Monthly Archives: December 2017

Abuya KH. Mohammad Thoha ‘Alawy Al-Hafidz: Hidup Sederhana

Banyumas Pesantren: Hidup Sederhana

Saya lahir di Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah 1953. seperti umumnya anak-anak desa waktu itu, saya pun belajar di bangku SD (Sekolah Dasar, dulu disebut sekolah rakyat) pada siang hari, dan belajar di Madrasah Diniyyah pada sore hari. Karena terbentur kesulitan ekonomi, saya tidak sempat mengikuti ujian akhir.

Ketika teman-teman melanjutkan sekolah, mondok, atau nyantri di lain daerah, saya merasa iri. Karena itu suatu hari saya nekat lari dari rumah menuju Semarang, lalu menumpang kereta api ke Surabaya. Yang ada di benak saya waktu itu adalah Pesantren Tremas (Pacitan), Pesantren Tebuireng (Jombang), dan pesantren lain di Jawa Timur. Karena tidak ada bekal dan belum punya pengalaman, saya bingung, lalu kembali lagi ke Semarang.

Ternyata, tanpa sepengetahuan saya, desa Rejosari, orang-orang geger, karena selama beberapa hari saya menghilang tanpa pamit, dan tanpa kabar sama sekali. Semuan anggota keluarga waswas, mencari saya ke sana-kemari. Tiba-tiba, di sebuah tempat di Semarang, saya terkejut. Saya disergap dari belakang. Tapi, alhamdulillah, ternyata yang menyergap adalah ayah saya sendiri, (alm). Bapak Jahudi bin Badi. Saya pun dibawa kembali pulang.

Dari kejadian itu Ayah mengetahui bahwa saya punya niat yang besar untuk mondok di pesantren. Maka keinginan saya itu terpenuhi, lalu saya dikirim ke pesantren Futuhiyyah Mranggen (Demak) asuhan KH. Muslih. Di Mranggen itulah saya belajar berbagai ilmu keagamaan di Madrasah Tsanawiyyah dan Madrasah Aliyah.

Karena tidak ada biaya untuk mondok, selama duduk di bangku kelas II Aliyah saya trpaksa nglaju, pulang pergi, dari rumah ke pesanten. Menjelang kelas III Aliyah, ketika pesantren mulai menerapkan kurikulum nasional, lagi-lagi saya terbentur dengan soal biaya. Saya tak mampu membeli buku, sehingga tidak tamat Aliyah. Setelah nyantri di Mranggen, saya putuskan untuk khusus mengaji Al-Qur’an.

Pilihan saya adalah Kudus. Tepatnya di Bendan. Disitu saya ngaji dengan Mbah Arwani, Mbah Hisyam, dan Mbah Wahab, sekitar 1,5 tahun. Belum sampai khatam hafalan Al-Qur’an, saya pindah ke Semarang dan berguru kepada Kiai Abdullah Umar, Kauman, selama setahun, sejak 1972 sampai 1973, hingga hafalan Al-Quran saya khatam.

Setelah dari Semarang saya meneruskan belajar kitab kuning di Batokan, Kediri, Jawa Timur, kurang lebih dua tahun, dari 1976. dan selama dua tahun berikutnya, saya berusaha dan belajar mandiri, antara lain berdagang beras dan kedelai, memenuhi pesanan beberapa daerah. Hasilnya lumayan.

Dari hasil dagang itu saya sempat menabung danmembelisepeda. Tapi akhirnya saya jual, untuk memuat paspor, buat menunaikan ibadah haji sekaligus kalau bisa mengaji di Makkah. Dengan tabungan dan sedikit tambahan dari orang tua, pada 1978 akhirnya saya beragkat umrah.
Rencana tersebut mula-mula hanya secara diam-diam saya utarakan kepada kakak-kakak perempuan saya. Ternyata hal itu terciu oleh Ayah, dan alhamdulillah beliau mendukung. Ayah menjual sebagian sawah untuk bekal.

Di Tanah Suci, sejak 1978 hingga 1980, saya berguru kepada Syaikh Ismail, Syaikh Abdullah Al-Hajj, dan Syaikh Ali Yamani, saya mendapat iqamah (visa) untuk tinggal di Makkah. Pada tahun 1981 saya pulang untuk menikah, tapi dua bulan kemudian, kami berdua kembali ke Makkah. Di sana anak pertama dan kedua lahir. Beberapa tahun kemudian, 1986, kami pulang dan menetap di Purwokerto.

Alhamdulillah, selama delapan tahun di Makkah setiap tahun saya dapatmenunaikan ibadah haji. Pulang dari Makkah, sayamulai kedatangan satu-dua orang santri. Tentu berkat izin Allah SWT jualah Pesantren Ath-Thohiriyyah tumbuh dan berkembang sebagai salah satu syiar untuk menegakkan kalimah-Nya.

Penulis: Akhmad Saefuddin

Share

Tiap Tahun Cetak Hafidz Baru (Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Purwokerto)

Tiap Tahun Cetak Hafidz Baru– Suatu hari di Bulan Oktober 2004, kompleks Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah berubah menjadi lautan manusia. Saat itu digelar acara khataman Al Quran bagi para santri. Dalam ajang tahunan ini diwisuda sebanyak 28 orang santri yang khatam Alquran sesuai tingkatan masing-masing. Menjadi menarik, karena mereka unjuk keboleh dalam acara itu. Masyarakat, tak hanya keluarga alumni, hadir untuk menyaksikan mereka.

Siti Mahfudoh, seorang santri, menjadi bintang acara. Dia adalah satu-satunya lulusan yang khatam Al Quran bil ghoib atau hafal 30 juz di luar kepala. Selebihnya, delapan santri khatam binnadzar dan 19 orang santri khatam surat-surat pendek (juz’amma). Acara khataman diawali dengan semakan Alquran oleh para alumni dan santri program tahfidz. Puncak acara diisi pengajian umum oleh KH Chasbullah dari Pondok Pesantren Kesugihan Cilacap.

Semenjak berdiri, tepatnya 12 Desember 1992, hingga sekarang pondok pesantren asuhan KH Muhammad Thoha Alawy ini telah meluluskan sebanyak 36 santri penghafal Alquran, yakni 12 putra dan 24 putri. “Alhamdulillah, hampir setiap tahun ada satu dua orang santri yang khatam Al Quran bil-ghoib 30 juz,” ujar Kiai Thoha.

Sebetulnya, jumlah santri program tahfidz itu sendiri tidak terlalu banyak. “Kurang lebih 20-an orang yang secara khusus mengikuti program itu. Biasanya mereka mengkhatamkan Al Quran dalam waktu 4 hingga 5 tahun,” tuturnya lagi.

Pada awal berdirinya, Ath-Thohiriyyah tidak dirancang secara khusus sebagai pesantren tahfidz. Namun pada perjalannya, satu-dua orang santri berdatangan dari berbagai daerah dengan tujuan untuk menghafal Alquran. Atas permintaan tersebut, dibukalah program tahfidz di Pesantren Ath-Thohiriyyah. Meski demikian, program-program yang sudah ada seperti madrasah diniyyah (Kurikulum Pesantren) dan ta’limul kutub (kajian kitab kuning) tetap dipertahankan.

Aktivitas Harian Santri
Aktivitas harian untuk para santri terbilang padat. Setiap ba’da Shubuh dan ba’da Maghrib santri wajib mengaji Al Quran sesuai tingkatkannya, ba’da Ashar mengkaji Kitab Tafsir Jalalain, ba’da Isya belajar di Madrasah Diniyyah.

Secara umum, kegiatan di pesantren ini dapat dikelompokkan antara santri program tahfidz dan non-tahfidz. Perbedaannya, santri tafhidz diberi kebebasan untuk tidak mengikuti kegiatan di Madrasah Diniyyah. Dengan demikian, mereka dapat melakukan tadarus Al Quran secara lebih intensif.

Meskipun aktivitas yang ada sedemikian padat, namun biaya pendidikan di pesantren ini relatif murah. Biaya pendaftaran, termasuk dana pengembangan pesantren sebesar Rp 150 ribu. “Dana pembangunan ini hanya ditarik satu kali,” tutur Ustadz Yusuf Hasyim pengurus pesantren. Administrasi bulanan santri sebesar 45 ribu per bulan, sudah termasuk madrasah diniyyah.

Sebagaimana dituturkan oleh para santri, tinggal di pesantren Ath-Thohiriyyah memiliki banyak keuntungan. Pasalnya, di siang hari mereka dapat belajar di lembaga pendidikan formal. Sedangkan pada sore hingga malam hari mereka dapat belajar ilmu-ilmu keagamaan.

Selain nyantri di pesantren, sebagian besar santri belajar di SMU/SMK atau kuliah di berbagai perguruan tinggi di kota Purwokerto seperti Universitas Jenderal Soedirman, Univesitas Wijaya Kusuma, dan STAIN. “Saya sendiri pagi hari kuliah di Fakultas Teknik Unwiku Purwokerto. Saya memilih tinggal di pesantren agar dapat belajar nahwu-sharaf, fikih, serta mengaji Alquran,” ujar Muhafid Soleh, seorang santri.

Aktivis pesantren Ath-Thohiriyyah tidak hanya terbatas bagi internal santri. Sejumlah program sebagai bentuk kontribusi dan pengabdian pada masyarakat tak luput dari perhatian santri. Pada tahun 1997, misalnya, diselenggarakan dan pemuda di sekitar pesantren. Pelatihan yang diikuti 16 orang tersebut terlaksana atas kerja sama Pesantren Ath-Thohiriyyah dengan Pelatihan Las Karbit bagi para santri Balai Latihan Kerja (BLK) Cilacap. Dari pelatihan itu, para santri bisa membuat berbagai peralatan rumah tangga, seperti rak piring, rak sepatu, jemuran, tralis dan lain-lain.

Di masa datang direncanakan akan dikembangkan keterampilan sablon dan ukir kayu. “Kebetulan di sini ada beberapa santri yang punya keterampilan tersebut,” ujar Kiai Thoha saat diminta komentarnya berkaitan dengan rencana pengembangan keterampilan bagi para santri.

Para santrinya juga terkenal kreatif. Pada tahun 2001 mereka menyelenggarakan Apresiasi Seni dalam bentuk Festival Hadroh se-eks Karesidenan Banyumas. Kemudian tahun 2003 mereka mengadakan Festival Anak Shaleh (FAS) se-eks Karesidenan Banyumas. Untuk memenuhi kebutuhan santri, Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah terus membenahi sarana prasarana yang ada. Asrama santri putra berlantai dua, kini baru selesai pembangunan lantai pertama.

Secara geografis pesantren ini mudah dijangkau dengan kendaraan umum, karena letaknya sekitar 4 kilometer dari Kota Purwokerto. Tepatnya di desa Karangsalam Kidul, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas (Jawa Tengah).
(kiriman Akhmad Saefudin, pembaca Republika di Purwokerto). akhmad saefudin/dokrep/Nopember 2004
Sumber: Republika

Incoming search terms:

Share