KH Muhammad Yusuf Chudlori: Bangkitkan Jiwa Kewirausahaan Santri

Purwokerto Pesantren-Kebanyakan pesantren salafiyah di Indonesia hanya terfokus mengajarkan masalah-masalah ibadah. Sedangkan masalah sosial dan ekonomi terabaikan. Kalangan santri yang mempunyai potensi menjadi wirausahawan, menjadi terabaikan. Tak mengherankan bila akhirnya , sebagian lulusan dari pondok pesantren salafiyah hanya unggul di bidang ilmu agama.

KH Muhammad Yusuf Chudlori, salah satu dari sebelas putra ulama Kharismatik KH Chudlori, pendiri (muassis) Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, tergerak membangkitkan jiwa kewirausahaan kaum santri. Ia mendirikan Pesantren Entrepreneur API Tegalrejo di Meteseh, KecamatanTempuran, Kabupaten Magelang.

Wartawan Republika Mohammad As’adi, pekan lalu berdialog dengan KH Muhammad Yusuf Chudlori yang dikenal egaliter dan dekat semua kalangan, termasuk para seniman dan
budayawan ini, seputar pemikiran terkait kewirausahaan di kalangan santri.

Apa yang melatarbelakangi pendirian pesantren entrepreneur?
Berkaca dari Rasulullah. Kita sebagai umat Islam memiliki panutan yakni Rasulullah Muhammad SAW. Bagi kita yang berada di pesantren, setiap waktu bergelut dengan Al-Qur’an dan hadits. Dan Apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW itu mengajarkan kepada kita semua tidak hanya beribadah kepada Allah SWT, menuhankan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita memanusiakan manusia. Bagaimana kita harus berkembang dengan baik, kita harus bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, memberikan nafkah serta bagaimana berbakti kepada orang tua. Jadi bahasa sederhananya, hubungan vertikal dan horisontalnya harus seimbang. Kalangan santri mestinya berkaca pada Rasulullah.

Bagaimana kondisi pesantren-pesantren umumnya?
Saya melihat masih banyak pesantren yang kurang adil dalam memahami serta mengamalkan ajaran Rasulullah SAW. Banyak yang hanya ngurusi ibadah murni, seperti sholat, puasa, dan haji, tapi urusan sosialnya tidak tergarap.

Mestinya kita harus belajar menyeimbangkan, Rasulullah SAW sendiri, setiap malam beribadah dengan tekun, seperti shalat tahajud, hajat atau amalan lainnya. Sementara siang hari, beliau adalah seorang pekerja keras, ini yang harus kita catat betul. Kita tahu sejak kecil Rasulullah SAW sudah diajari berdagang keliling oleh pamannya Abu Thalib. Lalu ketika menginjak remaja sudah memahami peta perekonomian Jazirah Arab.

Modal perjuangan atau usaha Rasulullah SAW adalah akhlak, semua kembali kepada etika akhlak, dan kejujuran. Modal utama sebuah usaha itu adalah jujur. Sebab ketika jujur, kepercayaan datang dan kepercayaan itulah yang akan mendatangkan rizki. Berbekal itulah, Rasulullah SAW akhirnya mendapat kepercayaan banyak pihak dan bahkan juga mendapatkan modal. Ketika kita berkhianat maka akan mendatangkan kefakiran.

Konsep-konsep seperti ini sebenarnya sudah dipahami santri. Rasulullah SAW itu juga seorang petani. Ketika berhijrah ke Madinah Rasulullah SAW bercocok tanam. Rasulullah SAW itu adalah pengembala domba, artinya Rasulullah SAW itu juga seorang wirausahawan tangguh. Semua itu terkonsep dalam satu niat yaitu untuk mencari rizki yang diridlai Allah. Rizki itu endingnya adalah untuk penghambaan kepada Allah, bukan mencari dunia untuk dunia atau pemuas nafsu, tetapi dunia untuk akhirat. Konsep-konsep semacam ini juga sudah dipahami kalangan santri.

Kenyataanya, sebagian besar santri masih belum mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan, kenapa?
Kita belum mendapatkan pelajaran tataran praktisnya. Di Ponpes Api Tegalrejo ini misalnya, sebenarnya, oleh pendirinya almarhum bapak kenapa dinamai asrama perguruan islam (API), harapannya adalah lulusannya menjadi guru di tengah masyarakat.

Guru itu bisa guru agama, bisa jadi guru di tengah-tengah pasar dengan mengajarkan bagaimana kita berbisnis sesuai syariat, atau jadi guru di tengah ladang dengan memberi contoh bagaimana bertani yang jujur, tawakkal dan sabar, bisa juga jadi guru politik kalau terjun ke politik. Semua itu tidak lepas dari yang namanya perekonomian. Di Tegalrejo ini tidak ada ijazahnya, karena memang tidak akan mencetak birokrat dan tidak akan mencetak orang-orang kantoran. Semua adalah orang-orang mandiri, diharapkan, disamping mengajar ngaji dan menyebarkan ilmu-ilmu agama mereka juga pandai berusaha serta bisa menjadi pengusaha.

Karena lewat usaha tersebut kita juga menyebarkan ilmu, bagaimana berdagang ala Rasulullah SAW. Dulu di zaman ayah saya setiap lulusan pesantren ini diharapkan selain menjadi guru mengaji juga memiliki ma’isyah atau perekonomian yang mapan.

Apa yang Gus Yusuf lakukan?
Ayah saya punya opsesi para santri di tempat ini selain menjadi guru mengaji juga memiliki ma’isyah atau perekonomian yang mapan, caranya adalah membangkitkan jiwa kewirausahaan para santri.

Dulu pondok ini memiliki lahan 3 hektar yang digunakan untuk bercocok tanam dan membuka peternakan sapi dan domba. Setiap kamar diberi tanggung jawab mengolah sebidang lahan selain itu juga mengelola beras dan perekonomian internal. Tapi keterbatasan lahan akhirnya lahan itu disulap menjadi bangunan pesantren.

Nah, baru beberapa tahun belakangan ini pesantren menerima tanah wakaf di Meteseh, Tempuran, seluas 4200 persegi, lahan itu kami manfaatkan untuk kembali membangkitkan semangat pendiri ponpes ini, yakni mempersiapkan santri mapan keilmuannya maupun perekonomiannya, dengan memberikan pelajaran pada tataran praktiknya.

Kenapa pesantren entrepreneur yang Gus Yusuf pilih?
Saya melihat, peluang terbesar di negara kita hari ini adalah wirausaha, maka selain meneruskan cita-cita bapak, untuk menciptakan pengusaha-pengusaha pesantren yang tangguh dan makmur, sekaligus menjawab bahwa kalangan pesantren mampu melahirkan wirausahawan tangguh. Apalagi negara ini sekarang membutuhkan wirausahawan yang sangat banyak.

Kita tidak ingin lulusan Tegalrejo ikut berebut lowongan CPNS (calon pegawai negeri sipil) atau lowongan pekerjaan lain. Santri itu kalau sore mengajar agama di mushala, dia harus mandiri.
Karena itu, untuk menciptakan santri yang matang ilmu agamanya juga mapan dalam perekonomiannya, saya mendirikan pesantren entrepreneur itu, ini untuk menumbuhkan sense of business kalangan santri agar mereka bisa hidup.

Sampai sejauh mana modal yang dimiliki kalangan santri?
Kalangan santri itu sudah memiliki modal untuk menjadi wirausahawan tangguh, mereka sudah terlatih mandiri, terdisiplin terkait kewajiban beragama seperti sholat lima waktu, sholat tahajud, waktu belajar dan lain-lain. Para santri juga memiliki karakter, akhlak yang didasari syariat.

Disiplin merupakan modal penting untuk menjadi seorang pengusaha, disamping mandiri, kalangan santri memiliki karakter berupa akhlak, sebagaimana modal Rasullah SAW saat berdagang. Karena akhlak inilah yang bakal mendatangkan kepercayaan. Sekarang ini sebagus-bagusnya sistem jika karakter para pelakunya tidak baik, tindak kejahatan terhadap siapapun dan siapapun pelakunya bisa terjadi dimana saja.

Satu modal lagi yang sudah dimilik kalangan santri, yaitu keyakinannya dengan doa. Para santri diajarkan bagaimana berdoa, bagaimana kita memasrahkan diri kepada Allah, manusia hanya berusaha, yang menentukan Allah. Bagaimanapun upaya lahir harus diimbangi dengan batin. Tinggal satu yang dimiliki santri yaitu keberanian.

Upaya apa untuk membangkitkan keberanian kalangan santri membuka suatu usaha?
Sebelum pulang ke kampung halamannya kita memberi pelatihan kewirausahaan selama sebulan di pesantren. Selama sebulan itulah kita tumbuhkan keberaniaan minat serta skill santri untuk berwirausaha. Selama satu bulan di pesantren entrepreneur, mereka diajak mengenal pasar, bagaimana memulai usaha, membaca peta pasar sampai marketing. Bahkan setiap hari mereka diajak ke pasar atau ke tempat usaha lain sesuai minatnya. Mentor-mentornya-pun dari praktisi yang benar-benar berkeringat dari pedagang sayur, pedagang bakmi sampai pengusaha mapan. Komposisi materinya 75% praktek, dan 25% teori. Siang masuk ke pasar, malam didiskusikan.

Setelah setengah bulan memahami di lapangan, mereka diminta membuat konsep atau proposal sederhana, kemudian didiskusikan, jika perlu modal kita bantu sekedarnya untuk dipraktekkan di pasar, mereka jualan di pasar. Bagi yang ingin magang kita carikan tempatnya, bisa di sektor perikanan, pertanian, kuliner, atau yang lainnya sesuai minatnya.

Harapannya apa?
Harapan kami kalau mereka pulang ke kampungnya nanti sudah memiliki keberanian dan skill untuk membuka usaha. Mau bertani atau berternak silahkan. Kalau bertani kita berharap mereka juga tau bagaimana menjual hasilnya, demikian pula yang berternak atau usaha lainnya, dan kalau mau berdagang mereka telah terbiasa mengelola menegement keuangan.

Di pesantren entrepreneur satu bulan, kita lepas, kalau mau magang kita magangkan, kalau mau usaha di rumah, kita ada pendampingan bisa lewat telepon, bisa lewat facebook atau internet. Untuk itu kursuskan internet juga.

Siapa santri pesantren entrepreneur?
Lulusan Tegalrejo, di pesantren induknya kita punya 3.500 santri setiap tahun meluluskan antara 250 hingga 300 santri. Sebelum mereka pulang secara bergilir kita didik di pesantren entrepreneur di Tempuran setiap bulan. Setiap angkatan antara 25-30 santri. Di pesantren ini ada tradisi selapanan alumni, kita kumpul setiap 35 hari, kita diskusikan soal usaha mereka. Kalau yang perlu pendampingan kita beri pendampingan langsung. Untuk kemajuan bersama, kita ciptakan networking atau jaringan melalui alumni yang tergabung dalam pengasuh pondok pesantren salafiyah kafah (P4SK) yang anggotanya sekitar 400 pesantren se-Jawa.

Dengan terbentuk jaringan ini kita berharap akan tercipta kebersamaan sesama pengusaha pesantren. Kalau kita punya kebersamaan, lalu bisa menswasembadakan perekonomian pesantren, ini suatu gerakan ekonomi luar biasa. Kita baru membuat data base, berapa kebutuhan beras, sabun dan lain-lainnya seluruh pesantren salaf kita.

Kenapa hanya mengurus kebutuhan pesantren?
Yang internal dulu, lah. Sekarang sudah banyak alumni Tegalrejo juga sukses, ada yang punya usaha pertanian, ada yang di perdagangan, dan lain-lain. Tapi sedikit yang memiliki kesadaran networking, masih jalan sendiri-sendiri. Melalui jaringan ini, kita ingin menumbuhkan kebersamaan, karena dengan kebersamaan semua akan semakin mudah dan semakin kuat.
Untuk menumbuhkan itu, setiap angkatan terus kita kelola. Kesadaran itu akan lebih mudah ditumbuhkan sejak awal, dan jika kesadaran itu telah tumbuh akan mudah untuk mempersatukan mereka dalam sebuah jaringan.

Saat ini, ketika mereka pulang dan meraih sukses, merasa karena usaha sendiri, maka dia merasa tidak meiliki tanggung jawab membantu yang lain. Tujuan kita adalah pemberdayaan santri sampai jaringan ekonominya. Dan kedepannya, kita memiliki kekuatan ekonomi sendiri, dengan tujuan akhirnya adalah untuk memuliakan agama Allah.

Untuk itu kita membuka diri terhadap kritik dan saran, serta berjejaring dengan kalangan pesantren yang lain maupun dari komunitas Muslim yang lain. Kita masih terus belajar untuk melengkapi konsep, serta silabus mata pelajaran di pesantren entrepreneur ini. Kita juga melakukan studi banding. []

Koran Republika, Senin 18 Juni 2011


1 comment for “KH Muhammad Yusuf Chudlori: Bangkitkan Jiwa Kewirausahaan Santri

  1. July 6, 2011 at 12:54 pm

    sedikit menyempurnakan, Gus Yusuf adalah putra dari Mbah Chudlori, KH. Abdurrahman Chudlori adalah putra Sulung Mbah Chudlori.
    jadi Gus Yusuf (KH. M. Yusuf Ch) adalah salah satu adik dari KH. Abdurrahman Chudlori.
    demikian semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *