Monthly Archives: January 2018

K.H. Idham Chalid: Mengalah demi Keutuhan NU

Banyumas PesantrenMengalah demi Keutuhan NU
Jasanya sangat luar biasa bagi NU. Ia membawa ormas berjuta umat itu melewati masa transisi berdarah dari Orde Lama ke Orde Baru dengan selamat. Namun akhirnya ia disingkirkan dan terlupakan.

Pernah mendengar kisah Khalifah Umar bin Khaththab menyurati Sungai Nil di Mesir? Cerita yang sedikit memiliki kemiripan juga pernah terjadi di Indonesia pada paruh kedua abad ke-20. Tepatnya di Provinsi Kalimantan Selatan.

Diceritakan, suatu ketika keluarga Kesultanan Banjar dan pemerintah daerah setempat bermaksud memindahkan sebuah makam di tengah rimba yang diyakini sebagai makam Pangeran Antasari, pejuang kemerdekaan dari Banjar, ke pemakaman keluarga keraton. Namun sayangnya upaya itu gagal, karena selalu diganggu binatang buas dan makhluk ghaib penunggu hutan.

Setelah melalui proses istikharah, keluarga keraton mendapat isyarah, petunjuk, bahwa hanya satu orang yang bisa menembus penjagaan ajaib maklhuk rimba itu. Ia adalah seorang ulama sepuh asal Amuntai, Kalimantan Selatan, yang saat itu tengah bertugas di Jakarta.

Panitia pemindahan makam Pangeran Antasari pun menghubungi sang kiai. Uniknya, bukannya ikut berangkat bersama rombongan panitia, kiai kelahiran Kalimantan Selatan itu malah menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada para “penunggu” hutan. Isinya, perintah agar semua pengganggu menyingkir dari area makam Pangeran Antasari.

Hebatnya, setelah surat itu dibacakan di tepi hutan, tak ada satu pun binatang buas dan makhluk halus yang menampakkan diri. Proses pemindahan makam sang pejuang pun berjalan lancar, tanpa hambatan.

Peristiwa ajaib itu, yang konon diceritakan sendiri oleh sang kiai dalam sebuah kesempatan, terlepas dari benar atau tidaknya, sangat lekat di benak murid-muridnya. Namun agaknya sulit meminta konfirmasi kebenaran cerita luar biasa tersebut, sebab sejak beberapa tahun lalu sang kiai terbaring lemah di kamarnya, berjuang melawan penyakit stroke yang menggerogoti usia rentanya.

Meski tergolek tanpa daya, bukan berarti nama sang kiai ikut padam. Sebab, siapa pun yang hendak menyusuri sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama sejak era 1950 hingga 1980-an, pasti akan menyebut namanya. Sang kiai dikenal sebagai salah satu ulama politisi NU yang paling lihai berkelit dari arus perubahan di negeri ini. Dengan liat, namanya bertahan di kancah perpolitikan tanah air, meski banyak rekannya yang telah tersingkir dilibas lawan-lawan politik mereka.
Baru ketika dihadapkan pada ancaman perpecahan dalam tubuh NU, organisasi yang sangat dicintainya, ia menyerah. Demi keutuhan ormas bentukan para kiai di awal abad ke-20 itu, ia rela menyingkir dari panggung sosial-politik yang telah membesarkan namanya dan pernah mendudukkannya di kursi wakil perdana menteri Republik Indonesia, bahkan di jabatan tertinggi negeri ini, ketua DPR/MPR RI.

Dialah K.H. Idham Chalid, pemimpin Perguruan Darul Ma’arif Cipete, Jakarta Selatan, yang juga mantan ketua umum PBNU dan mantan rais syuriah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyyah (Jatman).

Menyebut nama Kiai Idham Chalid, ingatan kita pasti akan segera melayang pada gonjang-ganjing NU pada tahun 1982-1984, yang melahirkan sekaligus menghadap-hadapkan dua kubu tokoh-tokoh nahdliyyin: kubu Cipete dan kubu Situbondo. Konflik internal NU itu juga yang kemudian membuat Idham dianggap “kontroversial” dalam sejarah perpolitikan Nahdlatul Ulama: ia dicitranegatifkan sebagai politisi yang tidak memiliki pendirian, egois, dan menguntungkan pihak penguasa. Bahkan karena sikapnya yang sering dianggap mengambang, salah satu organisasi kepemudaan NU menjulukinya “politikus gabus”.

Tak banyak yang mau melihat sisi lain kebijakan-kebijakan Kiai Idham tersebut yang sebenarnya sangat NU dan sangat Sunni. Sebagai politisi besar NU yang lihai, Idham memang memainkan dua lakon berbeda, sebagai politisi dan ulama. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, kompromistis, dan terkesan pragmatis. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dengan tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya.

Semua itu ia lakukan sebagai bagian dari upaya kerasnya menjaga stabilitas grass root atau kalangan bawah nahdliyyin, yang menjadi tanggung jawabnya, agar selamat fisik dan spiritual melewati masa-masa gawat transisi dari Orde Lama ke Orde Baru, yang berdarah-darah. Kiai Idham tidak peduli dengan berbagai stereotip yang ia sadari bakal menimpanya, asal menghasilkan kemaslahatan banyak orang.

Strategi politik tersebut dilandaskan pada tiga prinsip. Pertama, lebih menekankan sikap hati-hati, luwes, dan memilih jalan tengah ketimbang sikap memusuhi dan konfrontasi, yang justru membahayakan kepentingan umat. Kedua, politik yang memperhitungkan kekuatan umatnya di hadapan kekuatan rezim atau kekuatan lain di tengah masyarakat. Ketiga, menggunakan pendekatan partisipatoris terhadap pemerintah sehingga mampu memengaruhi kebijakan penguasa demi kemaslahatan umat.

Menurut Idham, NU harus ikut andil dalam kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang. Cara ini dianggap lebih tepat dalam menghasilkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro umat, daripada berada di luar kekuasaan, yang justru membuat sulit bergerak.

Efek kebijaksanaannya sangat luar biasa. Ia menjadi sangat berakar di kalangan bawah kaum nahdliyyin, terutama di luar Jawa, dan mampu bertahan di kancah perpolitikan tanah air lebih dari tiga dekade. Namun sayang, belakangan kharismanya dianggap sebagai ancaman oleh penguasa. Dengan memanfaatkan isu kembali ke khiththah 1926 yang tengah digaungkan kalangan muda NU, di muktamar Situbondo 1984, pihak lawan membuat Idham terjungkal dari kursinya.

Cerdas dan Pemberani
Idham Chalid, yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H. Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin. Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Idham kecil dikenal sangat cerdas dan pemberani. Saat masuk SR, misalnya, ia langsung duduk di kelas dua. Dan sejak duduk di bangku SR itulah bakat pidatonya mulai terlihat dan terasah. Pada tanggal 13 Agustus 1934, Idham, yang duduk di bangku kelas enam, mendapat kesempatan berpidato di hadapan teman-teman dan gurunya.

Dengan memukau ia menyampaikan materi pidato yang dibuatkan gurunya di luar kepala. Sejak itu ia semakin sering diminta berpidato di depan khalayak ramai dan berproses menjadi seorang orator ulung. Haji Napiah, sahabatnya semasa sekolah, menceritakan, karena tubuhnya tak lebih tinggi daripada podium, saat berpidato sering kali Idham menggunakan bangku untuk alas berdiri, agar wajahnya bisa terlihat oleh penonton.

Keahlian berorasi itu pula yang kelak menjadi modal utama Idham Chalid dalam meniti karier di jagat politik. Bahkan, beberapa dasawarsa kemudian, muballigh sekelas K.H. Zainudin M.Z. dan K.H. Syukran Ma’mun pun datang untuk berguru ilmu pidato kepadanya.

Selepas SR, Idham melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah, yang didirikan oleh Tuan Guru Abdurrasyid, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pada tahun 1922. Sekolah yang awalnya bernama Arabisch School itu bermula dari pengajian kitab yang diasuh sang Tuan Guru di rumahnya.

Kebetulan, saat Idham bersekolah di sana, beberapa guru lulusan Pesantren Gontor, yang terkenal dengan kelebihannya dalam pendidikan bahasa, direkrut untuk membantu mengembangkan pendidikan. Hal itu membuat Idham yang sedang tumbuh dan gandrung dengan pengetahuan mendapatkan banyak kesempatan untuk mendalami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu pengetahuan umum.

Di mata para siswa dan wali murid, guru-guru alumni Gontor itu sangat hebat. Tak mengherankan, banyak siswa, termasuk Idham, bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke pesantren yang didirikan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Ponorogo, Jawa Timur, itu. Dan belasan tahun kemudian kehebatan Idham Chalid yang telah menjadi alumnus Gontor juga menginspirasi banyak orangtua nahdliyyin untuk mengirimkan anaknya nyantri di Gontor.

Di Gontor, otak cerdas Idham Chalid lagi-lagi membuat namanya bersinar. Durasi belajar yang umumnya ditempuh selama delapan tahun dilewatinya hanya dalam tempo lima tahun. Tiga tahun di Kuliyyatul Mu’alimin dan dua tahun di Kweekschool Islam Bovenbouw.

Kegiatan favoritnya di pesantren adalah kepanduan, yang kelak ditularkan kepada murid-muridnya di Amuntai dan di Cipete. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan Idham untuk memperdalam bahasa Jepang, Jerman, dan Prancis. Maka, ditambah modal awal penguasaan bahasa Arab, Inggris, dan Belanda, praktis Idham menguasai enam bahasa.

Tamat dari Gontor, 1943, Idham, yang gemar mengamalkan wirid Dalailul Khairat, melanjutkan pendidikan di Jakarta. Di kota itu kefasihan Idham dalam berbahasa Jepang membuat penjajah Dai-Nipon sangat kagum. Dalam sebuah kesempatan Idham bahkan diundang berkunjung ke Negeri Sakura. Pihak Jepang juga sering memintanya menjadi penerjemah dalam beberapa pertemuan dengan alim ulama.

Kenangan akan hal itu terekam dengan baik dalam ingatan K.H. Saifudin Zuhri (K.H. Saifudin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, LKIS, 2001), “Ia memang terampil sekali menyalin pidato pembesar Jepang itu ke dalam bahasa Indonesia, sampai-sampai Jepang mengira pidatonya belum selesai. Ia berbicara dengan cepat dan beraksen Jepang juga.” Dalam pertemuan-pertemuan itulah Idham mulai akrab dengan tokoh-tokoh utama NU.

Kabar tentang kunjungan Idham ke Jepang akhirnya sampai juga ke telinga kedua orangtuanya di Amuntai. Bukannya senang, mereka justru khawatir anaknya akan semakin akrab dengan penjajah. Akhirnya Idham disuruh pulang kampung dan tak lama kemudian diserahi tugas mengepalai Madrasah Ar-Rasyidiyyah, yang telah setahun vakum.

Karier Fenomenal
Dengan semangat meledak-ledak ia menata sistem di madrasahnya. Nama Madrasah Ar-Rasyidiyyah ia ganti menjadi Noormaal Islam Amuntai. Ia juga menggalakkan penanaman nasionalisme kepada para guru dan murid-muridnya melalui gerakan kepanduan. Untuk menyiasati pengawasan ketat penjajah Jepang, Idham mengubah syair lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lain ke dalam bahasa Arab.

Untuk menggugah kesadaran nasionalisme madrasah dan pesantren lain di Kalimantan Selatan, Idham juga mendirikan Ittihadul Ma’ahidil Islamiyyah (IMI). Segera saja puluhan pesantren dan madrasah bergabung untuk saling menguatkan dan menopang perjuangan masing-masing.
Ketika Jepang kalah perang dan Sekutu masuk Indonesia, Idham Chalid bergabung ke dalam badan-badan perjuangan. Menjelang kemerdekaan, ia aktif dalam Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah (HSU) di kota Amuntai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan ia bergabung dengan Persatuan Rakyat Indonesia, sebuah partai lokal yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, kemudian pindah ke Serikat Muslim Indonesia (Sermi).

Tahun 1947 ia bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK) yang dipimpin Hassan Basry, muridnya saat di Gontor. Sayap militer SOPIK yang diberi nama Lasykar Saifullah kelak dilebur menjadi Divisi IV Angkatan Laut RI (ALRI). Karena keterlibatannya dalam SOPIK itulah pada tahun 1949 Idham ditangkap tentara NICA.

Usai perang kemerdekaan, Idham diangkat menjadi anggota Parlemen Sementara RI mewakili Kalimantan. Tahun 1950 ia terpilih lagi menjadi anggota DPRS mewakili Masyumi. Dan ketika NU memisahkan diri dari Masyumi, tahun 1952, Idham memilih bergabung dengan Partai Nahdlatul Ulama dan terlibat aktif dalam konsolidasi internal ke daerah-daerah. Pilihannya tepat, sebab lima tahun kemudian Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno.

Idham memulai kariernya di NU dengan aktif di GP Ansor. Tahun 1952 ia diangkat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan. Pada tahun yang sama ia juga diangkat menjadi sekretaris jenderal partai dan dua tahun kemudian menjadi wakil ketua. Selama masa kampanye Pemilu 1955, Idham memegang peran penting sebagai ketua Lajnah Pemilihan Umum NU (Lapunu), semacam tim pemenangan pemilu.

Sepanjang tahun 1952-1955, ia, yang juga duduk dalam Majelis Pertimbangan Politik PBNU, sering mendampingi Rais Am, K.H. Abdul Wahhab Chasbullah, berkeliling ke seluruh cabang NU di Nusantara. Dari kiai sepuh ahli politik itulah ia banyak belajar ilmu kelihaian berpolitik, seperti teknik berorganisasi, mengorganisir massa, berdebat, berpidato, dan membangun jaringan dukungan serta mengasah instingnya.

Prestasinya semakin menjulang, dalam pemilu NU berhasil menyabet peringkat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Apalagi ketika dua tahun kemudian Masyumi dibubarkan, yang praktis membuat NU menjadi satu-satunya partai Islam terbesar dalam kancah perpolitikan tanah air.
Karena perolehan suara yang cukup besar dalam Pemilu 1955, pada pembentukan kabinet tahun berikutnya NU mendapat jatah lima menteri, termasuk satu kursi wakil perdana menteri (waperdam), yang oleh PBNU diserahkan kepada Idham Chalid. Awalnya ia menolak, karena merasa tidak mampu, dan dengan tulus mengusulkan agar jabatan itu diserahkan kepada K.H. Muhammad Dahlan, ketua umum PBNU saat itu.

Namun para ulama sepuh NU bersikukuh pada pilihan pertama, Idham Chalid menjadi waperdam. Baru setelah didesak oleh Mr. Ali Sastroamijoyo, yang terpilih menjadi perdana menteri, Idham bersedia menyandang jabatan tersebut. Kegemilangan karier Idham tak hanya berhenti di situ. Pada Muktamar NU ke-21 yang digelar di Medan bulan Desember tahun yang sama, Idham terpilih menjadi ketua umum PBNU menggantikan Muhammad Dahlan.
Pesatnya peningkatan karier Idham Chalid itu sangat fenomenal, mengingat ia berbeda dari kebanyakan pengurus NU lainnya. Ia baru berusia 35 tahun, tidak mempunyai darah biru pesantren dan alumni Pesantren Modern Gontor, yang dianggap lebih dekat ke Muhammadiyyah daripada NU. Namun begitulah garis takdir yang ditentukan Allah.

Kabinet Ali Sastroamijoyo hanya bertahan setahun, kemudian jatuh dan berganti dengan Kabinet Djuanda. Namun Idham Chalid tetap bertahan di posisi wakil perdana menteri sampai Dekrit Presiden tahun 1959, yang membubarkan parlemen dan Kabinet Djuanda. Idham kemudian ditarik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan setahun kemudian menjadi wakil ketua MPRS.

Kedekatannya dengan Bung Karno dan Kiai Wahhab, salah seorang penasihat presiden, merupakan salah satu sebab yang membuatnya bertahan di kursi itu sampai tahun 1966. Kedekatan khusus Idham dengan Presiden sebenarnya tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi juga warga nahdliyyin umumnya. Dengan memanfaatkan hubungan istimewa itu beberapa kali ia menyelamatkan tokoh-tokoh NU dari “kesalahpahaman” Presiden.

Salah seorang tokoh yang pernah ia selamatkan adalah Yusuf Hasyim, yang sempat nyaris dipenjara karena dianggap desersi. Berkat grasi Presiden, atas permintaan Idham Chalid, tokoh yang belakangan dikenal sebagi Pak Ud itu dibebaskan.

Pertengahan tahun 1966 Orde Lama tumbang dan tampillah Orde Baru. Namun posisi Idham di pemerintahan tidak ikut tumbang. Dalam kabinet Ampera yang dibentuk Soeharto, ia dipercaya menjabat menteri kesejahteraan rakyat sampai tahun 1970 dan menteri sosial sampai 1971.
Nahdlatul Ulama yang dipimpin Idham kembali mengulang sukses dalam Pemilu 1971. Namun kesuksesan itu tak mampu membuat sumringah wajah para pemimpin NU, sebab pemilu tersebut menjadi yang terakhir yang diikuti NU. Setelah itu pemerintah melebur seluruh partai menjadi hanya tiga partai: Golkar, PDI, dan PPP. Dan NU tergabung di dalam PPP. Meski muncul ketidakpuasan di hati para pemimpin NU, Idham dan kawan-kawan lebih memilih menurut saja.

Setelah itu Idham Khalid diberi jabatan bergengsi tapi tak bergigi, presiden PPP, yang dijabatnya sampai tahun 1989. Ia juga terpilih menjadi ketua DPR/MPR RI sampai tahun 1977. Setelah itu jabatan ketua selalu menjadi jatah langganan partai pemerintah. Jabatan terakhir yang dipegang Idham Chalid adalah ketua Dewan Pertimbangan Agung.

Kesepakatan yang Dikhianati
Namun di antara berbagai gonjang-ganjing dalam hidupnya, yang paling menyesakkan dada Kiai Idham Chalid adalah konflik Cipete-Situbondo, yang pecah dua tahun menjelang Muktamar NU di Pesantren Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, tahun 1984. Konflik itu pada dasarnya merupakan letupan kekecewaan tokoh-tokoh NU atas politik diskriminasi pengurus PPP terhadap para politisi NU.

Peleburan NU ke dalam PPP ini seperti kembali ke masa NU sebagai bagian dari Masyumi. Konflik yang terjadi pada masa lalu ketika NU berada di Masyumi akhirnya berulang dalam PPP. Friksi pada awalnya memang tidak tampak. Namun menjelang Pemilu 1982, ketika Ketua Umum PPP Dr. H.J. Naro menyusun daftar calon legislatif dan dinilai kurang menampung banyak tokoh NU, konflik pun akhirnya muncul.

Pada era Orba tersebut, sikap politikus NU sebenarnya cukup kritis terhadap pemerintah. Setidaknya ada beberapa peristiwa yang mengingatkan kita betapa kader nahdliyyin itu bersuara kritis terhadap pemerintah. Usul interpelasi yang diajukan oleh anggota FPP terhadap kebijakan pemerintah menyangkut NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) waktu itu akhirnya kalah karena kurang mendapat dukungan fraksi lain, terutama Golkar, sebagai pendukung pemerintah. Para politikus NU di PPP juga bersuara keras soal Undang-undang Perkawinan dan masuknya aliran kepercayaan dalam GBHN.

Namun, semua perjuangan itu harus dibayar mahal. Sebab pada perkembangannya, NU, yang berada dalam PPP, akhirnya terpinggirkan. Muktamar I PPP yang digelar di Ancol Jakarta pada 1984, tidak melibatkan Idham Chalid sebagai presiden PPP waktu itu. Mudah diduga, akhirnya orang-orang NU yang semula memegang posisi penting dalam kepengurusan PPP harus menerima kenyataan: hanya sebagai pelengkap. Jabatan pimpinan tertinggi PPP dipegang oleh orang bukan NU, bahkan sekjen juga tidak dipegang NU. Dalam perkembangannya, akhirnya kader-kader NU yang masuk dalam daftar calon jadi anggota DPR jauh berkurang, sedangkan roda partai dikendalikan orang-orang bukan NU. Didominasi Muslimin Indionesia (MI).

Akhirnya, kondisi ini menyadarkan orang-orang NU untuk mengoreksi berbagai hal yang dinilai merugikan NU. Misalnya, karena pada sisi yang lain ketika NU berpolitik, sebagian pemimpinnya sibuk berpolitik, yang berdampak pada terabaikannya urusan sosial-keagamaan, pendidikan, dan lain-lain. Dan tidak mengherankan, kekecewaan orang NU kemudian ditujukan kepada Dr. Idham Chalid, kemudian menjadi konflik Cipete-Situbondo, yang berbuntut pada pengunduran diri (dan pencabutan pengunduran diri) Idham Chalid.

Dalam surat pencabutan pengunduran diri yang ia kirimkan untuk PBNU, yang salinannya diperlihatkan salah satu murid Kiai Idham kepada alKisah pertengahan Desember lalu, sang kiai menuturkan dengan runtut apa yang terjadi seputar pengunduran dirinya dari jabatan ketua umum PBNU dan pencabutannya dua hari kemudian.

Hari itu, 4 Mei 1982, rumah Kiai Idham Chalid kedatangan tamu empat ulama sepuh NU, yaitu K.H. As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo, K.H. Makhrus Ali dari Lirboyo, K.H. Ahmad Shiddiq dari Jember, dan K.H. Masykur dari Jakarta. Mereka didampingi K.H. Mujib Ridwan, sekretaris PBNU.

Setelah saling menanyakan kabar, Kiai As’ad selaku juru bicara para kiai sepuh mengatakan, “Karena kesehatan sampean yang semakin menurun, kami meminta sampean melepaskan jabatan ketua umum PBNU.” Karena menghormati para kiai sepuh, tanpa banyak membantah, Idham Chalid bersedia mengundurkan diri.

Kiai Mujib Ridwan, dengan berlinang air mata, kemudian menyerahkan selembar kertas yang sudah dipersiapkan para kiai sepuh yang berisi peryataan pengunduran diri. Sebelum menandatanganinya, Idham mengajukan sebuah syarat. Ia meminta agar pengunduran diri itu tidak diumumkan dulu sampai tanggal 6 Mei 1982.

Kiai Idham, yang tidak ingin ada gejolak, minta waktu untuk menyampaikan peristiwa itu secara perlahan kepada para pengikut dan pendukungnya. Setelah semua yang hadir saat itu menyetujui permintaannya, Idham pun menandatangani surat tersebut.

Namun alangkah terkejutnya Kiai Idham Chalid ketika sore harinya ia mendapat telepon dari Surabaya yang menanyakan kebenaran berita pengunduran dirinya. Tak lama kemudian telepon bertubi-tubi datang dari para pendukunganya di luar Jawa. Mereka mendesak kiai sepuh itu untuk mencabut surat pengunduran dirinya dan kembali menjalankan tugasnya sebagai ketua PBNU.

Kecewa karena perjanjian yang telah disepakati dilanggar, Kiai Idham pun lalu menulis surat pencabutan pengunduran dirinya dan mengirimnya ke PBNU. Keputusan Idham membuat para kiai meradang. Sejak itu muncullah dua kelompok NU yang terus bersitegang hingga pelaksanaan muktamar di Situbondo.

Ketika muktamar digelar, sebenarnya Idham berangkat ke Situbondo. Namun karena banyak gerakan yang berupaya menghalangi kehadirannya, ia pun memilih menginap di sebuah hotel di kawasan wisata pasir putih Situbondo. Meski begitu, dari tanda tangan dukungan peserta muktamar, saat itu Idham telah mengantungi 23 provinsi dari 26 provinsi yang mengikuti muktamar.

Namun lagi-lagi utusan kiai sepuh datang memintanya tidak maju dalam pencalonan ketua umum. Bahkan, menurut salah satu sumber, pemerintah melalui salah seorang pejabat tingginya juga mendesak Idham agar tidak mencalonkan diri, dengan alasan demi menjaga keutuhan NU dan stabilitas politik umat Islam.

Akhirnya Idham mengalah, ia mengundurkan diri dari pencalonan. Baginya kemaslahatan dan keutuhan warga nahdliyyin lebih penting dari apa pun.

Kiai Idham Chalid telah puluhan tahun berjuang mempertahankan stabilitas warga nahdliyyin, berusaha membawa mereka melewati masa transisi dengan selamat, dengan cara apa pun yang dianggapnya halal. Dan Idham rela dicap oportunis demi niat baik tersebut. Namun kali itu ia tidak mau mempertaruhkan keutuhan organisasi yang sangat dicintainya demi jabatan ketua umum. Ia pun kembali ke Jakarta dengan air mata berlinang.

Pengakuan akan sikap Idham yang sangat luar biasa itu juga datang dari Gus Dur, yang dalam satu tulisannya mengisahkan,”…. Demikianlah sikap kesatria yang ditujukan Dr. Idham Chalid. Apa pun kata orang tentang dirinya, ia telah menunjukkan bahwa kepentingan NU (termasuk kepentingan politik dari organisasi keagamaan Islam terbesar di dunia itu) adalah pegangannya.” (Tulisan Gus Dur di gusdur.net yang berjudul Akan Pecahkah NU?).

“Oportunis” demi Umat
Benarkah Idham oportunis seperti yang dituduhkan kalangan muda NU? Tentu benar dalam pengertian oportunis sebagai sebuah siasat untuk menyelamatkan umat. Inilah sikap seorang nahdliyyin dan Sunni sejati. Bukankah doktrin politik Sunni yang diajarkan oleh Al-Baqillani, Al-Mawardi, Ibnu Taymiyyah, bahkan Al-Ghazali, selalu mengajarkan setiap ulama untuk menjadi “oportunis”: dalam konteks untuk menyelamatkan umat dari ancaman penguasa, ulama Sunni boleh mendekati dan berkompromi dengan penguasa. Strategi bersikap “oportunis” demi umat itu pula yang ia pelajari dari para politisi senior NU generasi awal.

Sejak ia mengundurkan diri dari pencalonan, namanya semakin tenggelam dan menghilang dari hiruk-pikuk dunia perpolitikan negeri ini. Juga dari panggung Nahdlatul Ulama, yang telah membesarkan namanya.

Setelah tidak memimpin lagi, baik di NU maupun PPP, Kiai Idham Chalid lebih banyak berada di Cipete, di tengah yayasan pendidikan Darul Ma’arif, yang didirikannya. Ia juga mengurus Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, yang kemudian memilihnya menjadi ketua.

Dua minggu sekali Kiai Idham Chalid mengajar kitab di masjid Darul Ma’arif, tak jauh dari rumahnya. Sedangkan untuk memperingati hari-hari besar Islam, ia lebih suka memakai rumahnya di Jalan Mangunsarkoro, Jakarta Pusat, yang selalu disertai dengan pengajian besar-besaran. Belakangan, untuk mengobati sakit lehernya, Idham acap mondar-mandir ke Singapura dan Jepang.

Dan semua aktivitas itu terhenti ketik delapan tahun lalu Idham terserang stroke. Sejak itu ia lebih banyak menghabiskan sisa usianya di atas pembaringan. Menurut putranya, Aunul Hadi, 40 tahun, dalam sebuah wawancara dengan media, untuk biaya pengobatan sang ayah diperlukan sekitar Rp 10 juta per bulan, yang menjadi tanggungan keluarga. “Untungnya pihak keluarga punya ruko di Jalan Fatmawati, dekat rumah. Hasil penyewaan ruko sebanyak lima pintu ini sebagian untuk mensubsidi perguruan Daarul Ma’arif dan sisanya untuk pengobatan Ayah,” ujar Aunul.

Perguruan Islam ini berkembang dari TK sampai perguruan tinggi, dengan santri dan mahasiswa yang kini jumlahnya lebih dari 1.700 orang. “Dari segi bisnis perguruan Islam ini memang tidak menguntungkan. Dapat bertahan hingga sekarang sudah bagus,” kata Aunul.

Ia mengungkapkan, sebelumnya keluarga ingin membuat perguruan tersebut menjadi perguruan unggulan seperti Al-Azhar, namun ayahnya itu tak berkenan. “Bapak bilang, yang penting anak-anak tukang sapu, tukang sayur, yang miskin dan tak pintar, masih bisa menikmati pendidikan,” ujar Syaiful Hadi, 45 tahun, putra lainnya.

Idham sendiri telah mewakafkan setengah dari 1,5 hektare luas perguruan Daarul Ma’arif ini. Sedangkan, setengah bagian lainnya diwariskan untuk keluarganya. Tokoh yang mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, bersama Buya Hamka ini juga telah mendirikan Daarul Qur’an di Cisarua, Bogor, dan juga telah mewakafkan perguruan dengan luas 3.500 meter persegi ini kepada umat. Di sini ia memelihara ratusan anak yatim piatu. Menurut Aunul, ayahnya itu telah berwasiat, bila meninggal kelak jasadnya dimakamkan di tempat tersebut.

Idham, yang sederhana dan teguh pendirian, pernah menolak jabatan wakil presiden hingga dua kali pada masa Presiden Soeharto. Dalam buku Memori Jenderal Yoga Sugama ditulis, ketika disodori jabatan untuk menggantikan Sri Sultan sebagai wapres, Idham menolaknya. Akhirnya pilihan jatuh pada Adam Malik, yang saat itu menjabat ketua MPR/DPR hasil Pemilu 1977. Pada 1983, Idham juga menolak ketika ditawari menjadi ketua umum MUI. Beragam penolakan juga dilakukan Idham saat hendak dianugerahi Ramon Magsasay Award oleh pemerintah Filipina.
Alasannya, Presiden Marcos kala itu tak berlaku demokratis, dan menekan kaum muslim Moro.

Dan kini, di usianya yang telah sangat senja, 85 tahun, Idham Chalid, politisi NU yang paiawai itu, tengah terbaring sakit. Mempertimbangkan jasa dan pengabdiannya yang luar biasa bagi NU, mungkin sudah saatnya kita mengembalikan nama baik dan kehormatannya. Tentu dengan iringan maaf bila ada sedikit kekhilafan yang membayangi langkah dan kebijakannya, serta doa agar kesehatannya semakin membaik. Amin.

Kang Turob (Pemerhati Kiai Kharismatik NU)

Incoming search terms:

Share

Profil Syaikh Abdurrahman As-Sa’di (Pengarang Tafsir As-Sa’di)

Biografi- Syaikh Abdurrahman As-Sa’di adalah seorang cendekiawan yang sangat kuat dalam menjaga ketakwaan dan juga seorang yang zuhud (lebih mementingkan akhirat dari pada dunia). Beliau termasuk kenang-kenangan (warisan) para salafus shalih (para pendahulu kita yang shalih). Dialah Syaikh Abdurrahman Nashir bin Abdullah Alu Sa’di At-Tamimi Al-Hambali.

Dilahirkan di Unaizah wilayah Al-Qashim pada tahun 1307 H. Ibunya wafat ketika beliau berumur 4 tahun disusul kemudian ayahnya wafat pada tahun 1314 H. ketika beliau berusia sekitar 8 tahun. Ibu tirinya merasa iba dan bahkan lebih besar rasa sayangnya terhadap beliau dibandingkan terhadap anak-anaknya sendiri. Begitu pula saudaranya Hamdi. As-Sa’di kecil tumbuh dengan baik dan memulai belajar di Madrasah Tahfidzul Qur’an (madrasah khsusus penghafal Al-Qur’an). Beliau hafal Al-Qur’an dalam usia 11 tahun dan mengokohkan hafalannya ketika berusia 14 tahun.

Guru-guru Beliau
Setelah menghafal Al-Qur’an, As-Sa’di menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu yang lain. Mulailah beliau sibuk membaca buku-buku pelajaran tentang hadits di bawah bimbingan Syaikh Ibrahim bin Hamdi bin Jasir, ilmu fikih dan nahwu (tata ilmu bahasa Arab) dengan Syaikh Muhammad bin Abdil Karim Asy-Sya’bi, ilmu-ilmu tauhid, tafsir fikih, ushul dan nahwu dihadapan Syaikh Shalih bin Usman yang juga qadhi (hakim) Unaizah waktu itu. Beliau lebih sering belajar dan menyertai gurunya ini sampai wafat.

Syaikh Sa’di juga belajar dihadapan Syaikh Abdullah bin ‘Aidh, Syaikh Sha’bin bin Abdillah At-Tuwaijiri, Syaikh Ali As-Sinani dan Syaikh Ali bin Nashir Abu Wadi. Beliau bacakan dihadapan gurunya ini ilmu hadits dan Kutubus Sittah (Kitab-kitab hadits yang terdiri dari Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah sampai mendapatkan ijazah). Beliau belajar pula dihadapan Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi yang dahulu tinggal di Hijaz lalu di wilayah Az-Zubair. Syaikh Sa’di membacakan kepadanya ilmu tafsir dan hadits serta musthalah (istilah-istilah dalam ilmu hadits) ketika Asy-Syinqithi menetap di Unaizah.

Tugas Mengajar
Pada umur 23 tahun beliau mengajar sambil tetap belajar. Beliau menghabiskan waktunya untuk meneliti dengan seksama karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayim sehingga beliau dapat mengambil pelajaran yang demikian berharga dari ilmu keduanya. Pada tahun 1350 H, beliau mulai dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas di negeri Qashim. Kedudukan beliau pun mulai diakui, bahkan penduduk Qashim dari berbagai pelosok datang menimba ilmu dan pengetahuan tentang agama kepada beliau.

Murid-muridnya
Banyak orang yang berdatangan kepada beliau untuk berguru. Diantaranya adalah: 1). Syaikh Sulaiman bin Ibrahim Al-Bassam mengajar di Ma’had Al-Ilmi dan ditunjuk menjadi qadhi namun ia menolak. 2). Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Muthawwi’ yang menjadi qadhi di Al-Mujamma’ah kemudian di Unaizah. 3). Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, anggota Haihatut Tamyiz di wilayah barat dan anggota Dewan Ulama Senior. 4). Syaikh Muhammad Al-Manshur Al-Zamil, pengajar di Ma’had Ilmu Unaizah. 5). Syaikh Ali bin Muhammad Al-Zamil, pengajar di Ma’had di Unaizah dan dia penduduk Najd yang paling jauh di masa itu. 6). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, guru besar di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud di Qashim dan khalifah (pengganti) gurunya (Syaikh Sa’di) sebagai Imam di Universitas di Unaizah, sekaligus anggota dewan ulama senior. 7). Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Aqil, Anggota Dewan Fatwa dan Ketua Lembaga Ilmiah setelah wafatnya yang mulia ketua dewan hakim. 8). Syaikh Abdullah Al-Muhammad Al-‘Auhali, pengajar di Ma’had Ilmi Makkah. 9). Syaikh Abdullah bin Hasan Alu Buraikan pengajar di Ma’had Ilmi Unaizah. Dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang tidak dapat dipaparkan lagi jumlahnya.

Karya-karya Beliau
Tak terhitung karya-karya ilmiah beliau. Yang dapat kami sebutkan di sini antara lain: 1). Tafsir Al-Qur’an Al Karim yang diberi judul Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan. 2). Hasyiyah Alal Fiqhi, sebagai tanggapan terhadap kumpulan kitab yang disusun dalam Madzhab Hambali. 3). Irsyad Ulil Bashair wal Albab Lima’rifatil Fiqhi. 4). Tanzihuddin wa Hamaltihi wa Rijaalihi Mimma Iftaraahu Al-Qashimi fi Aghlabihi. 5). Al-Durrathul Mukhtassarah fi Mahasinil Islam. 6). Al-Khutabul ‘Ashriyah. 7). Al-Qawaidul Hissan fi Tafsil Qur’an. 8). Al-Haqqul Waadhihul Mubin fi Syarh Taudihil Anbiya’ wal Mursalin yang merupakan penjelasan kitab An-Nuniyah karya Ibnu Qayim. 9). Taudhihul Kafiyah Asy-Syafiyah. 10). Wujubut Ta’awun bainal Muslimin wa Maudhu’il Jihad Ad-Din. 11). Al-Qaulus Sadid fi Maqashidit Tauhid. 12). Manhajus Salikin Mukhtashar fi Ushulil Fiqhi. 13). Taisir Al-Lathif Mannan fi Khulashah Tafsirul Qur’an. 14). Ar-Riyadhun Nadhirah. 15). Bahjatu Qulubil Abrar. 16). Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam 17). Al-Fawakih Asy-Syahiyah fil Khutabil Minbariyah. 18). Manhajus Salikin wa Taudhihul Fiqhi fi Al-Din. 19). Thariqul Wushul ila Ilmil Ma’mul. 20). Ad-Dinus Shahih Yuhillu Jami’al Masyakil. 21). Al-Furuq wat Taqsim Al-Badi’ah An-Nafiah. 22). Al-Adillah Al-Qawathi’ wal Barahin fi Ibthal Ushul Al-Mulhidin. 23). Fawait Al-Mustanbithah. 24). Al-Wasail Al-Mufidah. 25). Syuruh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah Allati Radda Biha Al-Qadariyah. 26). Al-Fatawa As-Sa’diyah. 27). At-Taudhih wal Bayan Lisyajaratil Iman. 28). Fathur Rabbil Hamid fi Ushulil ‘Aqaid wa Tauhid. 29). Ad-Dalailul Qur’aniyah. 30). At-Tanbihatul Lathifah. 31). Sual wa Jawab bi Ahammil Muhimmat.

Wafat Beliau
Pada tahun 1371 beliau mendapat tekanan darah tinggi dan penyempitan pembuluh darah. Rasa berat muncul sementara waktu di sela-sela pembicaraannya meskipun hanya membaca Al-Qur’an. Kemudian beliau berbicara seperti biasa. Tahun 1372 H. beliau berangkat ke Libanon dengan biaya pemerintah Saudi dan menetap disana selama sebulan untuk berobat. Allah memberi kesembuhan dan beliau kembali ke Unaizah melanjutkan tugas-tugas yang biasa dikerjakannya sebelum sakit, seperti mengajar, memberi fatwa, menulis, menyampaikan khutbah jum’at dan menjadi Imam. Namun tak lama datang lagi penyakit tersebut. Pada tahun 1376 H. bulan Jumadil Akhir beliau merasa kedinginan sampai tubuhnya menggigil. Pada malam Rabu 22 Jumadil Akhir 1376 H. selesai memberikan pelajaran seperti biasa yang hampir menyerupai muhadlarah (ceramah umum), beliau merasa tubuhnya berat dan gerakannya semakin lemah. Selesai shalat beliau memberi isyarat kepada salah seorang muridnya untuk memapahnya ke rumah. Orangpun berduyun-duyun mengiringinya.

Namun sebelum tiba di rumahnya, Syaikh Sa’di sempat tak sadarkan diri. Setelah siuman beliau memuji Allah dan berbicara dengan orang-orang di sekitarnya dengan ucapan yang menyenangkan. Setelah itu Syaikh Sa’di tidak sadarkan diri dan tidak berbicara lagi. Pada hari Rabu pagi, beberapa dokter diundang untuk memeriksa keadaan beliau. Mereka menegaskan adanya pendarahan otak yang kalau tidak segera ditangani akan lebih parah. Akhirnya segera diupayakan untuk memanggil dokter-dokter ahli di Unaizah. Akan tetapi cuaca yang demikian buruk tidak memungkinkan para dokter tersebut untuk mendarat di lapangan terbang Unaizah. Syaikh Sa’di wafat pada hari Kamis pagi tanggal 23 Jumadil Akhir 1376 H.

Wafat beliau menjadi musibah besar bagi manusia. Berderailah air mata dan hatipun menjadi pilu. Jenazah Syaikh Sa’di dishalatkan setelah shalat dzuhur oleh masyarakat yang memenuhi masjid. Setelah itu beliau di makamkan di Pemakaman Asy-Syahwaniah di Unaizah. Ungkapan belasungkawa dan takziyah berdatangan dari berbagai pelosok. Syaikh Sa’di meninggalkan tiga orang putra: Abdullah, Muhammad, dan Ahmad. Semoga Allah mengampuni dan merahmati Syaikh Abdurrahman As-Sa’di. Amin.
(Ditulis ulang oleh M. Sa’dullah, Staf Pengajar di Ma’had Ath-Thohiriyyah Purwokerto)

Incoming search terms:

Share

Madzhab Maliki: Madzhabnya Pecinta Hadits Rasulullah SAW

Banyumas Pesantren-Madzhab Maliki: Madzhabnya Pecinta Hadits Rasulullah SAW

Madzhab ini dibangun diatas pondasi utama Al-Quran, sunnah Nabi, dan kemasalahatan umat.
Madzhab fiqih kedua yang mewarnai khazanah peradaban Islam adalah Madzhab Maliki, yang didirikan oleh ulama ahli hadits kenamaan, Abu Abdullah Malik bin Anas Al-Asbahi. Meski dalam sejarah pernah tercatat sebagai madzhab resmi pemerintah Islam di Makkah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan, hanya tinggal Kerajaan Marokko saja yang saat ini masih menerapkan Madzhab Maliki sebagai madzhab resmi negara. Sementara di negara lain, jumlah pengikut mazhab Maliki kini semakin menyusut.

Selain fatwa-fatwa Imam Malik, madzhab ini juga merujuk kepada kitab-kitab fiqih terkenal seperti Al-Mudawwanah Al-Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan Ar-Risalah fi Al-Fiqh Al-Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Ashl Al-Madarik Syarh Irsyad Al-Masalik fi Fiqh Al-Imam Malik (karya Syaikh Shihabuddin Al-Baghdadi), dan Bulghah As-Salik li Aqrab Al-Masalik (karya Syaikh Ahmad As-Shawi).

Ciri khasMadzhab Maliki, selain sangat konsisten memegang teguh hadits, juga amat mengedepankan aspek kemaslahatan. Secara berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam Madzhab Maliki adalah Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, ucapan dan amalan sahabat Nabi SAW, tradisi masyarakat Madinah (amal ahlil Madinah), qiyas (analogi), al-maslahah al-mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu), istihsan (mengutamakan kenedak maslahah daripada kehendak qiyas), dan saddud dzara’i (melarang suatu perbuatan yang pada dasarnya mubah karena diperkirakan akan memunculkan hal negatif di belakangnya).

Yang paling menarik dari sumber-sumber Madzhab Maliki adalah amal penduduk Madinah, maslahah mursalah dan saddudz dzara’i. Amal ahli Madinah, misalnya, dianggap penting oleh Imam Malik karena di kota inilah Rasulullah menghabiskan belasan tahun terakhir hidupnya. Amaliah Rasulullah secara langsung direkam oleh penduduk Madinah pada masa itu, lalu ditularkan secara turun temurun kepada generasi sesudahnya.

Dengan keistimewaan itu, menurut Imam Malik, amaliah penduduk Madinah pada masa itu setara dengan hadits yang berperingkat mutawatir. Karena itu pula, setiap kali menemukan hadits ahad, hadits yang peringkatnya di bawah mutawatir, yang bertentangan dengan amaliah penduduk Madinah, Imam Malik lebih memilih mengikuti amaliah ahlul Madinah.

Main Kartu
Sedangkan maslahah mursalah, adalah menghukumi sesuatu yang belum ada dalil-nya dengan mempertimbangkan kemaslahatannya. Kemaslahatan yang dimaksud adalah kemaslahatan yang menjadi tujuan pokok syariat, yakni memelihara agama, nyawa, akal, kehormatan, keturunan dan harta. Selain itu kemaslahatan yang dimaksud juga harus sesuai dengan akal sehat dan dapat menghilangkan kesempitan yang jika tidak dihukumi kemungkinan besar akan menghadang manusia.

Salah satu contoh maslahah mursalah adalah fatwa Imam Malik yang membolehkan penguasa menyita barang palsu dari tangan pemalsunya untuk kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Merampas paksa barang yang secara sah dimiliki orang lain pada dasarnya dilarang, namun demi kemaslahatan bersama hal itu boleh dilakukan oleh penguasa. Sebab jika tidak, pemalsuan akan merajalela dan merugikan pembuat barang aslinya.

Sementara syaddudz dzara’i, yang juga sering dgunakan Imam Malik, contohnya barang yang sudah dipasangi label maka tidak boleh dijual dengan harga yang lebih tinggi atau lebih rendah, karena akan membuat peluang munculnya penipuan. Contoh lain, permainan kartu yang tidak diikuti dengan taruhan pada dasarnya berhukum mubah, namun oleh Imam Malik diharamkan karena permainan ini sangat potensial memunculkan perjudian.

Masih banyak lagi contoh fatwa-fatwa madzhab Maliki yang terus dikembangkan oleh ulama generasi berikutnya. Seperti Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim, Abu Abdillah Abdur Rahman bin Qasim Al-Utaqy, Asyhab bin Abdul Aziz Al-Qaisi, Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam, Asbagh bin Farj Al-Umawi, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dan Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad As-Sakandari di Mesir.

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Maliki di Afrika dan Andalus ialah Abu Abdillah Ziyad bin Abdur Rahman Al-Qurthubi, Isa bin Dinar Al-Andalusi, Yahya bin Yahya bin Katsir Al-Laitsi, Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As-Sulami, Abdul Hasan Ali bin Ziyad At-Tunisi, Asad bin Furat, Abdus Salam bin Said At-Tanukhi.

Sedang fuqaha Malikiyah yang terkenal sesudah generasi tersebut di atas adalah antara lain Abdul Walid Al-Baji, Abdul Hasan Al-Lakhami, Ibnu Rusyd Al-Kabir, Ibnu Rusyd Al Hafiz, Ibnu ‘Arabi, dan Ibnul Qasim bin Jizzi.

Imam Malik yang lahir di Madinah pada tahun 93 H/712 M itu bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris Al-Ashbahi.

Orang tuanya berasal dari keluarga Arab terhormat dan berstatus sosial tinggi sejak sebelum datangnya Islam. Sementara leluhurnya berasal dari Yaman yang hijrah ke Madinah saat masuk Islam. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ‘ilmu’ yang sangat terkenal.

Orang tua dan leluhurnya dikenal sebagai ulama hadits di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Menjual Tiang Rumah
Tradisi keilmuan yang melekat dalam dirinya juga membuat Imam Malik sejak kecil sangat mencintai ilmua dan rela mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, imam Malik rela menjual salah satu tiang rumahnya untuk membayar biaya pendidikannya.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal lainnya. Yang menjadi guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz, lalu Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri. Sedangkan yang menjadi gurunya dalam bidang fiqh ialah Rabi’ah bin Abdur Rahman. Ia juga belajar kepada Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, Muhammad bin Munkadir dan Imam Jafar Ash-Shadiq.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al-Mahdi, Harun Ar-Rasyid, dan Al-Ma’mun, pernah jadi muridnya. Imam Syafi’i yang kelak mendirikan madzhab Syafi’i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Masih banyak lagi nama-nama tokoh yang pernah menjadi muridnya. Bahkan menurut sebuah riwayat, murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ”Jangan berteriak bila sedang membahas hadits Nabi.”

Imam Malik memeng terkenal sangat memuliakan hadits Nabi. Setiap kali ada orang yang ingin meminta fatwa atau penjelasan kepada beliau selalu ditanya, “Engkau akan bertanya masalah hadits atau bukan?”

Jika yang akan ditanyakan tidak berkaitan dengan hadits, Imam Malim langsung menjawabnya. Namun jika berkaitan dewngan hadits Nabi SAW, sang imam terlebih dulu mandi, lalu berganti pakaian yang lebih baik dan memakai wewangian, baru kemudian menjawabnya.

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja’far, gubernur Madinah.

Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai’at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai’at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja’far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja’far merasa terhina sekali.

Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja’far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Karena Dipaksa
Ketika kabar penyiksaan Imam Malik itu sampai ke telinga Khalifah Al-Manshur, sang Khalifah murka lalu mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Dan untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Tak hanya itu khalifah juga mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam.

Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik yang sangat mencintai Rasulullah lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Bahkan hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Dalam lain riwayat dikisahkan, dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al-Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti pengajian kitab Al-Muwaththa’ yang diadakan Imam Malik. Khalifah pun mengutus seseorang memanggil Imam. Namun sang imam merasa keberatan
“Khalifah,” jawab Imam Malik melalui utusannya, “leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusialah yang seharusnya mendatangi ilmu, bukan ilmu yang mendatangi manusia.”

Sedianya, khalifah ingin jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Malik. ”Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.” Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Ulama besar itu wafat pada tahun wafat tahun 179 H/796 M, dalam usia 86 tahun. Imam Malik meninggalkan 3 orang putera dan seorang puteri, serta sebuah madzhab fiqih yang terus berkembang mengikuti perputaran zaman.

Membicarakan Imam Malik tentu tidak lengkap tanpa mengulas kitab Al-Muwaththa’, sebuah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimwaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.

Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwaththa’ tak akan lahir bila Imam Malik tidak ‘dipaksa’ Khalifah Al-Mansur. Setelah permintaannya agar Imam Malik hijrah ke Baghdad ditolak, Khalifah Al-Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya, Imam Malik enggan melakukan itu.

Baru setelah didesak dengan alasan kemaslahatan, sang Imam bersedia menulis. Lahirlah kitab Al-Muwaththa’ yang mulai ditulis pada masa Al-Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa pemerintahan Al-Mahdi (775-785 M).

Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang berlainan. Selain Al Muwaththa’, Imam Malik juga menyusun kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.

Oleh: Ahmad Iftah Sidik, (Santri Asal Tangerang).

Incoming search terms:

Share

Sunan Abu Dawud:Kitab Kumpulan Hadits Fiqhi Paling Sistematis

Banyumas Pesantren-Sunan Abu Dawud:Kitab Kumpulan Hadits Fiqhi Paling Sistematis

Di antara kitab-kitab kumpulan hadits, inilah kitab yang susunannya bercorak fiqih. Sangat sistematis.

Jika kita mengagumi kitab kumpulan hadits karya Imam At-Tirmidzi dan Imam An-Nasa-i , maka kita harus terlebih dulu mengagumi kitab kumpulan hadits karya guru mereka yang juga berjudul As-Sunan. Kitab yang juga banyak bercorak fiqhi itu ditulis muhadits dan faqih besar pada masanya yaitu Al-Imam Sulaiman bin Imran bin Al-Asy`ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr bin Imron Al-Azdy As-Sajistani atau biasa disebut Imam Abu Dawud.

Kitab As-Sunan tersebut memuat 4800 hadits yang disaring dari 50.000an hadits. Dan 50.000 hadits itu sendiri merupakan saringan dari ratusan ribu hadits yang diperolehnya saat berkelanan. Kumpulan hadits berjumlah 4800 itulah yang lalu ditulis pada kitab As-Sunan.
Di antara kitab-kitab kumpulan hadits, kitab sunan karya Abu Dawud termasuk yang paling banyak menarik perhatian, karena merupakan salah satu kompilasi hadits hukum yang paling lengkap.

Tentang kualitas kitab tersebut Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah mengomentari, “Kitab Sunan Abu Dawud adalah kitab yang dengan topiknya Allah telah mengkhususkan kedudukan penulisnya. Dalam banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum, hendaklah para mushannif (pengarang kitab) mengambil hukum dari kitab itu dan kepada itu pula hendaknya para muhaqqiq (pencari kebenaran) merasa ridha. Sesungguhnya Abu Dawud telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam (hukum) dan menyusun serta mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi ia membuang sejumlah hadits dari para perawi yang majruh (mempunyai cela) dan dhu’afa (memiliki kelemahan).”

Demikian besar keutamaan kitab Sunan Abu Dawud, hingga ketika usai disusun, Ibrahim al-Harbi, seorang ulama ahli hadits pada masa itu mengomentari, “Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagai­mana besi dilunakkan untuk Nabi Dawud.” Ungkapan yang menunjukan keistimewaan seorang ahli hadits itu dimaksudkan, Imam Abu Dawud telah menrederhanakan persoalan hadits yang rumit, mendekatkan yang jauh dan memudahkan yang sukar.

Selain ahli hadits, Imam Abu Dawud juga menonjol sebagai seorang faqih, ahli fiqih. Kefaqihan dan keahliannya dalam ilmu hadits tampak berpadu ketika Imam Abu Dawud mengritik sejumlah hadits yang bertalian dengan hukum fiqih dan dalam penjelasan bab-bab fiqih pada kitab-kitab haditsnya. Kedalaman ilmu Abu Dawud tersebut –meski luar biasa– cukup dimaklumi mengingat beliau murid kesayangan Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali.

Empat Hadits
Dalam konteks hukum, misalnya, Abu Dawud pernah berkata, “Sebenarnya cukup bagi manusia dengan empat hadist: ‘Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya; termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat’; ‘Tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin, hingga ia ridha terhadap saudaranya apa yang ia ridha terhadap dirinya sendiri’; ‘Perkara yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas pula, sedangkan diantara keduanya adalah perkara yang syubhat’.”

Tak heran pujian dari ulama pun mengalir kepada ulama yang hidup pada kurun (202-275 H/817-889 M). Al-Hafiz Musa bin Harun, misalnya, mengatakan, “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk Hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia.”

Ada lagi pujian dari ulama hadits dan fiqih mazhab Hanbali, Abu Bakar al-Khallal. “Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as as-Sijistani adalah Imam terkemuka pada jamannya, penggali beberapa bidang ilmu se­kaligus mengetahui tempatnya, dan tak seorang pun di masanya yang dapat me­nandinginya,” kata sang ulama.

Begitu legendaris ilmu dan kesalehan Imam Abu Dawud, hingga banyak ulama besar yang mendatanginya sekedar untuk ngalap berkah. Sahal bin Abdullah At-Tastari, seorang sufi yang alim, misalnya, mengunjungi Abu Dawud dan berkata, “Saya adalah Sahal yang datang mengunjungimu.” Abu Dawud menyambutnya dengan hormat dan mempersilakan duduk.
Sahal lalu berkata, “Abu Dawud, saya mempunyai keperluan dengan Tuan.”
“Keperluan apa?,” tanya sang imam.

“Akan saya katakan, asal Tuan berjanji akan memenuhinya.”
Abu Dawud menjawab, “Jika aku mampu pasti akan kuturuti.”
Lalu Sahal mengatakan, “Julurkanlah lidahmu yang selalu engkau gunakan untuk meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW, sehingga aku dapat menciumnya.”
Abu Dawud pun menjulurkan lidahnya dan dicium Sahal At-Tastari dengan penuh kerinduan kepada baginda Nabi.

Sulaiman bin Imran As-Sajistany lahir pada tahun 202 H/817M di kota Sajistan (Asia Tengah). Tak banyak cerita tentang masa kecil Abu Dawud, kecuali bahwa ia memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hadits-hadits Rasulullah SAW. Faktir terbesarnya tentu karena ia dilahirkan di tengah keluarga muhadditsin.

Ayahanya, Al Asy`ats bin Ishaq, adalah perawi hadits yang meriwayatkan dari Hamad bin Zaid. Demikian juga saudaranya, Muhammad bin Al Asy`ats, yang selalu menemani perjalanan Abu Dawud dalam mencari hadits dari para ulama.

Setelah mengembara ke kota-kota di sekeliling Sajistan, Abu Dawud yang usianya belum genap 18 tahun memulai perjalanan jauh pertamanya untuk mencari hadits dengan menuju Baghdad. Setahun kemudian ia melanjutkan ke Kufah untuk mengambil hadits dari Al-Hafizh Hasan bin Robi` Al-Bajaly dan Al-Hafizh Ahmad bin Abdillah bin Yunus Al-Yarbu`iy, dua diantara puluhan guru Imam Muslim.

Setelah itu terus berkelana ke Makkah, Damaskus, Himshi, Harron, Halab dan masih banyak lagi. Setelah puas menjelajahi Asia Barat, Imam Abu Dawud lalu bertolak ke Mesir untuk mengambil hadits dari Imam Ahmad bin Sholeh Ath-Thabari. Uniknya, perjalanan itu seringkali diselingi dengan mengunjungi gurunya Imam Ahmad bin Hanbal di Baghdad dan sesekali singgah di Bashrah untuk berguru kepada Abu Salamah At-Tabudzaky, Abul Walid Ath-Thayalisi.

Bahkan di kota Baghdad ia sempat me­ngajar hadits dan fiqih dengan menggunakan kitab sunan sebagai buku pe­gangan. Sebelum diajarkan, kitab sunan itu terlebih dulu ditunjukkannya kepada gurunya yang juga ahli hadits terkemuka, Ahmad bin Hanbal. Dan Imam Ahmad bin Hanbal pun mengatakan bahwa kitab itu sangat bagus.

Melawan Qadariyah
Perihal jumlah guru hadits Imam Abu Dawud, ulama ahli hadits berbeda pendapat. Abu Ali Al-Ghosaany, misalnya, menyebutkan nama-nama guru Abu Dawud yang mencapai 300 orang. Sementara Imam Al-Mizzy menyebutkan jumlah 177 nama guru sang Imam dalam kitabnya, Tahdzibul Kamal.

Jumlah yang sama banyak juga tercatat dalam daftar ulama yang pernah menjadi muridnya. Yang paling terkenal tentu saja Imam Abu Isa At-Tirmidzi dan Imam An-Nasa`i, penyusun dua kitab Sunan yang juga termasuk dalam kutubus sittah. Selain mereka tersebut juga nama Abu Bakr bin Abi Daud, Abu Thoyib Ahmad bin Ibrahim Al-Baghdadi, Abu Amr Ahmad bin Ali Al-Bashri, Ali bin Hasan Al-Anshari, Muhammad bin Bakr At-Tammaar, dan Abu Ali Muhammad bin Ahmad Al-Lu’lu’i, yang tidak lain adalah perawi kitab Sunan Abu Dawud.

Kota terakhir yang didatangi Imam Abu Dawud sekaligus menjadi tempat tinggalnya hingga wafat adalah Bashrah, di mana ia menjadi salah seorang imam utama kaum Ahlisunnah wal jamaah kota itu. Posisi itu sangat istimewa mengingat kota di pesisir Irak itu adalah basis terkuat pengikut aliran Qadariyah, di samping beberapa kelompok lain seperti Khawarij, Mu`tazilah, Murji`ah, Syi`ah Rafidhah dan Jahmiyah.

Pergulatan pemikirannya dengan pemuka-pemuka aliran sesat itu terekam dalam beberapa kitabnya. Al-Qadar, misalnya, berisi bantahan sang imam atas pemikiran aliran Qadariyah. Sementara bantahannya atas paham Khawarij tertuang dalam kitabnya Akhbar Al-Khawarij. Bahkan dalam kitab kumpulan haditsnya As-Sunan ia juga menampilkan hadits-hadits yang secara khusus membantah pendapat kalangan Jahmiyah, Murji`ah dan Mu`tazilah.

Ihwal menetapnya Abu Dawud di Bashrah, menurut Imam al-Khattabi dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud, adalah atas permintaan Gubernur Bashrah. Abu Bakar bin Jabir mengisahkan pertemuan sang guru dengan Amir Bashrah yang juga menunjukkan betapa Imam Abu Dawud sangat menghormati ilmu.
“Aku bersama Imam Abu Dawud tinggal di Bagdad,” sang khadim mengisahkan. “Suatu saat, usai melakukan shalat magrib, tiba-tiba pintu rumah beliau diketuk seseorang. Aku pun membukakan pintu dan seorang pelayan melaporkan, Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq minta ijin untuk masuk.

Setelah sang amir duduk, Imam Abu Dawud bertanya, “Apa yang mendorong Amir ke sini?”
“Saya mempunyai tiga kepentingan,” jawab sang amir.
“Apa itu?,” tanya Abu Dawud.

“Sebaiknya anda tinggal di Basrah, supaya para pelajar dari seluruh dunia belajar kepadamu. Dengan demikian kota Basrah akan makmur lagi. Karena Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji.”

“Itu yang pertama, lalu apa yang kedua?”
“Hendaknya anda mau mengajarkan sunan kepada anak-anakku.”
“Yang ketiga?.”

“Hendaklah anda membuat majlis tersendiri untuk mengajarkan hadits kepada keluarga khalifah, sebab mereka enggan duduk bersama orang umum.”
Dengan tegas Abu Dawud menjawab, “Permintaan ketiga tidak bisa kukabulkan. Sebab derajat manusia itu, baik pejabat terhormat maupun rakyat jelata, dalam menuntut ilmu dipandang sama.”

Ibnu Jabir menjelaskan, “Sejak itu putra-putra khalifah menghadiri majlis taklim, duduk bersama orang umum, dengan diberi tirai pemisah.”

Seperti Nabi
Mengenai sifat Sang Imam, sebagian ulama berkata, “Perilaku Abu Dawud, sifat dan kepribadiannya menyerupai Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal menyerupai Imam Waki’, dan Imam Waki’ seperti Sufyan Ats-Tsauri. Sufyan seperti Mansur, Mansur menyerupai Ibrahim An-Nakha’i, dan Ibrahim menyerupai ‘Alqamah. Sedangkan Alqamah disebut memiliki sifat seperti Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Mas’ud adalah orang paling dekat perilakunya dengan Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal berpakaian misalnya, Imam Abu Dawud mempunyai falsafah tersendiri. Salah satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi sempit. Bila ada yang bertanya, ia menjawab, “Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab, sedang yang satunya tidak diperlukan. Kalau dia lebar, berarti pemborosan.”

Setelah hidup penuh dengan kegiatan ilmu, mengumpulkan dan menyebarluaskan hadits, Abu Dawud wafat di Bashrah pada tanggal 16 Syawal 275 H (20 Februari 889). Jenazahnya disholatkan oleh ribuan kaum muslimin yang diimami oleh Abbas bin Abdul Wahid Al-Hasyimy.
Ketika wafat Imam Abu Dawud meninggalkan karangan yang cukup banyak, diantaranya As-Sunan, Al-Marasil, Al-Qadar, An-Nasikh Wal Mansukh, Fadha-ilul A’mal, Az-Zuhud, Dala-ilun Nubuwah, Ibtida-ul Wahyi, dan Ahbarul Khawari. Di antara kitab tersebut, yang paling populer adalah kitab As-Sunan, yang biasa dikenal dengan Sunan Abu Dawud.

Oleh: Ahmad Iftah Sidik, Santri asal Tangerang

Incoming search terms:

Share