Muraqabah menurut Imam Al-Ghazali

Muraqabah
Foto: merdeka.com

Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Bidayah Al-Hidayah, Bahwa mengetahui perintah-perintah Allah itu ada yang fardhu dan ada yang sunnah. jika diibaratkan dengan dagangan, maka amal fardhu adalah modal pokok yang dengannya kita bisa selamat dan amal sunah adalah keuntungan yang dengannya kita bisa mendapatkan derajat luhur.

Nabi SAW bersabda dalam hadis qudsi :
“يقول الله تبارك وتعالى: “ما تقرب إلي
المتقربون بمثل أداء ما افترضت عليهم، ولا يزال العبد يتقرب إلى بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ولسانه الذي ينطق به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها

Tidaklah orang-orang yang mendekatkan diri kepadaKu dengan menjalankan apa yang telah Aku wajibkan kepada mereka, dan tidaklah  seorang hamba yang mendekatkan diri kepadaKu dengan menjalankan ibadah sunnah, sehingga Aku mencintainya. Ketika Aku sudah mencintainya, maka aku menjadi telinganya yang mendengar, menjadi matanya yang melihat, menjadi lisannya yang berbicara, menjadi tangannya yang memegang, menjadi kakinya yang berjalan

Menurut pemahaman penulis, hadis qudsi diatas menunjukan bahwa ketika sesorang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah), maka akan dicintai Allah, karena itu, seolah olah semua tingkah laku hamba tersebut berasal dari khatir rububiyah (Ilham dari Tuhan).

Said Aqil Siradj menyampaikan bahwa khawatir (bisikan hati) ada 4 macam, khawatir rububiyyah (ketuhanan), khawatir malakutiyyah (malaikat), khawatir nafsaniyyah (hawa nafsu), khawatir syaitoniyyah (syetan).

Seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah maka akan selalu berhati-hati dalam setiap tindakan dan ucapan setra menjaga kesucian hati, Subhanallah.

Semoga kita bisa selalu mendekatkan diri KepadaNya, aamiin.
(K.A.)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.