Category Archives: karya santri

Aji Qurrotu Ain Mengikuti MHQ Dalam Acara Rihlah Ilmiah se-Indonesia antar Ma’had Al-Jami’ah

Rabu, 09/05/2018. Aji Qurrotu Ain, salah satu satri Ponpes Ath-Thohiriyyah mengikuti Musabaqah Hifdzul Qur’an dalam acara Rihlah Ilmiah se-Indonesia yang diadakan di Universitas Islam Negeri Medan. MHQ tersebut diikuti 39 PTKIN se-Indonesia. Dalam perlombaan ini tentu sangat diharapkan Aji Qurrotu Ain, yang biasa disapa Aji kembali menyabet medali.

Share

Keunikan Kitab Kuning (1) Dari Yang “Gundul” Sampai Yang Tanpa Tanda Berhenti

Banyumas Pesantren-Keunikan Kitab Kuning (1)

Dari Yang “Gundul” Sampai Yang Tanpa Tanda Berhenti.

Kitab merupakan khazanah terpenting dalam tradisi intelektual Islam yang hingga kini terus dikaji. Tak hanya memiliki kandungan ilmu yang sangat berbobot, di sisi lain kitab kuning juga memiliki keunikan-keunikan yang tida terdapat pada buku-buku barat.

Sepanjang sejarahnya, Islam terkenal memiliki khazanah keilmuan dan tradisi intelektual yang luar biasa. Bahkan banyak negeri muslim yang pada era kejayaannya menjadi mercu suar peradaban dunia. Tengok saja Baghdad di era kejayaan Dinasti Abbasiyyah atau Cordova pada masa kejayaan Dinasti Umayyah II, yang termasyhur sebagai kota ilmu dan surga para pelajar dari seluruh dunia.

Belakangan tradisi tersebut berlanjut di beberapa kota di negeri-negeri muslim modern. Seperti Kairo di Mesir, Makkah serta Madinah dan Riyadh di Saudi, Qum dan Isfahan di Iran, Damaskus di Syiria, Islamabad dan Lahore di Pakistan, Khartoum di Sudan dan –tak lupa– Baghdad di Irak, sebelum kota bersejarah itu diluluhlantakkan oleh Perang Teluk. Namun sayangnya, kemercusuaran kota-kota muslim modern itu hanya sebatas pada ranah ilmu keagamaan saja. Sedangkan dalam ilmu-ilmu umum seperti kedokteran, tekhnologi, dan sains, kota-kota ilmu di negeri-negeri muslim modern baru mampu menjadi penonton saja.

Selain kemasyhuran madrasah-madrasah dan perguruan tingginya, pusat-pusat peradaban Islam masa lalu tersebut juga dikenal sebagai tempat lahirnya para ulama besar yang telah menghasilkan karya-karya besar dalam berbagai ranah keilmuan. Di antara karya-karya besar para ulama dan ilmuwan muslim yang paling fenomenal dan bisa terus dinikmati oleh generasi-generasi sesudah mereka, termasuk di negeri tercinta ini adalah yang berbentuk buku atau yang lebih lazim disebut kitab.

Menelisik kembali kitab-kitab karya ulama besar masa lalu sungguh merupakan suatu keasyikan tersendiri, bahkan bagi kalangan santri yang dalam kesehariannya sangat lekat dengan kitab-kitab tersebut. Selain karena kandungan keilmuannya yang laksana lautan, juga karena keunikan-keunikan yang melekat dalam sistem penulisan, cara penyampaian hingga tradisi pengkajian dan kritik serta komentarnya.

Dalam tradisi intelektual Islam, kitab-kitab karya ulama era kejayaan Islam biasa disebut al-kutub al-qadimah (kitab-kitab klasik), sebagai pembeda dengan karya tulis ulama modern yang biasa disebut al-kutub al-‘ashriyyah alias kitab-kitab modern atau kontemporer.

Sedangkan dalam tradisi pesantren di tanah air, kitab-kitab karya para ulama besar itu –baik yang klasik maupun modern—juga mempunyai sebutan lain, yakni kitab kuning.

Kitab Gundul
Selain perbedaan kurun penulisan, kitab-kitab klasik dan kitab kontemporer juga dibedakan dari cara penulisan. Kitab-kitab klasik biasanya ditulis secara sambung menyambung, dari awal sampai akhir kitab, tanpa tanda berhenti semacam titik, koma, dan sebagainya, atau dalam bahasa Jawa disebut ndlujur. Kitab-kitab klasik juga bisa ditulis tanpa syakl atau harakat (tanda baca atau sandangan,- Jawa red), seperti fathah, kasrah, dhammah, atau sukun, sama sekali. Karena tanpa tanda baca, kitab kuning juga biasa disebut kitab gundul.

Karena nyaris tanpa rambu-rambu itulah pembacaan kitab klasik sering dianggap sulit oleh sebagian orang. Yang menyulitkan juga, terkadang kata ganti dalam suatu kalimat (terutama dalam kitab-kitab fiqih) merujuk kepada subyek yang letaknya berhalaman-halaman di depannya. Ini tentu menuntut keterampilan dan kejelian tersendiri.

Sedangkan pada kitab-kitab karya ulama modern, penulisan isinya lebih sistematis, dengan membagi tulisan dalam bab-bab, pasal-pasal, dan alinea-alinea. Tentu lengkap dengan tanda berhenti seperti koma dan titiknya. Sebagian kitab modern juga sudah mencantumkan syakal atau harakat pada huruf-hurufnya, meski masih banyak juga yang tetap lebih suka menuliskannya dengan gundulan.

Ciri khas lain yang membedakan kitab klasik dengan kitab modern adalah dalam penjilidannya, meski belakangan cetakan terbaru kitab klasik juga sudah banyak yang dijilid ala kitab modern. Berbeda dengan kitab modern yang dijilid rapi dan indah sebagai satu kitab tebal, kitab-kitab klasik, terutama yang tidak terlalu tebal, lembaran-lembaran kertasnya tidak dijilid menjadi satu. Bahkan bisa dibilang sama sekali tidak dijilid.

Setiap sepuluh atau dua puluh lembar yang tercetak per empat halaman dilipat menjadi satu, berdasarkan urutan halaman dan kedekatan tema pembahasan. Setiap satu lipatan lembaran kitab disebut satu korasan. Biasanya, santri-santri yang akan mengaji kitab-kitab besar tidak membawa seluruh kitabnya, melainkan hanya korasan yang akan dikaji hari itu saja.

Yang tak kalah unik dalam kitab kuning adalah format penyusunan naskah. Dalam satu halaman kitab kuning bisa terdiri dari satu, dua atau tiga bagian naskah. Kitab-kitab dasar biasanya hanya terdiri dari satu naskah, yakni naskah inti atau matan. Sementara kitab kelas menengah biasanya terdiri dari dua bagian naskah, yakni matan dan syarah (penjelasan atau penjabaran matan). Pada kitab yang lebih besar lagi, dua bagian itu ditambah hamisy, catatan pendamping, baik yang merupakan penjelasan baru dari matan dan syarah yang sudah ada, maupun tulisan lain yang dianggap memiliki kesamaan ide dengan tulisan utama.

Berbeda dengan kitab bernaskah tunggal yang tata letaknya biasa, kitab bernaskah ganda disusun dengan cara yang unik. Setiap halaman dibuat dua bagian: bagian pinggir untuk matan kitab, dan bagian tengah dengan pembatas garis keliling untuk syarah. Karena berisi penjelasan matan, bagian syarah biasanya dibuat lebih besar.

Sedangkan pada kitab yang memiliki hamisy, matan dan syarah utama diletakkan di bagian tengah. Sementara bagian pinggirnya diisi oleh catatan pendamping yang terkadang merupakan keterangan dari syarah dan matan di tengah, terkadang juga berisi matan yang sama namun dengan syarah yang berbeda. Bahkan ada juga kitab yang hamisynya berisi kitab lain yang mengkaji tema yang sama.

Metode pengajaran kitab kuning di pesantren tradisional biasanya dilakukan dengan dua cara: sorogan dan bandungan. Pada sistem sorogan masing-masing santri menghadap dan membacakan halaman kitab yang dikaji di depan gurunya. Sang guru mendengarkan bacaan muridnya sambil sesekali membetulkan kesalahan dalam membaca atau menerjemahkan.

Menyebut Kedudukan Kata
Sedangkan pada sistem bandungan sekelompok santri duduk di hadapan seorang kiai dan mendengarkannya membaca serta menjelaskan isi kitab. Sesekali masing-masing santri memberikan catatan di kitabnya sendiri, baik yang berupa tanda baca, makna mufradat (kata perkata) atau keterangan yang dianggap penting lainnya.

Ada juga dua sistem lain yang belakangan populer di kalangan santri senior atau para kiai, yakni sistem jalsah (diskusi kelompok) dan halaqah (seminar). Biasa dua sistem pengkajian kitab ini dilakukan dalam bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, pembahasan masalah-masalah keagamaan kontemporer, yang kerap digelar oleh Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatannya.

Yang tak kalah menarik untuk ditelisik adalah cara membaca dan menerjemahkan kitab kuning ala pesantren tradisional yang berbeda dengan metode pembacaan kitab di pesantren modern atau di perguruan-perguruan tinggi di tanah air. Di pesantren modern, pembacaan dan penerjemahan kitab dilakukan per kalimat atau per paragraf, dengan bentuk terjemahan jadi atau kalimat sempurna. Sedangkan di pesantren tradisional, pembacaan dan penerjemahan dilakukan per kata dengan menyebutkan kedudukan kata tersebut menurut ilmu nahwu (grammar)-nya.

Misalnya dalam menerjemahkan kata alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Kalangan non santri tradisional akan langsung membacanya satu kalimat lengkap, baru diterjemahkan, “Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam”. Sementara di pesantren tradisional di Jawa, kalimat tersebut akan dibaca, “Alhamdu utawi sekabehane puji, iku lillahi kagungane gusti Allah, rabbil alamina kang mengerani piro-piro alam kabeh.” Atau dalam tradisi pengajian kitab ulama Betawi akan dibaca, “Alhamdu bermulanya segala pujian, itu lillahi kepunyaan Allah, rabbil alamina yang menguasai seluruh alam semesta.”

Meski tampak sederhana dan ndeso, sesungguhnya penerjemahan ala kaum santri itu membutuhkan keterampilan khusus dan pengetahuan dalam ilmu tata bahasa arab. Misalnya, penyebutan kata utawi atau bermula yang dalam penulisannya sering dilambangkan dengan huruf mim, menunjukkan bahwa kata alhamdu tersebut berkedudukan sebagai mubtada’ atau kata benda di awal kalimat (pokok kalimat?).

Demikian juga kata iku atau itu yang dilambangkan dengan huruf kha’ yang menunjukkan kedudukannya sebagai khabar. Atau kata kang (yang) yang menunjukkan kedudukan katanya sebagai sifat dari sang subyek kalimat. (bersambung)

Ahmad Iftah Sidik, (Santri Asal Tangerang)

Incoming search terms:

Share

Tafsir Baidhawi:Karya Besar Sang Hakim Agung

Banyumas Pesantren-Tafsir Baidhawi:Karya Besar Sang Hakim Agung

Kitab Tafsir ini disusun oleh seorang ahli fiqih dan hakim agung terkemuka. Gagasannya cemerlang dan isinya padat, demikian kata ulama generasi sesudahnya.

Sekali lagi, sebuah Tafsir Al-Quran ditulis oleh seorang ahli hadits dan fiqih kenamaan abad pertengahan. Hebatnya, karya sang imam tersebut begitu menarik perhatian mufassir-mufassir generasi sesudahnya untuk menuliskan hasyiyah (komentar)-nya. Tercatat dalam sejarah, tak kurang dari sebelas kitab hasyiyah telah ditulis para ulama besar sekaliber Jalaluddin As-Suyuthi, Ibnu Tamjid, Al-Khatib Al-Kazaruni, Al-Kirmani dan lain-lain.

Itulah kitab Anwar At-Tanzil wa Asrar At-Ta’wil karya Al-Imam Abul Khair Nashiruddin Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Ali Al-Baidhawi, yang lebih populer dengan sebutan Tafsir Baidhawi. Bersama kitab Al-Minhaj fil Wushul ila ‘Ilmi Al-Ushul (bidang ushul fiqih) dan Ath-Thawali’ (bidang ilmu kalam), kitab tafsir adalah salah satu dari tiga masterpiece Imam Al-Baidhawi.

Selain di Timur Tengah, Tafsir Baidhawi juga telah sejak lama dikenal di Indonesia melalui terjemahan ulama besar Aceh, Syaikh Abdul Rauf Singkel, yang diberi judul Turjuman Al-Mustafid. Melalui para santri yang belajar di negeri Serambi Makkah dan jaringan murid Thariqah Syathariyyah yang disebarkan sang syaikh, kitab itu lalu menyebar ke seluruh nusantara.

Karena disusun oleh ahli fiqih dan hadits, tak mengherankan jika Tafsir Baidhawi sangat kaya dengan penjelasan hadits dan uraian fiqih. Ulasan-ulasan Imam Baidhawi tentang kandungan hukum suatu ayat cukup luas dan mendalam.

Imam Abdullah Al-Baidhawi lahir di kota Baidha, Shiraz, Persia. Tahun kelahirannya hingga kini tak banyak diketahui. Ayahnya hakim agung di kota Fars, kini berada di Iran bagian barat daya. Setelah menuntut ilmu dari ayahnya, Al-Baidhawi kemudian belajar kepada ulama besar masa itu di berbagai kota besar yang menjadi pusat peradaban Islam saat itu.

Kegigihannya dalam belajar belakangan terbukti dengan penguasaannya yang mendalam di berbagai cabang keilmuan Islam. Ya, di usia yang masih relatif muda Imam Al-Baidhawi telah dikenal sebagai seorang mutakallim (theolog) besar pembela paham Asy’ariyyah, ahli ushul fiqih madzhab Syafi’i, serta mufassir dan muhaddits kenamaan.

Kepercayaan ulama dan umara lain atas kredibilitas keilmuan dan kejujuran Al-Baidhawi juga tampak dari pengangkatan sang imam menjadi qadhi (hakim agung) di kota Shiraz. Yang menarik, meski telah menduduki jabatan keulamaan tertinggi di kotanya ia tetap dikenal sebagai figur yang sangat santun, rendah hati dan rajin beribadah. As-Subki, ulama besar generasi sesudahnya, mengatakan, “Al-Baidhawi adalah seorang imam yang bepikiran cemerlang, berperangai shalih dan ahli ibadah.”

Mendalam Tapi Rumit
Kedalaman ilmunya juga tampak dari karya-karya tulisnya yang sangat berbobot yang sebagian besar masih bisa dijumpai saat ini. Selain tiga masterpiece-nya yang telah disebutkan di muka, Al-Baidhawi juga menulis Al-Ghayah Al-Quswa (Sasaran Terakhir) dan At-Tadzkirah (Peringatan) di bidang fiqih, Al-Mishbah (pelita) di bidang ilmu kalam, serta Syarh Mashabih As-Sunnah (komentar atas kitab Pelita Sunnah) dan Mukhtashar Al-Kafiyyah (ringkasan yang memadai) di bidang ilmu hadits.

Meski menjadi masterpiece, kitab Al-Minhaj fil Wushul dianggap sebagian besar ulama sebagai kitab yang sangat sulit dipahami. Namun demikian tak kurang pula banyaknya ulama generasi sesudahnya yang berusaha membuat syarah (penjelasan) atas karya tersebut. Salah satunya yang dianggap paling baik adalah Nihayah As-Sul Syarh Al-Minhajul Wushul yang disusun oleh Imam Al-Asnawi.

Pendapat Imam Baidhawi dalam bidang secara umum hampir sama dengan ulama madzhab Syafi’i pada umumnya. Hanya dalam beberapa hal tertentu ia berbeda pendapat dengan mayoritas ulama syafi’iyyah. Misalnya dalam pengertian sabilillah sebagai salah satu golongan yang berhak menerima zakat.

Pandangan umum madzhab Syafi’i mengkhususkan sabilillah hanya kepada tentara yang secara sukarela berperang di jalan Allah tanpa mendapat gaji dari negara. Sedangkan Imam Baidhawi memasukkan juga segala macam amal kebajikan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum seperti pembangunan masjid, jembatan atau jalan raya ke dalam kelompok Sabilillah, sehingga juga berhak menerima bagian dari harta zakat. Masih banyak lagi fatwa-fatwa khas Al-Baidhawi yang meski sekilas tampak berbeda, namun sesungguhnya justru mengedepankan aspek kemaslahatan umum.

Setelah hidup bergelimang dengan kebajikan terhadap sesama sebagai hakim, di masa tuanya Al-Baidhawi hijrah ke kota Tabriz dan menghabiskan sisa usianya di sana sebagai guru dan penulis kitab. Ulama berbeda pendapat mengenai tahun wafat sang imam. Tajudin As-Subki dan Al-Asnawi (keduanya ulama madzhab Syafi’i) berpendapat bahwa sang imam wafat pada tahun 691 H/1291 M. Sedangkan As-Suyuthi dan Ibnu Katsir berpendapat sang Imam wafat pada tahun 685 H/1286M.

Ahmad Iftah Sidik, Santri Kalong dari Tangerang

Share

Tafsir Ibnu Katsir: Tafsir Tershahih Karya Sang Maestro Ilmu Hadits

Banyumas Pesantren-Tafsir Ibnu Katsir: Tafsir Tershahih Karya Sang Maestro Ilmu Hadits

Tafsir Ibnu Katsir disusun oleh seorang ahli hadits, tak heran kitab tafsir ini lebih mengedepankan penafsiran-penafsiran bil ma’tsur. Bahkan sang penulis mengklaim metode tafsirnya tersebut sebagai yang paling shahih.

Setelah pada edisi sebelumnya mengupas Kitab Tafsir Ibnu Abbas dan Tafsir Ath-Thabari, kali ini akan mengapresiasi kitab Tafsir al-Qur`ân al-’Azhîm atau yang lebih akrab dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir. Jika ditilik dari jenisnya, Tafsir Ibn Katsir ini termasuk kategori tafsir bil ma`tsur yang juga sangat termasyhur, bahkan menduduki peringkat kedua setelah Tafsir Ath-Thabari.

Di antara sesama tafsir bil ma’tsur, Tafsir Ibnu Katsir termasuk termasuk yang paling concern mengetengahkan penafsiran ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran lain, yang lazim disebut tafsir Al-Quran bil Quran. Selain itu tentu saja Ibnu Katsir juga menampilkan penafsiran yang bersumber dari hadits dan atsar, lengkap dengan rangkaian sanad (genealogi) periwayatannya.

Uniknya, karena dipaparkan oleh mufassir yang juga seorang hafizh, gelar bagi seorang ulama ahli hadits, hadits-hadits tafsir itu juga dikaji secara detail dari sisi keilmuan hadits. Dengan gamblang Ibnu Katsir mengulas shahih-hasan–dhaifnya hadits tersebut. Tak ketinggalan, ia juga memaparkan sisi Al-Jarh wa at-Ta’dîl (penilaian kapabilitas dan integritas) para periwayat.

Dalam kitab tafsir tersebut, kepiawaian Syaikh Ibnu Katsir dalam ilmu fiqih juga mencuat. Meski secara sengaja dibuat tidak terlalu mendalam, ia mengetengahkan diskusi-diskusi fiqih, pendapat-pendapat para ulama dan dalil-dalil mereka ketika menafsirkan ayat-ayat tentang hukum. Bagi pembaca yang belum puas dengan kajian singkat tersebut, dengan bijak ia menyebutkan beberapa kitab fiqih induk yang bisa dijadikan rujukan.

Sementara dalam hal nama dan sifat Allah yang banyak termaktub dalam Al-Quran, Ibnu Katsir lebih suka memberi keterangan yang bersifat global dari pada menjelaskannya dengan rinci dan penuh penakwilan seperti kalangan Mu’tazilah. Ia juga menghindari penafsiran sifat-sifat Allah dengan Lâzim ash-Shifah, konsekuensi sifat tersebut, yang dipelopori oleh Imam ath-Thabari.

Perbedaaan lainnya, Ibnu Katsir juga tidak banyak menyinggung perbedaan Qirâ`ât, dialek pengucapan ayat, kajian kebahasaan dan sastra. Ulasannya tentang qiraat, misalnya, hanya ia disajikan dengan ringkas, meski cukup padat.

Kehebatan Tafsir Ibnu Katsir memang bukan terletak pada keluasan bidang kajiannya, tetapi justru pada kedalaman pembahasan setiap kajian. Dan sejarah telah membuktikan, tafsir Al-Quran sebanyak 10 jilid itu terus menjadi bahan rujukan hingga saat ini.

Mengadili Inkarnasi
Ibnu Katsir yang bernama lengkap Imaduddin Abul Fidâ` Isma’il bin ‘Umar bin Katsir ad-Dimasyqiy asy-Syafi’iy lahir di Busyra pada tahun 700 H/1300 M. Ketika ayahnya meninggal dunia, Ibn Katsir yang baru berusia enam tahun pun diasuh kakaknya di Damaskus. Di bekas ibukota dinasti Umayyah itu pula bocah yatim itu tumbuh dan belajar untuk kali pertama, dalam kesederhanaan.

Guru pertamanya adalah Burhanuddin al-Fazari, ulama besar dari kalangan pengikut madzhab Syafi’i yang mendidiknya menjadi ulama fiqih jempolan. Nama Ibnu Katsir mulai terkenal saat ia ikut dalam tim peneliti yang dibentuk Gubernur Syiria, An-Nasiri, yang bertugas menetapkan hukuman terhadap seseorang yang didakwa menganut paham hulul (inkarnasi).

Selain ilmu fiqih, Ibnu Katsir juga sangat tertarik terhadap ilmu hadits. Bakatnya dalam bidang keilmuan yang cukup rumit itu terasah dengan baik ketika ia belajar kepada Jamaluddin al-Mizzi, ahli hadits kenamaan di Syiria yang belakangan menjadi mertuanya. Selain itu juga berguru kepada Al-Wani, yang memberinya ijazah sanad-sanad hadits dari ulama Hijaz. Selain itu, ia juga sempat belajar kepada Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

Karena keahlian dalam dua ilmu tersebut, dalal usia tiga puluhan Ibnu Katsir telah memperoleh kedudukan yang mulai di tengah kaumnya. Tahun 1348, ia diminta menggantikan gurunya, Az-Zahabi, untuk mengajar di Turba Umm Salih. Tujuh tahun kemudian, 1355, ia bahkan diangkat menjadi kepala Dar al-Hadis al-Asyrafiyah, sebuah madrasah khusus ilmu-ilmu Hadits yang baru saja ditinggal wafat Hakim Taqiuddin As-Subki.

Tak hanya pandai mengajar, Syaikhul Imam Ibnu Katsir juga piawai menuangkan ilmunya di atas kertas, terutama dalam bidang hadits. Beberapa karyanya yang terklan adalah Jami al-Masanid wa as-Sunan (Penghimpun kitab Musnad dan Sunan), delapan jilid kitab yang berisi nama-nama sahabat yang banyak meriwayatkan hadis; At-Takmilah fi Mar’ifat as-Sigat wa ad-Dhua’fa wa al-Mujahal (Pelengkap dalam Mengetahui Perawi-perawi yang Dipercaya, Lemah dan Kurang Dikenal); dan Adillah at-Tanbih li Ulum al-Hadis (Buku tentang ilmu Hadits) atau lebih dikenal dengan nama Al-Ba’its al-Hadits.

Sementara dalam bidang fiqih, keahliannya diakui tidak saja oleh sesama ulama, tetapi juga oleh pemerintah. Bahkan, oleh para penguasa, ia kerap dimintai pendapat seputar tata pemerintahan dan kemasyarakatan yang terjadi pada masa itu.

Misalnya saja saat pengesahan keputusan tentang pemberantasan korupsi pada tahun 1358 M serta upaya rekonsiliasi setelah perang saudara atau peristiwa Pemberontakan Baydamur (1361) dan dalam menyerukan jihad (1368-1369). Selain itu, ia juga banyak menghasilkan karya ilmiah di bidang hukum Islam. Salah satunya adalah kitab Al-Ijtihad fi Talab al-Jihad (Ijtihad Dalam Mencari Jihad) yang selesai disusun beberapa waktu menjelang wafatnya.

Seiring perjalanan waktu, mulai terlihat keahlian lain sang Imam, yakni di bidang ilmu tafsir, yang juga diakui oleh ulama sezamannya. Bahkan pada tahun 1366 Ibn Katsir diangkat menjadi guru besar oleh Gubernur Syiria di Masjid Ummayah Damaskus.

Metode Baru
Dalam menafsirkan Al-Quran, Ibnu Katsir memperkenalkan metode baru yang ia anggap sebagai tafsir yang paling benar adalah, yakni tafsir Al-Quran dengan Al-Quran sendiri. Jika penafsiran dengan ayat lain tidak didapatkan, baru Al-Quran ditafsirkan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang memang ditugaskan oleh Allah untuk menerangkan isi Al-Quran.

Jika metode kedua juga tidak didapatkan, maka menurut Ibnu Katsir, Al-Quran harus ditafsirkan dengan pendapat para sahabat, karena merekalah orang yang paling mengetahui asbabun nuzul (konteks sosial turunnya ayat). Jika yang ketiga ini pun tidak didapatkan, maka digunakan alternatif terakhir, yakni pendapat dari para tabi’in.

Salah satu mahakaryanya dalam bidang tafsir adalah Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim alias Tafsir Ibnu Katsir. Selain itu, ia juga menulis buku Fadha’il Al-Quran (Keutamaan Al-Quran), berisi ringkasan sejarah Alquran.

Selain dalam ranah tafsir, hadits dan fiqih, Ibnu Katsir juga menghasilkan karya-karya besar di bidang tarikh (sejarah). Karya-karya tersebut antara lain Al-Bidayah wa an Nihayah (Permulaan dan Akhir) alias Tarikh Ibnu Katsir, Al-Fushul fi Sirah ar-Rasul (Uraian Mengenai Sejarah Rasul), dan Tabaqat asy-Syafi’iyah (Peringkat-peringkat Ulama Mazhab Syafii).

Ada dua bagian besar sejarah yang tertuang menurut buku Tarikh Ibnu Katsir, yakni sejarah kuno yang menuturkan mulai dari riwayat penciptaan hingga masa kenabian Rasulullah SAW dan sejarah Islam mulai dari periode dakwah Nabi ke Makkah hingga pertengahan abad ke-8 H. Kejadian yang berlangsung setelah hijrah disusun berdasarkan tahun kejadian tersebut. Pada masa Dinasti Mamluk di Mesir, kitab tersebut dijadikan buku rujukan utama sejarah.

Akhirnya, pada tahun 1372 Ibnu Katsir wafat di Damaskus. Ia dimakamkan di pekamanan sufi, tepat di sisi makam salah satu gurunya, Syaikh Ibnu Taymiyyah.

Ahmad Iftah Sidik, Santri Asal Tangerang


Share