Category Archives: Uncategorized

Pagelaran Seni Anak Islam Pesantren Ath-Thohiriyyah 2010

Banyumas Pesantren-Pagelaran Seni Anak Islam Ath-Thohiriyyah 2010

Dalam rangka menyemarakkan Akhirussanah, Khotmil Qur’an Wal Kutub dan Haul KH. Muhammad Sami’un Ke-38, Pondok Pesantren Ath-Thohiriiyyah Purwokerto akan menyelenggarakan Pagelaran Seni Anak Islam dengan tema ”Membangun Mental Generasi Yang Kreatif, Disiplin, Bermoral, Berbudaya Islami dan Peduli ” dan Donor Darah. Rincian perlombaaan sebagai berikut:

A. Jenis Lomba
1. Lomba Kaligrafi Islam
2. Lomba Pidato
3. Lomba Puisi Terjemah Juz Amma
4. MTQ

B. Ketentuan Lomba
1. Lomba Kaligrafi
a. Kalimat yang ditulis ditentutukan oleh panitia.
b. Menggunakan khat wajib (Naskhi), dan pilihan (Farisi, Riq’ah dan Kufi).
c. Membawa alat tulis sendiri.
d. Kertas gambar disediakan oleh panitia
e. Durasi waktu maksimal 2 jam.
f. Aspek penilaian meliputi: keindahan, kerapian, dan kaidah khat.

2. Lomba Pidato
a. Memakai pakaian yang sopan (muslim dan muslimah).
b. Durasi waktu maksimal 10 menit.
c. Bahasa mudah di mengerti.
d. Isi pidato sesuai dengan tema yang ditentukan oleh panitia.
e. Tema pidato meliputi: Isro’ Mi’roj dan Bulan Ramadhan.
f. Aspek penilaian meliputi: penampilan, vokal, isi pidato, adab dan penguasaan panggung.

3. Lomba Puisi Terjemah Juz Amma
a. Peserta wajib membawakan puisi wajib dan puisi pilihan
b. Durasi waktu maksimal 10 menit.
c. Aspek penilaian meliputi: vokal, penampilan, penghayatan dan kesesuaian puisi dengan isi surat.

4. Lomba MTQ
a. Surat yang dibaca bebas
b. Ketepatan waktu (maksimal 10 menit).
c. Aspek penilaian meliputi: adab, tajwid, fasahah, dan lagu.

5. Kakang-Mbakyu
a. Menggunakan kostum khas Indonesia (nuansa Islami)
b. Memiliki wawasan tentang Banyumasan
c. Dapat berdialek ala Banyumas
d. Memperkenalkan diri dengan dialek Banyumas

C. Persyaratan mengikuti lomba:
1. Peserta adalah santri TPQ/TPA/TKQ Eks Karisidenan Banyumas.
2. Peserta adalah santri TPQ/TPA/TKQ yang berumur 6-11 tahun.
3. Peserta hadir 15 menit sebelum acara dimulai.
4. Peserta mengisi formulir pendaftaran.
5. Kejuaraan diambil juara 1, 2, 3, dan juara umum.
6. Pengumumam lomba setelah selesai perlombaan.
7. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.
8. Setiap TPQ/TPA mengirimkan maksimal 2 peserta (puta/putri).
9. Membayar uang pendaftaran Rp. 30.000,-
10. Tehnical Metting tanggal 18 Juli 2010.

D. Waktu dan Tempat
Pagelaran Seni Anak Islam akan dilaksanakan: Ahad, 25 Juli 2010 di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Pukul : 07:30-Selesai.
Alamat: Jl. KS. Tubun Gg. Masjid No 31 RT 3 RW 5 Karangsalam Kidul, Kedung Banteng, Purwokerto, 53152. Telp: 0281 626042 Email:pesantrenku@gmail.com

Kontak Person:

Shohibul Hidayat (085 727 339 362)
Dian Nur Hidayah (085 642 094 611)
Dzul Qurnain (081 391 162 919)

Share

KH. Drs M. Dian Nafi’ M. Pd: Rasul dan Negeri

Pesantren Banyumas-Rasul dan negeri

Bahkan para rasul pun mencintai negerinya. Nabi Hud AS diutus untuk negeri Kaum ‘Ad. Nabi Shaleh AS diutus untuk negeri Kaum Tsamud dan Nabi Syu’aib AS untuk negeri Madyan (QS Al-A’raf: 65, 73 dan 85).

Para rasul itu diutus untuk negeri atau kaum tertentu hingga Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh negeri dan bangsa.

Tugas para rasul adalah menyampaikan risalah dari Allah SWT. Isinya panduan utama untuk menjalani hidup agar selamat dunia dan akhirat. Yang sama dari semua rasul adalah misi untuk membangun keimanan dan akhlak yang mulia. Pintu masuk kepada misi utama itu beragam sesuai dengan persoalan pokok dalam hidup kaum yang dibimbing. Dengan cara itu, kesesuaian isi ajaran lebih mudah dipahami dan lebih langsung memperbaiki kehidupan mereka. Dari Abu Hayyan Al-Andalusi dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith, kita mengambil pelajaran ini (Juz 5: 384-402).

Nabi Hud AS mengajak umat beliau menyembah Allah. Saat itu, umatnya bergelimang dengan kemegahan dan kemewahan duniawi sehingga abai terhadap ketuhanan, spiritualitas dan kehidupan selanjutnya.

Kemakmuran membuat mereka lupa bahwa dulu, nenek moyang mereka diselamatkan oleh Allah SWT melalui kapal Nabi Nuh AS.

Nabi Shaleh AS juga diutus kepada anak keturunan Nabi Nuh AS yang lain, yaitu bangsa Tsamud. Beliau mengajak kaumnya untuk menyembah Allah SWT. Waktu itu, kaum Tsamud telah mencapai taraf ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Mereka mampu memotong-motong bebatuan keras sebagai bahan bangunan dan berhasil membangun perkampungan hebat di lembah-lembah (QS Al-Fajr: 9).

Mereka bangga nenek moyangnya menjadi bagian dari umat manusia yang diselamatkan dan berhasil maju. Kebanggaan itu melenakan mereka dari ketuhanan dan keluhuran, lupa bahwa kecerdasan rasional dan alam material ini disediakan-Nya untuk mempertinggi derajat spiritual mereka sebagai manusia.

Nabi Syu’aib AS adalah teladan yang sesuai dengan situasi kompetisi sampai sekarang. Negeri Madyan ini terbentuk dari suku-suku yang lahir dari anak keturunan Nabi Ibrahim AS. Waktu itu, bangsa Madyan merasakan berkah Allah SWT karena lokasi negeri mereka berada di jalur perlintasan antara Yaman dan Hijaz di selatan dengan Syam-Suriah sekarang—di utara dan Eropa di barat laut. Sayangnya, banyak pedagangnya curang dalam menimbang dan menakar.

Perdagangan yang sehat mempersyaratkan kepastian timbangan dan takaran. Citra bangsa terbangun jika standar yang diakui di banyak negara ditaati. Seruan Nabi Syu’aib AS sesuai hingga kini, “Sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya,” (QS Al-A’raf: 85).

Para rasul itu mencintai negeri mereka. Kecintaan itu berkembang sampai ke masa Nabi Muhammad SAW. Konsep negara bangsa lahir dari perjuangan beliau melalui Piagam Madinah. Kecintaan para rasul kepada negeri-negeri tidak lepas dari bimbingan ilahi.

Oleh : H Dian Nafi’ Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Muayyad, Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo

Sumber:http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h17&id=85467

Share

MTQ dan Syiar Qur’ani

MTQ dan Syiar Qur’ani

Ibarat sebuah umur anak manusia, gerakan syiar Alquran di Indonesia modern melalui penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), kini telah memasuki masa-masa kedewasaan diri. Sejak pertama digulirkan pada 1968, MTQ kini telah memasuki usia 42 tahun. Yakni, sebuah usia yang menjadi penanda tingkat kematangan diri.

Sebagaimana slogan yang umum dipahami banyak orang, life begins at fourty (kehidupan sebenarnya dimulai pada usia 40 tahun). Pelaksanaan MTQ Nasional ke-23 di Bengkulu (5-12 Juni 2010), menjadi sangat penting untuk menjadi momen bagi ekspresi tingkat kedewasaan syiar Alquran. Dan, tentu saja bahwa momen kematangan diri syiar Alquran ini menuntut dilakukannya refleksi untuk proses syiar Alquran ke depan.

Untuk tidak mengatakan sukses besar, tetapi sebagai sebuah prestasi, gerakan syiar Islam melalui MTQ adalah bergeraknya tren ke atas sebagai kepercayaan diri masyarakat Muslim terhadap kebutuhan untuk memahami Alquran. Standar paling minimal adalah kecenderungan untuk merasa malu jika dalam perkembangan saat ini ada di antara mereka yang masih tidak bisa membaca Alquran.

Artinya, ada fenomena pengembangan tingkat kesalehan individu masyarakat melalui peningkatan indeks literasi terhadap Alquran. Dengan kata lain, kesalehan mulai diderek dengan kemampuan untuk bisa mengakses untaian kalam ilahi dalam Alquran yang tertulis dalam bahasa Arab. Dalam kerangka ini, MTQ telah menderek munculnya gairah, tidak saja dari sisi masyarakat untuk mengakrabi Alquran, tetapi juga upaya-upaya sistemis di kalangan ilmuwan Muslim untuk memfasilitasi tingginya gairah publik dimaksud.

Bahkan, Pemerintah Indonesia sendiri pun turut terlibat dalam memfasilitasi tingginya gairah masyarakat untuk mengakrabi Alquran. Buktinya, pemerintah melalui Departemen (kini Kementerian) Agama telah mendirikan percetakan Alquran. Pada 15 November 2008, Menteri Agama saat itu meresmikan pendirian percetakan Alquran di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, di hamparan tanah seluas 1.530 meter persegi dengan dana sebesar Rp 30 miliar.

Respons positif pemerintah terhadap tingginya gairah masyarakat untuk mengakrabi Alquran tersebut di atas juga tidak lepas dari perhatian yang besar di kalangan ilmuwan studi Alquran untuk berijtihad dalam kerangka mempermudah upaya masyarakat untuk lebih akarab dengan Alquran. Berbagai upaya penemuan metode mempercepat proses belajar Alquran, mulai dari sekadar membaca hingga menghafal, pun dilakukan.

Dari sisi teknik pengembangan keterampilan membaca Alquran, sebagai misal, lahir beberapa metode khas Muslim Indonesia. Sudah lama menjadi catatan sejarah bahwa salah satu metode tertua dalam meningkatkan penguasaan keterampilan membaca Alquran adalah metode Baghdadi yang ditemukan Abu Mansur Hafzul Fikkir di Bagdad, Irak, pada 998.

Kemudian, di Indonesia metode ini diperbarui dan dikembangkan pada 1963 oleh KH Dachlan Salim Zarkasyi, ulama dari Semarang, melalui penciptaan metode tartil pada 1989. Diciptakan pula metode iqra’ oleh ulama dari Kotagede, Yogyakarta, KH As’ad Humam. Dikemas ke dalam enam jilid buku, metode baca cepat Alquran ini sangat populer hingga pernah dipakai di hampir seluruh taman kanak-kanak Alquran seluruh Indonesia.

Selain itu, ternyata ijtihad untuk mempermudah masyarakat untuk mengakrabi Alquran, tidak saja bermuara pada penemuan tata cara baca cepat dan praktis Alquran, tetapi juga penciptaan metode praktis dan cepat memahami nilai-nilai Islam yang dikembangkan melalui untaian kalam ilahi yangtertulis dalam Alquran serta pesan-pesan Islami yang dikembangkan melalui kitab-kitab berbahasa Arab. Dua metode patut dikutip di sini.

Yakni, metode Granada yang diciptakan oleh Solihin Bunyamin Ahmad dan metode Amtsilati karya Taufiqul Hakim. Melalui kedua metode ini, masyarakat saat ini semakin dipermudah untuk bisa memperdalam pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Islam dalam Alquran dan kitab-kitab berbahasa Arab. Harus diakui, upaya-upaya ijtihad pemerintah dan berbagai ilmuwan studi Alquran tersebut di atas tidak bisa dipisahkan untuk beberapa derajat dari gebyar syiar Islam melalui MTQ Nasional.

Dengan kata lain, gebyar syiar Islam melalui penyelenggaraan MTQ Nasional menjadi kristalisasi atas berbagai upaya untuk mendekatkan masyarakat pada ajaran Alquran. Internet untuk Alquran, jika pemerintah saat ini menggalakkan program pendidikan usia dini (PAUD), di internal masyarakat Muslim Indonesia sendiri sebetulnya telah lama muncul konkretisasi atas kesadaran terhadap pentingnya pendidikan usia dini dimaksud.

Konkretisasi tersebut mewujud dalam bentuk penyelenggaraan taman pendidikan Alquran untuk anak-anak dengan berbagai versinya, mulai dari TPA, TPQ, hingga pendidikan diniyah. MTQ Nasional menjadi kanalisasi dari munculnya greget penyelengaraan pendidikan Alquran untuk anak-anak dengan berbagai variasinya di atas. Ia telah menjadi penyedia lahan subur bagi tumbuhnya gairah generasi muda Muslim Indonesia untuk lebih meningkatkan keterampilan baca Alquran dan memperdalam pengetahuan atas ajaran yang dikandung di dalamnya.

Namun, terlepas dari berbagai cerita sukses dari gebyar syiar nilai-nilai Alquran melalui MTQ Nasional di atas, perlu dipikirkan upaya untuk semakin meningkatkan fasilitasi terhadap pengembangan kemampuan baca Alquran dan pendalaman pemahaman atas ajaran-ajaran yang dikandungnya seiring dengan pesatnya perkembangan dunia teknologi informasi. Isu sentralnya adalah perlunya dikembangkan konsep internet untukAlquran.

Yakni, bagaimana perkembangan produk teknologi informasi berupa internet bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan kemampuan baca Alquran dan pendalaman pemahaman atas ajaran-ajaran yang dikandungnya. Pesatnya perkembangan teknologi informasi merupakan sebuah fakta sejarah yang tidak bisa ditolak oleh masyarakat Muslim. Alih-alih, justru harus dimaksimalkan upaya ijtihad untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dimaksud untuk kepentingan syiar Islam melalui pengembangan kemampuan baca Alquran dan pendalaman pemahaman atas ajaran-ajaran yang dikandungnya.

Dengan begitu, perkembangan teknologi informasi akan bermanfaat bagi masyarakat Muslim dan bukan justeru membahayakan kehidupan mereka. Pengembangan konsep internet untuk Alquran tersebut di atas, di antaranya bisa diwujudkan melalui penciptaan program dan software pembelajaran Alquran berbasis komputer dan atau online yang bisa diakses oleh sebanyak mungkin anggota masyarakat.

Kepentingan dari penciptaan program dan software pembelajaran Alquran ini sangat praktis, namun berpengaruh besar, yakni di antaranya untuk pengembangan kemampuan baca Alquran dan pendalaman pemahaman atas ajaran-ajaran yang dikandungnya.
Akh Muzakki
(Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya)
Sumber: http://koran.republika.co.id/koran/24/112745/MTQ_dan_Syiar_Qur_ani

Share

Undangan Haul KH. Muhammad Sami’un Ke-38, Haflah Akhirussanah, dan Khotmil Qur’an Wal Kutub 2010

Banyumas Pesantren-Haul KH. Muhammad Sami’un Ke-38, Haflah Akhirussanah, dan Khotmil Qur’an Wal Kutub 2010

Kepada Yang Terhormat.
Bapak/Ibu/Saudara/I /Alumni Pesantren Ath-Thohiriyyah Purwokerto

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/I/Alumni pada acara HAUL KE-38 K.H. MUHAMMAD SAMI’UN, AKHIRUSSANAH dan KHOTMIL QUR’AN WAL KUTUB, Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Purwokerto dengan ketentuan sebagai berikut :

Hari : Ahad Legi, 1 Agustus 2010 M/20 Sya’ban 1431 H

Waktu : Pukul 08.00 WIB-Selesai

Tempat :Komplek Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah
Karangsalam Kidul, Purwokerto

Pembicara : K.H. R.A. Dawud Muclas Syamsuri, S.Pd, (Pengasuh Pesantren Al-Muttaqin, Pangenrejo, Purworejo).

Demikian undangan ini kami sampaikan, atas kehadiran bapak/Ibu/Saudara/I, kami sampaikan Jazakumullah Khairan Katsira.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Panitia Pelaksana,

Zakaria Romadhon
Ketua Haflah 2010

NB: Intruksi dari Pengasuh: Seluruh Alumni Tahfidz Putra/Putri diwajibkan untuk mengikuti Sema’an 2 majlis pada hari: Sabtu, 31 Juli 2010. Pukul 06:00. sampai selesai.

Manual Acara:

1. Ahad. 25 Juli 2010. Pukul: 08.00 WIB – Selesai: Pagelaran Seni Anak Islam Se- Eks Karisidenan Banyumas

2. Senin, 26-30 Juli 2010. Pukul: 20.00 WIB – Selesai: Pembukaan MHQ dan MQK Tafsir Jalalain Santri PP. Ath-Thohiriyyah

3. Sabtu, 31 Juli. Pukul: 2010 06.00 Wib – Selesai: Sema’an al-Qur’an 2 Majlis. Pukul: 15.00 Wib: Ziarah Kubur K.H. Muhammad Sami’un. Pukul: 2010 20.00 WIB: Lailatul Muwadda’ah dan Temu Alumni PP. Ath-Thohiriyah dengan Pengasuh

4. Ahad, 1 Agustus 2010 08.00 WIB –Selesai: Khatmil Quran Wal Kutub, Haul dan Pengajian Akbar.

Manual Acara:

* Prosesi Khotmil Qur’an dan Tahlil
* Pembukaan:
a. Pembacaan Ayat Suci al-Quran dan Shalawat Nabi
b. Sambutan
c. Ishoma (Prosesi Khotmil Kutub)
d. Pengajian Akbar oleh: K.H.R.A Dawud Muclas Syamsuri, S. Pd. (Purworejo)
e. Do’a Penutup

Share