DR. Basuni Imamuddin, MA: Penulis Kamus Besar Arab-Indonesia

Banyumas Pesantren-DR. Basuni Imamuddin, MA: Penulis Kamus Besar Arab-Indonesia

Siang hari ia berkumpul dengan ahli fikir dan malam harinya dengan ahli dzikir. Di sela-sela keduanya ia menulis beberapa kamus besar Arab-Indonesia.

Kegemarannya membaca karya sastra Arab sejak remaja mengantarkannya mendalami sastra Arab di negeri petro dollar. Dari pergulatan panjangnya dengan bahasa Arab, ia merasakan besarnya kesulitan yang sering dihadapi para santri dan mahasiswa dalam mencari terjemahan kata-kata dalam Arab yang pas dalam bahasa Indonesia. Karena itu, pengampu mata kuliah Sastra Arab di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu pun menyusun kamus Arab – Indonesia kontemporer yang sangat lengkap dan mudah.

Di luar jam mengajarnya di kampus, ilmuwan yang satu ini lebih banyak menghabiskan sisa waktunya di beberapa majelis taklim yang diasuhnya di seantero ibukota. Dialah K.H. Dr. Basuni Imamuddin, MA.

Secara guyon ia mengistilahkan, kegiatannya siang hari berkumpul dengan para ahli fikir, yaitu di kampus UI, dan malam harinya berkumpul dengan para ahli dzikir, yaitu di majelis taklim. Khawatir kata ahli disalah artikan, ia kemudian mengeluarkan jurus andalannya sebagai penyusun kamus, “Kata ahli bukan hanya berarti pakar melainkan juga bisa berarti orang ramai atau masyarakat,” katanya sambil terkekeh.

Menurut Basuni, sebuah kamus itu harus inovatif, harus menginformasikan makna kata dan menginformasikan konteks bahasa yang terkecil dengan kata tersebut baik buatan penyusun maupun yang berasal dari Quran, Hadits, puisi, dan peribahasa Arab. Contohnya dhauhah dan qahirah. Dhauhah sering diartikan sebagai “pohon besar” dan qahirah sebagai “kota Mesir selatan Afrika”. Padahal yang benar adalah Dhoha (ibukota Qatar) dan Cairo (ibukota Mesir).

Dari tangan ilmuwan kreatif ini telah lahir beberapa kamus Arab-Indonesia yang cukup besar: Kamus Kontekstual Arab – Indonesia (2001) dan Kamus Idiom Arab – Indonesia Pola Aktif (2005). Dan kini ia tengah menyelesaikan penyusunan Kamus Besar Arab – Indonesia, yang konon telah ditawar oleh beberapa penerbit besar.

Lahir di desa Balungkulon, 22 km selatan kota Jember, 47 tahun lalu, Basuni Imamuddin adalah putra sulung dari tujuh bersaudara putra pasangan Kiai Imamuddien dan Ny. Hj. Mariyatul Qibtiyah. Ayahnya adalah pengasuh Pesantren yang ada di Kota Jember.

Basuni kecil menempuh pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyyah Al-Ma’arif, Jember (lulus tahun 1974), kemudian meneruskan ke pondok pesantren Darul Hikam, Jember hingga tahun 1977. Setelah itu ia kembali masuk sekolah formal MTs di lingkungan Pesantren Bustanul Ulum, Jember (lulus tahun 1980).

Takut Iman Goyah
Karena sejak kecil menempuh pendidikan di pesantren, Basuni remaja telah akrab dengan ilmu tata bahasa Arab. Kelebihan kemampuannya dalam bahas dunia Islam itu juga membuatnya mulai berani membuka-buka berbagai macam buku dan kitab berbahasa Arab, termasuk karya-karya sastra. Saat duduk di madrasah tsanawiyah, misalnya, ia telah melahap buku Al-Baraat (linangan air mata) karya Luthfi Almanfaluti.

Selepas Aliyah, Basuni menyatakan niatnya kepada kedua orang tuanya untuk melanjutkan sekolah ke Jakarta. Ia ingin belajar di fakultas sastra Arab Universitas Indonesia. Selain di IAIN, hanya kampus negeri itulah di Jakarta yang memiliki jurusan Sastra Arab. Dan ia memilih UI karena bosan bersekolah di lingkungan madrasah atau pesantren. Ia ingin sesekali belajar di sekolah umum.

Ayahnya tidak langsung setuju tapi juga tidak menolak. Basuni hanya ditanya, di Jakarta tinggal di mana dan sama siapa. Maklum, ia anak sulung dan belum pernah berpisah jauh dari orang tua. Meski sempat nyantri di pesantren lain, tetapi tetap saja di wilayah Jember.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Basyuni agak grogi juga. Namun ia kemudian ingat kepada ucapan nabi ketiba menenangkan hati Abu Bakar dalam Al-Quran, la takhaf wa la tahzan innallaha ma ana, jangan takut dan jangan berseidh, seseungguhnya Allah bersama kita. Akhirnya orang tuanya mengizinkan dan berangkatlah dia ke Jakarta.

Pada masa awal kuliah di UI, Basyuni tinggal bersama seorang teman di rumah kontrakan. Sebagai orang daerah dia terkejut juga melihat pergaulan anak-anak Jakarta termasuk mahasiswanya. Mereka ada yang berduaan di taman yang ada di sekitar asrama, entah sekedar ngobrol atau belajar bersama. Belum lagi busana yang dikenakan mahasiswi yang menurut tolok ukur daerahnya telah kelewatan.

Basuni pun segera menemui Dr. Ahmad Purwadaksi, ketua jurusannya, untuk menyatakan niatnya mundur saja dari UI. Ia khawatir imannya akan goyah. Namun niat itu malah ditolak sang kajur. “Dengan begini kamu ditantang untuk bisa mengatasi kelemahanmu itu. Kalau kamu tetap di kampung itu sama saja dengan menyembunyikan diri dari kenyataan,” kata Basyuni menirukan ucapan kepala jurusan itu.

“Lebih baik, kamu tetap di sini, apalagi kampus lain di daerah tidak ada yang memiliki jurusan Sastra Arab,” lanjut sang kajur. Maka, dengan membulatkan tekad untuk belajar, Basuni pun mulai mengikuti perkuliahan di Jakarta, menggapai cita-citanya mempelajari Sastra Arab.
Ternyata, selain memberi pengalaman pahit, Jakarta juga memberikan peluang kepadanya untuk maju. Salah satunya adalah terbukanya pintu rejeki. Setelah masuk asrama mahasiswa Daksinapati, Basuni mulai bisa bernapas lebih lega. Sebab disamping beban orangtuanya menjadi lebih ringan, ia sendiri jadi punya waktu untuk mencari nafkah, yaitu dengan mengajar bahasa Arab di sebuah SMP Islam di Jatinegara.

Namun yang paling meringankan koceknya adalah dengan menjadi guru privat bagi sepasang muallaf seminggu sekali. Setiap kali datang ia diberi imbalan Rp 10.000,- Berarti dalam sebulan ia mengantongi Rp 40.000,- “Uang sebanyak itu sudah cukup untuk melunasi SPP yang dibayar setiap setengah tahun,” kenangnya.

Pengajian Subuh
Dan semuanya, alhamdulillah berjalan lancar. Sehingga pada tahun terakhir di UI ia bisa nyambi kuliah di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) dan meraih diploma Pengajaran Bahasa Arab untuk Penutur Asing. Itu diraihnya pada tahun 1990 bertepatan dengan kelulusannya dari UI dengan menggondol gelar Sarjana Sastra Arab.

Skrispinya yang mengkaji pribadi Tawfiq Al Hakim seorang tokoh pembaharu drama Arab yang hidup di Mesir mendapat nilai 95, jauh melampaui syarat cum laude yang cukup 80 poin saja. Berkat keberhasilannya itu ia pun diminta mengajar di almamaternya dan sejak itu, 1990, dengan status sebagai PNS.

Baru tiga tahun mengajar, tahun 1993 ia mendapat kesempatan belajar di Ibn Saud Islamic University, Riyadh, Saudi Arabia. Kali itu beasiswanya diperoleh melalui LIPIA, almamater tempatnya mencari tambahan pengetahuan bahasa Arab.

Tidak kurang dari lima tahun ia menghabiskan waktu di negeri gurun tersebut, hingga akhirnya berhasil mearih gelar Master of Arts (MA) dalam linguistik terapan pada tahun 1998, dengan tesis berjudul Telaah Kritis Terhadap Kamus Arab – Indonesia. Sekembali ke Indonesia, tahun 2000, ia ditugasi kampusnya untuk mengambil gelar S3 di UIN Syarif Hidayatullah yang baru diselesaikannya pada tahun 2008 ini. Saat itu ia mengajukan disertasi berjudul Struktur Padanan Kata Emotif dalam al Inarah al Tahzibiyayah Kamus Arab Melayu setebal 331 halaman.

Berbekal latar belakang pendidikan dan pengalaman yang panjang itulah, Basyuni dipercaya pemerintah sebagai liaison officer dalam Konferensi Tingkat Menteri Gerakan Non Blok ke-10 di Bali 1992 mendampingi Sekjen Liga Arab dan pada KTT Gerakan Non Blok ke-10 di Jakarta 1992 mendampingi Presiden Sudan dan duta besar Jibouti untuk Jepang. Banyak penghargaan diperolehnya dari kegiatan tersebut. Selain piagam dari panitia, ia juga dianugerahi Satyalancana Karya Satya pada 5 Agustus 2004 oleh presiden RI.

Dalam usianya yang kian mendekati kepala lima ini Basyuni mengaku lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada bidang dakwah. Sejak tahun 1991 sampai sekarang ia telah menjadi khatib dan mengisi pengajian di 25 masjid dan 16 mushalla di seantero Jakarta dan Depok, termasuk masjid kampus UI, dan masjid Sunda Kelapa.

Beberapa di antaranya digelar seusai shalat Subuh, sehingga ia harus shalat subuh di tempat pengajian. “Jam 4 pagi saya sudah keluar rumah dan shalat subuh di majelis taklim, karena acara dimulai ba’da shubuh. Usai dari situ, jam 8 saya langsung ke kampus UI memberikan ceramah lagi hingga jam 10.00,” katanya.

Mengenai materi ceramah, ia mengaku lebih banyak menekankan pada tata cara beribadah yang baik, yang sejuk dan menyegarkan ruhani pendengarnya. Sehingga banyak yang berminat dan pada gilirannya menatangkan undangan dari tempat lain. Masalahnya, ia pernah mendapat teguran dari warga sebuah majelis taklimn yang tersinggung dengan materi cemarahnya yang dinilai “keras”. Itulah Kiai Basuni, siang hari berkumpul dengan ahli fikir dan malam hari dengan ahli dzikir.

Gadis Berjilbab
Pengalaman menarik juga ia temui ketika akan menentukan pendamping hidupnya. Pilihannya pada diri Nashiroh, mahasiswa jurusan satra Arab UI yang dibimbingnya untuk menghadapi ujian akhir. Tampilan dara asal Gandaria Selatan itu beda dengan mahasiswi yang lain. Ia berjilbab sementara yang lain pakai rok mini dan baju you can see. Maka ia pun mengadakan penyelidikan on the spot. Ternyata gadis itu putra seorang kiai yang pernah beberapa tahun belajar di Makkah, Ishak Najihun dan mempunyai majelis taklim Ar Rahman.

Maka sesuai dengan tuntunan Nabi SAW yaitu agar mengutamakam agama, nasab, harta, dan rupa, iapun menjatuhkan pilihannya kepada Nashiroh. Namun untuk menuju ke pelaminan ia harus sabar, menunggu si dia selesai ujian akhir. Tiga bulan setelah lulus, “Saya minta orang tua datang ke Jakarta untuk melamar, dan menikahkan saya,” kenangnya.

Ketika anak pertama mereka, Haniya Amani berumur sekitar dua atau tiga bulan, Basuni harus berangkat ke Riyadh untuk melanjutkan studinya di Al Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University selama lima tahun.

Ketika ia akan membawa keluarganya kesana, ternyata kampus tidak memberikan peluang. Masalahnya, kampis telah mendapat pelajaran buruk dari seorang mahasiswa asal Sudan yang meninggal di negerinya ketika ia tengah pulang liburan, padahal anak dan istrinya dibawa ke Riyadh.

Kini pasangan itu dikaruniai tiga orang anak, Haniya Amani (15 th, kelas 3 SMP Al Muhajirin, Depok), Najmia Ummiyati (12 th, kelas 6 SD Ummul Qura, Depok) dan Ulya Himmati (4 th, TK Islam Ananda, Depok). Sementara Nashiroh kemudian juga banyak membantu tugas suaminya menyusun kamus Arab – Indonesia.

Ada cerita menarik ketika dia kembali ke tanah air setelah menuntut ilmu di Riyadh selama lima tahunan. Menurut Nashiroh, anaknya takut menemui bapaknya. Si sulung yang saat itu berumur sekitar 4 tahun ngumpet di kolong tempat tidur karena sejak umur 2 bulanan ia telah ditinggal bapaknya pergi belajar ke Riyadh.

“Setelah dua bulan, baru dia mau ditimang bapaknya,” ucap sang nyonya sambil ketawa.
“Saat itu saya memang seperti orang Arab, jenggot dan cambang saya masih tebal,” timpal Basuni santai.

Ahmad Iftah Sidik, (Pemerhati Kiai Kharismatik)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *