Category Archives: profil

Kartini dan Kiai Saleh (Menelisik Sisi Kesantrian RA Kartini)

Oleh Akhmad Saefudin: Raden Ajeng Kartini, atau tepatnya Raden Ayu Kartini, terlahir di Jepara (Jawa Tengah) pada 21 April 1879. Putri pasangan RM Adipati Ario Sosroningrat dan MA Ngasirah ini adalah pelopor kebangkitan wanita Indonesia, saat negeri ini di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Ia memperoleh gelar pahlawan nasional dari Presiden RI Soekarno, sebagaimana Keputusan Presiden Nomor 108/1964 tertanggal 2 Mei 1964.

Share

Profil Syaikh Su’ud Asy-Syuraim – Imam Besar Masjidil Haram

syaikh/shaikh syuraim/shuraim

“Tidaklah seseorang dikatakan sebagai orang yang termasuk pecinta dan pendengar setia Al-Qur’an Al-Karim, apabila ia tidak mengenal ‘Imam Besar Masjid al-Haram’, atau tidak mengenal suaranya di antara ratusan suara para imam yang ada… walaupun baik, indah dan istimewa suara mereka….
Tidak lain karena bacaan Syaikh Su’ud asy-Syuraim, memiliki khas tersendiri bagi kaum muslimin di timur ataupun barat…. “
download mp3 Quran Asy Syuraim
Beliau adalah termasuk salah satu imam, qori’ dan khatib Masjidil Haram yang populer lagi masyhur yang memiliki kedudukan tinggi dan didengar (nasihatnya) dikalangan masyarakat muslim. Kedudukan seperti itu merupakan kehormatan istimewa bagi imam-imam Masjidil Haram.

Kelahiran Beliau

Beliau adalah ‘Su’ud bin Ibrahim bin Muhammad Asy Syuraim’ dari Qohthan, sebuah kabilah yang berada di kota Syaqraa’ di daerah Najed, Saudi Arabia.
Beliau dilahirkan di kota Riyadh pada tahun 1386 H.

Perjalanan Ilmiyah Beliau

Beliau belajar di Madrasah ‘Urain ketika di tingkat ibtidaiyah, dan tingkat mutawasithah di Madrasah An-Namudzajiyah, kemudian tingkat tsanawiyah di ‘Al-Yarmuk asy-Syamilah, dan selesai dari Madrasah tersebut tahun 1404 H. kemudian melanjutkan di kuliah Ushuluddin di Universitas Muhammad Ibnu Su’ud Al-Islamiyah di Riyadh jurusan Aqidah dan al-Madzhab al-Mu’shirah, selesai tahun 1409 H. kemudian beliau melanjutkan ke tingkat Megester tahun 1410 H. di Ma’had al-Ali lilQadha’ selesai tahun 1413 H.

Guru-Guru (Masyayikh) Beliau

Syaikh Su’ud Asy-Syuraim juga belajar khusus (talaqqi) kepada para masyayikh terkemuka di halaqah-halaqah mereka, diantaranya:
Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, berbagai matan kitab ketika halaqah ba’da subuh di masjid Jami’ Al-Kabir Riyadh.
Syaikh al-Allamah Abdullah bin Abdurrahman bin Jibriin Hafizhahullah, dengan kitab Manarus Sabiil tentang fiqh, Al-I’tisham karya Imam Asy-Syathibi, Lum’atul I’tiqad, karya Ibnu Quddamah, kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan Fiqh al-Ahwaal asy-Syakhshiyyah di Ma’had ‘Ali lilQadhaa’ ketika beliau mengambil magester.
Beliau juga membaca kitab ‘Hasyiah ar-Raudh al-Murbi’ tentang fiqh madzhab Hambali, dan Tafsir Ibnu Katsir’ dihadapan Syaikh al-Faqiih Abdullah bin Abdul Aziz bin ‘Aqiil (agar beliau menyimaknya)
Demikian pula beliau juga talaqqi kepada Syaikh Abdurrahman al-Barrak, dengan kita Ath-Thahawiyah, dan At-Tadmuriyah.
Kepada Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi, tentang Syarh kitab Ath-Thahawiyah
Kepada Syaikh Fahd al-Humain, juga tentang Syarh kitab Ath-Thahawiyah
Syaikh Abdullah al-Ghudyan (anggota hai’ah kibaril ulama) tentang ‘al-Qawaid al-Fiqhiyah, kitab al-Furuuq, ketika masih belajar di Ma’had ‘Ali lilQadaa’
Dan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan (anggota hai’ah kibaril ulama), tentang Fiqh albuyu’ (jual beli) ketika masih belajar di Ma’had ‘Ali lilQadaa’.

Pintu yang Terbuka dan Lapang Dada

Sudah masyhur bahwa Syaikh Su’ud Asy-Syuraim adalah seorang qori’ yang mutqin terhadap al-Qur’an al-Karim, yang mana hal itu disaksikan oleh setiap yang shalat dibelakang beliau, beliau juga dikenal sebagai orang yang betul-betul menuangkan seluruh waktunya ketika masih muda hanya untuk menghafal dan menjaga al-Qur’an. Sampai-sampai beliau hafal surat an-Nisaa’ ketika beliau menunggu dilampu merah.
Demikian pula siapa saja dapat menemui beliau dengan mudah untuk bertanya atau meminta fatwa darinya, yaitu dengan memasuki ruanganya di Masjidil Haram setelah shalat dzuhur. Maka akan didapati penyambutan beliau yang begitu lapang dada, penuh perhatian, dan jawaban yang menenangkan hati.

Sekilas Tentang Beliau

Pada tahun 1412 H. datanglah intruksi Khadimul Haramain yang menunjuk beliau sebagai imam, khatib di Masjidil Haram.

Dan pada tahun 1413 H. beliau ditunjuk oleh Raja untuk menjabat sebagai Qodhi di al-Mahkamah al-Kubra di Makkah al-Mukarramah.

Pada tahun 1416 H. beliau meluangkan waktunya untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Ummul Qura untuk jenjang Dukturah (Doktor), dan beliau mendapatkan nilai ‘Mumtaz’ (istimewa/ summacumlaude) dengan disertasi yang berjudul “Al-Masalik fi al-Manasik Makhzduzdun fi al-Fiqh al-Muqarin lil Kirmani”… dan musyrif pada disertasinya tersebut adalah Syaikh Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Mufti ‘Aam Kerajaan Saudi Arabia dan ketua Hai’ah Kibaril Ulama.

Dan pada tahun 1414 H. dikeluarkan kesepakatan dengan menugaskan beliau untuk mengajar di Masjidil Haram.

Karya Beliau

Beliau memiliki banyak karya tulis diantaranya :
Kaifiyah Tsubutin Nasab
Karamaatul Anbiyaa’
Al-Mahdi al-Muntazhar ‘Inda Ahlis Sunnah Wal Jama’ah,
Al-Minhaaj Lil ‘Umrah wal Hajj,
Wamiidhun Min Al-Haram (Majmu’atu Khuthab),
Khalish al-Jimaan Tahzdib Manasik al-Hajj min Adhwaa’il Bayaan
Ushulul Fiqh Su’aal wa Jawaab,
At-Tuhfah al-Makkiyah Syarh Ha’inah Ibn Abi Dawud al-‘Aqdiyyah
Dan Hasyiah ‘Ala Laamiyah Ibn al-Qayyim.

Sumber : A’immatul Masjid al-Haram wa Mu’adzdzinuuh, karya Abdullah Az-Zahraani & Alsofwah.or.id

Share

Abuya KH. Mohammad Thoha ‘Alawy Al-Hafidz

Biografi-Berikut catatan KH. Muhammad Thoha Alawy mengenai perjalanan hidupnya, sebagaimana dikisahkan kepada kontributor Al-Kisah, Akhmad Saefudin.

Saya lahir di Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah 1953. seperti umumnya anak-anak desa waktu itu, saya pun belajar di bangku SD (Sekolah Dasar, dulu disebut sekolah rakyat) pada siang hari, dan belajar di Madrasah Diniyyah pada sore hari. Karena terbentur kesulitan ekonomi, saya tidak sempat mengikuti ujian akhir.
Ketika teman-teman melanjutkan sekolah, mondok, atau nyantri di lain daerah, saya merasa iri. Karena itu suatu hari saya nekat lari dari rumah menuju Semarang, lalu menumpang kereta api ke Surabaya. Yang ada di benak saya waktu itu adalah Pesantren Tremas (Pacitan), Pesantren Tebuireng (Jombang), dan pesantren lain di Jawa Timur. Karena tidak ada bekal dan belum punya pengalaman, saya bingung, lalu kembali lagi ke Semarang.
Ternyata, tanpa sepengetahuan saya, desa Rejosari, orang-orang geger, karena selama beberapa hari saya menghilang tanpa pamit, dan tanpa kabar sama sekali. Semuan anggota keluarga waswas, mencari saya ke sana-kemari. Tiba-tiba, di sebuah tempat di Semarang, saya terkejut. Saya disergap dari belakang. Tapi, alhamdulillah, ternyata yang menyergap adalah ayah saya sendiri, (alm). Bapak Jahudi bin Badi. Saya pun dibawa kembali pulang.
Dari kejadian itu Ayah mengetahui bahwa saya punya niat yang besar untuk mondok di pesantren. Maka keinginan saya itu terpenuhi, lalu saya dikirim ke pesantren Futuhiyyah Mranggen (Demak) asuhan KH. Muslih. Di Mranggen itulah saya belajar berbagai ilmu keagamaan di Madrasah Tsanawiyyah dan Madrasah Aliyah.
Karena tidak ada biaya untuk mondok, selama duduk di bangku kelas II Aliyah saya trpaksa nglaju, pulang pergi, dari rumah ke pesanten. Menjelang kelas III Aliyah, ketika pesantren mulai menerapkan kurikulum nasional, lagi-lagi saya terbentur dengan soal biaya. Saya tak mampu membeli buku, sehingga tidak tamat Aliyah. Setelah nyantri di Mranggen, saya putuskan untuk khusus mengaji Al-Qur’an.
Pilihan saya adalah Kudus. Tepatnya di Bendan. Disitu saya ngaji dengan Mbah Arwani, Mbah Hisyam, dan Mbah Wahab, sekitar 1,5 tahun. Belum sampai khatam hafalan Al-Qur’an, saya pindah ke Semarang dan berguru kepada Kiai Abdullah Umar, Kauman, selama setahun, sejak 1972 sampai 1973, hingga hafalan Al-Quran saya khatam.
Setelah dari Semarang saya meneruskan belajar kitab kuning di Batokan, Kediri, Jawa Timur, kurang lebih dua tahun, dari 1976. dan selama dua tahun berikutnya, saya berusaha dan belajar mandiri, antara lain berdagang beras dan kedelai, memenuhi pesanan beberapa daerah. Hasilnya lumayan.
Dari hasil dagang itu saya sempat menabung danmembelisepeda. Tapi akhirnya saya jual, untuk memuat paspor, buat menunaikan ibadah haji sekaligus kalau bisa mengaji di Makkah. Dengan tabungan dan sedikit tambahan dari orang tua, pada 1978 akhirnya saya beragkat umrah.
Rencana tersebut mula-mula hanya secara diam-diam saya utarakan kepada kakak-kakak perempuan saya. Ternyata hal itu terciu oleh Ayah, dan alhamdulillah beliau mendukung. Ayah menjual sebagian sawah untuk bekal.
Di Tanah Suci, sejak 1978 hingga 1980, saya berguru kepada Syaikh Ismail, Syaikh Abdullah Al-Hajj, dan Syaikh Ali Yamani, saya mendapat iqamah (visa) untuk tinggal di Makkah. Pada tahun 1981 saya pulang untuk menikah, tapi dua bulan kemudian, kami berdua kembali ke Makkah. Di sana anak pertama dan kedua lahir. Beberapa tahun kemudian, 1986, kami pulang dan menetap di Purwokerto.
Alhamdulillah, selama delapan tahun di Makkah setiap tahun saya dapatmenunaikan ibadah haji. Pulang dari Makkah, sayamulai kedatangan satu-dua orang santri. Tentu berkat izin Allah SWT jualah Pesantren Ath-Thohiriyyah tumbuh dan berkembang sebagai salah satu syiar untuk menegakkan kalimah-Nya.

Share

Imam Nawawi Al-Bantani

syaikh nawawi al bantani al jawi

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Al-Bantani Al-Jawi. Lahir di Tanara, Banten (Jawa Barat) Indonesia. Ayahandanya seorang ulama yang sangat alim, tokoh masyarakat, dan pernah menjadi penghulu di Kecamatan Tanara.

Setelah belajar ilmu agama kepada ayahandanya, Nawawi bersama dua saudaranya (Tamim dan Ahmad) meneruskan thalabul ilmi-nya kepada Kiai Sahal, seorang ulama yang masyhur di Banten pada saat itu. Tiga serangkai ini, kemudian melanjutkan belajar ke Purwakarta, Karawang, di tempat KH Raden Yusuf (salah seorang pengasuh pesantren besar yang menarik perhatian santri dari seluruh Jawa, khususnya Jawa Tengah).

Pada usianya yang masih muda, tiga serangkai ini melakukan ibadah haji, dan kemudian Muhammad Nawawi bermukim di Makah selama 3 tahun. Setelah pulang, pemuda Nawawi ini berencana kembali untuk bermukim di Makah lagi. Pada akhirnya rencana Nawawi dapat terlaksana sehingga ia bermukim di sana selama 30 tahun.

Saat di Makah Al-Mukarramah, beliau belajar pertama kalinya dengan Syaikh Khatib Sambas, Syaikh Abdul Ghani, juga ulama besar dari Mesir yaitu Syaikh Yusuf Samlawani, dan Syaikh Nahrawi, serta Syaikh Abdul Hamid Dagastani. Kepada yang disebut terakhir ini, Muhammad Nawawi belajar bersama-sama para ulama lain sampai sang guru wafat.

Selaku ulama yang tinggal di Makah Al-Mukarramah, Imam Nawawi yang juga hafal Al-Qur’an ini menghabiskan seluruh waktunya untuk mengajar. Proses belajar mengajar dilakukan di pesantrennya sendiri (rumahnya, pen). Sedang para santri sebagian besar terdiri dari para muqimin dari Indonesia, antara lain Abdullah, adik kandung yang sepanjang hidupnya dididik oleh beliau sendiri.

Selaku mutashawwif (pelaku tasawuf), Imam Nawawi hidup sederhana. Busana yang dikenakan sangat sederhana, serban yang dipakainya waktu mengajar para santri dalam ruangan yang luas sekali pada lantai pertama rumahnya. Demikian pula busana di waktu keluar rumah, menurut ukuran masyarakat Makah waktu itu sama sekali tidak mencerminkan kemewahan dalam pada posisinya yang terhormat selaku ulama besar.

Seorang Orientalis berkebangsaan Belanda yang juga Islamolog bernama Prof. Dr. Snouck Hurgronje, dalam kunjungannya ke Makah dengan pura-pura mengaku Muslim selama 6 bulan (tahun 1884/1885), sempat juga bertemu dan menyaksikan kehidupan Imam Nawawi secara langsung. Untuk mengabadikan pengetahuannya tentang Makah ini, ia menulis buku “Mecca In The Part Of The 19th Century”, diterbitkan oleh E.J. Brill, Leiden, tahun 1931. Pada halaman 268-273, ia membuat catatan tentang Imam Nawawi. Menurut kutipan berbahasa Indonesia yang dilakukan oleh Dr. Karel A. Steenbrink dalam bukunya “Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19”, Snouck menyatakan dalam catatan diatas antara lain: “Badannya (Imam Nawawi, pen), yang bengkok memperlihatkan orang yang masih lebih kecil dari kenyataannya; dia berjalan seolah-olah seluruh dunia adalah suatu kitab besar, yang dia asyik membacanya…”.

Dalam suatu kesempatan, Snouck Hurgronje mewawancarai Imam Nawawi: “Mengapa tuan tidak mengajar di Masjidil Haram?” Beliau menjawab, Pakaian kami jelek. Dan diri kami belum sesuai dengan kemulian seorang ulama bangsa Arab”. Kemudian Snouck bertanya lagi, “Toh banyak guru yang ilmunya belum sedalam tuan tapi juga turut mengajar di Masjidil haram?!. Beliau menjawab, “Kalau memang mereka diijinkan mengajar di sana, pastilah mereka cukup berjasa untuk itu!”.

Dari jawaban Imam Nawawi seperti ini, Snouck belum mau menyimpulkan bahwa beliau itu seorang yang tawadlu’. Bahkan juga dari pertanyaan Imam Nawawi sendiri sebagai berikut: “Saya adalah debu yang melekat pada orang-orang yang mencari ilmu…”. Tapi dari praktek hidupnya, kata Snouck, baru betul dibuktikan pasti bahwa dia (Imam Nawawi, pen), adalah orang yang rendah hati.

Dalam bidang tasawuf, ulama besar ini mempraktekkan tasawuf Imam Ghazali, dimana menitik beratkan segi akhlaq (etika) dalam bentuk yang realistis. Sedang dalam bidang fiqh seperti Al-Ghazali juga, beliau menganut madzhab syafi’i.

Kalau ada orang yang memohon nasehatnya di bidang fiqh, Imam Nawawi tidak pernah menolaknya. Akan tetapi dalam pergaulan dan bicara sehari-hari, beliau biasa-biasa saja dan tidak suka mendominasi percakapan. Beliau juga tidak berkenan memberikan munadharah (diskusi ilmiah) sebelum orang lain mengajaknya. Di bawah wibawa dan bimbingannya, semakin lama semakin banyak orang Sunda, Jawa, dan Melayu mempelajari agama Islam secara mendalam.

Di tanah Arab, beliau digelari dengan Saiyyidu Ulamai Al-Hijaz (pemuka Alim Ulama negeri Hijaz), sedang di Indonesia dikenal dengan Imam Nawawi Banten atau Kiai Nawawi Banten. Ulama terhormat ini wafat di Makah tahun 1315 H./1890 M.

Imam Nawawi termasuk deretan para ulama besar dalam Islam, dan secara khusus dikenal dengan ulama ahli tafsir, tauhid, bahkan juga tashawwuf. Pada zaman sekarang banyak kitab karya beliau yang diterbitkan oleh penerbit. Semuanya tersusun dengan bahasa Arab. Dan pada umumnya kitab beliu menjadi bahan pengajian yang tidak ditinggalkan di setiap pesantren. Diantara kitab tersebut antara lain: 1). Tafsir: Marah Labied Li Kasyfi Ma’na Qur’an Majied. 2). Tauhid: Qathr Al-Ghaits Fi Syarh Masaili Abi Laits, Bahjat Al-Wasail li Syarhi Masail, Fath Al-Majid, Qami’ Ath-Tughyan. 3). Fiqih: Ats-Tsimar Al-Yani’ah, Sulam Al-Munajat, Kasyifat Asy-Syajah, Uqud Al-Lujain, Mirqat Shu’udi Al-Tasdhiq. 4). Tasawwuf: Salalim Al-Fudhala’, Maraqi Al-‘Ubudiyyah, Nashaih Al-‘Ibad. Semoga amal jariyah beliau selalu mengalir pada setiap zaman dan sampai akhir hari qiyamah. Al-Fatihah. Wallahu A’lam.

Disadur dari berbagai sumber oleh: M. Sa’dullah (Staf pengajar pesantren Ath-Thohiriyyah Purwokerto, Banyumas.)

Share