Monthly Archives: October 2018

Bakarlah Dirimu Dengan Kalimat Tauhid!

Seorang santri mendatangi Kiyainya dan bertanya,

“Guru…! sekarang ini lagi ramai orang-orang membahas bendera yang bertuliskan Kalimat Tauhid di bakar,

*bagaimana menurut pendapat Guru….?*”

Guru tersebut tersenyum lalu berkata, “

Sekarang ini dunia terbalik, tontonan menjadi tuntunan, tuntunan menjadi tontonan. Banyak orang membawa Bendera Kalimat Tauhid, tapi jiwanya masih belum bertauhid, melainkan masih menyembah hawa nafsu. Yang dipegang Bendera bertulisan Kalimat Bertauhid, tetapi prilakunya jauh dari orang bertauhid. Maka jangan heran tauhidnya masih dalam bentuk tulisan di arak kesana- kemari hanya untuk tontonan.”

“ Lalu yang benar Kalimat Tauhid itu untuk apa Guru…?” tanya murid tersebut.

“ Bakarlah dirimu dengan Kalimat Tauhid.” Jawab Sang Guru.

Kemudian santri tersebut kebingungan dan bertanya kembali,

“ Maksudnya Bagaimana Guru….?”

Guru tersebut menjawab, “ Anakku Kalimat Tauhid itu bukan hanya sekedar di tulis di kertas atau di bendera, tapi juga ditulis dalam diri kita dan ditancapkan ke dalam hati kita, sehingga bisa membersihkan dosa-dosa jasmani, menghilangkan sifat-sifat hewani di dalam diri. Hawa nafsu kita bakar dan kita kalahkan dengan kalimat tauhid, sehingga hati kita menjadi bercahaya, maka kita akan dibukakan dan disingkapkan dimensi ruhani dan mencapai pencerahan ruhani.”

“ Bagaimana caranya membakar diri kita dengan Kalimat Tauhid, mohon ajarilah saya guru…?” Tanya murid sambil penasaran.

Lalu Guru tersebut menjelaskan, “ Anakku dzikir kalimat Tauhid itu ada tahapan dan tehnik tertentu yang harus dilakukan:

Yang Pertama Dzikir Thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan Laa Ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dihujamkan ke dalam hati sanubari, untuk menghancurkan berhala dalam diri yaitu hawa nafsu.

Yang Kedua
Dzikir Nafi Itsbat, yaitu dzikir dengan Laa Ilaha Illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, Laa Ilaha, ketimbang itsbat-nya illallah, ke dalam hati sanubari. Agar semua berhala-berhala yang selama ini berwujud, uang, harta, wanita, jabatan dll. dibakar dan dihancurkan.

Yang Ketiga
Dzikir Itsbat Faqad, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.setelah kita berhasil membakar semua berhala di dalam diri, maka berikutnya kita mengisi dan menghujamkan di dalam hati kita bahwa Allah adalah sebagai Tuhan.

Yang Keempat, Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya Ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.

Dengan dzikir Allah yang diulang-ulang dalam jumlah tertentu dan waktu selama tertentu, agar diri kita lenyap dan masuk menuju ke kesadaran ruhani yang lebih dalam, sehingga mencapai fana’ fillah.

Yang Kelima, Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, ketika nafas masuk lewat hidung hati mengucapkan dzikir Allah diambil dari dalam dada dan dan ketika nafas keluar dari hidung hati mengucapkan dzikir Hu dimasukkan ke dalam Baitul Makmur (Kepala/otak). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Illahi.

Yang Keenam, Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, ketika nafas masuk lewat hidung hati mengucapkan Dzikir Hu diambil dari Baitul Makmur (kepala), dan ketika nafas masuk lewat hidung hati mengucapkan lafadz Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Illahi.

Yang Ketujuh, Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah ke dalam rasa, dengan begitu, maka setiap nafas adalah dzikir, sehingga dalam setiap hal kita selalu ingat kepada Allah Swt.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT. di dalam Surat al-Mukminun ayat 17:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).” [Qs. Al-Mukinun:17]

Setelah diberi penjelasan lalu santri tersebut berkata, “ Terima kasih Guru, atas penjelasannya, insya Allah akan saya amalkan.”.

Kemudian Guru tersebut berkata, ” Jika kamu sudah khatam dengan tujuh dzikir di atas, maka kamu akan mencapai fana’ fillah, dirimu lebur yang ada hanyalah Allah. Itulah hakekat Tauhid. Tubuhmu akan memancarkan cahaya tauhid, jiwamu tenggelam kepada Cinta kepada Allah.

Dengan demikian, kamu menjadi seorang mukmin yang tidak mudah kena tipu, mudah marah, mudah terbakar. karena kamu diberi kemampuan melihat hakekat sesuatu.

Jika terjadi sesuatu peristiwa duduklah yang rileks dan hening, maka kamu akan melihat dan mengetahui hekekat sesuatu itu yang terjadi

Sumber: PW LBM Jateng

Share

Tiga Ilmu yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim

Adalah pemandangan yang kaprah di masyarakat, ilmu dibedakan menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Pemahaman ini kemudian lebih dikuatkan dengan adanya pembagian sekolah yang disebut dengan sekolah umum dan sekolah agama atau yang lebih dikenal dengan madrasah.

Sesungguhnya para ulama tidak membagi ilmu dengan pembagian yang demikian. Bila membaca berbagai literatur akan didapati bahwa yang dibedakan oleh para ulama bukanlah jenis ilmunya, namun hukum mempelajarinya.

Dalam kitab Ihya Ulûmid Dîn misalnya Imam Al-Ghazali membedakan ilmu menjadi ilmu yang fardlu ‘ain hukumnya untuk dipelajari dan ilmu yang fardlu kifayah hukumnya untuk dipelajari.

Ilmu yang fardlu kifayah hukum mempelajarinya berarti tidak setiap orang Islam wajib mempelajari ilmu tersebut. Bila ada satu di antara mereka yang telah mempelajarinya maka itu sudah cukup menggugurkan orang Islam lain untuk mempelajarinya. Termasuk dalam kategori ilmu ini adalah ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu kedokteran, ilmu biologi dan lain sebagainya. Bila ada satu orang Islam yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban orang Islam lainnya untuk memepelajarinya.

Sedangkan ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu ‘ain maka ilmu ini tidak bisa tidak harus dipelajari dan dipahami oleh setiap individu Muslim. Tak ada celah bagi seorang Muslim untuk tidak mempelajari ilmu pada kategori ini. Lalu ilmu apa saja yang hukum mempelajarinya termasuk dalam kategori fardlu ‘ain?

Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari di dalam kitab Mandhûmatu Hidâyatil Adzkiyâ’ ilâ Tharîqil Auliyâ’, di mana kitab ini diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Awliyâ’, bahwa ada 3 (tiga) ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang Muslim dengan kewajiban fardlu ‘ain.

Ketiga ilmu itu adalah ilmu yang menjadikan ibadah menjadi sah, ilmu yang mengesahkan aqidah, dan ilmu yang menjadikan hati bersih. Dalam kitab itu Al-Malibari menuturkan: وتعلمن علما يصحح طاعــة وعقيدة ومزكي القلب اصقلا هذا الثلاثة فرض عين فاعرفن واعمل بها تحصل نجاة واعتلا Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan mengesahkan aqidah serta mensucikan hati Ketiganya ini fardlu ain hukumnya, ketahuilah amalkanlah, maka terwujud keselamatan dan kehormatan Inilah tiga ilmu yang setiap orang Islam wajib mempelajarinya.

Pertama, ilmu yang menjadikan sahnya ibadah kepada Allah adalah ilmu fiqih yang membahas tentang bagaimana semestinya seorang Muslim beribadah kepada Allah. Sebagai contoh, setiap Muslim wajib mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya shalat yang benar dan baik. Juga ia wajib mempelajari berbagai ilmu yang berkaitan dengan keabsahan shalat, seperti caranya berwudlu, cara mensucikan berbagai macam najis, bertayamum, beristinja dan lain sebagainya. Seorang Muslim juga wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa, zakat, haji dan lain sebagainya.

Termasuk juga dalam kategori ini adalah ilmu muamalat, ilmu yang mengatur bagaimana semestinya seseorang melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti jual beli, sewa menyewa, penitipan, dan sebagainya. Ilmu-ilmu ini fardlu ain hukumnya untuk dipelajari mengingat amalan seseorang yang tidak didasari dengan ilmu maka amalan yang dilakukannya itu menjadi batal, tak diterima. Sebagaimana dituturkan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad: وكل من بغير علم يعمل أعماله مردودة لا تقبل Setiap orang yang beramal tanpa ilmu Maka amalnya tertolak, tak diterima.

Kedua, ilmu yang menjadikan aqidah atau kepercayaan seseorang menjadi benar sesuai dengan aqidah yang dianut oleh para ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Dengan mempelajari dan memahami ilmu ini maka seseorang akan terjaga dari aqidah-aqidah yang rusak dan tidak benar seperti aqidah Mu’tazilah, Jabariyah, dan Mujassimiyah. Orang yang tidak mempelajari ilmu ini maka dikhawatirkan ia akan salah dalam memahami dan meyakini perihal bagaimana Allah dan berbagai permasalahan keimanan lainnya.

Ketiga, ilmu yang menjadikan hati bersih dari berbagai macam akhlak yang jelek seperti riya, sombong, dengki, hasud dan berbagai macam penyakit hati lainnya. Ilmu ini wajib pula dipelajari oleh setiap orang Muslim mengingat perilaku orang tidak hanya apa yang dilakukan oleh anggota badan secara lahir namun juga perilaku-perilaku hati secara batin.

Sayid Bakri Al-Makki memberikan penjelasan masalah ini di dalam kitabnya Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’. Beliau menuturkan bahwa tak ada kelonggaran bagi seorang pun untuk tidak mengetahui ketiga ilmu tersebut. Inilah ilmu syariat yang bermanfaat. Tak cukup dengan memepelajari dan mengetahuinya saja. Orang yang telah mempelajarinya juga mesti mengamalkannya. Karena siapapun yang telah mengetahui ketiga ilmu ini tidak akan bisa selamat kecuali dengan mengamalkannya. Ya, untuk mendapatkan keselamatan di akherat kelak serta tingginya derajat di dunia dan akherat tak bisa lepas dari tiga hal: keyakinan atau aqidah yang benar, ibadah yang benar.

Share

Kado Kecil di Hari Santri Untuk PP. Ath-Thohiriyyah dari Silvia Al-Fatonah

Memperingati Hari santri ke-3  yang jatuh pada 22 Oktober 2018, beberapa rangkaian lomba diselenggarakan oleh PC IPNU-IPPNU  Kabupaten Banyumas. Ada banyak cabang lomba, diantaranya MQK, Da’i, MTQ, dan yang lain. Beberapa lomba diselenggarakan di PP. Roudlotul Qur’an Sirau, Kemranjen pada hari Minggu, 21 Oktober 2018 mulai pukul 08-00 sampai dengan selesai, tepat sehari menjelang perayaan Hari Santri Nasional.  Lomba-lomba tersebut diikuti oleh perwakilan santri dari beberapa pondok pesatren yang ada di Banyumas.

Pondok pesantren Ath-Thohiriyyah yang beralamat di Desa Karangsalam Kidul, Kedungbanteng Banyumas ikut memeriahkan semarak Hari Santri Nasional dengan mengirimkan kontingen untuk mengikuti perlombaan. Ada tiga cabang lomba yang diikuti beberapa santri Ath-Thoriyyah yaitu MQK, Da’i, dan MTQ.

Dari tiga cabang lomba yang diikuti, ada satu santri Ath-Thohiriyyah yang berhasil mendapat juara ke 3 MQK kitab Adab Al ‘Alim wa Al Muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari.  Santri tersebut bernama Silvia Al-Fatonah. Silvi berhasil menjadi yang terbaik nomor 3 dari 25 peserta lomba. Prestasi ini bisa menjadi sebuah kado kecil untuk PP. Ath-Thoriyyah di Hari Santri Nasional yang ke-3 ini.

Silvia, gadis kelahiran 18 Oktoer 1999 yang berasal dari Purwojati memang sudah terbiasa mengikuti MQK. Sekitar beberapa bulan yang lalu, dia juga menjuarai MQK kitab “Sulam Taufiq” di PP.  Al-Ihya Cilacap.

Santri putri yang saat ini berada di Madin Ath-Thohiriyyah kelas 3 sekaligus ikut program Tahfidz memang sudah memiliki bakat dalam perlombaan MQK, bahkan sejak MTs saat nyantri di PP. Al-Hidayah Purwojati. Tercatat, dia sudah satu kali juara MQK saat MTs, 4 Kali saat di MA  Pondok Pesantren An-Nur, Ngrukem, Bantul, Jogjakarta.

Silvi mengaku kurang persiapan sehingga sangat bersyukur masih dapat juara 3. Dirinya hanya diberitahu sehari menjelang pelaksanaan lomba sehingga persiapannya hanya sehari. Jika diberitahu jauh-jauh hari,  Silvi merasa yakin bisa memberikan prestasi yang lebih baik lagi.

Mudah-mudahan prestasi Silvia bisa menginspirasi santri-santri yang lain agar bisa mengikuti jejaknya dan “mberkahi” untuk diri sendiri serta pondok pesantren Ath-Thohiriyyah. (SA)

 

Share