Category Archives: celoteh

Ratusan Kiai Tuntut Pengakuan Ijazah Alumni Ponpes

MALANG-Ratusan Kiai Tuntut Pengakuan Ijazah Alumni Ponpes
-Sekitar 150 kiai di Jawa Timur menuntut agar ijazah santri dari pondok pesantren (ponpes) diniyah/salafiyah diakui sebagaimana ijazah pendidikan formal. Tuntutan tersebut tercetus dalam halaqah para ulama dan pengasuh ponpes diniyah-salafiyah yang digelar di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Selasa (9/3).

Untuk mewujudkan perjuangan tersebut, para kiai ini membentuk tim lima. Di tim lima itu ada nama Rektor UIN Maliki Prof Dr Imam Suprayogo, pengasuh Ponpes Modern Gontor KH Sukri Zarkasih, KH Nur M Iskandar, KH Abudul Mujib (Ponpes Al Yasini Pasuruan), dan Luthfi Mustofa.

Pertemuan halaqah tersebut awalnya membahas persoalan-persoalan yang dihadapi ponpes salaf selama ini. ‘’Di antaranya masalah pengakuan ijazah alumni pndok. Baik itu terkait dengan keahlian alumni maupun ijazah alumni pondok,’’ jelas Ketua Panitia Halaqah, Yahyah.

Hal itu, kata Yahyah, lantaran banyak sekolah hingga perguruan tinggi tidak mau mengakui ijazah dari ponpes salaf tersebut. Apalagi, dunia kerja. Sehingga, banyak alumni pesantren yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Mereka juga tidak bisa melamar pekerjaan di dunia kerja formal. Bahkan, untuk sekadar menjadi ketua rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), hingga menjadi kepala desa (kades) alumni pesantren ini tidak bisa, karena ijazahnya tak diakui. Sementara, alumni pesantren itu banyak dibutuhkan menjadi pemimpin di daerah atau desa-desa.

Berdasarkan kondisi tersebut, sekitar 150 kiai dari Ponpes salaf berkumpul di kampus UIN Maliki Malang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 55/2007 tentang Ponpes, juga menyebutkan soal Ponpes Muadhalah (pendidikan formal sebagaimana pendidikan nasional). Namun, dalam realitasnya pendidikan alumni dari ponpes belum diakui. Padahal, sesuai PP tersebut, bahkan perundang-undangan yang ada, ponpes masih memiliki peluang untuk diakui. ”Peluang itulah yang saat ini sedang diperjuangkan,” jelas Yahya yang juga dosen UIN Maliki Malang ini.

Hal senada juga diungkapkan Rektor UIN Maliki Malang, Prof Dr Imam Suprayogo. Menurut dia, upaya agar alumni pesantren itu diberi hak sama dengan lulusan pendidikan formal perlu diperjuangkan. Sehingga, alumni pesantren tersebut bisq melanjutkan pendidikannya dan juga bias diterima di dunia kerja.

Menurut Imam, hal tersebut sangat penting. Alasannya, berdasarkan fakta yang ada di UIN Maliki Malang, justru mahasiswa yang berprestasi itu kebanyakan dari produk-produk ponpes salaf.

Harapan Imam mendapat respon positif dari Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama RI, M Ali. Menurut dia, yang saat membuka acara halaqah ini didampingi Sekretaris Dirjen Pendis, Affandy Mochtar dan Direktur Pendidikan Ponpes, M Choirul Fuad, persoalan ini memeng perlu mendapat perhatian serius.

Menurut Ali, Menteri Agama, Surya Dharma Ali, sebenarnya ingin mendengar langsung hambatan-hambatan yang dihadapi para kiai selama ini dalam mengembangkan ponpes. ‘’Persoalan pengakuan ini, nanti akan kami sampaikan ke Pak Menteri. Jika memang diperlukan, beliau tidak akan keberatan mengeluarkan peraturan menteri,’’ jelasnya.

Sunber: http://www.republika.co.id

Share

Beasiswa 2010 Santri yang Berprestasi

Beasiswa 2010 Santri yang Berprestasi– Depag RI pada awal tahun 2010 ini memberikan beasiswa kepada para santri pondok pesantren yang berprestasi. Beasiswaa ini diberikan kepada para santri yang duduk di kelas III Madrasah Aliyah dan yang sederajat di Pondok Pesantren. Program ini dilakukan dalam rangka menjaring para santri yang berprestasi agar pendidikannya bisa berlanjut dan berakhir dengan mutu pendidikan yang baik terutama dalam pendidikan Islam.

Demikian paparan Kementrian Agama RI yang dilangsir oleh webnya. info selengkapnya buka di www.pondokpesantren.net

Share

Kiai Sahal: Madrasah Harus Punya Standar

Berita NasionalRais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfudh menegaskan pentingnya setiap madrasah mempunyai standar tertentu agar tidak terombang-ambing oleh perkembangan zaman.

Hal ini disampikan terkait dengan agenda pemerintah menegerikan sedikitnya 470 madrasah yang terpilih, sekitar 200 madrasah diantaranya sudah terealisir. Menurut Kiai Sahal, dengan standar itu madrasah bisa memutuskan apakah bersedia dinegerikan atau tidak.

”Kalau sudah punya standar, maka dengan dinegerikan pemerintah, standar ini bisa dipertahankan atau tidak? Kalau tidak kenapa kita harus ikut pemerintah dengan menghilangkan perjuangan. Seperti saya katakan, kalau nggak punya standar ya susah juga,” katanya kepada NU Online di kantor PBNU Jakarta, Senin (26/10).

”Kalau sudah punya standar, maka dengan dinegerikan pemerintah, standar ini bisa dipertahankan atau tidak? Kalau tidak kenapa kita harus ikut pemerintah dengan menghilangkan perjuangan. Seperti saya katakan, kalau nggak punya standar ya susah juga,” katanya kepada NU Online di kantor PBNU Jakarta, Senin (26/10).

Menurut Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Pati ini, standar ini tidak bisa disamakan. Setiap madrasah atau setiap daerah mempunyai kebutuhan sendiri sehingga standar yang dimaksud tidak bisa digeneralisir dan diseragamkan.

”Orang itu punya pengetahuannya sendiri-sendiri, latar belakangnya sendiri-sendiri. Dalam pendidikan itu jangan sampai yang bodoh dipaksa pinter yang pinter jangan maju. Yang yang otaknya hebat kalau mau naik kelas tidak perlu menunggu tahun ajaran berikutnya, tapi yang bodoh jangan ditekan harus naik! Ini angan-angan saya sebagai orang pesantren,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Sahal meminta pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, agar mengalokasikan anggaran lebih besar kepada madrasah atau lembaga pendidikan swasta. Sekolah-sekolah swasta dinilai lebih membutuhkan bantuan pemerintah, terutama yang menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu.

”Sebenarnya pemerintah harus lebih besar menganggarkan untuk sekolah swasta karena jumlahnya lebih besar untuk sekolah swasta dari pada yang negeri. Jasanya juga lebih banyak yang swasta dari pada yang negeri. Yang negeri terbatas kog. Yang masuk pun dibatasi begini-begitu. Kalau swasta itu bukan hanya yang bodoh-bodoh, yang melarat itu ada di swasta,” katanya.

Menurut Kiai Sahal, kebijakan yang selama ini dijalankan dijalankan pemerintah malah terbalik. Pemerintah justru mengalokasikan dana lebih besar pada sekolah-sekolah negeri yang sudah tergolong maju. Sementara sekolah-sekolah swasta yang tertinggal tidak dihiraukan.

”Yang dilakukan selama ini terbaik. Yang negeri ini malah sebenarnya nggak perlu disubsidi. Ini pendapat saya. Meskipun pemerintah tidak akan setuju dengan pendapat saya ini, tapi bagi saya ini prinsip,” katanya.

Share

Suratku Untukmu

Jika kamu adalah manusia, maka sudah kuremukan tulang belulangmu, kupatahkan batang lehermu, dan kuminum habis darahmu. Cukup sudah engkau mengerogoti semangatku, cukup sudah engkau mengikis habis rasa optimisku, cukup sudah engkau menghilangkan setiap kesempatan dalam hidupku, dan cukup sudah engkau menghancurkan masa depanku.Simpan setiap rayuan manismu, simpan setiap bualan manjamu, simpan semua janji-janji semu itu. Biarkan aku menghadapi hidup ini tanpamu…Dulu engkau begitu setia terhadap diriku, tiada satu detik pun terlewatkan tanpa bersamamu. Engkau telah menemaniku memberangus semua mimpiku, bersamamu aku telah lancang mendurhakai kedua orang tuaku, semua guru-guruku, dan teman-temanku. Engkau telalu setia bagi diriku..Dikala sedih menderaku, engkaulah tempat pelabuhan hatiku. Disaat gelisah menderaku engkaulah tempat pelipur laraku. Dirimu seakan-akan segelas anggur nan manis di saat aku terpanggang oleh teriknya sang surya. Disaat aku dihujat, engkaulah pembela utamaku, disaat aku dikucilkan orang, engkaulah pendamping setiaku…Dalam setiap pengembaraanku, engkau tak pernah lekang untuk terus membiusku dengan manisnya janji. Sehingga langkahku semakin jauh menuju kelezatan duniawi. Dan ketika orang-orang mulai berkata, “kamu sudah gila!!”. Engkau lah sahabat pertama yang mengatakan “merekalah yang gila”. Engkau terus menemani ku merajut siang hari dengan hingar bingar kenikmatan dan kebebasan, engkau terus menemaniku mengarungi malam hari menghadirkan sejuta panorama kebahagiaan.Dulu, engkaulah segalanya bagiku…Namun kini, semua berbeda…kehadiranmu mulai aku benci. Setiap rayuan manismu mulai membuat resah, meninggalkan rasa bersalah yang tiada terkira. Setiap gurauan candamu mulai terasa menyesakan dadaku. Engkau sudah tidak seindah dulu…Setiap apa yang aku jalani bersamamu terasa sangat hampa tiada bermakna. Setiap pesona yang kau punyai dulu mampu membuatku tertawa gembira, kini kurasakan tidak berarti apa-apa…ada apa denganmu…Hari-hari yang dulu indah jika bersamamu, mendadak menjadi suram dan gelap gulita. Malam menjadi semakin pekat, sunyi, aku semakin merasa sepi. Walaupun kau ada disisiku…Maafkan aku…Aku harus meninggalkanmu, meninggalkan setiap asa yang telah kau tanamkan padaku dulu. Aku harus berpaling darimu, karena apa yang kau berikan sudah tidak membuatku merasa bahagia. Kebahagiaan yang dulu kau janjikan lenyaplah sudah, semuanya hanya mimpi semu. Kenikmatan dan keceriaan dari dirimu tidak mampu mengobati rasa gundah dihatiku…Aku harus meninggalkanmu, biarkan aku pergi mencari kebahagiaan dengan caraku. Karena kini aku sudah tahu siapa dirimu…Aku harus meninggalkanmu, aku tidak pernah takut kehilangan teman seperti dirimu. Walaupun engkau berbalik arah memusuhiku, membawakan maut ditanganmu. Aku tidak akan mengikutimu lagi.Aku harus meninggalkanmu, jangan berpura-pura sedih dengan kepergianku. Karena aku tahu ada tawa yang keras dalam setiap keikutsertaanku dalam aktivitasmu. Dan aku tidak ingin menjadi penghuni neraka sepertimu..syaithan la’natullah@ Arief’09

Share