Nasihat Amar bin Yasir RA

Cukuplah kematian sebagai nasihat, keyakinan sebagai kekayaan dan ibadah sebagai kesibukan” (‘Amar bin Yasir RA).

Amar bin Yasir RA termasuk sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Nabi Muhammad SAW dan berperan penting di setiap situasi kritis. Di masa khalifah Umar RA beliau dipercaya sebagai walikota Kufah dengan Abdurrahman bin Mas’ud RA sebagai wazir dan bendahara kota (Bastoni, 2007: 198-205).

Nasihatnya mendalam, termasuk yang dikutip Imam Jalaluddin As-Suyuthi di dalam kitab tafsir beliau, Ad-Durrul-Mantsur fit-Ta’wili bil-Ma’tsur.

Kafa bil-mauti wa’izha, cukuplah kematian sebagai nasihat. Hampir setiap hari ada kabar kematian.

Menilik pengalaman beberapa orang yang hendak mengembuskan napas terakhir, sungguh mencemaskan detik-detik itu. Husnul-khatimah atau akhir yang baik menjadi idaman semua orang beriman.

“Allah, Allah, Allah.” Itulah yang terbaik untuk dituntunkan bagi mereka dalam kondisi serba lemah itu, jika “La ilaha illallah” dikhawatirkan tidak dapat ditirukan dengan lengkap.

Kalimat bertele-tele sudah tidak diperlukan, apalagi argumentasi.

Kafa bil-yaqini ghina, cukuplah keyakinan sebagai kekayaan. Nasihat kedua ini tidak kalah daya hentaknya. Yang merasa tidak sukses dalam hidup, oleh Amar bin Yasir diajak untuk memeriksa keyakinan diri. Keyakinan yang terbentuk oleh kesaksian inderawi (‘ainul-yaqin) (QS At-Takatsur [102]: 7) memuaskan kebutuhan orang akan pegangan tertentu dalam hidup, tetapi itu belum cukup.

Masih ada keyakinan yang lebih tinggi, yaitu yang berdasarkan ilmu (‘ilmul-yaqin), sebagaimana dijelaskan dalam QS At-Takatsur (102): 5. Oleh karena itu, keyakinan orang yang berilmu lebih kokoh daripada keyakinan orang-orang yang tidak berilmu.

Itu pun masih menyisakan misteri kehidupan yang belum terjawab. Orang masih saja mencari-cari sandaran yang paling kokoh untuk membangun keyakinan diri. Allah SWT memberitahu kita adanya keyakinan tertinggi, yaitu keyakinan hakiki atau haqqul-yaqin (QS Al-Waqi’ah [56]: 95). Tidak bisa tidak, firman-Nya-lah yang melengkapi sandaran kedua keyakinan sebelumnya.

Seandainya menghitung biaya, maka ada harga yang harus dibayar untuk menjangkau keyakinan inderawi. Harga lebih besar harus dikerahkan untuk menjangkau tataran keyakinan berikutnya (‘ilmul-yaqin). Dan ketika mencapai tataran keyakinan hakiki (haqqul-yaqin), maka seseorang memiliki “kekayaan” yang tidak ternilai.

Di tataran itulah orang akan merasakan lezatnya beribadah kepada-Nya, baik ibadah ritual (mahdlah) maupun ibadah kemasyarakatan (ijtima’iyah) dan ibadah yang perlu mengerahkan harta (maliyah). Kafa bil ‘ibadati syughla, cukuplah ibadah sebagai kesibukan.

Memperhatikan ragam ibadah itu, tergambar bagi kita, semakin sukses seseorang, maka semakin berpeluang untuk menganekaragamkan dan melengkapkan bentuk ibadahnya. Ramadan 1432 H di hadapan kita. Semoga nasihat Amar bin Yasir RA itu memotivasi kita untuk menjadi lebih berarti.

Oleh : M Dian Nafi’ Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo

Sumber: Solopos.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *