Sunan An-Nasai: Karya Besar Ulama Yang Gugur Syahid

Banyumas Pesantren: Sunan An-Nasa-i: Karya Besar Ulama Yang Gugur Syahid

Satu lagi dari Kutub As-Sittah, yang disusun oleh ulama besar ahli hadits dan ahli fiqih yang hidupnya berakhir dengan tragis.

Selain Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ At-Tirmidzi, ada lagi karya besar dalam bidang hadits, yakni As-Sunan As-Sughra karya Imam An-Nasa-i, yang dikenal dengan sebutan Sunan Nasa-i. Dikisahkan, ketika selesai menyusun kitab kumpulan haditsnya,

As-Sunan Al-Kubra, Imam An-Nasa’i lalu menghadiahkan kitab tersebut kepada Amir ar-Ramlah, seorang penguasa di wilayahnya. Amir itu bertanya, “Apakah seluruh isi kitab ini shahih?”


“Ada yang shahih, ada yang hasan dan ada pula yang hampir serupa dengan keduanya,” jawab Imam An-An-Nasa-i.

“Kalau begitu,” kata sang Amir, “Tolong anda pisahkan hadits-hadits yang shahih saja.”

Atas permintaan Amir itulah An-Nasa-i kembali menyeleksi hadits-hadits dalam kitabnya untuk memilih yang shahih-shahih saja. Hasilnya sebuah kitab yang dinamakan As-Sunan As-Sughra, yang tersusun menurut sistematika fiqh, sebagaimana kitab-kitab Sunan yang lain.

Imam Nasa-i dikenal sangat teliti dalam menyususn kitab Sunan us-Sughra. Karana itulah sebagian ulama mengatakan, “Kedudukan kitab Sunan Sughra ini hanya sedikit di bawah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, karena sedikitnya hadits dha’if di dalamnya.”

Karena itu, ketika belakangan hadits-hadits Sunan Sughra dikritik dan dianggap sebagai hadits maudhu’ oleh Abul Faraj ibnul al-Jauzi, banyak ulama yang merasa keberatan. As-Suyuti, misalnya, menyanggah pendapat Abul Faraj dengan mengemukakan pandangan, “Dalam Sunan Nasa-i terdapat hadits-hadits shahih, hasan, dan dha’if, hanya saja hadits yang dha’if sedikit sekali jumlahnya. Adapun pendapat sebahagian ulama yang menyatakan bahawa isi kitab Sunan ini shahih semuanya, adalah suatu anggapan yang terlalu sembrono, tanpa didukung penelitian yang mendalam.”

Tentu yang diperdebatkan di atas adalah Kitab As-Sunan Al-Kubra. Sebab kitab As-Sunan As-Sughra disepakati ahli hadits sebagai salah satu kitab hadits pokok yang dapat dipercaya.
Jika suatu hadits dinisbahkan kepada An-Nasa-i, misalnya dengan ungkapan “HR An-Nasa-i”, maka yang dimaksudkan ialah periwayatan dalam As-Sunan us-Sughra, bukan As-Sunan Al-Kubra. Hanya sedikit sekali penulis yang merujukkan hadits-hadits Imam Nasa-i.

Penghasil Ulama
Imam Nasa-i adalah nama julukan bagi Al-Hafidz Ahmed bin Shuaib An-Nasai, tokoh ulama kenamaan ahli hadits yang menjadi panutan pada masanya, serta pengarang kitab Sunan dan kitab-kitab termasyhur lainnya, yang lahir di Nasa’, sebuah kota kecil di wilayah Khurasan, pada tahun 215 H, atau 214 H menurut sebagian kecil sejarawan. Pada masa itu Khurasan dikenal sebagai penghasil ulama-ulama dan tokoh-tokoh besar yang dikenal sepanjang sejarah.

An-Nasa-i mengawali pendidikannya di madrasah di negeri kelahirannya. Setelah menghafal Al-Qur’an dan belajar dasar-dasar keilmuan Islam, Nasa-i remaja mulai senang mengembara untuk mendapatkan hadits. Usianya belum genap 15 tahun ketika berangkat menuju Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan Jazirah untuk mencari ulama ahli hadits.

Nasa-i menerima hadits dari sejumlah guru hadits terkemuka, seperti Qutaibah Imam Nasa-i Sa’id yang diikutinya selama 14 bulan. Guru lainnya adalah Ishaq bin Rahawaih, al-Haris bin Miskin, ‘Ali bin Khasyram dan Abu Dawud penulis as-Sunan, serta Tirmidzi, penulis al-Jami’.
Sedangkan hadits-hadits An-Nasa-i diriwayatkan oleh para ulama yang tidak sedikit jumlahnya. Di antaranya Abul Qasim at-Tabarani, penulis tiga buah Mu’jam, Abu Ja’far at-Tahawi, al-Hasan bin al-Khadir as-Suyuti, Muhammad bin Mu’awiyyah bin al-Ahmar al-Andalusi dan Abu Bakar bin Ahmad as-Sunni, perawi Sunan Nasa-i.

Di Mesir langkah pengembaraan Imam Nasa-i terhenti. Ia menetap di Qanadil, salah satu wilayah terkenal di negeri Piramid. Entah mengapa setahun menjelang wafatnya, An-Nasa-i hijrah ke Damsyik atau Damaskus.

Tragisnya, di tempat yang baru Imam An-Nasa-i mengalami suatu peristiwa yang menyebabkan kesyahidannya. Diceritakan, beberapa waktu setelah tinggal di ibukota pemerintahan Dinasti Umayyah, An-Nasa-i dimintai pendapat tentang keutamaan Mu’awiyyah RA. Pemerintah menyuruhnya menulis sebuah buku tentang keutamaan Mu’awiyyah, sebagaimana ia telah menulis mengenai keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib KRA.

Dengan tegas sang allamah menjawab, “Tidakkah kalian merasa puas dengan menyetarakan derajat Mu’awiyyah dengan Ali, sehingga kalian merasa perlu untuk mengutamakannya?”
Mendapat jawaban seperti itu mereka naik pitam. Sang ulama yang sudah berangkat sepuh itu lalu dipukuli beramai-ramai. Tak puas memukuli, sang imam lalu diseret keluar masjid sambil diinjak-injak perut dan kemaluannya hingga nyaris wafat.

Tidak ada kesepakatan pendapat di mana tepatnya sang imam meninggal dunia. Imam Daraqutni mengisahkan, setelah mengalami siksaan keji di Damsyik, Imam An-Nasa-i meminta kepada pengikutnya untuk dibawa ke Makkah. Di kota suci itulah sang imam menghembuskan nafsanya yang terakhir dan dimakamkan di suatu tempat antara bukit Shafa dan Marwah. Pendapat yang sama juga dikemukakan Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-‘Uqbi al-Misri dan beberapa ulama yang lain.

Pendapat yang berbeda disampaikan Imam Adz-Dzahabi. Menurutnya, An-Nasa-i meningal di Ramlah atau Ramallah, suatu tempat di Palestina dan dimakamkan di Baitul Maqdis pada tahun 303 H. Pendapat ini didukung Ibn Yunus, Abu Ja’far at-Tahawi dan Abu Bakar bin Naqatah.

Pejuang Tangguh
Di masa hidupnya, Imam An-Nasa-i dikenal berwajah tampan dan berkulit kemerah-merahan. Ketampanannya semakin bersinar karena sang imam senang mengenakan pakaian garis-garis buatan Yaman.

Hidupnya banyak dihabiskan untuk ibadah, baik di waktu malam atau siang hari. Selain selalu beribadah haji setiap tahun, ia juga sering berjihad mengikuti barisan pasukan gubernur Mesir. Kesatriaan dan keberaniannya diakui kawan dan lawan. Juga konsistensinya berpegang teguh pada sunnah dalam menangani masalah penebusan kaum Muslimin yang tetangkap lawan.

Meski sering membantu Gubernur berperang di jalan Allah, Imam Nasa-i selalu berusaha menjaga jarak dan menghindari majelis sang Gubernur. Selain itu, Imam Nasa-i juga istiqamah dalam mengikuti jejak Nabi Dawud, sehari puasa dan sehari tidak.

Tidak saja terkenal dalam ranah keilmuan hadits, Imam Nasa-i juga seorang ahli fiqh yang berwawasan luas. Imam Daraqutni mengatakan, Imam Nasa-i adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli dalam bidang fiqh pada masanya dan paling mengetahui tentang hadits dan perawi-perawi. Ibnul Asirr al-Jazairi menerangkan dalam muqadimah Jami’ul Ushul-nya, Imam Nasa-i bermadzhab Syafi’i dan ia mempunyai kitab Manasik haji yang ditulis berdasarkan mazhab Safi’i.

Saat wafat Imam Nasa-i meninggalkan karya tulis yang cukup banyak. Di antaranya As-Sunan Al-Kubra, As-Sunan As-Sughra yang juga dikenal dengan nama Al-Mujtaba, Al-Khasha’is, Fadha’ilus-Sahabah, dan Al-Manasik. Di antara karya-karya tersebut, yang paling termasyhur Kitab As-Sunan.

Ahmad Iftah Sidik, Santri Asal Tangerang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *