Category Archives: wawancara

KH Muhammad Yusuf Chudlori: Bangkitkan Jiwa Kewirausahaan Santri

Purwokerto Pesantren-Kebanyakan pesantren salafiyah di Indonesia hanya terfokus mengajarkan masalah-masalah ibadah. Sedangkan masalah sosial dan ekonomi terabaikan. Kalangan santri yang mempunyai potensi menjadi wirausahawan, menjadi terabaikan. Tak mengherankan bila akhirnya , sebagian lulusan dari pondok pesantren salafiyah hanya unggul di bidang ilmu agama.

KH Muhammad Yusuf Chudlori, salah satu dari sebelas putra ulama Kharismatik KH Chudlori, pendiri (muassis) Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, tergerak membangkitkan jiwa kewirausahaan kaum santri. Ia mendirikan Pesantren Entrepreneur API Tegalrejo di Meteseh, KecamatanTempuran, Kabupaten Magelang.

Wartawan Republika Mohammad As’adi, pekan lalu berdialog dengan KH Muhammad Yusuf Chudlori yang dikenal egaliter dan dekat semua kalangan, termasuk para seniman dan
budayawan ini, seputar pemikiran terkait kewirausahaan di kalangan santri.

Apa yang melatarbelakangi pendirian pesantren entrepreneur?
Berkaca dari Rasulullah. Kita sebagai umat Islam memiliki panutan yakni Rasulullah Muhammad SAW. Bagi kita yang berada di pesantren, setiap waktu bergelut dengan Al-Qur’an dan hadits. Dan Apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW itu mengajarkan kepada kita semua tidak hanya beribadah kepada Allah SWT, menuhankan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita memanusiakan manusia. Bagaimana kita harus berkembang dengan baik, kita harus bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, memberikan nafkah serta bagaimana berbakti kepada orang tua. Jadi bahasa sederhananya, hubungan vertikal dan horisontalnya harus seimbang. Kalangan santri mestinya berkaca pada Rasulullah.

Bagaimana kondisi pesantren-pesantren umumnya?
Saya melihat masih banyak pesantren yang kurang adil dalam memahami serta mengamalkan ajaran Rasulullah SAW. Banyak yang hanya ngurusi ibadah murni, seperti sholat, puasa, dan haji, tapi urusan sosialnya tidak tergarap.

Mestinya kita harus belajar menyeimbangkan, Rasulullah SAW sendiri, setiap malam beribadah dengan tekun, seperti shalat tahajud, hajat atau amalan lainnya. Sementara siang hari, beliau adalah seorang pekerja keras, ini yang harus kita catat betul. Kita tahu sejak kecil Rasulullah SAW sudah diajari berdagang keliling oleh pamannya Abu Thalib. Lalu ketika menginjak remaja sudah memahami peta perekonomian Jazirah Arab.

Modal perjuangan atau usaha Rasulullah SAW adalah akhlak, semua kembali kepada etika akhlak, dan kejujuran. Modal utama sebuah usaha itu adalah jujur. Sebab ketika jujur, kepercayaan datang dan kepercayaan itulah yang akan mendatangkan rizki. Berbekal itulah, Rasulullah SAW akhirnya mendapat kepercayaan banyak pihak dan bahkan juga mendapatkan modal. Ketika kita berkhianat maka akan mendatangkan kefakiran.

Konsep-konsep seperti ini sebenarnya sudah dipahami santri. Rasulullah SAW itu juga seorang petani. Ketika berhijrah ke Madinah Rasulullah SAW bercocok tanam. Rasulullah SAW itu adalah pengembala domba, artinya Rasulullah SAW itu juga seorang wirausahawan tangguh. Semua itu terkonsep dalam satu niat yaitu untuk mencari rizki yang diridlai Allah. Rizki itu endingnya adalah untuk penghambaan kepada Allah, bukan mencari dunia untuk dunia atau pemuas nafsu, tetapi dunia untuk akhirat. Konsep-konsep semacam ini juga sudah dipahami kalangan santri.

Kenyataanya, sebagian besar santri masih belum mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan, kenapa?
Kita belum mendapatkan pelajaran tataran praktisnya. Di Ponpes Api Tegalrejo ini misalnya, sebenarnya, oleh pendirinya almarhum bapak kenapa dinamai asrama perguruan islam (API), harapannya adalah lulusannya menjadi guru di tengah masyarakat.

Guru itu bisa guru agama, bisa jadi guru di tengah-tengah pasar dengan mengajarkan bagaimana kita berbisnis sesuai syariat, atau jadi guru di tengah ladang dengan memberi contoh bagaimana bertani yang jujur, tawakkal dan sabar, bisa juga jadi guru politik kalau terjun ke politik. Semua itu tidak lepas dari yang namanya perekonomian. Di Tegalrejo ini tidak ada ijazahnya, karena memang tidak akan mencetak birokrat dan tidak akan mencetak orang-orang kantoran. Semua adalah orang-orang mandiri, diharapkan, disamping mengajar ngaji dan menyebarkan ilmu-ilmu agama mereka juga pandai berusaha serta bisa menjadi pengusaha.

Karena lewat usaha tersebut kita juga menyebarkan ilmu, bagaimana berdagang ala Rasulullah SAW. Dulu di zaman ayah saya setiap lulusan pesantren ini diharapkan selain menjadi guru mengaji juga memiliki ma’isyah atau perekonomian yang mapan.

Apa yang Gus Yusuf lakukan?
Ayah saya punya opsesi para santri di tempat ini selain menjadi guru mengaji juga memiliki ma’isyah atau perekonomian yang mapan, caranya adalah membangkitkan jiwa kewirausahaan para santri.

Dulu pondok ini memiliki lahan 3 hektar yang digunakan untuk bercocok tanam dan membuka peternakan sapi dan domba. Setiap kamar diberi tanggung jawab mengolah sebidang lahan selain itu juga mengelola beras dan perekonomian internal. Tapi keterbatasan lahan akhirnya lahan itu disulap menjadi bangunan pesantren.

Nah, baru beberapa tahun belakangan ini pesantren menerima tanah wakaf di Meteseh, Tempuran, seluas 4200 persegi, lahan itu kami manfaatkan untuk kembali membangkitkan semangat pendiri ponpes ini, yakni mempersiapkan santri mapan keilmuannya maupun perekonomiannya, dengan memberikan pelajaran pada tataran praktiknya.

Kenapa pesantren entrepreneur yang Gus Yusuf pilih?
Saya melihat, peluang terbesar di negara kita hari ini adalah wirausaha, maka selain meneruskan cita-cita bapak, untuk menciptakan pengusaha-pengusaha pesantren yang tangguh dan makmur, sekaligus menjawab bahwa kalangan pesantren mampu melahirkan wirausahawan tangguh. Apalagi negara ini sekarang membutuhkan wirausahawan yang sangat banyak.

Kita tidak ingin lulusan Tegalrejo ikut berebut lowongan CPNS (calon pegawai negeri sipil) atau lowongan pekerjaan lain. Santri itu kalau sore mengajar agama di mushala, dia harus mandiri.
Karena itu, untuk menciptakan santri yang matang ilmu agamanya juga mapan dalam perekonomiannya, saya mendirikan pesantren entrepreneur itu, ini untuk menumbuhkan sense of business kalangan santri agar mereka bisa hidup.

Sampai sejauh mana modal yang dimiliki kalangan santri?
Kalangan santri itu sudah memiliki modal untuk menjadi wirausahawan tangguh, mereka sudah terlatih mandiri, terdisiplin terkait kewajiban beragama seperti sholat lima waktu, sholat tahajud, waktu belajar dan lain-lain. Para santri juga memiliki karakter, akhlak yang didasari syariat.

Disiplin merupakan modal penting untuk menjadi seorang pengusaha, disamping mandiri, kalangan santri memiliki karakter berupa akhlak, sebagaimana modal Rasullah SAW saat berdagang. Karena akhlak inilah yang bakal mendatangkan kepercayaan. Sekarang ini sebagus-bagusnya sistem jika karakter para pelakunya tidak baik, tindak kejahatan terhadap siapapun dan siapapun pelakunya bisa terjadi dimana saja.

Satu modal lagi yang sudah dimilik kalangan santri, yaitu keyakinannya dengan doa. Para santri diajarkan bagaimana berdoa, bagaimana kita memasrahkan diri kepada Allah, manusia hanya berusaha, yang menentukan Allah. Bagaimanapun upaya lahir harus diimbangi dengan batin. Tinggal satu yang dimiliki santri yaitu keberanian.

Upaya apa untuk membangkitkan keberanian kalangan santri membuka suatu usaha?
Sebelum pulang ke kampung halamannya kita memberi pelatihan kewirausahaan selama sebulan di pesantren. Selama sebulan itulah kita tumbuhkan keberaniaan minat serta skill santri untuk berwirausaha. Selama satu bulan di pesantren entrepreneur, mereka diajak mengenal pasar, bagaimana memulai usaha, membaca peta pasar sampai marketing. Bahkan setiap hari mereka diajak ke pasar atau ke tempat usaha lain sesuai minatnya. Mentor-mentornya-pun dari praktisi yang benar-benar berkeringat dari pedagang sayur, pedagang bakmi sampai pengusaha mapan. Komposisi materinya 75% praktek, dan 25% teori. Siang masuk ke pasar, malam didiskusikan.

Setelah setengah bulan memahami di lapangan, mereka diminta membuat konsep atau proposal sederhana, kemudian didiskusikan, jika perlu modal kita bantu sekedarnya untuk dipraktekkan di pasar, mereka jualan di pasar. Bagi yang ingin magang kita carikan tempatnya, bisa di sektor perikanan, pertanian, kuliner, atau yang lainnya sesuai minatnya.

Harapannya apa?
Harapan kami kalau mereka pulang ke kampungnya nanti sudah memiliki keberanian dan skill untuk membuka usaha. Mau bertani atau berternak silahkan. Kalau bertani kita berharap mereka juga tau bagaimana menjual hasilnya, demikian pula yang berternak atau usaha lainnya, dan kalau mau berdagang mereka telah terbiasa mengelola menegement keuangan.

Di pesantren entrepreneur satu bulan, kita lepas, kalau mau magang kita magangkan, kalau mau usaha di rumah, kita ada pendampingan bisa lewat telepon, bisa lewat facebook atau internet. Untuk itu kursuskan internet juga.

Siapa santri pesantren entrepreneur?
Lulusan Tegalrejo, di pesantren induknya kita punya 3.500 santri setiap tahun meluluskan antara 250 hingga 300 santri. Sebelum mereka pulang secara bergilir kita didik di pesantren entrepreneur di Tempuran setiap bulan. Setiap angkatan antara 25-30 santri. Di pesantren ini ada tradisi selapanan alumni, kita kumpul setiap 35 hari, kita diskusikan soal usaha mereka. Kalau yang perlu pendampingan kita beri pendampingan langsung. Untuk kemajuan bersama, kita ciptakan networking atau jaringan melalui alumni yang tergabung dalam pengasuh pondok pesantren salafiyah kafah (P4SK) yang anggotanya sekitar 400 pesantren se-Jawa.

Dengan terbentuk jaringan ini kita berharap akan tercipta kebersamaan sesama pengusaha pesantren. Kalau kita punya kebersamaan, lalu bisa menswasembadakan perekonomian pesantren, ini suatu gerakan ekonomi luar biasa. Kita baru membuat data base, berapa kebutuhan beras, sabun dan lain-lainnya seluruh pesantren salaf kita.

Kenapa hanya mengurus kebutuhan pesantren?
Yang internal dulu, lah. Sekarang sudah banyak alumni Tegalrejo juga sukses, ada yang punya usaha pertanian, ada yang di perdagangan, dan lain-lain. Tapi sedikit yang memiliki kesadaran networking, masih jalan sendiri-sendiri. Melalui jaringan ini, kita ingin menumbuhkan kebersamaan, karena dengan kebersamaan semua akan semakin mudah dan semakin kuat.
Untuk menumbuhkan itu, setiap angkatan terus kita kelola. Kesadaran itu akan lebih mudah ditumbuhkan sejak awal, dan jika kesadaran itu telah tumbuh akan mudah untuk mempersatukan mereka dalam sebuah jaringan.

Saat ini, ketika mereka pulang dan meraih sukses, merasa karena usaha sendiri, maka dia merasa tidak meiliki tanggung jawab membantu yang lain. Tujuan kita adalah pemberdayaan santri sampai jaringan ekonominya. Dan kedepannya, kita memiliki kekuatan ekonomi sendiri, dengan tujuan akhirnya adalah untuk memuliakan agama Allah.

Untuk itu kita membuka diri terhadap kritik dan saran, serta berjejaring dengan kalangan pesantren yang lain maupun dari komunitas Muslim yang lain. Kita masih terus belajar untuk melengkapi konsep, serta silabus mata pelajaran di pesantren entrepreneur ini. Kita juga melakukan studi banding. []

Koran Republika, Senin 18 Juni 2011


Share

Kitab Kuning Relevan dengan Kehidupan Sekarang

Jakarta-Turats atau yang lebih dikenal dengan sebutan kitab kuning oleh sebagian kelompok sering dianggap sebelah mata, karena dianggap kuno dan tidak bias mengikuti perkembangan zaman. Namun apa sesungguhnya isi kitab kuning tersebut dan bagaimana relevansinya dengan pemahaman keagamaan sekarang ini, masih banyak yang belum memahaminya secara detail. Muhtadin AR dan Sarmidi Husna (MS) dari www.pondokpesantren.net melakukan wawancara dengan Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA (SAS) Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menggali persoalan tersebut.

MS: Apa itu kitab kuning dan bagaimana sejarah pembentukannya?

SAS: Kitab Kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab atau berhuruf Arab karya ulama salaf, ulama zaman dulu, yang dicetak dengan kertas kuning. Sebenarnya yang paling tepat disebut dengan kutub al-turats yang isinya berupa hazanah kreatifitas pengembangan peradaban Islam pada zaman dahulu. Dalam hazanah tersebut terdapat hal-hal yang sangat prinsip yang kita tidak dapat mengabaikannya. Selain itu, hazanah tersebut juga terdapat hal-hal yang boleh kita kritisi, kita boleh tidak memakainya dan ada juga yang sudah tidak relevan lagi. Tetapi kalau yang namanya kitab usul fiqh, mushtalah al-hadits, nahwu-sharaf, ilmu tafsir, ilmu tajwid itu semua adalah prinsip, mau atau tidak mau sekarang kita harus menggunakan kita-kitab tersebut.

MS: Apa yang menjadi batasan suatu kitab itu disebut sebagai kitab turats?

SAS: singkatnya, kitab turats itu adalah kitab yang ditulis oleh ulama salaf, baik ulama asing maupun ulama Indonesia sendiri yang secara turun-temurun menjadi rujukan yang dipedomani oleh para ulama sekarang. Seperti yang saya kemukakan tadi, kutub al-turats itu ada yang bersifat prinsip dan ada yang tidak. Yang prinsip, mau tidak mau harus kita pakai. Karena, misalnya, kita tidak bisa membaca teks Arab kalau tidak memakai nahwu-saraf; kita tidak bisa membaca Al-Qur’an kalau tidak menggunakan ilmu tajwid; kita tidak bisa mengambil hukum dari Al-Qur’an dan al-Hadits kalau tidak menggunakan usul fiqih dan qawaid al-fiqhiyah. Adapun furu’-nya atau pengembangannya, kita dapat mensikapi dengan mengkritisinya. Walhasil, kita ini, pada zaman sekarang, harus taqlid, tetapi taqlid yang kreatif dan taqlid yang dinamis, karena tanpa taqlid kita tidak dapat berbuat apa-apa.

MS: Apa yang membedakan antara kitab-kitab turats dan kitab-kitab kontemporer?

SAS: Kitab-kitab kontemporer sekarang ini tidak bisa lepas dari kitab-kitab zaman dahulu. Siapa pun penulis kitab-kitab kontemporer pasti merujuk kepada kitab-kitab zaman dahulu, seperti Dr. Ali Saminasar, Dr. Abdul Chalid Badawi, Dr. Yusuf Qordowi, Dr. Harun Nasution, Dr. Nur Cholis Madjid dan lain sebagainya, semua itu tetap bersandar pada kitab turats. Artinya, dalam rangkan menjaga orsinilitas kitab-kitab tersebut, maka kitab-kitab turats tersebut harus kita jaga. Adapun pengembangannya baru kita kontekstualkan dengan masa sekarang.

MS: Bagaimana kekuatan kitab turats sebagai rujukan untuk memutuskan hukum keagamaan?

SAS: Kalau yang namanya kitab seperti ulumul Quran, mushtalah al hadits, nahwu-sharaf, kita tidak dapat mengembangkannya. Apa yang tertulis dalam kitab-kitab tersebut sudah menjadi standar baku, ya seperti itu, kita tidak dapat mengembangkan lagi. Tetapi kalau kitab seperti fiqih, kita harus mengembangkannya dan mengontekskannya dengan situasi sekarang. Itu pun masih ada aturannya. Cara mengembangkannya tidak sembarangan dan asal-asalan, harus mengikuti aturannya, seperti adanya qiyas (analogi) dan juga ilhaq yang dapat dijadikan titik temu antara persoalan baru dengan persoalan yang lama. Misalnya saja, narkoba atau sabu-sabu ya dapat kita qiyaskan dengan khamr. Tetapi ada juga yang sama sekali, sejak dari dulu sampai sekarang, tidak bisa diotak-atik. Ilmu nahwu, ilmu sharaf, mushtalah hadits, ilmu quran, ilmu tajwid semua itu kita dapat menambah apa-apa lagi. Mengenai tajwid, seperti qalqalah, mad lazim, mad jaiz dan lainnya, kita tidak dapat menambahi apa-apa lagi.

MS: Mayoritas pesantren menggunakan turats sebagai kitab rujukan. Tapi ada juga yang tidak. Lalu di mana keunggulan pesantren yang menggunakan kitab turats dibanding dengan pesantren yang tidak menggunakannya?

SAS: Mayoritas pesantren, terutama di Jawa, masih menggunakan kitab turats sebagai sarana pembelajaran, seperti pesantren Lirboyo, pesantren Langitan, pesantren Situbondo, pesantren Kajen Pati, dan lain sebagainya masih mengutamakan kajian dengan menggunakan kitab-kitab turts, seperti Fathul Wahhab, Ihya’ Ulumudin, Jam’ul Jawami’, I’anah al-Thalibin dan lain-lainnya.

Mengenai keunggulan itu masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Tetapi yang harus kita perbaharui adalah sarana dan metode, bagaimana cara memahami nash atau teks dan bagaimana memodernisasi sarananya, apakah mau memakai komputer atau laptop. Tetapi untuk merubah hal-hal yang sangat prinsip itu sulit. Bahwa kaidah usul fiqh mengenai dilalatu al alfadz ‘ala ma’aniha itu sudah tidak bisa menambah dan tidak bisa mengurangi. Dan juga al-amru yadullu ‘ala al-wujub illa min qarinatin (amar/perintah itu menunjukkan wajib kecuali ada tanda bahwa itu bukan wajib) itu sudah baku sekali.

Kemudian kalau ada yang berpendapat mengarah kepada pemahaman liberal, seperti bahwa amar itu harus sama, kalau aqim al-shalah wajib maka kulu wasyrabu juga wajib. Tetapi kalau kulu wasyrabu itu ibahah, maka aqim al-shalah juga ibahah, ini adalah pemahaman yang “ngawur”. Karena aqim al-shalah menunjukkan wajib dengan tanda-tanda atau qarinah tentang perintah shalat berkali-kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw itu juga sangat disiplin sekali dalam menjalankan shalat. Tetapi kalau kulu wasyrabu, walaupun sama-sama amar, tetapi itu adalah perintah yang ibahah. Tidak ada qarinah seperti dalam perintah shalat inna al-shalata kanat lil mu’minina kitaban mauquta. Dengan demikian, ada tanda-tanda bahwa amar/perintah kulu wasyrabu itu adalah ibahah, tetapi kalau amar/perintah aqim al-shalat wa ati’u al-zakat itu wajib dengan tanda atau dukungan faktor yang lain. Kalau yang mengatakan bahwa amar harus disamakan, yang wajib-wajib semua itu namanya “ngawur”.

MS: Di mana pokok masalahnya?

SAS: Kalau kutub turats itu kan materi ilmiahnya, kalau yang sekarang itu kan metodenya. Menurut saya yang paling bagus kalau digabungkan, materi yang kita pelajari adalah kitab-kitab klasik, seperti Fathul Wahab, Muhadzdzab, Al-Umm dan sebaginya, kemudian kita pelajari dengan menggunakan cara pandang yang baru (jadidah), nah ini yang paling tepat. Sedangkan kalau hanya mempunyai metode tetapi tidak mempunyai materinya, apa yang akan dibahas? Misalnya, kita mengerti metodologi, kita mengerti tentang menganalisa secara kritis dan lain sebaginya, tetapi yang dibahas apa, kalau kita tidak menguasai apa-apa.

Memang sekarang sudah terjadi erosi pemahaman, tidak sedikit sekarang ini alumni pesantren yang tidak dapat menguasai kitab turats lagi. Karena lebih mengedepankan belajar metodologi saja. Nah, kalau orang belajar metodologi saja dan tidak memahami materinya, maka yang mau dipahami itu apa, untuk apa metodenya itu? Tetapi metodologi juga penting. Para kiai yang alim baca kitab besar-besar, karena tidak bisa menguasai metodologi kan juga tidak bisa memahami dan mengontekskan dengan kondisi sekarang. Tetapi kalau yang hanya menguasai metodologi dan mereka sama sekali tidak pernah membuka kitab, seperti fathul wahhab, jam’ul jawami’ atau yang lainnya, lalu metodologinya itu untuk apa, kalau dia miskin materi.

MS: Apakah kitab turats tadi itu masih relevan dengan kehidupan sekarang?

SAS: Ya sangat relevan sekali, karena tanpa kitab turats kita tidak dapat berbuat apa-apa. Membaca Al-Qur’an saja, kita tidak bisa kalau tidak menggunakan kitab turats tadi. Kita tidak usah jauh-jauh, baca Al-Qur’an saja, kita harus menggunkan ilmu tajwid. Dan ilmu tajwid itu muncul sejak tahun 200-an hijriyah oleh Ka’ab ibn Abdussalam. Kemudian kalau kita tidak menggunakan ilmu mushtalah hadits, yang diciptakan tahun 99 hijriyah oleh Sihabudin Ramuzi, kita tidak bisa mengerti apa-apa, mana hadits shahih, mana hadits yang dlo’if dan sebagainya. Kalau kita tidak menggunakan usul fiqh yang diciptakan pertama kali secara sempurna oleh Imam Syafi’i, kita tidak bisa memahami nash Al-Qur’an dan hadits.

Walaupun harus bagaimana pemahamannya yang kritis itu boleh, tetapi pada prinsipnya, usul fiqh, mustalah hadits, tajwid, qiraat dan sebaginya itu kita harus taqlid. Kita tidak taqlid yang membabi buta, namun pada masalah ini kita harus berpulang pada kitab turst. Buya Hamka membuat kitab tafsir al-Azhar merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang lama. Bapak Harun Nasution dan Nur Cholis Madjid mengarang buku juga mengambil dari kitab maqalatul islamiyin, al-milal wa al-nihal dan sebagainya. Tulisan-tulisan ilmiah juga harus memakai literatur dan referensi-referensi yang lama.

MS: Kemudian sejauh mana pengaruh kitab turats dalam pemahaman keberagamaan masyarakat Indonesia?

SAS: Pengaruhnya sangat besar sekali, kita mengamalkan ajaran agama Islam ini berdasarkan pemahaman yang kita petik dari kitab turats tadi. Dan pengaruh kitab turats bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga di dunia, seperti al-Azhar, al-Zaitun, Ummul Qura’, dan lain sebagainya adalah universitas-universitas ternama yang ketika mahasiswanya menulis desertasi maupun menulis karya ilmiah apapun itu pasti merujuk kepada kutub al-turats. Tanpa kitab turats kita tidak bisa apa-apa. Bukan saya melarang, silahkan kalau bisa, tetapi saya yakin tidak bisa apa-apa tanpa kitab turats. Kalau hanya kembali kepada Al-Qur’an dan al-Hadits kita tambah akan menjadi bodoh.

Bagaimana kita bisa membaca Al-Qur’an dengan baik kalau kita tidak menggunakan ilmu tajwid; bagaimana kita bisa membaca teks Arab secara benar kalau kita tidak menggunakan ilmu nahwu dan sharaf. Dan ilmu nahwu-sharaf itu kitab turats semua dan kita sudah tidak bisa menambah dan menguranginya lagi. Kita shalat itu pasti kembali kepada kutub al-turats, di dalam Al-Qur’an dan hadits itu tidak ada cara teknis juklaknya shalat. Dan adanya itu ada di Fathul Muin, Fathul Wahab, al-Umm, Tuhfah dan sebagainya. Kata-kata rukun shalat ada 14 itu ada di kitab turats. Kalau ada orang yang shalatnya bagus, bacaannya bagus, gerakannya bagus itu bohong kalau dia tidak merujuk pada kitab turats. Apalagi yang berkaitan dengan tempat dalam naik haji, seperti mana batas Musdalifah, mana Mina, dan Arafah itu di dalam Al-Qur’an itu tidak ada. Ya adanya di kitab turats. Dalam Al-Qur’an hanya global saja, menyebut tentang wukuf. Dan kalau ada pemahaman yang ingin kembali ke Al-Qur’an dan hadits itu namanya pembodohan.

MS: Bagaimana posisi kitab turats sebagai hukum Islam?

SAS: Kita sekarang yang sudah berpendidikan cukup pun paling hanya bisa memahami cara berfikirnya para imam itu. Misalnya, Syafi’i mengatakan bahwa laki-laki bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim, baik sengaja maupun tidak sengaja, sahwat atau pun tidak, itu batal wudlunya. Kemudian Imam Hanafi mengatakan laki-laki bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrimnya, asal tidak tidur bareng, itu tidak batal. Dalam hal ini, paling-paling kita dapat memahami hal-hal seperti itu saja, yaitu memahami cara berfikirnya imam Syafi’i, Hanafi dan imam yang lainnya. Itu pun sudah sangat hebat kalau bisa. Misal saja, Kiai Afifuddin Muhajir (Pengasuh Pesantren Situbondo, red) melakukan perbandingan (muqaranah) Usul Fiqh dan Qawaid al-Fiqh, bukan hanya muqaranah fiqih saja. Apa yang beliau lakukan itu sangat luar biasa. Pendek kata, kalau ingin memahami Islam secara baik harus paham kitab turats. (*)
http://pendis.depag.go.id

Share