Musnad Ahmad: Kitab Kumpulan Hadits Terlengkap Dan Terpercaya

Banyumas Pesantren-Musnad Ahmad: Kitab Kumpulan Hadits Terlengkap Dan Terpercaya

Kitab ini disaring dari tujuh ratus lima puluh ribu hadits yang dihafal oleh penyusunnya dan diakui kelayakannya untuk dijadikan hujjah oleh umat Islam.

Dalam sejarah khazanah keilmuan Islam, hadits Nabi Muhammad SAW laksana samudera yang tak kunjung habis digali. Setelah enam kitab induk yang usai dibahas edisi lalu, kali ini akan dikaji kitab kumpulan hadits termasyhur lainnya yakni Al-Musnad karya Al-Imam Al-Muhaddits Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali.

Dalam ranah keilmuan hadits, kitab Al-Musnad karya Imam Ahmad, atau biasa disingkat Musnad Ahmad, termasuk kitab induk hadits yang berada di level tujuh. Bersama kutubus sittah, Musnad Ahmad sering disebut kutubus sab’ah, kitab induk hadits yang tujuh.

Mengenai kualitasnya, kitab yang berisi empat puluh ribu hadits itu tidak diragukan lagi. Ibnul Jauzi, muhadits generasi sesudah Imam Ahmad , dengan tegas mengatakan, Musnad Ahmad merupakan kumpulan hadits-hadits shahih terpilih. Imam Ahmad ibn Hanbal sendiri menyatakan, hadits-hadits yang dimuat dalam Musnad-nya bisa dijadikan hujjah, sementara yang lainnya masih bisa disangsikan. Ini disebabkan Ahmad ibn Hanbal terkenal tidak meriwatkan hadits kecuali dari periwayat yang dapat dipercaya, demikian dikatakan Imam At-Taqi As-Sabuki.

Dalam berbagai riwayat juga diceritakan, empat puluh ribu hadits dalam Al-Musnad adalah hasil penyaringan dari 750 ribu hadits yang dihafal Imam Ahmad bin Hanbal. Kesaksian itu diberikan oleh Imam Hanbal bin Ishaq (kemenakan Imam Ahmad bin Hanbal) yang berkata, “Pamanku mengumpulkan hadits-hadits untukku, Sholeh, dan Abdullah kemudian membacakannya untuk kami. Dan tidak pernah ada yang mendengarkan semua itu darinya secara sempurna selain kami. Kemudian Pamanku berkata, ‘Telah aku susun kitab ini dan memilihkannya dari lebih tujuh ratus lima puluh ribu. Apapun yang diperselisihkan tentang hadits Rasullah, kembalikanlah kepadanya, jika kalian mendapatkan hadits tersebut berada di dalamnya maka benar dan jika tidak, maka tidak dapat dijadikan hujjah’.”

Mengenai jumlah hadits yang dihafal Imam Ahmad bin Hanbal, ulama berbeda pendapat. Umar bin Muhammad Arif An-Nahrawani, misalnya, dalam Manaqib Ahmad ibn Hanbal mengutip pernyataan Ibn aj-Jauzi, “Hadits shahih yang diriwayatkan Ahmad ibn Hanbal berjumlah tujuh ratus lima puluh ribu, namun yang dimaksud dengan jumlah ini adalah jalur-jalurnya bukan matan-matan-nya. Dia menyusun musnadnya dari hadits-hadits tersebut yang kemudian diterima oleh ummat dengan sepenuh penerimaan dan penghormatan dan menjadikannnya tempat penyelesaian segala perselisihan.”

Lebih Faqih
Jika menilik kapasitas dan integritas Imam Ahmad bin Hanbal, pernyataan tersebut rasanya tidak berlebihan. Beberapa ulama mengungkapkan keutamaan sang imam. Amr an-Naqid, misalnya, berkata, “Jika Ahmad ibn Hanbal sepakat denganku dalam sebuah hadits maka saya tidak akan menghiraukan yang tidak tidak sepakat denganku.”

Sementara Abu Hatim ketika bertanya kepada ayahnya tentang Ali al-Madini dan Ahmad ibn Hanbal, tentang yang lebih kuat daya ingatnya, sang ayah menjawab, “Keduanya hampir sama dalam daya ingat, tetapi Ahmad lebih faqih. Jika kamu melihat seseorang yang mencintai Ahmad, ketahuilah bahwa dia adalah shahib sunnah.”

Komentar mengenai kekuatan hafalan dan kehatian-hatian Imam Ahmad dalam meriwayatkan hadits juga diungkapkan oleh Ibn Ruwat, Ibn al-Madini dan Ammar ibn Raja’.

Imam Ahmad bin Hanbal bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal bin Tsa’labah bin Akabah bin Sha’ab bin Ali bin bakar bin Muhammad bin Wail bin Qasith bin Afshy bin Damy bin Jadlah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Silsilah tersebut diriwayatkan Abdullah, putra Imam Hamad, dan dijadikan sandaran oleh Abu Bakar al-Khotib dalam kitab Tarikhnya. Nasab Imam Ahmad bertemu dengan nasab Nabi pada Nizar, sebab Rasulullah adalah keturunan Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Meski Ayahnya bernama Muhammad, Imam Ahmad lebih sering dinisbatkan kepada kakeknya yang ulama besar ahli hadits, Hanbal bin Hilal.

Ahmad lahir di Baghdad pada bulan rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M), pada kekhalifahan Muhammad Al-Mahdi dari Bani Abbasiyyah. Sejak kecil Ahmad telah menjadi yatim. Keluarganya juga sangat miskin. Meski begitu berkat bimbingan ibunya yang shalihah, ia tumbuh sebagai orang yang haus ilmu serta cinta kebaikan dan kebenaran. Kemiskinannya tidak pernah menghalangi semangat belajarnya yang sangat menggebu.

Bahkan, uniknya, setelah ia sudah menjadi imam ahli hadits dan faqih, aktivitas menuntut ilmu dan mendatangi ulama yang lebih tua dan alim tak pernah berhenti. Ada salah seorang temannya yang pernah bertanya, “Sampai kapan engkau berhenti mencari ilmu? Padahal engkau sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan menjadi imam bagi kaum muslimin.” Imam Ahmad menjawab, “Beserta tinta dan pena sampai ke liang lahat.”

Ahmad bin Hanbal belajar dari banyak ulama besar yang terkenal ahli di bidangnya. Dari kalangan ahli hadits misalnya Yahya bin Sa’id Al-Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Sufyan bin Uyainah dan Abu Dawud Ath-Thayalisi. Sedangkan dari kalangan ahli fiqh gurunya antara lain Waki’ bin Jarah, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i), Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah ) dan lain-lain.

Ketekunanannya mempelajari berbagai bidang ilmu ditunjang oleh kecerdasannya yang berada di atas rata-rata anak-anak seusianya. Dalam bidang hadits, misalnya, konon ulama yang hidupnya terkenal zuhud dan wara’ itu mampu menghafal sekitar sejuta hadits beserta sanad dan hal ihwal perawinya.

Meski merupakan mufti dan ulama besar pada zamannya, Imam Ahmad tidak terlepas dari ujian dan cobaan. Yang paling berat dihadapinya adalah fitnah keji dari kelompok Mu’tazilah yang didukung penguasa. Seperti ribuan ulama sunni lainnya Imam Ahmad menolak faham yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk bukan kalamullah sehingga ia bersifat hadits (baru) tidak qadim (mahadahulu) dan ada tempat di antara surga dan neraka bagi orang Islam yang berdosa besar.

Tiga Periode
Merasa mendapat angin dari Khalifah Al-Ma’mun yang tengah berkuasa, ulama Mu’tazilah lalu mengusulkan kepada pemerintah untuk mengadakan mihnah, pemilahan ulama yang pro dan yang kontra dengan faham mu’tazilah. Bagi yang kontra, hukuman penjara, dera bahkan pancung akan menjadi konsekwensi yang harus diterima.

Meski menyadari bahaya yang akan menimpanya jika ia menolak faham Mua’tazilah, Imam Ahmad dengan gigih mempertahankan pendiriannya dan mematahkan hujjah kaum Mu’tazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian agama. Di hadapan khalifah dan ulama mu’tazilah yang memenuhi balairung, ia menegaskan, Al-Qur’an bukanlah makhluk. Tak ayal Imam Ahmad pun diseret ke dalam penjara setelah terlebih dahulu dihukum cambuk.

Ulama sepuh yang shalih itu mendekam dalam penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al-Ma’mun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq. Baru pada masa pemerintahan pengganti Al-Watsiq, yakni Al-Mutawakkil yang dikenal arif dan bijaksana, Imam Ahmad dibebaskan. Meski dipenjara, ajaran dan faham yang diusung Imam Ahmad justru semakin populer dan diikuti umat Islam, terutama di Irak dan Syam.

Karena rasa sakit dan luka yang dibawa dari penjara, kondisi Imam Ahmad yang renta semakin memburuk dan akhirnya wafat pada 12 Rabi’ul Awwal 241 H/855 M. Jenazahnya dishalatkan tak kurang dari 130.000 umat Islam dari berbagai penjuru. Dan, konon hari itu ada 10.000 orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam karena keharuan yang menadlam atas perjuangan sang Imam.

Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan banyak karangan yang bernilai tinggi. Selain Al-Musnad yang legendaris, ia juga menulis kitab-kitab lain yang berjudul Tafsir Al-Qur’an, An Nasikh wa al Mansukh, Al-Muqaddam wa Al-Muakhar fi Al-Qur’an, Jawabat Al Qur’an, At-Tarikh, Al-Manasik Al-Kabir, Al-Manasik Ash-Shaghir, Tha’atu Rasul, Al ‘Ilal, Al Wara’ dan Ash-Shalah. Luar Biasa!

Ahmad Iftah Sidik, Santri Asal Tangerang

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *