DR. KH. A. Mustofa Bisri: Bukti Kepasrahan Hamba Allah

Bukti Kepasrahan HambaIbadah kurban merupakan bukti bahwa pernyataan hamba yang tulus dan memurnikan kepasrahan hanya kepada Allah SWT. Demikian pendapat DR. KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang juga Rais PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Berikut petikannya:

Apa makna ibadah kurban, menurut Gus Mus?
Ibadah kurban tidak lepas dari ibadah haji karena memang berkurban itu selain pelaksanaannya di bulan haji, untuk orang Indonesia biasa menyebut hari raya haji disebut juga hari raya kurban. Maknanya bisa kita lihat dalam firman Allah, “Daging-daging (unta) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan)Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”. (QS. Al-Hajj: 33).

Maksudnya?
Daging kurban yang dibagi-bagikan itu tentu banyak manfaatnya, tetapi Allah bukan melihat banyak atau sedikitnya daging kurban. Allah SWT melihat jauh dari itu semua, yakni keikhlasan orang itu semua, yakni keikhlasan orang yang berkurban (muqarrib). Itulah yang dilihat Allah karena itu sebagai wujud nyata seorang hamba yang taat kepada-Nya.

Selain itu?
Ketika Nabi Muhammad mengatasnamakan kurbannya untuk dirinya sendiri, keluarga dan semua umatnya yang tidak mampu, menegaskan bahwa ibadah kurban merupakan ibadah sosial bukan ibadah individual semata. Sebenarnya inti kurban itu terletak pada individu atau seseorang sebagai makhluk sosial. Dengan kata lain, penyembelihan kurban adalah simbolis, sementara substansinya ada pada komitmen kita terhadap orang lain, yaitu orang yang mampu terhadap orang yang kurang mampu.

Bagaimana hukum kurban dari hasil iuran, sahkah kurbannya?
Iuran kurban bisa diartikan melatih berkurban agar peduli terhadap sesama. Iuran kurban di sekolah misalnya, tujuannya agar siswa menuju hamba yang muttaqin (orang yang bertaqwa), memotivasi siswanya berkurban dengan menyisihkan uang jajannya adalah bentuk melatih menuju seorang hamba yang berkualitas dimata Allah karena predikat taqwa itu harus melalui sebuah proses. Selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan hati sangat penting, kecerdasan spiritual juga penting. Membentuk sikap peduli siswa terhadap lingkungannya pengaruh kecerdasan spiritual sangat penting. Karena di kecerdasan ini mengandung sikap komitmen dan ketaatan siswa pada agama yang diyakininya.

Kesimpulannya?
Ibadah kurban merupakan simbol kepasrahan hamba kepada Allah SWT. Kita belajar pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, mereka benar-benar memurnikan kepasrahannya hanya kepada Allah SWT. Mengakui dan menyadari bahwa kepemilikan hakiki hanya pada Allah. Bahwa semuanya, tanpa kecuali adalah milik Allah. Tak terbagi dengan siapapun, termasuk dengan diri sendiri. Inilah arti penting dari perayaan Idul Kurban pada setiap tahun. Kisah Nabi Ibrahim dan putranya itu seakan-akan terus menerus mengingatkan kita untuk berkaca sejauh manakah spirit berkorban semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Seberapa besarkah makna tersebut menggelayut dalam setiap langkah kita. Jangan sampai ritual perayaan ini tinggal menjadi pesta pora belaka, tanpa penghayatan untuk membenahi mutu kehidupan sama sekali.[]

Sumber: Kisah Hikmah, Edisi 64, 16-31/10/09.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *