KH. Drs. M. Dian Nafi’. M. Pd: Akal Tajribi

Banyumas Pesantren-Akal Tajribi

Akal itu kecerdasan dan kesadaran. Akal tajribi itu sejenis kecerdasan dan kesadaran untuk menerapkan pengetahuan demi perbaikan hidup. Banyak orang pandai dan cermat membedakan yang baik dan buruk, tetapi kehidupannya tidak lebih baik dari waktu ke waktu. Disitulah pentingnya akal tajribi.

Nursid, sebut saja begitu, lega saat selesai dari pendidikan 8 tahun jalur khusus kader dakwah. Dengan penuh harapan ia pulang kampung. Terbayang ia bisa memenuhi harapan warga. Tetapi, dua tahun berlalu sejak ia kembali, tidak ada sambutan seperti yang diharapkan. Status guru madrasah diniyah kampungnyapun sulit ia peroleh. Sementara, orang yang tidak berpendidikan agama secara khusus justru dihormati sebagai takmir masjid atau komite madrasah.

Nursid terdiam, mawas diri, jelas akal tamyizi-nya tertata baik. Ia cepat memilah yang baik dan buruk, tetapi bagaimanakah mewujudkan kebaikan? Itulah yang kurang ia timba selama ini. Dicobanya menyimak langkah sukses para seniornya. Ia juga belajar dari orang-orang yang dihormati di desanya.

Dulu ia belajar dari kitab dan buku, kini belajar dari kenyataan. Dulu ia mencermati dalil dan pendapat ulama, kini ia perhatikan tindakan seseorang dan respons warga atasnya. Nursid mencermati perilaku dirinya sendiri. Tanggapan tetangga ia camkan dengan rendah hati.

Di situlah Nursid mengasah akal tajribinya. Itu jenis kecerdasan dan kesadaran yang memampukan orang untuk menerapkan pengetahuan bahwa perbaikan hidup sesuai harapan dan pertimbangan masyarakatnya. Fondasinya adalah akal tamyizi (Ibnu Khaldun, Muqoddimah: 271-274).

Masyarakat lebih membutuhkan sosok pelaku kehidupan yang baik dan dapat bertetangga secara wajar. Sosok yang menggurui, meskipun hebat secara keilmuan, dibutuhkan belakangan. Nursid sadar. Jadilah hari-harinya padat dengan rencana kerja. Ia bertekad mandiri. Diperiksanya sumber daya yang dimiliki. Semua harus ia kerahkan secara tepat sasaran dan hemat. Dicarinya peluang. Tempat-tempat orang bekerja dikunjunginya. Alur komoditas diperhatikan. Kreativitasnya tertantang.

Ia perkirakan modal, biaya, risiko, dan pendapatan yang dapat diperoleh. Perhatiannya tertuju pada ikan yang melimpah di desanya. Ia pilah dalam beberapa standar. Pelan tapi pasti ia masuk ke bisnis ikan. Ia tekun mengamati selera konsumen. Para pembudi daya ikan dan pemilik warung menjadi mutiara bisnisnya.

Kepiawaiannya di bidang kajian agama tidak hilang. Ia tidak perlu menawarkan kepiawaiannya itu. Komite madrasah diniyah di kampungnya justru mengundangnya menjadi guru di jenjang menengah.

Setelah menyelam ke dalam kehidupan riil masyarakat, Nursid tidak butuh waktu lama untuk eksis. Saat tulisan ini disiapkan, jabatan ketua komite madrasah diniyah ditawarkan kepadanya. Ia temukan makna baru dari kalimat bijak Imam Syafi’I (150-204 H) yang telah lama didengarnya: Ilmu itu adalah sesuatu yang berguna, bukan sekadar yang dihafal” (Adz-Dzahabi, Juz 10:89).

Sumber: http://epaper.solopos.com/swf/2010/07/230710new.swf

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *