Nyanyian Senja Di Pedal Becak

Banyumas PesantrenNyanyian Senja Di Pedal Becak

Siapa bilang tokoh Lintang cuma ada di novel dan layar perak. Di dunia nyata negeri ini masih ada ratusan, bahkan mungkin ribuan, anak-anak jenius yang harus mengubur cita-citanya di pematang sawah, dasar lautan atau aspal jalanan.

Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata belum lagi habis kubaca, ketika sore itu bus antar kota yang kutumpangi berhenti di halte Pasar Bawang, Brebes. Dengan sedikit bergegas kusisipkan buku yang belakangan diangkat ke layar lebar itu ke bagian depan ranselku. Lalu dengan bergegas pula aku turun dari bus ekonomi yang selama tujuh jam telah menemani perjalanan pulang kampungku ke tanah kelahiran abahku di Brebes, kabupaten terbarat di pesisir utara Jawa Tengah, yang telah puluhan kali tertunda.

Daerah ini belum banyak berubah, batinku. Padahal sudah hampir sepuluh tahun aku tak menyambangi desa yang pernah menjadi tempat tinggalku saat duduk di bangku kelas enam SD dan SMP. Udara awal Desember di sini selalu berhasil menjinakkan garangnya sengatan matahari pesisir utara Pulau Jawa. “Aduh kepalaku serasa mau pecah,” begitu dulu sering mengeluh kepada abahku setiap kali pulang sekolah di musim kemarau.

Kebetulan sore itu hujan gerimis baru saja berhenti turun, membuat perjalananku menumpang angkudes menuju desa abahku terasa sangat menyenangkan. Bau tanah basah dan lumpur sawah berpadu dengan sisa aroma bawang yang beterbangan dari persawahan yang membentang di kanan kiriku. Setiap musim hujan tiba, petani bawang di Brebes memang selalu tergopoh-gopoh menanam padi, meski harga gabah saat panen selalu anjlok diinjak para tengkulak.

Kasihan, petani-petani kecil itu tak pernah berdaya melawan kelicikan para tengkulak. Petani-petani kecil itu tak pernah menang melawan guratan takdir kemiskinannya. Hhh.. semoga saja musim penghujan kali ini tidak membawa serta jutaan liter banjir yang beberapa tahun belakangan diberitakan selalu membusukkan padi-padi mereka, harapku dalam hati.

Sepanjang perjalanan menuju desa abahku obrolan seru para penumpang angkudes mungil itu masih berkutat di seputar jumlah parpol dan caleg yang akan berlaga di pemilu tahun depan. Ada yang dengan seru menceritakan pengalamannya berjumpa dengan pengurus partai baru yang katanya menjanjikan perubahan bagi kaum tani. Ada mengeluhkan sistem pemilihan langsung yang membuat keterbatasan pengetahuannya mendadak pusing. Ada juga yang dengan riang membayangkan berapa jumlah kaos partai dan caleg yang akan diterimanya tahun ini.
“Lumayan nggo pranti nyiram lan matun, (Lumayan bisa dipakai saat menyiram bawang dan membersihkan rumput liar),” kata sang bapak bertubuh kurus.

Senyumku semakin mengembang lebar ketika dari sudut belakang kursi penumpang terdengar celetukan, “Inyong tah pan noblos mbuh belih, wong mumet ndeleng gambar calone akeh nemen. Suka ngitung iwak toli genah ana batine, ya Mas ya?, (Kalau aku belum tahu akan noblos atau tidak, aku pusing melihat foto calegnya yang sangat banyak. Lebih baik aku menghitung ikan yang jelas kelihatan untungnya. Iya khan, Mas?).” Seorang ibu pembawa bakul besar beraroma ikan asin yang barusan nyeletuk itu memandangku sambil tersenyum ramah.
Aku hanya balas mengangguk. Orang-orang desa yang jujur, batinku.

Sayangnya obrolan menghibur yang berhasil mengurangi penatku setelah berjam-jam menumpang bus ekonomi itu harus berakhir. Angkudes itu telah sampai di perempatan Sitanggal, kota mini yang menjadi pusat pemerintahan desaku. Dari sini aku masih harus menempuh perjalanan tiga kilometer lagi menuju dusun abahku, Lamaran.

Di pagi hari perjalanan itu bisa ditempuh dengan angkudes atau pir (sebutan orang desaku untuk delman atau sado). Tetapi sore hari begini pir tentu sudah tidak ada. Angkudes pun bukan pilihan yang nyaman, karena sering berhenti berlama-lama menunggu penumpangnya penuh.
“Men cukup nggo tuku bensine, Mas, (Biar cukup untuk menutup biaya pembelian bensinnya, Mas),” jawab salah seorang sopir angkudes ketika beberapa tahun lalu aku pernah menanyakannya.

Pilihan lainnya adalah menumpang becak atau berjalan kaki, yang sering dulu saat masih menjadi mahasiswa sering kulakukan setiap kali menyambangi desa ini. Pilihan yang hemat bagi anak-anak kos dan –tentu saja—sehat.

Tadinya aku berniat akan berjalan kaki saja. Aku ingin menikmati suasana senja sambil melemaskan otot-otot kaki yang kaku setelah seharian duduk di kursi penumpang. Namun kemudian niat itu aku urungkan saat melihat sebuah becak mendekatiku. Seorang pria kurus seumuranku yang menyorongkan becak itu tersenyum ramah.

“Numpak becak bae yuh, Mas, (Naik becak aja, Mas)” katanya. Entah mengapa aku sempat terpana saat beradu mata dengannya. Rasanya wajah itu tak asing bagiku. Ah, mungkin cuma perasaanku saja.

Dengan langkah ringan aku pun melompat naik ke atas becaknya. “Lamaran, belakang masjid ya, Mas,” kataku menyebut desa tujuan sambil menatapnya lagi sekilas.
]
Ketika roda becak mulai berputar, tiba-tiba aku teringat kembali pada buku Laskar Pelangi yang belum tuntas kubaca. Buku yang sangat inspiratif, batinku saat mulai membacanya tadi pagi. Meski sudah berkali-kali membacanya, buku yang mengisahkan kegigihan bercampur keluguan anak-anak pulau Belitung dalam bersekolah itu tak pernah membuatku bosan.

Dan karakter Lintang, anak jenius yang sekolahnya harus putus ditengah jalan karena ayahnya yang nelayan tewas ditelan badai, adalah tokoh favoritku. Aku yakin, Lintang bukan satu-satunya bibit potensial bangsa yang gagal disemai. Di dunia nyata negeri ini pasti masih ada ratusan, bahkan mungkin ribuan, anak-anak jenius seperti Lintang yang harus mengubur cita-citanya di pematang sawah, di dasar lautan atau di teriknya aspal jalanan, karena ketidak mampuan mereka mengalahkan kerasnya hidup.

Ya, kemajuan program pendidikan di negeri ini memang masih terbelit masalah ekonomi. Bahkan ketika pemerintah telah menggariskan kebijakan menggratiskan pendidikan dasar pun masalah itu tak kontan selesai. Anak-anak jenius yang tak mampu masih tetap dihadang tuntutan membeli seragam, buku LKS dan biaya-biaya lain di luar SPP yang tak kalah mencekik. Dan bukan tak mungkin salah satu duplikasi tokoh Lintang itu juga ada di sekitarku…

“Suwe ora balik ya, Mas?,” (Lama nggak pulang kampung ya, Mas?),” pertanyaan sang tukang becak membuyarkan lamunanku.

“Eh iya,” jawabku tergagap, “hampir sepuluh tahun.”

“Pantes setiap kali aku lewat di depan rumahmu nggak pernah kelihatan,” katanya lagi.

Terkejut, sontak aku langsung memandang lagi wajah si tukang becak. Meski rasanya tak asing, namun aku benar-benar tak bisa mengenalinya. Umurnya mungkin tak berbeda jauh denganku, tapi gurat-gurat kelelahan dan kerutan tipis di wajahnya yang gelap dibakar matahari pesisir utara benar-benar membuat ingatanku tak mampu menjangkaunya.

“Emang Mas kenal saya?,” pertanyaan yang setengah mati berusaha kutahan agar tak menyinggung perasaannya itu akhirnya keluar juga.

“Kamu lupa ya sama inyong? Inyong Amrin, kanca sakelasmu pas SD lan kelas siji SMP, (Aku Amrin teman sekelasmu waktu SD dan kelas 1 SMP),” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Ya Allah, Amrin Farhani? Anak Kedawon Pongkel?,” tanyaku dengan terkejut sekaligus senang.
“Lha ganingka kelingan! (Nah itu masih ingat),” katanya tak kalah gembira.

Ya, benar. Dia Amrin, teman sekelasku saat SD dan kelas 1 SMP. Namanya pasti selalu dikenang teman-teman sekelasnya saat SD. Karena Amrin pernah mengharumkan nama sekolahku sebagai peraih NEM tertinggi se kecamatan.

Ia memang hanya sekelas denganku hanya sampai kelas 1 SMP. Karena di pertengahan semester kedua kelas satu, langganan juara kelas itu harus berhenti sekolah. Orang tuanya yang cuma buruh tani tak mampu lagi membiayasi sekolah anak yang jago matematika itu.

Ayahnya meminta Amrin membantunya memburuh di sawah milik tetangga untuk membiayai makan mereka dan sekolah adik-adiknya. Untuk menghibur hati Amrin, ayahnya mengijinkan anaknya belajar di Madrasah Diniyyah, sekolah khusus agama, di kampung sebelah yang masuk siang hingga sore hari.

Beberapa kali masih sempat kulihat Amrin melihat di depan SMP-ku saat akan berangkat sekolah Diniyyah dengan sepeda bututnya. Hanya beberapa kali, karena setelah itu ia tak pernah lagi melintas. Dari kabar yang kudengar, sekolahnya di madrasah pun akhirnya harus terhenti karena ayahnya membutuhkan Amrin membantunya seharian di sawah milik tetangga yang tengah digarapnya.

Selepas SMP aku hijrah ke Solo untuk meneruskan sekolahku hingga tamat perguruan tinggi. Berbekal gelar sarjana, aku kemudian hijrah ke Jakarta untuk merintis karir. Dan berita tentang Amrin pun tak pernah lagi kudengar. Bahkan bayang wajahnya pun perlahan mulai kabur dari ingatanku, mungkin sekabur cita-cita Amrin yang ingin menjadi ilmuwan.

Baru kini, sembilan belas tahun setelah perjumpaan terakhirku dengan Amrin yang saat itu tengah melintas dengan sepeda bututnya, aku kembali bertemu dengan kawan jeniusku ini. Bukan sebagai insinyur atau profesor seperti yang pernah dicita-citakannya. Tetapi sebagai tukang becak yang mengantarkan bekas teman sekelasnya menjenguk kampung halaman abahnya.

Hhh.. satu duplikasi tokoh Lintang telah kutemui di dunia nyata. Entah masih berapa banyak lagi Lintang-Lintang lain yang akan kujumpai di negeri yang makmur ini. Entahlah.-

____________
* : Kang Turob Saat ini Kang Turab menjadi penulis freelance untuk beberapa tabloid dan penerbitan di ibukota.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *