Kota Itu Oase

Banyumas PesantrenKota itu Oase.
Gunung Nur sekitar 5 km dari Mekah sebelah kiri jalan menuju ke Mina. Tingginya sekitar 634 meter. Di sana terdapat Gua Hira’ (makkawi.com/noor.htm). Dari tempat parkir terdekat, kita harus menempuh rute bebatuan menanjak sekitar 45 menit untuk menjangkaunya. Saat langit cerah dari sana kota Mekah terlihat, tetapi suara riuhnya tidak terdengar. Sungguh, lokasi yang strategis dan hening.

Di sana Nabi Muhammad SAW ber-khalwat, merenungkan hasil pengamatan mendalam atas gejala-gejala yang memprihatinkan dan berulang, karena kekerasan dan kebencian silih berganti. Dengan khalwat atau menjauh dari keramaian beliau tidak lari dari kenyataan, justru memikirkannya secara tenang dan leluasa.

Di dalam khalwat beliau tekun beribadah (HR Imam Bukhari, hadis nomor 3). Ibadah beliau mengikuti tata cara agama Nabi Ibrahim AS (Al-’Asqalani dalam Fath al-Bari, Juz 1: 23).

Di sekitar gunung terdapat beberapa oase. Misalnya di Tan’im, Ji’ranah dan Mekah. Yang terkenal adalah sumur zamzam di Mekah. Sampai sekarang semua oase itu dikelola sangat baik. Jutaan manusia memperoleh manfaat setiap tahunnya.

Subhanallah. Semua tempat miqat haji dan umrah adalah kawasan oasis. Artinya, tanah suci dikelilingi oleh kawasan berair di hamparan gurun gersang. Di tempat-tempat itulah Kaum Muslimin memulai ibadah umrah dan haji mereka. Pusatnya, Mekah, adalah oase terpenting.

Oase itu anugerah. Dan kota-kota besar di dunia dibangun di sekitar oase atau dirancang sebagai oase. Di situ sumber air dikelola. Jalur air ditempatkan sebagai muka. Kecanggihan berbasis air diutamakan. Itulah arsitektur yang wajar dan ramah lingkungan.
Pemenuhan hak para pemangku kepentingan ditata dalam manajemen berkeadilan. Caranya, pelayanan air bersih yang prima ditempatkan dalam prioritas yang sama dengan pelestarian tampungan, jalur dan sumbernya.

Awalnya sederhana, tetapi menentukan. Manusia butuh air. Kawasan berair didatangi orang dari berbagai penjuru. Mereka memilih tinggal di sekitarnya. Permukiman dibangun. Beragam bangunan ditambahkan. Jalur perdagangan semakin ramai. Perjumpaan beragam kepentingan dan nilai-nilai meningkat.

Perjumpaan membutuhkan keseimbangan. Untuk itu pengelolaan kewenangan dirundingkan. Pertimbangan dan harapan multipihak disertakan. Dengan itu kota-kota di kawasan oase berkembang semakin berharga. Pusat-pusat keilmuan, kesenian, dan pengambilan keputusan yang bersejarah dibuat di sana.

Kota-kota kita berhak dipulihkan sebagai oase secara fisik dan sosial. Secara fisik berporoskan pengelolaan air dan secara sosial berbasiskan relasi sosial yang berkeluhuran dan berkeadilan. Kota seperti ini nyaman bagi manusia menjangkau kesejukan.
Untuk menjaga sosok kota sebagai oase, setidaknya kita butuh belajar tentang lima penopang pokok yang termuat dalam nasihat Nabi Idris AS, yaitu ”pemimpin yang tegas, pemutus perkara yang adil, dokter yang berkompeten, pasar yang tegak, dan sungai yang mengalirkan air jernih,” (Tafsir Ruh al-Bayan, Juz 6: 219).

Tanpa lima penopang itu, masih menurut Nabi Idris AS, ”warga hanya akan menemukan kesia-siaan bagi diri, harta dan keturunannya.” Itulah situasi yang juga diprihatinkan oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga beliau ber-khalwat.

Kota yang baik aman dari tindakan intoleransi, kekerasan dan pelanggaran. Ia aman bagi penduduk untuk berkarya dan bekerja memenuhi martabat dirinya. Ia juga aman untuk pengembangan kreatifitas bagi peningkatan kesejahteraan warganya. Citra kesejukannya memberikan manfaat berganda.

KH. Drs. M. Dian Nafi’, M. P.d (Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan,Sukoharjo dan Direktur Amwin Institute, Solo).

Sumber: Solo Pos, Mimbar Jum’at, Edisi…

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *