Category Archives: hikayah

Manfaat Membaca Quran

Manfaat membaca Al- Quran Al Karim walaupun belum/tanpa mengetahui makna/artinya

Saudaraku sekalian…ath-thohiriyyah hanya ingin mengingatkan..pernahkah ketika kita mendapatkan surat atau sms dari seseorang yang kita rindukan kemudian tidak kita baca??? atau bahkan tidak kita hiraukan?? :t aku rasa jawabannya sudah anda ketahui..yaah…setiap kali kita mendapatkan surat dari orang yang kita rindukan, pastilah kita mambacanya..dan bahkan karena saking cintanya kita si pengirim surat itu, kita menyimpan suratnya, kita baca berulang-ulang, bahkan kadang kala sampai hapal dengan isi surat itu…
Ilustrasi di atas, adalah gambaran bagaimana ketika kita mendapatkan surat dari orang yang kita rindukan atau yang kita cintai…pertanyaan ku, bagaimana jika surat itu dikirim oleh SANG PENCIPTA MANUSIA??…Tuhan Yang Maha Cinta…DIA telah mengirimkan “Ungkapan” kasih sayangNya dengan beragam cara, salah satunya ya dengan mengirimkan 114 surat kepada kita….yang terkumpul dalam satu kitab suci...Al-Quran al-Karim..tapi kenapa kadang kita melupakan untuk membacanya??..kita sebagai manusia biasa..hanya bisa sambat..sambat lagi..dan sambat lagi…dengan berbagai alasan..kita tidak membacanya…lupa lah, capek lah…malas lah….yaa…kok tau?? (pengalaman ku sendiri juga gitu seh.. :D)..
ada di antara kita yang tidak mau membaca quran hanya karena tidak memahami maknanya…bahkan ada yang melarang orang lain membaca quran dengan alasan tersebut…astaghfirulloh..mungkin mereka belum menemukan manfaat membaca quran…berikut ada cerita unik yang InsyaaALLOH dapat menggugah hati kita….
***
di sebuah desa, ada seorang kakek yang senang sekali membaca Quran…saking senengnya kakek itu tiap hari mengkhatamkan satu juz ..sehingga dalam waktu satu bulan, kakek khatam membaca al quran 30 juz. sang kakek mempunyai cucu yang umurnya sekitar 15 tahunan…ketika melihat kebiasaan sang kakek, si cucu tertarik..dan mencoba kebiasaan sang kakek…tiap hari dia membaca quran satu juz…setelah 3 bulan ia jalani kebiasaan itu, dia mulai merasa bosan dan malas…kemudian dia menemui sang kakek dan bertanya…”kek, saya heran dengan kakek, tiap hari membaca quran…apa nggak bosan??apa kakek tau maknanya???apa kakek paham artinya semuanya??”, “Tidak”, jawab sang kakek…”kalau begitu percuma dong saya baca tiap hari..lha wong gak ngerti artinya…”, gerutu si cucu..dengan senyum, sang kakek menjawab dengan sebuah permintaan, ” nak, kau lihat sebuah gayung tua nan kotor di gudang itu?”, “iya, kenapa kek, kan itu sudah tidak digunakan, sudah bocor”, jawab si cucu…”benar…kakek boleh minta tolong nak, ambilkan kakek air dengan gayung itu..untuk nyirami bunga kesayangan kakek…mau kan?”…si cucu bingung dengan permintaan sang kakek…namun karena ia ingin mengerti apa maksud sang kakek, ia pun melakukannya…
Sesaat kemudian, sang cucu datang dengan membawa gayung yang basah, namun tanpa terisi air….”lho mana airnya nak?”…”maaf kek, kan gayung ini bocor..tentu saja ketika sampai di sini sudah habis lagi airnya.. 🙁 “…dengan senyum sang kakek berkata, “ambilkan lagi nak..kakek belum menyiram bunga kesayangan kakek, mungkin larinya kamu kurang cepat tadi…he”…”baik…aku coba lagi ya kek”…sesaat kemudian sang cucu berlari untuk mengambil air…namun tetap saja ketika sampai di tempat kakek, air tersebut sudah habis…dengan jengkel, sang cucu berkata pada sang kakek, “percuma kek..percuma…toh pasti sampai sini airnya sudah habis..”…dengan senyum..sang kakek menjawab “mengapa kamu berpikir ini percuma nak?”…”coba perhatikan…apa yang terjadi dengan gayung usang itu…yang sangat kotor tadinya..!”..sang cucu pun memperhatikan gayung usang itu dengan seksama…gayung kelihatan berbeda dengan sebelumnya…sangat bersih…luar dan dalam…
“cucuku sayang….apa yang terjadi ketika kamu membaca quran?boleh jadi kamu tidak memahaminya, namun secara tanpa kamu sadari, KAMU AKAN BERUBAH LUAR DAN DALAM…SEPERTI GAYUNG TERSEBUT…INGATLAH ITU..!!”..dan sang cucupun tersenyum simpul :$
***

diambil dari supris-returns.blogspot.com

Share

Si Nenek Dermawan

Orang dermawan itu dekat dengan Allah SWT, dekat dengan manusia, dekat kepada surga dan dijauhkan dari neraka. Sedang orang kikir itu jauh dari Allah SWT, jauh dari sesama manusia, dan dijauhkan dari surga serta dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai Allah daripada orang ahli ibadah tapi kikir. (HR. Aisyah. RA).

Suatu ketika, Hasan, Husein, dan Abdullah bin Ja’far Ath-Thaiyyar bersama-sama pergi haji. Karena satu dan lain hal, habislah bekal perjalanan mereka. Mereka pun kelaparan, serta kehausan.

Syahdan, sampailah mereka pada suatu kemah yang dihuni seorang nenek beserta seekor kambing. Dengan segala hormat, kambing itu pun mereka mohon. Dan diberikan. Bahkan si nenek sendiri memerahkan susu kambing itu untuk mereka bertiga, dan akhirnya disembelihlah kambing miliknya untuk santap mereka juga.

Merekapun melanjutkan perjalanan, dan berpisah dengan si nenek yang berjasa tersebut. Setelah di Madinah, si Hasan melihat nenek tersebut. Dan jelas memang dia itu. Kemudian ia pun berkenan membalas budi dengan memberikan 1000 ekor kambing dan uang 1000 dinar, lalu dipersilahkan menemui si Husein. Di sini, si nenek memperoleh hadiah yang sama juga, lalu dipersilahkan menemui Ibnu Ja’far Ath-Thaiyyar. Ternyata Ibnu Ja’far juga memberinya hadiah sebesar 2000 ekor kambing ditambah uang 2000 dinar, dan katanya, “Kalau saja nenek datang pertama kali kepadaku, niscaya aku bikin Hasan, dan Husen yang lelah (harus datang kemari bukan nenek yang datang kesana-kemari). Si nenek pun pulang dengan gontai bersama 4000 ekor kambing dan uang 4000 dinar”.

Dari kisah diatas, terdapat makna spiritualitas yang tinggi yang patut kita teladani. Di tengah-tengah kehidupan kita sekarang yang serba sulit, rasa-rasanya kita semua masih sulit mempraktekkan sedekah seperti kisah diatas. Di tengah himpitan kekurangan seringkali kita berat untuk mendermakan harta kekayaan kita. Dan itu wajar saja. Akan tetapi kalau diri kita mampu melakukan sedekah dengan tulus untuk kepentingan ibadah, sosial, pendidikan, dll, niscaya kita semua termasuk orang-orang pilihan.

Berbeda halnya kalau kita semua lagi berada, niscaya sedekah seperti diatas sangat-sangat lah mampu. Akan tetapi faktanya seringkali berkata lain. Seringkali kita lupa mensyukuri nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita.

Fenomena yang muncul sekarang ini adalah program BLT dan suplai kompor gas. Hal ini merupakan contoh dari sekian contoh yang seringkali menjadi pemicu kecemburuan sosial. Dengan dalih sebagai warga negara, berhak untuk mendapatkan pelayanan dari pemerintah, akan tetapi ada satu hal yang dilupakan bahwa kita termasuk orang berada. Semestinya kita memberi banyak kepada saudara-saudara kita yang masih hidup dibawah garis kelayakan, bukan meminta diberi/dilayani dengan banyak. Inilah bentuk kurangnya rasa syukur pada diri kita. Akan ditaruh dimana muka kita sebagai orang Islam dihadapan Tuhan nanti. Na’udzubillah tsumma naudzu billah. Wallahu a’lam. [M. Sa’dullah]

Incoming search terms:

Share