Turut Memeriahkan HUT RI ke-73, PP. Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan Lomba Balap Karung

Turut Memeriahkan HUT RI ke-73, PP. Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan Lomba Balap Karung

  Menjelang peringatan HUT RI ke-73 pada tanggal 17 Agustus 2019, Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah menyelenggarakan serangkaian lomba. Pada hari minggu, 12 Agustus 2019, pengurus putra menyelenggarakan lomba balap karung. Lomba tersebut bertempat More »

PENDAFTARAN  SANTRI BARU PONDOK PESANTREN PUTRI ATH-THOHIRIYAH TAHUN 2018

PENDAFTARAN SANTRI BARU PONDOK PESANTREN PUTRI ATH-THOHIRIYAH TAHUN 2018

Waktu Pendaftaran :  Setiap hari pukul 08.00 – 15.00 Kuota Santri BTA PPI IAIN Purwokerto hanya 70 Santri. Pendaftaran ditutup jika kuota sudah terpenuhi Berikut rincian biaya pendaftaran untuk santri baru putri: More »

Wudu di Pancuran Kecil (Membakar Jin Qarin)

Wudu di Pancuran Kecil (Membakar Jin Qarin)

Oleh: Akhmad Saefudin SS ME Beruntung sekali saya bisa menghadiri pengajian umum KH Imam Masyhadi Alhafiz di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Parakan Onje, Ahad (6/5) silam. Di penghujung pengajian, Kiai MasyhadI bertutur tentang More »

PP. Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan Haflah Akhirusannah, Haul, dan Khotmil Qur’an

PP. Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan Haflah Akhirusannah, Haul, dan Khotmil Qur’an

Setiap tahun, pondok pesantren Ath-Thohiriyyah rutin menyelenggarakan Haflah Akhirusannah dan Khotmil Qur’an, sekaligus memperingati haul KH. Muhammad Sami’un. Pada tahun 2018,acara Haflah Akhirusannah dan Khotmil Qur’an diselenggarakan pada hari Ahad, 6 Mei More »

Madin PP Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan Lailatul Muwadda’ah

Madin PP Ath-Thohiriyyah Menyelenggarakan Lailatul Muwadda’ah

Setiap akhir tahun akademik, Madrasah Diniyyah Ath-Thohiriyyah menyelenggarakan Lailatul Muwadda’ah. Lailatul Muwadda’ah merupakan sebuah acara yg berisi Khotmil Kutub dari bedgrapa kelas Madin dan penghargaan bagi santri yg berprestasi. Pada tahun 2018 More »

 

Praksis Pembelajaran Pesantren

Buku tentang pesantren sudah banyak ditulis dan kajian tentangnya sudah banyak dilakukan, tetapi dengan berjalannya waktu keperluannya tidak semakin surut melainkan meningkat, malah dalam beberapa hal terasa semakin strategis, karena lembaga pendidikan ini kaya akan potensi intregrasi social.

Jangkauanya yang luas, kedekatannya dengan komunitas, dan kemampuannya membangun pembelajaran lintas generasi sangat sibutuhkan oleh masyarakat Indonesia ysng sedang dalam masa transisi. Disitu pesantrennya menemukan fokusnya pada upaya melahirkan lulusan tidak hanya mengandalkan pengakuan, melainkan yang dapat bertumpu pada kejituan bertindak dalam perilaku yang berwatak.

Untuk itulah manual ini mengangkat perihal pembelajaran pesntren. Yang dilihat adalah tindakan kalangan pesantren yang dimakanai oleh kalangan pesantren sendiri sebagai langkah untuk menegukan karirnya sebagai lembaga pendidikan.

Sudut pandang ini menjadi penting, salah satunya, karena “ilmu” tentang pesantren perlu diperkaya dari waktu ke waktu ditengah kenyataan berdirinya pesantren-pesantren baru dan perkembangan multikompleksitas di Indonesia.

Judul Buku : Praksis Pembelajran Pesantren
Penulis : M Dian Nafi, Abd A’la, Hindun Anisah, Abdul Aziz, Abdul Muhaimin
Penerbit : Insite for Training and Devolepment (ITD), Forum Pesantren, dan Yayasan Selasih
Cetakan : April 2007

Share

Bahasa Abjektif

Banyumas Pesantren Bahasa Abjektif
”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan,” (QS Thaha: 114).

Mas Ahmadi berusia 12 tahun saat hafiz Alquran. Prestasi itu patut disyukuri. Uniknya, para sejawat tidak melihatnya mengaji sebagaimana umumnya santri. Ia lebih sering terlihat tiduran di sebelah Kiai Umar saat ayah asuhnya ini mengajar para santri membaca dan menghafal Alquran.

Di sela waktu bermainnya, Mas Ahmadi kembali ke sebelah ayah asuhnya itu. Sambil mengelus anak yatim itu, sang kiai melantunkan ayat demi ayat.
Anak itu menirukan sambil tetap santai. Begitu pula cucu Syekh ’Abdul ’Adhim Sya’ban yang tinggal di kawasan Darasat Azhar dekat Masyikhah Al-Azhar Kairo Mesir. Mahasiswa Al-Azhar asal Asia Tenggara yang menyelesaikan tahfiz Alquran tidak asing dengan syekh yang satu ini dan cucu-cucu beliau.

Sang cucu bermain di dekat kakeknya hampir setiap kali sang kakek mengajar Alquran. Saat cucu itu terpanggil untuk mengaji maka para mahasiswa pun terkesima. Anak itu lancar dan fasih melantunkan ayat-ayat kitab suci. Tidak jarang ayat-ayat mengalun dari mulut mungil sang cucu saat ia asyik bermain.

Demikian tutur Zaenab, mantan mahasiswi Sosiologi FISIP UNS yang kemudian kuliah di Al-Azhar dan belajar kepada Syekh ’Abdul ’Adhim.
Cucu syekh itu sama dengan Mas Ahmadi, dan sama pula dengan kita; lebih mudah belajar saat tekanan psikologis minimal. Situasi belajar yang dibutuhkan kedua hafiz Alquran cilik itu adalah contohnya, bermain sekaligus mengaji.

Pendidik yang menghayati bekerjanya gabungan beragam modalitas kecerdasan dan yang naluri kemanusiaannya lebih kuat daripada gengsi profesionalnya bisa berperan sebaik Kiai Umar dan Syekh ’Abdul ’Adhim itu.

Dalam hubungan seakrab itu, tidak dibutuhkan bahasa yang canggih dalam pembelajaran. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa abjektif. Itu ragam bahasa sederhana baik tuturan, isyarat, maupun simbolnya; sehingga mudah dipahami. Komunikasi berlangsung seolah-olah sambil lalu. Komunikator tidak menuntut komunikan untuk mencurahkan perhatian khusus. Ia juga tidak mengandalkan wibawa dan formalitas.

Kekuatannya tidak bergantung kepada kerapian gramatikal, melainkan niat baik dan naluri manusiawi dalam penggunaannya. Dengan itu, memori yang bekerja tidak langsung di sisi intelektual, melainkan terlebih dahulu di sisi intuisi. Rekaman masuk menyentuh alam bawah sadar.

Sebagaimana ibu yang menyusui bayi sambil menimangnya. Saat itulah si ibu mengajar buah hatinya melalui bahasa sederhana. Buah hati itu nyaman dan aman dalam gendongan. Ia merekam dengan polos. Sebagian besar direkamnya.

Fakta berbicara, di balik sosok sukses selalu terdapat seorang ibu yang berjiwa besar. Ibu semacam ini cermat memudahkan buah hatinya belajar. Konsep rumit dan filosofis ditularkan dalam nalar kanak-kanak, karena yang didampingi memang kanak-kanak.
Di balik kesederhanaan bahasa abjektif, kata pakar bahasa Alwi Rahman, terdapat daya tembus kuat sekaligus halus. Penerapannya dalam pembelajaran butuh kerutinan, keteraturan, kesinambungan, kepedulian, kasih sayang dan pembelajaran yang mengaktifkan beragam indera.

HM Dian Nafi’ Pengasuh Ponpes Al Muayyad Windan, Kartasura

Sumber:www.solopos.

Share

Kesejahteraan Guru Diniyah Masih Memprihatinkan

JAKARTA-Kesejahteraan Guru Diniyah Masih Memprihatinkan
-Meski memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama besar dengan pengajar lainnya, ternyata kesejahteraan 445 orang guru diniyah di Jakarta Selatan masih memprihatinkan. Honor yang mereka terima per bulan rata-rata hanya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu.

”Itu pun masih sering terlambat mereka terima,” ujar Ketua Persatuan Guru Diniyah Indonesia (PGDI) Kota Jakarta Selatan, Asikin, SAg di sela-sela acara Pembinaan dan Pelatihan anggota PGDI Jakarta Selatan dengan tema ‘Menjadi Guru Diniyah yag Profesional’, Senin (8/3).

Kadang-kadang, kata Asikin, guru diniyah merasa iri dengan pada guru SD di DKI Jakarta yang tunjangan kesejahteraannya saja sudah mencapai Rp 2,5 juta, di luar gaji. Padahal, di tengah keprihatinan rendahnya moral para generasi muda, tugas guru diniyah tidaklah ringan.

Asikin mengaku senang dengan keluarnya Pergub No 207/2009 tentang penyelenggaraan pendidikan keagamaan di Provinsi DKI Jakarta. Diharapkan nasib para guru diniyah ke depan akan lebih diperhatikan melalui anggaran khusus yang disediakan pemda.

Hasyim Adnan, Kepala Sekolah Diniyah Al Islah, Tanah Kusir mengungkapkan, dirinya memiliki sekitar 200 murid dengan 21 guru. Muridnya itu tidak dipungut bayaran sehingga untuk membayar honor para guru dia hanya mengandalkan dana dari para donatur.

”Kami mendidik murid diniyah benar-benar lillahi ta’ala. Umumnya para guru mencari rejeki dari sumber lain,” kata Hasyim. Para gurunya sebagian bergelar sarjana agama dan yang lainnya keluaran pesantren salafiyah.

Sumber: http://www.republika.co.id

Share

Puasa Ramadhan Ala Al-Ghazali dan Al-Qusyairi

Banyumas Pesantren-Puasa Ramadhan Ala Al-Ghazali dan Al-Qusyairi
Tahukah anda bahwa puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat istimewa? Bukan saja karena Allah langsung yang menilai dan membalasnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits qudsi. Tetapi juga karena perintah puasa dalam Al-Quran adalah satu-satunya ayat perintah ibadah yang ditutup dengan kata la’allakum tattaqun, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.

Puasa Ramadhan adalah jalan pintas untuk mendongkrak kualitas ketaqwaan seorang muslim. Secara umum ia mempunyai tiga tingkatan : biasa, khusus (khas) dan sangat khusus (khashul khawash).

Puasa biasa, adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu. Adapun puasa khusus, adalah menahan telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari perbuatan maksiat. Sedangkan puasa sangat khusus, adalah puasa hati. Maksudnya, menjaga hati dari lalai mengingat Allah SWT.

Puasa biasa adalah puasanya orang awam, atau muslim kebanyakan, yang ukurannya adalah fiqih. Jika telah syarat dan rukunnya telah ditetapi, puasa itu pun sah. Ini juga tidak salah. Karena memang standar keabsahan puasa yang digunakan ulama fiqih diukur dengan kapasitas orang awam yang sering lalai, mudah terperangkap dalam urusan duniawi.

Sebagaimana disebutkan dalam kisah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ketika menerima surat dari langit. Dalam surat itu tertulis, “Sesungguhnya nafsu dan syahwat diciptakan hanya bagi hamba Allah yang lemah, agar bisa tertolong dalam melaksanakan ketaatan. Sedangkan hamba Allah yang kuat tidak sepatutnya lagi memiliki syahwat.”

Sedangkan puasa khusus apalagi khasul khawas yang lazim dilakoni orang-orang shalih, auliya dan para nabi tidak cukup hanya dengan memenuhi ketentuan fiqih. Puasa peringkat kedua mempertimbangkan faktor akhlak dan perilaku. Sedangkan pada peringkat ketiga ditambah dengan keistiqamahan mengontrol hati dan pikiran.

Orang-orang dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal-hal yang mubah. Mereka juga merasa bersalah jika membuang energinya selama puasa untuk memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi.

Berpuasa secara khusus, berarti melakoni beberapa fase latihan batiniah yang sangat penting bagi orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sekaligus. Fase-fase tersebut dalam kajian tasawuf lazim disebut maqam atau maqamat.

Imam Abul Qasim Al-Qusyairi dalam Risalatul Qusyairiyyah membagi maqamat tasawuf ke dalam 45 bagian. Beberapa maqamat Al-Qusyairi yang terkandung dalam ibadah puasa antara lain mengosongkan perut, meninggalkan syahwat, mujahadah, sabar, syukur, ikhlas, jujur, istiqamah dan taqwa.

Panah Beracun
Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, berpuasa khusus, harus menetapi enam persyaratan :
Pertama, tidak melihat segala yang dibenci Allah SWT atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Pandangan adalah salah satu panah beracun milik setan yang terkutuk. Barangsiapa menjaga pandangannya, karena takut kepada-Nya semata, niscaya Allah ta’ala akan memberinya keimanan yang manis yang diperolehnya dari dalam hati.” (HR. Al Hakim)

Jabir meriwayatkan dari Anas, Rasulullah SAW bersabda, “Ada lima hal yang membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengumpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu.”

Kedua, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, umpatan, fitnah, perkataan keji serta kasar, dan kata-kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi). Dan menggantinya dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an. Inilah puasa lisan.
Said Sufyan berkata, “Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, ‘Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong’.”

Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antara kalian sedang berpuasa, jangan berkata keji. Jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa!’.” (HR Bukhari Muslim).

Ketiga, menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela. Karena segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Dalam hukum Allah, mendengar yang haram sama dengan memakan yang haram. Firman Allah, “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tidak halal.” QS Al-Maidah (5: 42).

Karena itu orang yang ingin puasanya bernilai khusus, sebaiknya berdiam diri dan mengjauhkan diri dari pengumpat. Allah berfirman, “Jika engkau tetap duduk bersama mereka, sungguh engkaupun seperti mereka …” QS An-Nisa’ (4: 140). Ini diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW, “Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa.” (HR At-Tirmidzi).

Keempat, menjaga kesucian setiap anggota badan dari yang syubhat, apalagi yang haram. Perut, misalnya, harus dijaga dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat). Puasa tidak berguna bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal, tapi berbuka dengan makanan haram.

Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga!” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Kelima, menghindari makan berlebihan. Tidak ada kantung yang lebih dibenci Allah SWT selain perut yang dijejali makanan halal. Di antara manfaat puasa adalh untuk mengalahkan syetan dan mengendalikan hawa nafsu. Bagaimana itu akan tercapai, bila saat berbuka perut dijejali secara berlebihan.

Hakikat puasa adalah melemahkan tenaga yang dipergunakan setan untuk mengajak umat manusia ke arah kejahatan. Oleh sebab itu, lebih penting (esensial) bila mampu mengurangi porsi makan malam dalam bulan Ramadhan dibanding malam malam di luar bulan Ramadhan, saat tidak berpuasa. Bahkan dianjurkan mengurangi tidur di siang hari, dengan harapan dapat merasakan semakin melemahnya kekuatan jasmani, yang akan mengantarkannya pada penyucian jiwa.

Harap-harap Cemas
Barangsiapa telah “meletakkan” kantung makanan di antara hati dan dadanya, lanjut Imam Ghazali, tentu akan buta terhadap karunia tersebut. Meski perut kosong, belum tentu hijab yang terbentang antara dirinya dengan Allah akan terangkat, kecuali jika telah mampu mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan mengingat kepada Allahc semata.

Keenam, menuju kepada Allah SWT dengan rasa takut dan pengharapan. Setelah berbuka puasa, seyogyanya hati terayun-ayun antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Karena tidak ada seorang yang mengetahui, apakah puasanya diterima ataukah tidak. Tidak hanya puasa, pemikiran tersebut seharusnya juga selalu ada setiap kali selesai melaksanakan suatu ibadah.
Suatu ketika melintaslah sekelompok orang sambil tertawa terbahak bahak.

Imam Hasan al-Bashri yang melihat hal itu lalu berkata, “Allah SWT telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan perlombaan. Di saat mana hamba-hamba-Nya berlomba dalam beribadah. Beberapa di antara mereka sampai ke titik final lebih dahulu dan menang, sementara yang lain tertinggal dan kalah.

Sungguh menakjubkan aku mendapati orang yang masih dapat tertawa terbahak bahak dan bermain di antara (keadaan) ketika mereka yang beruntung memperoleh kemenangan, dan mereka yang merugi memperoleh kesia-siaan. Demi Allah, apabila hijab tertutup, mereka yang berbuat baik akan dipenuhi (pahala) perbuatan baiknya, dan mereka yang berbuat cela juga dipenuhi oleh kejahatan yang diperbuatnya.”

Saat itu manusia yang puasanya diterima akan bersuka ria, sementara orang yang ditolak akan tertutup baginya kesempatan bergelak tawa.

Dari al-Ahnaf bin Qais, suatu ketika seseorang berkata kepadanya, “Engkau telah tua; berpuasa akan dapat melemahkanmu.” Al-Ahnaf pun menjawab, “Dengan berpuasa, sebenarnya aku sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Bersabar dalam menaati Allah SWT, tentu lebih mudah daripada menanggung siksa Nya.”

“Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1431 H”.

Share