Dawuh Abuya Thoha tentang polemik peringatan tahun baru Masehi.

Dawuh Abuya Thoha tentang polemik peringatan tahun baru masehi.

Abuya thoha

Sebelum membahas judul utama, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu Tahun baru Masehi.

Dikutip dari NU Online, Menurut kyai Abdurrahim, kata Masehi M (Masehi) yang juga dikenal sebagai AD  berasal dari bahasa Latin Anno Domini yang berarti “Lahirnya Yesus Kritstus”, manusia yang dijadikan Tuhan oleh umat Kristiani.

Namun, menurutnya, tidak bisa dipungkiri juga bahwa kenyataanya mayoritas umat Islam masih menggunakan sistem penanggalan matahari (solar system) Masehi dalam aktivitasnya sehari-hari karena terikat dengan urusan pekerjaan, pendidikan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan, terlebih sistem penanggalan Masehi telah menjadi kesepakatan bersama secara global.

Karenanya, ketika sebagian umat Islam merayakan Tahun Baru Masehi, maka yang dirayakan tidak terkait dengan perayaan tahun baru agama atau keyakinan tertentu, tetapi terkait dengan pergantian kalender untuk urusan kehidupan sehari-hari mereka. ( https://www.nu.or.id/post/read/101071/alternatif-ulama-betawi-atas-polemik-perayaan-tahun-baru-masehi)

Lalu bagaimana pendapat abuya Thoha tentang Perayaan Tahun baru masehi ?
Semua Berawal dari kebimbangan para santri  untuk keluar pondok pada saat tahun baru masehi, penulis memberanikan diri untuk meminta izin kepada beliau  Abuya Thoha untuk keluar mengikuti acara perlombaan hadroh, dan istighosah,
istighosah, hadrohan ora popo, tapi nek sing bongso hura-hura aja !, Kesenengen wong kafir direwangi rame-rame”  dawuh abuya sambil tersenyum.

Dengan demikian penulis memahami bahwa pada saat malam baru tahun masehi, tidak seharusnya dijadikan momentum untuk berbuat maksiat dan mengikuti budaya kaum kafir, pesta kembang api dan meniup terompet, hal ini Berdasar kepada Sabda Nabi  :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)
Dari sisi yang lain, beliau membolehkan kegiatan postif seperti sholawat dan mujahadah, bukan dalam rangka memperingati tahun baru masehi, melainkan mengajak umat islam agar tidak tenggelam mengikuti kebiasaan yang buruk.
والله اعلم
(K.A.)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.