Monthly Archives: March 2018

Sunan Ibnu Majah: Kitab Induk Hadits Yang Diperdebatkan

Banyumas Pesantren-Sunan Ibnu Majah: Kitab Induk Hadits Yang Diperdebatkan

Meski disusun oleh ulama besar yang sangat alim di berbagai bidang, kitab kumpulan hadits ini menjadi bahan perdebatan panjang dulu sebelum dijadikan buku induk hadits.
Tak seperti lima kitab sebelumnya yang dimufakati ulama perihal kelayakannya menjadi anggota kutubus sittah, kitab Sunan Ibnu Majah yang berada di urutan keenam harus melewati banyak perdebatan para ahli hadits sebelum dianggap layak menjadi bagian dari enam kitab induk hadits tersebut.

Ulama yang tidak memasukkan kitab tersebut ke dalam kutubus sittah beralasan derajat Sunan Ibnu Majah lebih rendah dari kitab-kitab hadits yang lima, karena memuat juga hadits yang munkar dan maudhu’ (palsu) meski hanya sedikit. Sebagai gantinya mereka memasukkan kitab hadits Al-Muwaththa karya Imam Malik, yang dianggap lebih shahih, di urutan keenam.

Ulama pertama yang berpendapat demikian adalah Abul Hasan Ahmad bin Razin Al-Abdari As-Sarqisti (wafat tahun 535 H) dalam kitabnya At-Tajrid fil Jam’i Bainas-Shihah. Pendapat ini didukung oleh Abus Sa’adat Majduddin Ibnul Asir Al-Jazairi Asy-Syafi’i (wafat 606 H) dan Imam Az-Zabidi Asy-Syafi’i (wafat 944 H) dalam kitabnya Taysirul Wushul.

Sementara yang menganggap Sunan Ibnu Majah cukup layak menjadi bagian dari kutubus sittah berargumen, kitab tersebut memberikan banyak zawaid (tambahan) hadits yang memperkaya kelima kitab sebelumnya (kutubul khamsah). Sedangkan kitab Al-Muwaththa’, hampir seluruh haditsny telah termuat dalam kutubul khamsah.

Ulama pertama yang berpendapat demikian adalah Al-Hafizh Abul-Fardh Muhammad bin Tahir al-Maqdisi (wafat 507 H) dalam kitabnya Athraful Kutubis Sittah dan dalam risalahnya Syurutul Aimmatis Sittah. Pendapat itu belakangan diikuti oleh Al-Hafizh ‘Abdul Ghani bin al-Wahid al-Maqdisi (wafat 600 H) dalam kitabnya Al-Ikmal fi Asma’ ar-Rijal dan mayoritas ulama hadits periode sesudahnya.

Meski termasuk kutubus sittah, pada dasarnya seluruh ulama muhadditsin sepakat, martabat Sunan Ibnu Majah ini berada di bawah martabat kutubul khamsah, karena paling banyak memuat hadits-hadits dha’if. Karena itu hadits-hadits dari kitab sunan ini sebaiknya digunakan sebagai hujjah untuk persoalan aqidah atau fiqih kecuali setelah melalui penelitian yang seksama terlebih dahulu.

Jika kedudukannya shahih atau hasan, hadits tersebut boleh dijadikan pegangan. Namun bila tidak, lebih baik mencari dalil-dalil dari kitab lain yang lebih kuat. Lain halnya bila hanya untuk persoalan fadhailul a’mal, keutamaan ibadah, yang mana hadits berderajat dhaif pun masih bisa ditolerir oleh mayoritas ulama kita.

Hal lain yang memberikan nilai lebih kepada kitab Sunan Ibnu Majah adalah beberapa hadits tsulatsiyyat yang diriwayatkan sang Imam dalam kita tersebut. Hadits tsulatsiyyat adalah hadits yang sanadnya tinggi, sehingga dari Nabi Muhammad SAW sampai ke Ibnu Majah melalui tiga perawi. Hadits-hadits tsulatsiyyat jumlahnya tidak banyak dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi ahli hadits jika berhasil mendapatkannya.

Tafsir Murni
Ibnu Majah adalah nama populer Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah Ar-Rabi’i Al-Qazwini, ulama besar kelahiran kota Qazwain atau Qazvin, Persia, pada tahun 209 H. Sejarawan berbeda pendapat mengenai kata Majah dalam silsilahnya. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah berpendapat, Majah adalah gelar ayah Muhammad, bukan nama kakeknya.

Setelah melewati pendidikan dasar di kota kelahirannya, Ibnu Majah kemudian melakukan perjalanan ke berbagai negeri Islam, seperti Hijaz, Irak dan Syam, untuk menuntut ilmu hadits dari para ahli hadits terkemuka. Di antara guru utama tokoh yang berjuluk Al-Hafizh Al-Kabir (penghafal hadits yang agung) itu adalah Abu Bakar bin Ibn Syaibah, Muhammad bin Abdillah bin Namir, dan Hisyam bin Amr. Ibnu Majah juga belajar kepada murid-murid Malik dan al-Laits, sehingga ia menjadi salah seorang imam hadits terkemuka pada masanya.

Hadits-hadits yang berhasil dikumpulkan Ibnu Majah kemudian disaring dan ditulis dalam kitab berjudul Sunan Ibnu Majah. Kitab yang mengabadikan nama sang imam itu berisi 4000an hadits yang disusun menurut sistematika fiqih dan dikerjakan secara baik dan indah. Kitab Sunan Ibnu Majah dibuka dengan bab mengikuti sunnah Rasulullah SAW, yang menguraikan hadits-hadits yang menunjukkan kekuatan sunnah serta kewajiban mengikuti dan mengamalkannya.

Selain ahli hadits, Ibnu Majah juga dikenal menguasai berbagai ilmu keislaman lainnya. Kedalaman pengetahuan tentang Al-Quran, misalnya, terbukti dengan karya kitab tafsirnya Tafsir Al-Quran Al-Karim yang mendapat pujian dari ahli tafsir sesudahnya, Ibnu Katsir.

Bahkan ahli ilmu Al-Quran modern Syaikh Manna Khalil Qaththan, mencatatnya sebagai orang pertama yang menyusun kitab tafsir Al-Quran murni. Karena tokoh-tokoh sebelumnya selalu menggabungkan tafsir Al-Quran dengan kitab hadits nabi.

Selain itu Ibnu Majah juga menorehkan tinta emasnya dalam bidang sejarah melalui karyanya At-Tarikh. Buku tersebut mengungkapkan sejarah periode sahabat Nabi sampai pertengahan abad ketiga hijriah.

Pada jamannya, Ibn Majah dikenal sebagai ulama yang terpercaya dan disepakati kejujurannya. Dalam berbagai bidang keilmuan dapat dijadikan hujjah oleh para ulema sesudahnya.

Banyak komentar positif tentang Ibnu Majah yag datang dari para ulama besar. Di antaranya dari Abu Ya’la Al-Khalili Al-Qazwini yang mengomentari, “Ibn Majah adalah orang besar yang terpercaya, yang disepakati kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadits.”

Sementara Adz-Dzahabi dalam Tazkiratul Huffaz melukiskan Imam Ibnu Majah sebagai ahli hadits dan mufassir besar, pengarang kitab sunan dan tafsir, serta ahli hadits kenamaan negerinya.

Demikian pula Ibnu Katsir, seorang ahli hadits dan kritikus hadits berkata dalam kitab Bidayah-nya, “Muhammad bin Yazid (Ibn Majah) adalah pengarang kitab sunan yang masyur. Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada hadits serta masalah-masalah ushuliyyah dan furu’iyyah.”

Hadits-hadits yang berhasil dihimpun Imam Ibnu Majah kemudian dipelajari dan diriwayatkan kembali oleh ratusan ulama besar. Di antara murid-murid terkenalnya adalah Muhammad bin ‘Isa Al-Abhari, Abul Hasan al-Qattan, Sulaiman bin Yazid al-Qazwini, Ibnu Sibawaih dan Ishak bin Muhammad.

Setelah menjalani hidup yang penuh berkah dan ilmu yang bermanfaat, Imam Ibnu Majah wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H. Jenazahnya dishalatkan kaum muslimin yang diimami saudaranya, Abu Bakar. Sedangkan pemakamannya dilakukan oleh kedua saudaranya, Abu Bakar dan Abdullah serta putranya, Abdullah.

Ketika wafat, Imam Ibnu Majah meninggalkan karya tulis yang cukup banyak. Beberapa yang paling terkenal adalah kitab As-Sunan atau Sunan Ibnu Majah, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, dan At-Tarikh yang berisi sejarah sejak masa sahabat sampai masa Ibn Majah.

Ahmad Iftah Sidik, Santri Asal Tangerang.

Share

“Facebook Muslim” Diluncurkan di Pakistan

“Facebook Muslim” Diluncurkan di Pakistan-Pasca kompetisi kartun Nabi Muhammad di Facebook, para pengembang web di Pakistan meluncurkan Facebook versi muslim. Pasalnya Facebook asli diblokir pemerintah negara tersebut.

Media setempat, Telegraph, menyebutkan, enam pakar IT muda di kota Lahore menciptakan MillatFacebook yang diharapkan bisa menjadi sarana penghubung umat muslim di seluruh dunia. Namun, bahasa yang digunakan masih bahasa nasional Pakistan, Bahasa Urdu.

Pendiri Millat Facebook, Omar Zaheer Meer, mengatakan situs itu diluncurkan Rabu (26/5) lalu dan telah memiliki 8.000 anggota. Mereka juga menawarkan alternatif dari sebuah situs yang belakangan ini dikritik karena sistem privasi pengguna yang longgar dan membingungkan.

“Millatfacebook adalah asli Pakistan, situs sosial pertama. Sebuah situs bagi umat muslim dari umat muslim di mana orang-orang baik dari agama lain juga diterima,” bunyi ungkapan promosi dalam situs itu. (nur)

Share

Jujul Anusuli

Banyumas PesantrenJujul Anusuli

Sejak ayahnya wafat, anak itu berubah. Ia menjadi seperti ayahnya. Tidak persis memang, tetapi orang-orang kemudian menganggapnya sebagai pengganti sang ayah. Dulu selepas SMP anak itu menjauh dari ayahnya.

Ia memilih belajar di tempat yang jauh, mengambil bidang kompetensi yang berbeda sama sekali dari sang ayah sampai akhirnya ia berhasil. Ia sukses menjadi seorang profesional di lembaga yang terpandang.

Ia berjuang keras untuk menjadi dirinya sendiri. Jerih payah ia jalani agar lepas dari bayang-bayang ayahnya. Ia tidak suka disebut menumpang ketenaran sang ayah. Ia tidak membenci orang tuanya.

Bahkan sangat mencintai. Ia sadar berbakti kepada orang tua adalah fardlu ‘ain, kewajiban yang tegas aturan tekstualnya dan melekat pada setiap pribadi. Hadis Nabi Muhammad riwayat Imam Bukhari dan Muslim tentang birrul walidain terang baginya.

Saat muda ia hanya tidak cocok dengan cara orang di lingkungannya yang melekatkan ukuran orang tuanya pada dirinya. Saat ayahnya wafat, luar biasa tanggapan duka cita diterima keluarganya. Pikiran-pikiran cerdas sang ayah kemudian dikaji ulang banyak orang. Anak itu semakin menghargai sang ayah.

Masa berkabung berakhir. Sang anak mengamati lembaga besar peninggalan sang ayah. Semua karyawan bekerja seperti biasa. Rencana tertata rapi, tetapi terasa ada yang kurang. Ruang kosong itu dicoba diisi oleh para ahli yang berpengalaman. Tetap saja ada yang kurang.

Kalangan profesional membutuhkan sosok pengganti sang ayah. Mereka menunjuk anak sulung yang dinilai terbaik kapasitasnya. Jadilah si sulung itu menyadari. Sejauh-jauh ia lari mencari dan membangun sosok dirinya sendiri, tetap saja ia adalah anak dari seseorang.

Jadilah ia bergeming. Ia menilik dirinya sendiri. Banyak bekal telah diperolehnya. Ternyata masih banyak kekurangan. Sayang, ia menyadari semua itu setelah sang ayah wafat. Ada semacam “kembalian” yang harus disusulkan. Ia harus mempelajari banyak hal dari awal.

Anak itu sudah berusia 40 tahunan. Ia harus mempelajari sesuatu yang dipelajari ayahnya saat berusia 12 tahun. Si anak itu tidaklah sendirian. Ada kawannya yang seperti dia, padahal ayah ibu mereka telah merintis usaha yang terbukti maju dan bermanfaat. Dalam rangka berbakti kepada orang tua, kini ia rela mempelajari bidang kompetensi ayahnya. Seberat apapun ia tetap menempa dirinya, meski tidak lagi muda.

Ia tidak bisa menyamai ayahnya. Maka, ia tidak bertekad untuk menyamai sang ayah. Ia hanya ingin bisa memahami program-program lembaga rintisan sang ayah lebih baik. Ia ingin bisa menghargai orang-orang yang bekerja di situ, karena merekalah sesungguhnya yang berada di balik sukses sang ayah semasa hidupnya.

Egoismenya memudar. Ia tidak kehilangan dirinya sendiri dengan berbakti kepada orang tua. Ia tetap menjadi dirinya sendiri bahkan saat mempelajari bidang kompetensi ayahnya sepenuh perhatian.

Itulah jujul atau kembalian yang harus disusulkan. Istilah bahasa Jawanya (ditawarkan oleh rekan muda saya, Muchus Budi Rahayu) adalah jujul anusuli, kembalian yang disusulkan kemudian.

HM Dian Nafi’ Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Muayyad, Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo

http://edisicetak.solopos.com

Share

Ikut IPNU aja!!

Berikut adalah sala satu humor santri yang lucu dan menggelikan, sekaligus ada pesan moral yang tersembuyi di dalamnya, silakan cek dan coba cari pesan moralnya (dengan berkomentar lho ya..)

Ada suatu daerah di Jawa Tengah yang mayoritas berkultur nahdliyin (NU). Penduduk setempat sehari-sehari mengamalkan amaliah NU seperti tahlilan, qunut, wirid dan lain-lain. Aktivitas organisasi NU dan banom-banom-nya pun tumbuh subur termasuk banom pelajarnya, IPNU (Ikatan Pelajar NU).

Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya) putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah agar tetap berpegang pada ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang seringkali dipraktekkan kaum muda Islam di perkotaan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.
Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.

Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung le, ingat pesan bapakmu dulu, ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja le”, tandas sang Ibu. Lho??

(sumber:gusmus.net)

Share