknya, ia boleh berbuka puasa dan wajib mengqadha di luar Ramadhan dan juga wajib membayar fidyah. Sementara perempuan hamil, apabila ia mengkhawatirkan kesehatan janinnya, maka ia boleh berbuka dan hanya wajib mengqadha, tanpa perlu membayar fidyah.

Alasannya, perempuan menyusui masih bisa menempuh jalan lain untuk tetap puasa tanpa mengkhawatirkan kesehatan putranya, seperti dengan menyusukannya kepada perempuan lain. Sedangkan perempuan hamil tidak mempunyai pilihan lain sama sekali. Meski berdasarkan ra’yu, namun pendapat-pendpat Imam Laits tersebut sangat kuat karena didasari oleh prinsip kemaslahatan.

Masih banyak lagi pemikiran cemerlang di bidang fiqih yang dilahirkan dari ijtihad Al-Mam Abul Harits Al-Laits bin Sa’ad Al-Fahmi. Gelar Al-Fahmi di belakang namanya adalah nisbat kepada Fahm, salah satu kabilah dari Qais ‘Ailan yang berasal dari Ashfahan, Persia.

Imam al-Laits bin Sa’ad lahir di kampung Qalqasyandah, Propinsi Qalyubiyyah, Mesir, pada bulan Sya’ban 94 H. Ada juga yang berpendapat ia lahir pada tahun 93 H.

Sejak muda Al-Laits dikenal sebagai pedagang yang sukses. Meski sibuk mengurus bisnisnya, ia tidak pernah ketinggalan dalam urusan belajar. Sejak kecil Imam al-Laits dikenal sangat antusias mengikuti majelis-majelis ilmu di kotanya. Di Mesir Al-Laits belajar kepada Yazid bin Abi Habib, Abdullah bin Abi Ja’far, Ja’far bin Rabi’ah, Abu Habirah, Al-Harits bin Yazid dan masih banyak lagi ulama negeri Piramid yang berasal Madinah dan Syam.

Meski masih muda, kealiman dan kewara’an Al-Laits cukup menjadi buah bibir guru-gurunya. Bukti lain kemulian jiwa dan ketinggian akhlaknya adalah masuknya nama Al-Laits termasuk dalam daftar periwayat hadits yang dikutip Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-nya.

Ketika menunaikan haji pada 113 H, Al-Laits juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa ahli hadits kenamaan Al-Haramain seperti Ibnu Syihab Az-Zuhri, Ibnu Malikah, Atha` bin Abi Rabah, Abu Zubair, Nafi’, Uqail, Imran bin Abi Anas, dan Hisyam untuk mengambil periwayatan hadits. Al-Laits juga cukup dekat dengan Imam Malik, ahli hadits sekaligus mujtahid fiqih kota Madinah.

Hartawan Yang Dermawan
Yahya bin Bukair, murid Imam al-Laits, meriwayatkan dari Ibnu Wahab, ia berkata, “Suatu hari saya datang kepada Imam Malik, kemudian beliau bertanya kepada saya tentang Imam Al-Laits, ‘Bagaimana kabarnya?’ Saya menjawab, ‘Keadaannya baik’.

Kemudian Imam Malik bertanya lagi, ‘Bagaimana kejujurannya?’
Saya menjawab, ‘Ia adalah orang yang jujur’.

Lalu Imam Malik berkata, ‘Jika demikian, semoga Allah memberinya kenikmatan dengan telinga dan matanya’.”

Imam al-Laits dan Imam Malik memang hidup dalam satu masa. Kedua ahli hadits dan fiqih itu sering saling berkirim surat yang membicarakan seputar hadits, fiqih dan fatwa.

Imam al-Laits juga dikenal sebagai dermawan yang banyak memberi bantuan kepada orang lain. Imam Syafi’i, ketika datang ke Mesir dan berziarah ke kubur beliau, berkata, “Tidak ada yang lebih menyedihkanku dari kehilangan Ibnu Abi Dzi’b dan Laits bin Sa’ad”. Imam Syafi’i sedih karena tidak sempat bertemu Imam Al-Laits dan berguru kepadanya.

Imam Syafi’i juga pernah berdiri di sisi kubur Imam Al-Laits seraya berkata, “Demi Allah wahai Imam, engkau telah mengumpulkan empat sifat yang tidak dimiliki ulama lainnya: ilmu, amal, zuhud dan kedermawanan”.

Kebetulan Imam Al-Laits memang mendapatkan anugerah kekayaan melimpah dari Allah SWT. Dalam sebuah riwayat diceritakan, pendapatannya pertahun tak kurang dari 100.000 dinar.
Hebatnya, Imam al-Laits tidak pernah berkewajiban mengeluarkan zakat. Tentang hal ini Muhammad bin Abdul Hakam menceritakan, “Setiap tahun Imam Al-Laits mendapatkan penghasilan lebih dari 80.000 dinar, akan tetapi beliau tidak pernah berkewajiban membayar zakat. Sebab sebelum mencapai satu tahun (haul) pemasukan yang ia peroleh itu telah habis ia infaqkan dan sedekahkan.” Subhanallah!!

Sedangkan perihal kezuhudannya, Yahya bin Bukair, muridnya mengisahkan, “Aku pernah menyaksikan orang-orang faqir berdesakan di depan rumah Imam al-Laits. Lalu beliau membagi-bagikan sedekahnya kepada mereka, hingga tidak ada seorang pun yang tidak memperoleh bagian. Setelah itu bersama saya, Imam Al-Laits mengantarkan sedekah ke tujuh puluh rumah janda. Setelah sampai di rumah, beliau menyuruh salah seorang pembantunya untuk membeli minyak dan roti dengan uang satu dirham.

Ketika saya datang ke rumah beliau, saya melihat empat puluh tamu telah berada di dalam rumah beliau. Mereka dijamu dengan daging dan manisan. Setelah si pembantu tiba, aku bertanya kepadanya, ‘Untuk siapa roti dan minyak yang engkau beli itu?’
Pembantu tersebut menjawab, ‘Imam al-Laits menghidangkan daging dan manisan kepada para tamu, tetapi beliau hanya makan roti dengan minyak saja’.”

Dan bak buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, kedermawanan dan kealiman sang belakangan menurun kepada putranya, Syu’aib bin Al-Laits, ulama dan muhaddits besar Mesir sesudah Al-Laits.

Dermawan Bin Dermawan
Ibnu Abi Dunya mengisahkan, “Suatu ketika Syu’aib bin al-Laits menunaikan haji. Di sana ia banyak bersedekah. Kedermawanannya membuat banyak orang terheran-heran. Mereka lalu bertanya kepada seorang alim yang mengenalnya. Orang alim itu menjawab, “Dia adalah seorang alim, anak orang alim, seorang yang dermawan dan anak seorang dermawan.”

Setelah ayahnya wafat, Syuaib bin Laits jatuh miskin. Ia lalu pergi ke Damaskus. Di sana ia didatangi seseorang yang berkata, “Saya adalah hamba ayahmu. Harta niaga ayahmu ada padaku sebesar dua ribu dinar dan saya sekarang masih sebagai budak. Jika engkau menghendaki ambillah harta ayahmu dan merdekakan saya. Namun jika tidak maka juallah saya.”

Kendati miskin dengan ringan Syu’aib bin Laits berkata, “Engkau sekarang merdeka dan uang yang ada bersamamu adalah pemberianku untukmu.”

Mendengar kejadian itu Al-Khathabi, ulama genersai sesudahnya, berkomentar, “Aku tidak tahu siapa yang lebih mulia, apakah sang hamba yang dengan tulus mengaku tentang kepemilikan harta, atau sang tuan yang membebaskannya dan memberinya harta sebanyak itu.”

Demikianlah, setelah hidupr bergelimang kebajikan, Imam Al-Laits wafat pada tahun 175 H, empat tahun sebelum Imam Malik, sahabatnya wafat. Ada juga yang berpendapat Imam Al-Laits wafat pada 176 H dan ada pula pada 197 H. Wallahu A’lam. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Shadaf. Tahun 640 H makam direnovasi oleh Ibnu At-Tajir, dan dijadikan tempat peziarahan.

Ahmad Iftah Sidik, Santri Asal Tangerang

Incoming search terms:

Share