Category Archives: karya santri

Sajak-Sajak Santri

Kisah yang melebur di dalam bola mata

Karya : seli fadriyah

 

Aku merindukan pagi

Dan embun-embun yang mustahil ku timbun

Aku berkaca.

Lalu kutatap mata sembab

Kulihat perempuan yang perlahan menghilang

Melebur bayang-bayang

Hinga tak dapat kusedu air ini

Mengalir asin bagai terik mentari

Aku tak mengerti arti semua ini

Yang ku ketahui perempuan di ujung sana telah hilang

 

 

Sajak si miskin

Karya : seli fadriyah

 

Kehidupan seperti batu,

Hukum seperti sembilu

Dan orang-orang miskin seperti sampah yang berserakan

Hiruk pikuk kehidupan tak pernah kau dengar,

Resah hati tak pernah kau utarakan,

Kemewahan yang selalu mereka rasakan

Kita bagaikan rumput yang hanya mudah di injak.

Tak pernah kau pikirkan nasib kita kedepan

Di dalam kemiskinan,

Inilah yang kami rasakan, orang-orang miskin

Bagi mereka, banjir darah kami bukanlah air mata

Yang terpenting bagi mereka

Adalah kejayaan untuk diri

Bukan kejayaan untuk negeri

 

Biografi penulis:

 

Seli Fadriyah lahir di purbalingga, 09 februari 1998. Tempat tinggal Perum Babakan Asri RT 35 / RW 09, kecamatana kalimanah, kabupaten purbalingga. Alumnus SMAN Padamara sekarang sebagai Mahasiswa S1 program studi PAI di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan IAIN Purwokerto. Ia nyantri di ponpes Ath-Thohiriyyah Parakanonje. Aktif di UKM ADIKSI dan UKM PIQSI. E-mail: selifadriyahseli@yahoo.com. Facebook : seli fadriyah. HP : 085732670183

Share

Sebongkah Debu Menggapai Asa

Oleh : Seli Fadriyah

Sania adalah seorang gadis yang terlahir di Purbalingga, dengan keluarga sederhananya, sania selalu menghabiskan waktunya dengan canda, tawa, bahkan tangispun. Tetapi tidak menjadi penghalang bagi sania untuk melanjutkan cita-citanya menjadi orang sukses. Selama mengemban pendidikan di bangku SMA, bisa dikatakan Sania adalah siswa berprestasi dalam nilai akademiknya. Betapa perihatinya dia dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya, bahkan kendaraan yang ia gunakan untuk menggali ilmu selama tiga tahun ia menggunakan sepeda sedangkan teman-teman sekolahnya menggunakan motor, tetapi tidak menjadi suatu penghalang untuk meraih semua yang telah menjadi tekadnya. Hari-hari dipenuhi dengan senyum cerianya, menyapa mentari dengan segenggam harapan untuk selalu memberikan yang terbaik dari banyaknya yang terbaik.

Saat Sania berada di bangku SMA kelas dua tepatnya, ketekadannya semakin kuat untuk mengapai semua keinginan yang sudah direncanakan semenjak ia duduk dibangku SD. Setelah berlalu, Sania akhirnya duduk di bangku kelas tiga, disitu perjuangannya semakin berat ketika harus mendapatkan nilai yang sempurna untuk sesuai apa yang diinginkan. Perjuangan itu dimulai ketika mendekati ujian kelulusan pada saat itu, kebimbangan Sania selalu melandanya, ketakutan sania selalu memunculkan dalam benak-benaknya. Sania takut ketika semua perjuanganya tidak terbayar dengan bahagia. Akhirnya, Sania melupakan semua itu demi ketekadannya yang sudah dia rencanakan sejak di bangku SD.

Setelah ujian kelulusan berakhir, Sania merasakan semua perjuanganya selama tiga tahun ini selesai, dan Sania harus melanjutkan perjuangnnya di dunia yang lain. Semua hasil Sania pasrahkan kepada ALLAH SWT, karena semuanya juga atas izin-Nya pula sania berhasil meraih juara kelas, walaupun belum juara umum, tetapi semua itu salah satu rezeki yang sania harus terima atas buah manisnya selama ini. Kebimbangan Sania muncul kembali ketika, nilau Ujian Nasional keluar, hasil yang dicapai olehnya termasuk terendah kedua dari banyaknya siwa di SMA tersebut bisa dikatakan dari 100 siswa. Kebimbangan tersebut selalu mengiang dalam benanknya, ketika ia ingin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi nilai yang di dapatkan begitu rendah, saat itu semua teman-temannya merayakan atas keberhasilan yang sangat memuaskan, sedangkan ia hanya merenungi sebuah nasib untuk kedepan nanti.

Hari-hari setelah pengumuman kelulusan tersebut, ia jalani semuanya dengan rasa syukur, hingga akhirnya sania memberanikan diri untuk melamar pekerjaan saat itu bersama temannya. Ketika mereka melamar pekerjaan, hari pertama tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, hingga hari kedua kami mendapatkan pekerjaan yang begitu memuaskan, kita ditempatkan di tempat yang begitu nyaman bisa dikatakan seperti itu. Hari-hari kita jalani dengan begitu bahagia. Hingga pada saat itu, tiba-tiba Sania berpikir untuk mengundurkan diri dengan alasan Sania ingin merebut mimpi yang dulu sempat tertunda. Akhirnya, diam-diam Sania mencoba mencari info tentang sebuah beasiswa bidikmisi, dan untuk selang hari berikutnya Sania mengundurkan diri dengan alasan yang sudah dibicarakan.

Setelah Sania berhenti dari pekerjaannya, Sania memberanikan diri untuk merebut mimpi yang dulu sempat tertunda, yaitu mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan maksud untuk memperbaiki nasib keluarga saat itu. Dengan tekad kuat dan tangan kosong pada waktu itu, sania menemui seseorang bisa dikatakan dosen yang berurusan dengan beasiswa untuk siswa yang kurang mampu . Sania menemui beliau dan mengutarakan semuanya itu demi mimpinya yang sempat tertunda. Awalnya, Sania merasa takut, kecemasan selalu menyelebungi hatinya. Tetapi, tidak menjadi penghalang untuk merebut semua mimpi yang pernah tertunda dulu. Tekad yang sangat kuat itu, selalu menjadikan titik keberhasilan dalam setiap usaha yang selalu ia impikan. Di sisi lain, ia ingin menunjukan kepada dunia betapa pentingnya sebuah pendidikan dan sebuah perjungan. Dengan niat yang tulus, walau tangan kosong saat itu, ia meminta semua berkas-berkas persyaratan untuk mencalonkan sebagai mahasiswa beasiswa. Saat itu, Sania bertemu dengan dosen yang kuramg baik, sania di tertawakan dan dijadikan bahan pembicaraan oleh dosen-dosen pada saat itu, mereka hanya berpikir seorang siswa berani mencalonkan diri sebagia mahasiswa beasiswa dengan tangan kosong pula, tidak akan berhasil. Perkataan dari semua dosen saat itu, tak pernah aku hiraukan sama sekali. Semua Aku jadikan motivasi dan semangat paling dalam untuk aku selalu berjuang. Saat semua berkas sudah di tangan, Sania melengkapi semua berkas-berkasnya dengan jangka waktu tiga hari saat itu.

Pada saat pengumpulan berkas-berkas persyaratan, Sania mendapatkan kendala, ketika harus menunggu tanda tangan dari kepala sekolah, sedangkan besok adalah hari terakhir pengumpulan berkas-berkasnya. Sania hampir menyerah, ketikaa harus beradu bicara dengan sekolah khususnya dalam bidang tata usaha, yang mengatur semua itu, dan pada akhinya sania mengalah karena siswa harus patuh terhadap aturan yang sudah ditetapkan. Saat hari terakhir pengumpulan berkas-berkas itu, sania berada dalam titik menyerah ketika pendaftaran ditutup. Harapan sania semua sirna dan pupus, kekecewaan Sania semakin mendalam, dia tidak ingin ketika mimpinya harus tertunda untuk kedua kalinnya.

Pada saat Sania keluar dan meninggalkan tempat pendaftaran beasiswa tersebut, tiba-tiba Sania terkejut ketika pak dosen, memanggil saya untuk tetap mengajukan semua berkas-berkas itu, bagiku beliau adalah sebuah malaikat penyelamat dalam kehidupanku. Yang selalu aku takutkan, ketika semua teman-temannya menertawakanku akan sebuah nilai yang ku raih, saat itu kata menyerah menyelimutu di dalam setiap ucapanku maupun tindakanku.

Ketika rasa menyerah selalu hadir dalam setiap langkahku, Allah menghadirkan sebuah sahabat yang begitu baik bisa disebut Ayun. Ayun selalu menasehati Sania, bahwa perjuangnmu masih panjang, ini belum seberapa, ingat keluarga, sahabat dan orang-orang yang mendukung atas semua mimpimu, bangkit dan raihlah semua mimpi itu. Saat itu ia tersadar, untuk apa menyerah begitu saja, aku terus melanjutkan semua itu dengan niat yang tulus. Semua yang telah Sania lakukan, semua diserahkan oleh-Nya untuk hasil yang memuaskan.

Tepat saat diumumkan, bahwa sania lulus sebagai mahasiswa di Universitas yang ia impikan, rasa syukur, senang, tangis menyelimuti setiap tindakanya, setelah kelulusan itu, sania tetap harus berdoa untuk sebuah mimpi yang sempat tertunda dulu yaitu sebagai mahasiswa beasiswa bidikmisi. Selang beberapa hari, dari kelulusan tersebut, pengumuman kelulusan beasiswa bidikmisipun di umumkan, semua rasa bercampur menjadi satu dalam sebuah melodi.

Tepat saat itu diumumkan, sania lulus sebagai mahasiswa bidikmisi, betapa bahagianya mengemban ilmu selama empat tahun gratis. Tuhan begitu baik, hingga semua mimpiku sudah didepan mata untuk cepat aku raih dari banyaknya pembicaraan orang-orangg yang meremehkan aku. Rasa syukur yang selalu ada dalam setiap senyum ceriaku untuk selalu berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

Dalam benaknya, Sania selalu nenetapkan sebuah prinsip yang selalu ia jaga yaitu berbuat baik kepada semua orang, prinsip itu tidaklah mudah untuk di lakukan, tetapi dengan hati ikhlas dan kelapangan sampai saat ini prinsip itu masih di jaga dari kemurniaanya. Hari-hari yang dijalani penuh dengan tantangan dan rintangan yang begitu melelahkan, hingga istirahatlah yang selalu teruntai.

Keesokan harinya, disambutlah kecerahan pagi yang menyapa dengan senyum mentari yang merengkuh. Sania selalu berpikir positif atas apa yang ia alami selama ini. Ketika sania ingin melanjutkan semua keinginannya, ada seseorang tetangga bisa dikatakan bu Dikin, dia tidak menyukai ketika Sania berpendidikan tinggi. Bu Dikin selalu melontarkan pembicaraan yang tidak baik-baik untuk di dengar, tetapi semua ia jadikan sebagai  lelucon untuk berdiri tegar melnjutkan mimpi-mimpi yang sempat di ambil orang lain. Semua ia jadikan sebagai doa penyemangat bahwa usaha dan doa tidak akan menghianati semua perjuangannya.

Tidak halnya dengan keluargaku, saudara-saudara dari nenek bisa dikatakan saat itu, juga tidak merestui apa yang aku lakukan saat ini, bagi mereka berpendidikan hanya untuk orang mampu. Lontaran seperti itu tak pernah sama sekali aku hiraukan, karena bagiku pendidikan itu penting, dengan berpendidkan dipandang baik oleh semua orang. Dengan adanya beasiswa, lebih menambah semangat berdiri dari banyaknya lontaran orang-orang yang tidak menyukai. Perjuangannya belum sampai disini, ini tahap awal untuk mengenal sebuah perjuangan, Sania terus berdiri tegar walaupun hati menangis.

Ketegaran hati Sania, selalu menjadi landasan terpenting dalam hidupnya, melangkah lebih menjauh untuk kemenagan yang lebih jauh pula. Semua di lakukan hanya semata untuk kepuasan hati dalam merubah nasibnya. Hari berganti hari, sania selalu menitihkan sebuah usaha untuk mimpinya, hingga terjadi suatu kejadian yang begitu konyol dalam hidupku. Kelucuan itu terjadi ketika aku dan teman-temanku berdiri paling depan hanya untuk mendapatkan  kepuasaan semata, lain halnya temanku yang lainnya hanya menertawakan atas kekonyolan yang sania lakukan. Hingga terjadinya sebuah perdebatan, seorang mahasiswa mendebatkan antara sania dengan temannya yang tidak lulus seleksi beasiswa bidikmisi tersebut. Ketika mereka saling mengutarakan pendapatnya, ada seseorang penyelamat bagiku bisa dikatakan malaikat, dia menyelamatkan ku dari banyaknya debatan antara mahasiswa dengan dosen sekalipun. Tetapi tak pernah Sania jadikan sebagai penghalang untuk melanjutkan semua mimpinya itu.

Keanehan terjadi lagi, ketika Sania sampai di rumahnya, ibunya tidak merestui Sania untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, karena bagi ibunya, bekerja saja sudah merubah nasib. Lain halnya dengan Sania, baginya bekerja hanya kesuksesan sementara, Sania menginginkan sebuah kesuksesan yang haqiqi waktu itu. Sania selalu menjelaskan dari hati ke hati kepada ibunya untuk merestuinya selama ia bersekolah. Tetapi ibunya tetap kokoh pada pendiriannya tetap titak merestuinya.

Hingga pada akhirnya, sania tetap kokoh pendiriannya tetap melanjutkan sekolahnya demi apa yang ia inginkan yaitu menjadi Guru PAI. Sania selalu meminta restu kepada ibunya dan neneknya saat itu. Sania mendapatkan izin untuk melanjutkan dari neneknya, karena bagi mereka pendidikan itu penting, jangan mau untuk dianggap remeh oleh orang lain. Lain halnya dengan ibunya, tetap pada pendiriannya, sampai akhirnya ibunya memberikan sebuah doa yang tidak baik kepada sania, jika tetap melanjutkan sekolah maka sania harus bisa menerima akan sakit-sakitan.

Jelang beberapa hari, Sania terus meminta izin kepada ibunya, hasilnya pun sama. Tetapi itu tidak menjadi penghalang sania untuk mundur, sania terus melangkah hingga Sania berada di titik terendah dalam hidupnya. Titik dimana Sania mendapatkan sebuah rezeki yaitu diberi sakit yang tidak seperti biasannya. Sania mengedap penyakit yang tidak dimilik oleh keluarganya, bisa dikatakan penyakit yang langka bahkan bisa dikatakan aneh.

Selama satu bulan Sania hanya bisa terbaring di tempat tidurnya, dan selalu meminta kesembuhan haqiqi atas segala penyakit yang ada. Namun, Allah SWT sangat baik, semua doa dan keinginan sania terkabulkan. Akhirnya sania terbebas dari penykit yang ada. Perjuanngannya sania untuk mendapatkan restu dari ibunya selalu ia lakukan setiap hari. Tetapi ibunya tetap kukuh pada pendiriannya, tetap tidak merestuinya, baginya walaupun sudah mendapatkan beasiswa bidikimisi tidaklah gratis semuanya pasti pengeluaran lebih banyak dari pada pemasukan.

Semua itu dijadikan bumbu oleh sania, kebesaran hati yang dimiliknya, mampu menerima semua yang disampaikan oleh ibunya tanpa berpikir itu akan berdampak dalam kehidupannya. Tetapi, Sania tetap kokoh untuk meminta restu, bagaimanapun restu ibu sangatlah penting dalam mewujudkan cita-cita ku itu.

Semua doa dan usaha tetal dilakukan, tetapi pendirian ibunya tetap tidak merestuinya, hingga akhirnya ibunya memberikan sebuah doa yang tidaik baik, tetap melanjutkan kuliah dengan sakit-sakitan atau bekerja untuk kebahagianku. Saat pilihan itu dijatuhkan, sungguh kepilauan hati mendalam, keduanya sangatlah penting, hingga pada akhirnya sania memilih untuk melanjutkan kuliahnya walaupun ia harus menerima dengan kondisi yang tidak sehat.

Satu bulan dari sembuhnya, Sania kembali terbaring di Rumah Sakit untuk melanjutkan perawatan yang lebih mendalam atas penyakit yang di deritannya, ibunya hanya menertawakan dan mengulangi perkataan yang dulu sempat tersampaikan untuk berhenti kuliah. Walaupun dalam keadaan sakit, Sania tetap pada pendiriannya, sampai ibunya lelah untuk membujuknya. Sania seorang gadis mandiri karena dalam sejarah hidupnya sania selalu belajar dalam menyikapi kehidupannya, teruntuk dia tinggal hanya bersama nenek. Semua ia lakukan sendiri, sampai  penyakit yang dialami itu harus diambil atau bisa di katakan harus dibuang dari tubuh.

Keputusan dokter saat itu membuat hati ini bimbang, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dia pilih, sedangkan ibunya tetap tidak merestuinya. Dengan kelapangan hati, Sania meminta restu kepada ibunya untuk menjalankan sebauh operasi untuk pengangkatan benjolan yang ada di pipiku saat itu, dan ibunya  merestuinya. Restu dari ibu dan nenek sangatlah penting dalam proses penyembuhanku.

Setelah berjalannya pengangkatan itu, sania kembali sehat walaupun harus sering ke Rumah Sakit untuk mengontrol kesehatannya, tak jadi masalah untuknya. Hari-hari sanai lakukan dengan penuh keikhlasan tanpa harus meminta lebih dari apa yang ibu berikan saat itu.

Malam itu, Sania memberanikan diri untuk meminta restu kembali, karena baginya dia menjalankan tugas sebagai siswa tanpa restu ibu tidak manfaatlah sebuah ilmu itu. Saat itu sania sudah menjalankan dua semester dalam perkuliahannya. Tetapi jawaban yang ditunggu-tunggu sania sama halnya jawaban ketika awal sania meminta restu, yaitu tidak di ijinkan untuk kuliah. Pada akhirnya sania mengalah demi ibunya.

Semua perjuangan yang telah dilakukan sania selama ini, harus berhenti begitu saja. Paitnya perjuangan sania lakukan dengan sebuah ketulusan dan kerendahan hati untuk menerimanya, karena baginya ibu sangatlah penting. Malam itu, sania hanya meminta kepada sang pencipta pemilik semesta alam ini, untuk memberikan sebuah kepastian yang haqiqi untuk kelanjutan perjuangnya itu. Permintaan saat itu, Sania hanya meminta untuk di sadarkan ibunya betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan sekarang atau kelapangan hati untuk aku menerima tidak melanjutkan pendidikan.

Hari demi hari ku jalani, hingga datangannya sebuah kabar bahagia, ibu merestui untuk melanjutkan perjuangnya demi pendidikan dan demi cita-cita. Sebuah kabar yang begitu baik dalam hidupku. Allah SWT tidak akan menghianati hamba_Nya ketika hamba_Nya mau merubah nasibnya sendiri.

Saat Sania semester tiga, ibunya selalu mendoakan yang terbaik untuknya, tak pernah terpikir oleh Sania untuk meminta uang kepada ibunya. Hari-hari di lalui dengan senyum cerianya, ia selalu mengisi kegiatannya dengan menambah teman dalam berorganisasi. Sania memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi hingga temanya yang baru dikenalpun merasakan sebuah kenyamanan, dan semua teman-temanya menyukai sania.

Setiap kenaikan semester, Sania selalu sakit. Sebuah keanehan belaka, mungkin itu berhubungan dengan kejadian dulu. Walaupun perkataan itu sudah dicabut bahkan dihilangkan, tetapi hukum alam tetap berlaku. Sania harus menanggung sakitnya demi perjuangannya yang begitu pait bisa dikatakan.

Hari-hari dilalui dengan penuh tantangan, namun hanya dijadikan sebagai makanan seharinya, untuk siap selalu dalam menyikapi kehidupan. Kehidupan yang begitu tajamnya, Sania harus selalu berperang dalam perjuangan. Hingga akhirnya, Sania lulus dan diwisuda S1 sesuai dengan cita-citanya yaitu S1 Guru PAI, dengan nilai yang begitu memuaskan.

Setelah menyadang S1, perjuangan Sania masih berlanjut. Sania melanjutkan karirnya dengan mudahnya diterima di berbagi jenjang sekolah karena komunikasi yang dia miliki sangat baik, hingga sukses membahagiakan keluarganya. Dengan karir yang begitu baik, Sania dipertemukan oleh seseorang pelengkap hidup bisa dikatakan sebagi teman untuk menemani di dalam perjuangnya, dan Sania merasa bersyukur bahwa perjuanganku dulu yang begitu pait terbayar dengan hasil yang memuaskan dan berbuah manis. Sania tetap melanjutkan perjuanganya dengan keluarga barunya, dan mereka menjadi keluarga yang begitu bahagia.

Biografi penulis:

Seli Fadriyah lahir di purbalingga, 09 februari 1998. Tempat tinggal Perum Babakan  Asri RT 35 / RW 09, kecamatana kalimanah, kabupaten purbalingga. Alumnus SMAN Padamara sekarang sebagai Mahasiswa S1 program studi PAI di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan IAIN Purwokerto. Ia nyantri di ponpes Ath-Thohiriyyah Parakanonje. Aktif di UKM ADIKSI dan UKM PIQSI. E-mail: selifadriyahseli@yahoo.com. Facebook : seli fadriyah. HP : 085732670183

Pesanku : Teruslah berjuang apapun yang terjadi, karena perjuangan itu nenyenangkan. Dan  rencanakan hidup kita dari sekarang, sebelum kita menjadi bagian dari rencana orang lain. Ubahlah senyum itu untuk dunia, bukan dunia yang akan merubah senyum itu. Semangat!!!

Share

Aji Qurrotu Ain Mengikuti MHQ Dalam Acara Rihlah Ilmiah se-Indonesia antar Ma’had Al-Jami’ah

Rabu, 09/05/2018. Aji Qurrotu Ain, salah satu satri Ponpes Ath-Thohiriyyah mengikuti Musabaqah Hifdzul Qur’an dalam acara Rihlah Ilmiah se-Indonesia yang diadakan di Universitas Islam Negeri Medan. MHQ tersebut diikuti 39 PTKIN se-Indonesia. Dalam perlombaan ini tentu sangat diharapkan Aji Qurrotu Ain, yang biasa disapa Aji kembali menyabet medali.

Share

Keunikan Kitab Kuning (1) Dari Yang “Gundul” Sampai Yang Tanpa Tanda Berhenti

Banyumas Pesantren-Keunikan Kitab Kuning (1)

Dari Yang “Gundul” Sampai Yang Tanpa Tanda Berhenti.

Kitab merupakan khazanah terpenting dalam tradisi intelektual Islam yang hingga kini terus dikaji. Tak hanya memiliki kandungan ilmu yang sangat berbobot, di sisi lain kitab kuning juga memiliki keunikan-keunikan yang tida terdapat pada buku-buku barat.

Sepanjang sejarahnya, Islam terkenal memiliki khazanah keilmuan dan tradisi intelektual yang luar biasa. Bahkan banyak negeri muslim yang pada era kejayaannya menjadi mercu suar peradaban dunia. Tengok saja Baghdad di era kejayaan Dinasti Abbasiyyah atau Cordova pada masa kejayaan Dinasti Umayyah II, yang termasyhur sebagai kota ilmu dan surga para pelajar dari seluruh dunia.

Belakangan tradisi tersebut berlanjut di beberapa kota di negeri-negeri muslim modern. Seperti Kairo di Mesir, Makkah serta Madinah dan Riyadh di Saudi, Qum dan Isfahan di Iran, Damaskus di Syiria, Islamabad dan Lahore di Pakistan, Khartoum di Sudan dan –tak lupa– Baghdad di Irak, sebelum kota bersejarah itu diluluhlantakkan oleh Perang Teluk. Namun sayangnya, kemercusuaran kota-kota muslim modern itu hanya sebatas pada ranah ilmu keagamaan saja. Sedangkan dalam ilmu-ilmu umum seperti kedokteran, tekhnologi, dan sains, kota-kota ilmu di negeri-negeri muslim modern baru mampu menjadi penonton saja.

Selain kemasyhuran madrasah-madrasah dan perguruan tingginya, pusat-pusat peradaban Islam masa lalu tersebut juga dikenal sebagai tempat lahirnya para ulama besar yang telah menghasilkan karya-karya besar dalam berbagai ranah keilmuan. Di antara karya-karya besar para ulama dan ilmuwan muslim yang paling fenomenal dan bisa terus dinikmati oleh generasi-generasi sesudah mereka, termasuk di negeri tercinta ini adalah yang berbentuk buku atau yang lebih lazim disebut kitab.

Menelisik kembali kitab-kitab karya ulama besar masa lalu sungguh merupakan suatu keasyikan tersendiri, bahkan bagi kalangan santri yang dalam kesehariannya sangat lekat dengan kitab-kitab tersebut. Selain karena kandungan keilmuannya yang laksana lautan, juga karena keunikan-keunikan yang melekat dalam sistem penulisan, cara penyampaian hingga tradisi pengkajian dan kritik serta komentarnya.

Dalam tradisi intelektual Islam, kitab-kitab karya ulama era kejayaan Islam biasa disebut al-kutub al-qadimah (kitab-kitab klasik), sebagai pembeda dengan karya tulis ulama modern yang biasa disebut al-kutub al-‘ashriyyah alias kitab-kitab modern atau kontemporer.

Sedangkan dalam tradisi pesantren di tanah air, kitab-kitab karya para ulama besar itu –baik yang klasik maupun modern—juga mempunyai sebutan lain, yakni kitab kuning.

Kitab Gundul
Selain perbedaan kurun penulisan, kitab-kitab klasik dan kitab kontemporer juga dibedakan dari cara penulisan. Kitab-kitab klasik biasanya ditulis secara sambung menyambung, dari awal sampai akhir kitab, tanpa tanda berhenti semacam titik, koma, dan sebagainya, atau dalam bahasa Jawa disebut ndlujur. Kitab-kitab klasik juga bisa ditulis tanpa syakl atau harakat (tanda baca atau sandangan,- Jawa red), seperti fathah, kasrah, dhammah, atau sukun, sama sekali. Karena tanpa tanda baca, kitab kuning juga biasa disebut kitab gundul.

Karena nyaris tanpa rambu-rambu itulah pembacaan kitab klasik sering dianggap sulit oleh sebagian orang. Yang menyulitkan juga, terkadang kata ganti dalam suatu kalimat (terutama dalam kitab-kitab fiqih) merujuk kepada subyek yang letaknya berhalaman-halaman di depannya. Ini tentu menuntut keterampilan dan kejelian tersendiri.

Sedangkan pada kitab-kitab karya ulama modern, penulisan isinya lebih sistematis, dengan membagi tulisan dalam bab-bab, pasal-pasal, dan alinea-alinea. Tentu lengkap dengan tanda berhenti seperti koma dan titiknya. Sebagian kitab modern juga sudah mencantumkan syakal atau harakat pada huruf-hurufnya, meski masih banyak juga yang tetap lebih suka menuliskannya dengan gundulan.

Ciri khas lain yang membedakan kitab klasik dengan kitab modern adalah dalam penjilidannya, meski belakangan cetakan terbaru kitab klasik juga sudah banyak yang dijilid ala kitab modern. Berbeda dengan kitab modern yang dijilid rapi dan indah sebagai satu kitab tebal, kitab-kitab klasik, terutama yang tidak terlalu tebal, lembaran-lembaran kertasnya tidak dijilid menjadi satu. Bahkan bisa dibilang sama sekali tidak dijilid.

Setiap sepuluh atau dua puluh lembar yang tercetak per empat halaman dilipat menjadi satu, berdasarkan urutan halaman dan kedekatan tema pembahasan. Setiap satu lipatan lembaran kitab disebut satu korasan. Biasanya, santri-santri yang akan mengaji kitab-kitab besar tidak membawa seluruh kitabnya, melainkan hanya korasan yang akan dikaji hari itu saja.

Yang tak kalah unik dalam kitab kuning adalah format penyusunan naskah. Dalam satu halaman kitab kuning bisa terdiri dari satu, dua atau tiga bagian naskah. Kitab-kitab dasar biasanya hanya terdiri dari satu naskah, yakni naskah inti atau matan. Sementara kitab kelas menengah biasanya terdiri dari dua bagian naskah, yakni matan dan syarah (penjelasan atau penjabaran matan). Pada kitab yang lebih besar lagi, dua bagian itu ditambah hamisy, catatan pendamping, baik yang merupakan penjelasan baru dari matan dan syarah yang sudah ada, maupun tulisan lain yang dianggap memiliki kesamaan ide dengan tulisan utama.

Berbeda dengan kitab bernaskah tunggal yang tata letaknya biasa, kitab bernaskah ganda disusun dengan cara yang unik. Setiap halaman dibuat dua bagian: bagian pinggir untuk matan kitab, dan bagian tengah dengan pembatas garis keliling untuk syarah. Karena berisi penjelasan matan, bagian syarah biasanya dibuat lebih besar.

Sedangkan pada kitab yang memiliki hamisy, matan dan syarah utama diletakkan di bagian tengah. Sementara bagian pinggirnya diisi oleh catatan pendamping yang terkadang merupakan keterangan dari syarah dan matan di tengah, terkadang juga berisi matan yang sama namun dengan syarah yang berbeda. Bahkan ada juga kitab yang hamisynya berisi kitab lain yang mengkaji tema yang sama.

Metode pengajaran kitab kuning di pesantren tradisional biasanya dilakukan dengan dua cara: sorogan dan bandungan. Pada sistem sorogan masing-masing santri menghadap dan membacakan halaman kitab yang dikaji di depan gurunya. Sang guru mendengarkan bacaan muridnya sambil sesekali membetulkan kesalahan dalam membaca atau menerjemahkan.

Menyebut Kedudukan Kata
Sedangkan pada sistem bandungan sekelompok santri duduk di hadapan seorang kiai dan mendengarkannya membaca serta menjelaskan isi kitab. Sesekali masing-masing santri memberikan catatan di kitabnya sendiri, baik yang berupa tanda baca, makna mufradat (kata perkata) atau keterangan yang dianggap penting lainnya.

Ada juga dua sistem lain yang belakangan populer di kalangan santri senior atau para kiai, yakni sistem jalsah (diskusi kelompok) dan halaqah (seminar). Biasa dua sistem pengkajian kitab ini dilakukan dalam bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, pembahasan masalah-masalah keagamaan kontemporer, yang kerap digelar oleh Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatannya.

Yang tak kalah menarik untuk ditelisik adalah cara membaca dan menerjemahkan kitab kuning ala pesantren tradisional yang berbeda dengan metode pembacaan kitab di pesantren modern atau di perguruan-perguruan tinggi di tanah air. Di pesantren modern, pembacaan dan penerjemahan kitab dilakukan per kalimat atau per paragraf, dengan bentuk terjemahan jadi atau kalimat sempurna. Sedangkan di pesantren tradisional, pembacaan dan penerjemahan dilakukan per kata dengan menyebutkan kedudukan kata tersebut menurut ilmu nahwu (grammar)-nya.

Misalnya dalam menerjemahkan kata alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Kalangan non santri tradisional akan langsung membacanya satu kalimat lengkap, baru diterjemahkan, “Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam”. Sementara di pesantren tradisional di Jawa, kalimat tersebut akan dibaca, “Alhamdu utawi sekabehane puji, iku lillahi kagungane gusti Allah, rabbil alamina kang mengerani piro-piro alam kabeh.” Atau dalam tradisi pengajian kitab ulama Betawi akan dibaca, “Alhamdu bermulanya segala pujian, itu lillahi kepunyaan Allah, rabbil alamina yang menguasai seluruh alam semesta.”

Meski tampak sederhana dan ndeso, sesungguhnya penerjemahan ala kaum santri itu membutuhkan keterampilan khusus dan pengetahuan dalam ilmu tata bahasa arab. Misalnya, penyebutan kata utawi atau bermula yang dalam penulisannya sering dilambangkan dengan huruf mim, menunjukkan bahwa kata alhamdu tersebut berkedudukan sebagai mubtada’ atau kata benda di awal kalimat (pokok kalimat?).

Demikian juga kata iku atau itu yang dilambangkan dengan huruf kha’ yang menunjukkan kedudukannya sebagai khabar. Atau kata kang (yang) yang menunjukkan kedudukan katanya sebagai sifat dari sang subyek kalimat. (bersambung)

Ahmad Iftah Sidik, (Santri Asal Tangerang)

Share