Madin Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan UAS Gasal Tahun Ajar 2018-2019

Madin Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan UAS Gasal Tahun Ajar 2018-2019

Salah satu program kerja dari Madrasah Diniyyah Ath-Thohiriyyah adalah menyelenggarakan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mengevaluasi proses pembelajaran santri selama satu semester. Setiap tahun ajar, diselenggarakan dua kali UAS, yaitu di semester More »

Santri Ath-Thohiriyyah Juara 3 Tartil Qur’an Pelajar Tingkat Kabupaten Banyumas

Santri Ath-Thohiriyyah Juara 3 Tartil Qur’an Pelajar Tingkat Kabupaten Banyumas

Pada ajang  STQ yang ke XXV tingkat kabupaten Banyumas yang jatuh pada hari selasa, 6 November 2018, salah satu santri Ath-Thohiriyyah menorehkan prestasi yang cukup membanggakan. Adalah Saefulllah  yang berhasil menyabet juara More »

Santri Madin Ath-Thohiriyyah Juara 1 MHQ  Kategori 10 Juz Tingkat Kabupaten Banyumas

Santri Madin Ath-Thohiriyyah Juara 1 MHQ Kategori 10 Juz Tingkat Kabupaten Banyumas

Pada ajang  STQ yang ke XXV tingkat kabupaten Banyumas yang jatuh pada hari selasa, 6 November 2018, salah satu santri Madrasah Diniyyah Ath-Thohiriyyah menorehkan prestasi yang sangat membanggakan. Adalah M. Yassir Tama  More »

Ning Mila Juara 3 MHQ  Kategori 20 Juz Tingkat Kabupaten Banyumas

Ning Mila Juara 3 MHQ Kategori 20 Juz Tingkat Kabupaten Banyumas

Pada ajang  STQ yang ke XXV tingkat kabupaten Banyumas yang jatuh pada hari selasa, 6 November 2018, salah satu putri pengasuh Pondok Pesantren Ath-Thoriyyah berhasil menorehkan prestasi yang cukup membanggakan. Adalah Ning More »

Santri Ath-Thohiriyyah Putra Juara 3 MHQ  Kategori 20 Juz Tingkat Kabupaten Banyumas

Santri Ath-Thohiriyyah Putra Juara 3 MHQ Kategori 20 Juz Tingkat Kabupaten Banyumas

Pada ajang  STQ yang ke XXV tingkat kabupaten Banyumas yang jatuh pada hari selasa, 6 November 2018, santri Ath-Thohiriyyah berhasil menorehkan prestasi yang sangat membanggakan. Adalah Ahmad Syaefi  yang berhasil menyabet juara More »

 

Santri Ath-Thohiriyyah Juara 1 MHQ 30 Juz Tingkat Kabupaten Banyumas

Pada lomba STQ yang ke XXV tingkat kabupaten Banyumas yang jatuh pada hari selasa, 6 November 2018, santri Ath-Thohiriyyah berhasil menorehkan prestasi yang sangat membanggakan. Adalah Atiq Rifqi Mu’akhiroh yang berhasil menyabet juara 1 MHQ kategori 30 juz.

Bertempat di pendopo  alun-alun Purwokerto, peserta lomba berasal dari berbagai kecamatan yang ada di kabupaten Banyumas. Atiq sendiri mewakili kecamatan Kedungbanteng, karena pondok pesantren Ath-Thohiriyyah berada di kecamatan Kedungbanteng. Setelah berhasil menyabet juara 1 MHQ kategori 30 juz, menurut kabar Atiq akan maju lagi di tingkat Provinsi Jawa Tengah, mewakili Banyumas. Namun sampai berita ini dilansir, belum ada kepastian kapan MHQ tingkat Jawa Tengah dilaksanakan.

Gadis yang beralamat di desa Sumingkir, RT 03/05, Jeruklegi, Cilacap ini mengaku puas bisa mendapatkan juara 1 MHQ tingkat kabupaten. Pasalnya, persiapannya begitu minim. Atiq dikabari untuk ikut lomba hanya 3 hari menjelang pelaksanaan. Namun dengan persiapan yang tidak maksimal, akhirnya Atiq ternyata bisa mendapat juara 1 MHQ.

Juri pada lomba MHQ tersebut adalah Bapak Singgih M, Ibu Noor Aini, dan Gus Sa’dullah. Atiq berhasil membukukan nilai 79, mengungguli peraih juara 2 (nilai 75), dan juara 3 (67).

Lomba MHQ memang bukan sesuatu yang baru bagi gadis yang lahir tanggal 12 Februari 1996 ini. Sebelumnya, Atiq sudah beberapa kali mengikuti lomba MHQ. Pada tahun 2016, Atiq pernah ikut MHQ kategori 10 juz tingkat kabupaten Banyumas dan berhasil menyabet juara 2.

Apa yang diraih oleh Atiq semakin mentahbiskan bahwa Ath-Thohiriyyah memang pondok pesantren tahfidzul Qur’an yang cukup sukses dalam melahirkan hafidz dan hafidzoh. Alumni yang sudah hafal Al-Qur’an tersebsar di seluruh penjuru nusantara. (SA)

 

 

Share

Santri Ath-Thohiriyyah Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Arab di IAIN Pekalongan

Salah satu santri pondok pesantren Ath-Thohiriyyah, Karangsalam, Kedungbanteng, Banyumas berhasil mendapatkan juara 2 lomba pidato bahasa Arab di IAIN Pekalongan. Uswatun Mahmudah, ialah nama santri Ath-Thohiriyyah yang berhasil menorehkan prestasi yang cukup membanggakan tersebut.

Lomba pidato bahasa Arab yang diselenggarakan di IAIN Pekalongan adalah salah satu cabang lomba dari beberapa lomba dalam rangka Parbara (parade bahasa Arab) dan musyawarah wilayah pendidikan bahasa Arab dan Sastra se-Jawa Tengah dan DIY yang diselenggarakan di IAIN Pekalongan pada hari Sabtu, 3 November 2018 pukul 08.00 sampai dengan selesai.

Gadis asal Bekasi ini berhasil menyisihkan beberapa peserta dari kampus lain. Untuk juara 1 lomba pidato bahasa Arab diraih oleh mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Uswah, begitu kerap disapa yang juga seorang mahasiswa IAIN Purwokerto prodi PBA semester 5 berhasil meraih juara 2. Untuk juara 3 diraih oleh teman Uswah, dari IAIN Purwokerto juga.

Menurut pengakuan gadis yag lahir pada tanggal 1 Februari 1998, dirinya mengaku puas bisa mendapatkan juara 2. Dia meneritakan persiapan-persiapan sebelum lomba seperti latihan secara maksimal, sering menghafal teks sampai benar-benar lancar, dan yang lain.

“Persiapan yang saya lakukan sebelu lomba yaituu sering-sering menghafal teks sampai benar-benar lancar, terus latihan di depan cermin atau depan teman-teman, tampil percaya diri, power harus maksimal, dan logatnya pun harus seperti orang Arab asli”, kata Uswah melalui pesan singkat.

Selain seorang mahasiswa IAIN Purwokerto, saat ini Uswah juga tercatat sebagai santri tahfidz pondok pesantren Ath-Thohiriyyah. Semoga prestasinya bisa menginspirasi santri-santri Ath-Thohiriyyah agar bisa menorehkan prestasi di berbagai cabang lomba. (SA)

Share

Bakarlah Dirimu Dengan Kalimat Tauhid!

Seorang santri mendatangi Kiyainya dan bertanya,

“Guru…! sekarang ini lagi ramai orang-orang membahas bendera yang bertuliskan Kalimat Tauhid di bakar,

*bagaimana menurut pendapat Guru….?*”

Guru tersebut tersenyum lalu berkata, “

Sekarang ini dunia terbalik, tontonan menjadi tuntunan, tuntunan menjadi tontonan. Banyak orang membawa Bendera Kalimat Tauhid, tapi jiwanya masih belum bertauhid, melainkan masih menyembah hawa nafsu. Yang dipegang Bendera bertulisan Kalimat Bertauhid, tetapi prilakunya jauh dari orang bertauhid. Maka jangan heran tauhidnya masih dalam bentuk tulisan di arak kesana- kemari hanya untuk tontonan.”

“ Lalu yang benar Kalimat Tauhid itu untuk apa Guru…?” tanya murid tersebut.

“ Bakarlah dirimu dengan Kalimat Tauhid.” Jawab Sang Guru.

Kemudian santri tersebut kebingungan dan bertanya kembali,

“ Maksudnya Bagaimana Guru….?”

Guru tersebut menjawab, “ Anakku Kalimat Tauhid itu bukan hanya sekedar di tulis di kertas atau di bendera, tapi juga ditulis dalam diri kita dan ditancapkan ke dalam hati kita, sehingga bisa membersihkan dosa-dosa jasmani, menghilangkan sifat-sifat hewani di dalam diri. Hawa nafsu kita bakar dan kita kalahkan dengan kalimat tauhid, sehingga hati kita menjadi bercahaya, maka kita akan dibukakan dan disingkapkan dimensi ruhani dan mencapai pencerahan ruhani.”

“ Bagaimana caranya membakar diri kita dengan Kalimat Tauhid, mohon ajarilah saya guru…?” Tanya murid sambil penasaran.

Lalu Guru tersebut menjelaskan, “ Anakku dzikir kalimat Tauhid itu ada tahapan dan tehnik tertentu yang harus dilakukan:

Yang Pertama Dzikir Thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan Laa Ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dihujamkan ke dalam hati sanubari, untuk menghancurkan berhala dalam diri yaitu hawa nafsu.

Yang Kedua
Dzikir Nafi Itsbat, yaitu dzikir dengan Laa Ilaha Illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, Laa Ilaha, ketimbang itsbat-nya illallah, ke dalam hati sanubari. Agar semua berhala-berhala yang selama ini berwujud, uang, harta, wanita, jabatan dll. dibakar dan dihancurkan.

Yang Ketiga
Dzikir Itsbat Faqad, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.setelah kita berhasil membakar semua berhala di dalam diri, maka berikutnya kita mengisi dan menghujamkan di dalam hati kita bahwa Allah adalah sebagai Tuhan.

Yang Keempat, Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya Ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.

Dengan dzikir Allah yang diulang-ulang dalam jumlah tertentu dan waktu selama tertentu, agar diri kita lenyap dan masuk menuju ke kesadaran ruhani yang lebih dalam, sehingga mencapai fana’ fillah.

Yang Kelima, Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, ketika nafas masuk lewat hidung hati mengucapkan dzikir Allah diambil dari dalam dada dan dan ketika nafas keluar dari hidung hati mengucapkan dzikir Hu dimasukkan ke dalam Baitul Makmur (Kepala/otak). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Illahi.

Yang Keenam, Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, ketika nafas masuk lewat hidung hati mengucapkan Dzikir Hu diambil dari Baitul Makmur (kepala), dan ketika nafas masuk lewat hidung hati mengucapkan lafadz Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Illahi.

Yang Ketujuh, Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah ke dalam rasa, dengan begitu, maka setiap nafas adalah dzikir, sehingga dalam setiap hal kita selalu ingat kepada Allah Swt.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT. di dalam Surat al-Mukminun ayat 17:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).” [Qs. Al-Mukinun:17]

Setelah diberi penjelasan lalu santri tersebut berkata, “ Terima kasih Guru, atas penjelasannya, insya Allah akan saya amalkan.”.

Kemudian Guru tersebut berkata, ” Jika kamu sudah khatam dengan tujuh dzikir di atas, maka kamu akan mencapai fana’ fillah, dirimu lebur yang ada hanyalah Allah. Itulah hakekat Tauhid. Tubuhmu akan memancarkan cahaya tauhid, jiwamu tenggelam kepada Cinta kepada Allah.

Dengan demikian, kamu menjadi seorang mukmin yang tidak mudah kena tipu, mudah marah, mudah terbakar. karena kamu diberi kemampuan melihat hakekat sesuatu.

Jika terjadi sesuatu peristiwa duduklah yang rileks dan hening, maka kamu akan melihat dan mengetahui hekekat sesuatu itu yang terjadi

Sumber: PW LBM Jateng

Share

Tiga Ilmu yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim

Adalah pemandangan yang kaprah di masyarakat, ilmu dibedakan menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Pemahaman ini kemudian lebih dikuatkan dengan adanya pembagian sekolah yang disebut dengan sekolah umum dan sekolah agama atau yang lebih dikenal dengan madrasah.

Sesungguhnya para ulama tidak membagi ilmu dengan pembagian yang demikian. Bila membaca berbagai literatur akan didapati bahwa yang dibedakan oleh para ulama bukanlah jenis ilmunya, namun hukum mempelajarinya.

Dalam kitab Ihya Ulûmid Dîn misalnya Imam Al-Ghazali membedakan ilmu menjadi ilmu yang fardlu ‘ain hukumnya untuk dipelajari dan ilmu yang fardlu kifayah hukumnya untuk dipelajari.

Ilmu yang fardlu kifayah hukum mempelajarinya berarti tidak setiap orang Islam wajib mempelajari ilmu tersebut. Bila ada satu di antara mereka yang telah mempelajarinya maka itu sudah cukup menggugurkan orang Islam lain untuk mempelajarinya. Termasuk dalam kategori ilmu ini adalah ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu kedokteran, ilmu biologi dan lain sebagainya. Bila ada satu orang Islam yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban orang Islam lainnya untuk memepelajarinya.

Sedangkan ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu ‘ain maka ilmu ini tidak bisa tidak harus dipelajari dan dipahami oleh setiap individu Muslim. Tak ada celah bagi seorang Muslim untuk tidak mempelajari ilmu pada kategori ini. Lalu ilmu apa saja yang hukum mempelajarinya termasuk dalam kategori fardlu ‘ain?

Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari di dalam kitab Mandhûmatu Hidâyatil Adzkiyâ’ ilâ Tharîqil Auliyâ’, di mana kitab ini diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Awliyâ’, bahwa ada 3 (tiga) ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang Muslim dengan kewajiban fardlu ‘ain.

Ketiga ilmu itu adalah ilmu yang menjadikan ibadah menjadi sah, ilmu yang mengesahkan aqidah, dan ilmu yang menjadikan hati bersih. Dalam kitab itu Al-Malibari menuturkan: وتعلمن علما يصحح طاعــة وعقيدة ومزكي القلب اصقلا هذا الثلاثة فرض عين فاعرفن واعمل بها تحصل نجاة واعتلا Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan mengesahkan aqidah serta mensucikan hati Ketiganya ini fardlu ain hukumnya, ketahuilah amalkanlah, maka terwujud keselamatan dan kehormatan Inilah tiga ilmu yang setiap orang Islam wajib mempelajarinya.

Pertama, ilmu yang menjadikan sahnya ibadah kepada Allah adalah ilmu fiqih yang membahas tentang bagaimana semestinya seorang Muslim beribadah kepada Allah. Sebagai contoh, setiap Muslim wajib mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya shalat yang benar dan baik. Juga ia wajib mempelajari berbagai ilmu yang berkaitan dengan keabsahan shalat, seperti caranya berwudlu, cara mensucikan berbagai macam najis, bertayamum, beristinja dan lain sebagainya. Seorang Muslim juga wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa, zakat, haji dan lain sebagainya.

Termasuk juga dalam kategori ini adalah ilmu muamalat, ilmu yang mengatur bagaimana semestinya seseorang melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti jual beli, sewa menyewa, penitipan, dan sebagainya. Ilmu-ilmu ini fardlu ain hukumnya untuk dipelajari mengingat amalan seseorang yang tidak didasari dengan ilmu maka amalan yang dilakukannya itu menjadi batal, tak diterima. Sebagaimana dituturkan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad: وكل من بغير علم يعمل أعماله مردودة لا تقبل Setiap orang yang beramal tanpa ilmu Maka amalnya tertolak, tak diterima.

Kedua, ilmu yang menjadikan aqidah atau kepercayaan seseorang menjadi benar sesuai dengan aqidah yang dianut oleh para ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Dengan mempelajari dan memahami ilmu ini maka seseorang akan terjaga dari aqidah-aqidah yang rusak dan tidak benar seperti aqidah Mu’tazilah, Jabariyah, dan Mujassimiyah. Orang yang tidak mempelajari ilmu ini maka dikhawatirkan ia akan salah dalam memahami dan meyakini perihal bagaimana Allah dan berbagai permasalahan keimanan lainnya.

Ketiga, ilmu yang menjadikan hati bersih dari berbagai macam akhlak yang jelek seperti riya, sombong, dengki, hasud dan berbagai macam penyakit hati lainnya. Ilmu ini wajib pula dipelajari oleh setiap orang Muslim mengingat perilaku orang tidak hanya apa yang dilakukan oleh anggota badan secara lahir namun juga perilaku-perilaku hati secara batin.

Sayid Bakri Al-Makki memberikan penjelasan masalah ini di dalam kitabnya Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’. Beliau menuturkan bahwa tak ada kelonggaran bagi seorang pun untuk tidak mengetahui ketiga ilmu tersebut. Inilah ilmu syariat yang bermanfaat. Tak cukup dengan memepelajari dan mengetahuinya saja. Orang yang telah mempelajarinya juga mesti mengamalkannya. Karena siapapun yang telah mengetahui ketiga ilmu ini tidak akan bisa selamat kecuali dengan mengamalkannya. Ya, untuk mendapatkan keselamatan di akherat kelak serta tingginya derajat di dunia dan akherat tak bisa lepas dari tiga hal: keyakinan atau aqidah yang benar, ibadah yang benar.

Share