Pemetaan Dinamika Politik Back to Qur’an and Sunna; Hasan Al Banna, Al Dukkaly dan A. Hasan

Banyumas Pesantren-Slogan back to Qur’an and Sunnah pada awalnya merupakan suatu pemikiran setiap individu yang terinspirasi oleh beberapa faktor: lingkungan, politik, dan sosial. Namun, ini akan berubah menjadi sebuah power untuk melegitimasi pemikirannya. Sehingga pembacaan kembali terhadap ide-ide tersebut perlu dianalisa dan dikaji ulang.

A.Hasan al Banna

1.Biografi Singkat Hasan al Banna
Hasan al Banna dilahirkan di kota Mahmudia di provinsi Buhairah, di Mesir pada tahun 1906. Ia terdidik dari keluarga yang terkenal dengan keilmuan dan agama, ayahnya yang bernama Ahmad Abdur Rahman al Banna, salah seorang ulama terkenal dengan ilmu sunnahnya dan salah satu karangannya berjudul Al-Fath ar Rabbany Litartibil Musnad al-Imam Ahmad bin Hambal Asy-Syafi’i.

Sejak kecil ia telah menaruh simpati terhadap dakwah, sehingga ia bersama rekan-rekannya banyak membentuk organisasi-organisasi keislaman. Bahkan ketika telah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum Kairo, di mana saat itu usianya baru menginjak 22 tahun, Hasan al Banna bersama enam rekan-rekanya mendirikan Jam’iyyah Ikhwanul Muslimin.

Organisasi ini dalam waktu yang relative singkat dapat tumbuh dengan penuh kharismatik dan pengaruhnya di berbagai negeri, karena memang salah satu cita-cita Hasan al Banna, organisasi ini dakwahnya tidak saja sampai menjadi harakah iklimiyah (gerakan local), namun menjadi harakah ‘alam (gerakan internasional), sebagaimana alamiyah-nya Islam.

2. Dinamika Politik Hasan al Banna
Sejak awal berdirinya, jam’iyah ini mempunyai prinsip kembali kepada sumber asas Islam: Kitabullah dan sunnah rasul-Nya, serta kehidupan salaf shaleh dengan menanamkan pemahaman universalisme Islam kepada anggotanya yang meliputi aqidah, syari’ah dan manhaj al hay (system kehidupan).

Dasar pijakan dakwah Hasan al Banna dalam gerakan organiasinya adalah jelas berupa dakwah Islamiyah dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Dimana Kitab Allah yang tidak ada padanya kebatilan, baik di depan ataupun di belakangnya, kemudian sunah sahih dari Rasulullah saw dan salafus shaleh umat ini. Ia menjadikan Ikhwanul Muslimin sebagai salah satu dari sepuluh rukun bai’at yang disebutkan dalam kitabnya, Risalah al-Ta’lim. Arkanul bai’ah yang kesepuluh itu adalah: al fahm, al-ikhlas, al-amal, al-jihad, at-tadhiyah (pengorbanan), at-tho’ah, ats-tsabat, at-tajarud (totalitas) al ukhwah, dan ats-tsiqah.

Persoalan Mesir pada saat Hasan al Banna sangat beragam kebudayaan dan hegemoni Barat, inilah barangkali salah satunya, yang mengantarkan Hasan al Banna sebagai pejuang yang defensive, karena sejarah politik Islam di masanya sangat rendah. Adanya penghapusan khilafah tahun 1924 oleh umat Islam sendiri, jatuhnya negeri-negeri Islam kepada kolonialisme Barat. Maka melalui gerakan dakwahnya ini, ia berkayakinan bahwa menghidupkan kembali khilafah akan terwujud dan memiliki fungsi ganda; sebagai symbol persatuan umat Islam dan model hubungan agama dan Negara.

B. Al Dukkaly
Sebelumnya saya sebagai presentator makalah mohon maaf atas minimnya kajian atas pemikiran Al Dukkaly terhadap dinamika politik yang berkembang di Maroko. Hal ini, karena pertama jelas kurangnya referensi yang dimiliki sehingga akses data untuk mengkaji tidak berkembang. Kedua, karena penulis sendiri baru kali ini mengenal tokoh pemikir ini yang mengumandangkan slogan back to quran and sunnah. Namun hal itu tidak mengurangi jihad saya untuk terus memperkaya diri dalam membaca peta perpolitikan yang diembannya.

Dinamika politik back to quran and sunnah yang diganyang oleh al dukkaly di Maroko ini sedikitnya dapat diidentifikasi dan diformulasikan menjadi beberapa bagian, sebagai berikut :
– Slogan back to quran and sunnah sejatinya adalah merupakan alat dalam strategi politiknya saat itu, sama seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya dalam memerangi slogan Islamic positivist transcendentalism dengan mengutuk politeisme.
– Sejak tahun 1907, Al Dukkaly berhasil menghidupkan kembali pintu ijtihad dengan memberlakukan pelajaran tafsir di universitas Qawariyyin. Namun ia melupakan sikap fundamentalsime Islam dan sebaliknya justru memasukan modernism M. Abduh ke Maroko dengan tujuan melindungi muslim Maroko dari kerusakan yang lebih parah dari sikap imperialisme Prancis.
– Hegemoni Perancis yang terjadi di Maroko dimanfaatkan oleh al Dukkaly dalam politiknya, yang kemudian ia diangkat sebagai Menteri Kehakiman di Maroko sampai pada tahun 1923. Hal ini juga, ia berkeinginan bahwa di masa yang akan dating umat Islam di Maroko sebagai salaf shaleh.
– Di sisi yang lain, ia dituduh murtad oleh Ibnu Abdul Aziz karena telah mengutuk revolusi Ayniyyah di bawah komando al Hiba dalam melawan Perancis. Menurtnya, ini tidak mungkin dibiarkan terus menerus, karena kekuatan Perancis atas perlawanan Maroko tidak seimbang, yang pada akhirnya dapat menghancurkan rakyat Maroko itu sendiri.
– Menyerukan semangat kembali kepada al-Qur’an dan Hadits dengan mendukung imperialisme Perancis sebagai tandingan atas ketidakabsahan sultan Utsman sebagai khalifah Islam. Sebaliknya, ia lebih mengedapankan Mawlay Yusuf sebagai khalifah karena minimalnya ia ada keturunan dari Nabi Muhammad saw.
– Al Dukkaly mendukung kesultanan yang dipimpin oleh golongan syarif sebagai legitimasi atas eksistensi berdirinya Negara Islam Maroko.

C. A. Hasan

1. Biografi A. Hasan
Nama A. Hasan yang sebenarnya adalah Hasan bin Ahmad, namun berdasarkan kelaziman penulisan nama keturunan India di Singapura, yang menuliskan nama orang tua (ayah) di depannya, maka Hasan bin Ahmad lebih dikenal dengan pangilan Ahmad Hasan. Dia lahir di Singapura pada tahun 1887 M. bersal dari keluarga campuran Indonesia India. Ayahnya bernama Ahmad, berasal dari keuturunan India dan bergelar pandit.

Sebelumnya, ia bernama Sinna Vappu Maricar, akan tetapi jika ditelusuri, leluhurnya berasal dari Mesir. Sedangkan ibunya bernama Muznah dari Surabaya yang masih mempunyai darah dari Palekat Madras.

Masa kecil pendidikan A.Hasan dilewatinya di Singapura, dimulai dari sekolah dasar, namun ia tidak sampai menyelesaikannya. Kemudian ia masuk sekolah Melayu hingga kelas empat; dan belajar di sekolah pemerintah Inggris sampai tingkat yang sama, sambil belajar bahasa Tamil dari ayahnya. Di sekolah Melayu inilah A. Hasan banyak belajar bahasa Arab, Melayu, tamil dan Inggris. Pada usia tujuh tahun seperti kebiasaan anak-anak pada umumnya, ia mulai belajar al Qur’an dan memperdalam agama Islam.

Pada usia 12 tahun, ia mulai bekerja mencari nafkah di sebuah toko milik pamannya, namun ia tetap menyempatkan diri belajar privat dan berusaha menguasai bahasa Arab sebagai kunci untuk memperdalam pengetahuan-pengetahuan tentang Islam.

Di usianya yang masih relative muda, ia banyak belajar tentang ilmu agama pada beberapa ulama di Singapura, seperti Said Abdullah al-Musawi, Abdul Latif, Syaikh Hasan dari Malabar dan syaikh Ibrahim dari India hingga usianya menginjak kira-kira 23 tahun. Dari sini jelas, bahwa A. Hasan tidak pernah belajar tentang pengetahuan agama di Negara-negara Timur Tengah seperti Mesir dan Saudi Arabia, bahkan ia mulai bersikap kritis terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat di Singapura yang tidak bersumber pada al-Qur’an dan Hadits.

2. Gerakan kembali pada al-Qur’an dan Sunnah
Kekritisannya ini semakin menjadi-jadi saat ia ditugasi sebagai pembantu pada surat kabar Utusan Melayu. Seperti taqbil, mencium tangan seseorang yang dianggap sayyid ketika bertemu, tentang talqin, dan tahlil, sehingga ia pernah dipanggil jaksa akibat dituduh mencemarkan kaum sayyid, walaupun pada akhirnya ia dibebaskan kembali karena kepiawiannya dalam berargumen.

Ketajaman dan kekritisan A. Hasan tidak berhenti sampai di situ, bahkan semakin berani, ketika ia berada di Indonesia untuk mengurus sebuah toko kain milik pamannya yang sekaligus gurunya Abdul Latif di Surabaya. Di sana ia banyak melihat perdebatan antara kaum tua dan kaum muda, atau dengan kata lain kaum salaf dengan kamum reformis. Kaum reformis yang dipimpin Faqih Hasyim ingin menghapuskan ajaran-ajaran yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah, perdebatan ini sampai pada KH. Wahab Hasbullah. yang kemudian diagendakan di Bandung.

Untuk memperjuangkan Islam-murninya, ia banyak menantang lawan-lawannya yang tidak sependapat dengan mengajak debat terbuka. Di Sukabumi ia berhadapan dengan Kyai Sanusi tokoh dari al Ittihad al-Islamiyyah, dengan majlis Ahlus Sunnah di Bandung, tahun 1932 di Cirebon Jawa Barat tahun ia juga berdebat dengan tokoh NU Haji Abdul Khair. Dia juga mengajak debat terbuka dengan Ahmadiyah Qadian mengenai kebabian Mirza Ghulam Ahmad. Forum debat terbuka ini terjadi tiga kali di Bandung dan Jakarta antara tahun 1933-1934 . Debat terbuka juga bukan hanya terjadi dengan tokoh-tokoh kalangan muslim, namun dari Kristen pun seperti Seven Day Adventist tentang kebenaran agama dan Bibel. Pada decade tahun 30an umat Islam banyak mendapat tekanan dan cercaan dari orang-orang Kristen, misalnya Johanes Joshepus Ten Berger yang menulis artikel bahwa Nabi saw. adalah seorang antropomorfis serta terlalu banyak memperhatikan sex wanita untuk membangun agama yang lebih tinggi. Sontak saja ini mengundang reaksi umat Islam di Indonesia khsusunya A. Hasan, ia bahkan mendebatnya dengan menyusun sebuah karangan tentang Ketuhanan Yesus Menurut Bibel, ia bahkan menganalisanya bukan dari sudut pandang al-Qur’an tapi dari Bibel itu sendiri.
Fenomena perdebatan yang terjadi pada diri A. Hasan sebenarnya sudah tercermin sejak ia masih belajar tentang pengetahuan agama di Singapura, di mana ia sering merasa jenuh dengan materi-materi yang disampaikan gurunya, sehingga ia kertap kali berpindah dari satu ulama-ke ulama lain. Kebiasaan berdebat ini tentunya sangat jarang ditemui pada saat itu di kalangan tokoh-tokoh ulama di Indonesia.

Ketika di Bandung ia banyak bergaul dengan Muhammad Yunus dan Zamzam, dua tokoh pendiri persis (persatuan Islam) ini, kemudian menyatu alam pemikiran mereka tentang pentingnya kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Karena seringnya mengisi pengajia-pengajian di lingkungan persis maka tak heran A. Hasan didaulat menjadi tokoh dan guru pertama di Persis.

3. Dinamika Politik A. Hasan
Setelah menjadi guru besar dalam tubuh persis yang menyerukan slogan kembali kepada al-Quran dan Sunnah, maka keilmuannya bukan saja berkutat membidani masalah TBC (tahayyaul, bid’ah dan churafat) lebih dari itu, ia dihadapkan pada sikapnya tentang landasan negara Indonesia, dimana saat itu terjadi konflik pemisahan antara kaum nasionalis dengan komunis.

Menurutnya, sikap nasionalisme akan menjadi rintangan besar dalam menegakan Negara Islam di Indonesia, karena sikap nasionalisme perwujudan dari fanatisme kesukuan (‘asabiyah) yang dapat memecah belah umat Islam di India, Mesir, China Turki dan Indonesia berdasarkan kedaerahan, sehingga akan bertentangan dengan prinsip Pan Islam yang mengharuskan persatuan dan kesatuan ( QS. 3 103: 49;10).

Memang A. Hasan tidak banyak terlibat dalam dinamika politik ini, karena ia hanya ingin memperjuangkan atau mengembalikan nilai-nilai ke-Islman yang bersumber kepada al-Quran dan Sunnah tanpa ada unsur Arab sentries. Hal ini pula yang kemudian tercermin dari sikap apatismenya terhadap partai di Indonesia, walaupun sebagaian tokoh-tokohnya ada ikut berpolitik.

Urwah (Mahasiswa Program Pasca Sarjana, Program Ulumul Quran dan Tafsir 2010, Unsiq Jawa Tengah di Wonosobo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *