Kartini dan Kiai Saleh (Menelisik Sisi Kesantrian RA Kartini)

Oleh Akhmad Saefudin: Raden Ajeng Kartini, atau tepatnya Raden Ayu Kartini, terlahir di Jepara (Jawa Tengah) pada 21 April 1879. Putri pasangan RM Adipati Ario Sosroningrat dan MA Ngasirah ini adalah pelopor kebangkitan wanita Indonesia, saat negeri ini di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Ia memperoleh gelar pahlawan nasional dari Presiden RI Soekarno, sebagaimana Keputusan Presiden Nomor 108/1964 tertanggal 2 Mei 1964.

Tak seperti kaum wanita pribumi pada zamannya, Kartini kecil cukup beruntung bisa menyelesaikan pendidikan formal di ELS (Europese Lagere School). Setelah itu ia dipingit, sebelum akhirnya menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat (Bupati Rembang). Atas dukungan sang suami, ia merintis sekolah khusus wanita di rumahnya.

Kartini muda dikenal gemar korespondensi. Di kemudian hari, surat-suratnya dalam bahasa Belanda diterbitkan di bawah judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Salah seorang guru Kartini adalah Kiai Saleh. Kisah guru-murid itu beredar dari mulut ke mulut di lingkungan pesantren atau forum pengajian. Selain KH Mustofa Bisri (Gus Mus), ulama yang suka berkisah tentang Kartini dan Kiai Saleh adalah KH Chalwani (Pengasuh Pesantren An-Nawawi Purworejo).

Dikisahkan suatu hari Kartini bertandang ke rumah pamannya, Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Kebetulan, di sana ada pengajian Kiai Saleh Darat. Pengajian itu membuatnya penasaran dan diam-diam menyimak dari balik pintu.

Usai pengajian, Kartini menemui Kiai Saleh. Singkat kisah, terjadilah dialog antara keduanya.

“Kiai, bagaimana hukumnya orang yang berilmu tapi menyembunyikan ilmunya?”

Mendengar pertanyaan itu, Kiai Saleh sempat tertegun. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” sahutnya.

“Mengapa Kiai tak menulis terjemah Alquran dalam bahasa Jawa?” tanya Kartini dengan nada protes.

Pascadialog dengan Kartini, Kiai Saleh tergugah dan mulai menerjemah. Baginya, Kartini adalah inspirator sekaligus motivator untuk menterjemah Alquran. Kiai Saleh pun menjadi guru Kartini dalam les privat ngaji.

Di hari pernikahan Kartini, Kiai Saleh menghadiahi terjemah Alquran berjudul Faizu al-Rahman fi al-Tafsir Alquran.

Dalam surat-suratnya yang terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, nama Kiai Saleh memang tak disebut secara eksplisit. Namun, dalam surat Kartini tertanggal 17 Agustus 1902 yang ditujukan untuk Tuan EC Abendanon, Kartini menulis ‘sorang tua’. Saya memastikan, orang dimaksud adalah Kiai Saleh.

“Seorang tua di sini karena girangnya, menyerahkan kepada kami semua kitab-kitab naskah bahasa Jawa, banyak pula yang ditulis dengan huruf Arab. Kami pelajarilah kembali membaca dan menulisnya,” demikian tulis Kartini (lihat Balai Pustaka, 2011: 187-188).

Ternyata, buku yang berisi surat-surat Kartini itu mampu menarik perhatian dunia. Betapa tak? Buku itu telah diterjemah ke pelbagai bahasa, jauh sebelum muncul versi bahasa Indonesia. Bahkan, tulisan Kartini disebut-sebut mengilhami emansipasi kaum wanita Syiria.

Setidaknya ada empat hal yang patut dielaborasi dan diteladani di balik kehidupan Kartini.

Pertama, kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Ia adalah sosok yang gemar membaca dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

Kedua, kepeduliannya terhadap kemajuan bangsa, terutama pendidikan bagi kaum wanita Indonesia.

Ketiga, sikapnya yang egaliter. “Bagi saya hanya ada dua macam bangsawan; bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tiada yang lebih gila dan bodoh pada pandangan saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu,”tulis Kartini (2011: 45).

Keempat, spirit dan pemikirannya yang kritis serta inspiratif. Diakui atau tak, Kartini menginspirasi banyak orang. Bahkan, ia pun tak segan-segan memberikan kritik tertulis atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Andai saja ia saat itu tak menulis surat-surat, boleh jadi kita tak tahu komitmen Kartini atas nasib kaum wanita bangsa ini. Wallahu a’lam. (*)

Akhmad Saefudin SS ME, Penulis Buku 17 Ulama Banyumas, tinggal di Purwokerto

(Sumber: Tribun Jateng edisi Sabtu 5 Mei 2018)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *